
Iqbal sudah terlihat rapi dengan pakaian formalnya. Dengan penampilannya yang seperti itu membuatnya terlihat lebih dewasa. Sudah pantas jika sebagai pemimpin perusahaan. Namun, sama sekali Iqbal belum ada pemikiran kesana.
Iqbal keluar dari kamar lalu menghampiri ibunya yang sedang duduk di ruang keluarga dengan ayahnya. Mereka sengaja menunggu Iqbal. Pak Bima menatap Iqbal yang sedang menuruni tangga.
"Kamu sudah cocok berpakaian seperti itu, Nak." ujar Pak Bima.
"Tapi Iqbal belum berniat bekerja di perusahaan. Iqbal masih ingin berada di pesantren," kata Iqbal.
Pak Bima dan Bu Fatma saling tatap. Mereka tak menyangka jika sekarang anaknya betah di pesantren. Padahal sebelumnya Iqbal terang-terangan menolak untuk tinggal di pesantren.
"Syukurlah jika kamu masih ingin menuntut ilmu, Nak. Mamah setuju denganmu. Lebih baik untuk sekarang kamu fokus belajar dulu di pesantren," ucap Bu Fatma.
"Ya sudah, ayo berangkat!" Pak Bima terlebih dahulu beranjak dari duduknya.
Mereka berlalu pergi keluar dari rumah. Iqbal dan orang tuanya pergi menggunakan mobil yang sama. Kebetulan Iqbal sendiri yang mengemudikan mobilnya.
Untung saja malam ini jalanan tidak macet. Jadi mereka sampai di tempat acara dengan cepat. Iqbal membiarkan orang tuanya masuk duluan ke dalam hotel. Sedangkan dia memilih menunggu di parkiran.
Iqbal masih mondar-mandir memikirkan ide agar lamaran Aisha gagal. Namun, dia sama sekali belum menemukan ide apa pun. Iqbal menatap ke arah luar, melihat ada pedagang petasan. Terlintas sebuah ide di benaknya. Iqbal pergi keluar untuk membeli beberapa petasan dan korek api.
Kini Iqbal memasuki hotel mengikuti tamu undangan yang lain. Dia bergegas pergi menuju ke ballroom hotel dimana tempat acara di adakan. Sesampainya disana, dia melihat keberadaan Aisha dan orang tuanya.
Seorang MC meminta Aisha dan calon tunangannya yang bernama Azmi maju ke depan. Begitu juga dengan orang tua mereka yang ikut menemani. Pertama-tama dari pihak ke dua keluarga memberikan sambutan.
Setelah selesai dengan sambutan dari ke dua keluarga, kini Azmi di minta untuk menyematkan cincin di jari manis Asila. Saat Azmi hendak memakaikan cincin, tiba-tiba terdengar suara petasan yang membuat beberapa tamu kaget. Bahkan beberapa dari mereka bergegas meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
Azmi belum sempat menyematkan cincin di jari manis Aisha, karena tadi cincinnya terjatuh ke lantai. Mungkin karena kaget jadi refleks menjatuhkan cincin itu. Azmi hendak mencari cincin yang terjatuh itu agar pertunangannya bisa di lanjutkan. Namun ayahnya melarang, dan meminta mereka semua untuk keluar dari ruangan itu. Yang terpenting untuk sekarang adalah keselamatan. Apalagi suara petasan tak kunjung berhenti. Sepertinya ada seseorang yang sengaja mengacau di acara mereka.
Iqbal pura-pura berlarian seperti tamu yang lainnya. Dia memang pintar sekali jika dalam urusan berakting. Tak sengaja Iqbal melihat Aisha yang baru keluar dari ballroom hotel namun terpisah dengan keluarganya. Dengan cepat Iqbal menarik tangan Aisha menjauh dari keramaian.
"Lepaskan!" Aisha mengimbangi langkah Iqbal yang begitu cepat sambil mencoba melepaskan diri dari cekalan tangannya.
Iqbal tersenyum menatap pujaan hatinya. Wajah itu begitu tenang saat di pandang. Tentu Iqbal ingin berlama-lama memandang wajah itu.
"Jangan menatapku seperti itu! Kamu sudah begitu lancang kepadaku," Aisha berucap sambil menundukkan pandangannya. Dia memang tak ingin menatap wajah lelaki yang bukan mahramnya.
"Kenapa kamu menunduk saat berbicara? Apa kamu takut terpesona dengan ketampananku?"
"Jangan terlalu percaya diri! Lebih baik sekarang pergi dari hadapanku! Jangan menggangguku lagi!"
"Baiklah, aku akan pergi tapi tidak bisa pergi begitu saja," Iqbal tersenyum menyeringai menatap Aisha. Dengan cepat dia mendaratkan ciumannya di bibir Aisha.
Seketika tubuh Aisha menegang. Baru pertama kalinya dia di cium oleh seorang lelaki. Aisha menatap Iqbal dengan tajam lalu menampar sebelah pipinya.
"Jangan berani macam-macam!" Aisha menatap Iqbal dengan tatapan yang sulit di artikan. Lalu dia bergegas pergi dari sana meninggalkan Iqbal yang masih berdiri mematung.
Aisha berlari sambil menutupi mulutnya dengan tangan. Air matanya menetes begitu saja di pipinya. Walaupun hanya sekedar ciuman singkat, namun Aisha merasa sangat berdosa. Sama sekali tak terpikir olehnya jika akan di sentuh lelaki sebelum menikah.
Iqbal merutuki dirinya sendiri karena sudah berbuat hal yang membuat Aisha semakin membencinya. Namun, mau bagaimana lagi? Namanya juga cinta, jadi tidak bisa menahan untuk tidak melakukan itu kepada Aisha.
Yang terpenting rencana Iqbal merusak acara pertunangan Aisha telah terlaksana. Untuk Aisha yang marah kepadanya, itu akan di urus nanti.
__ADS_1
...
...
Setelah dua hari di rumah, kini Iqbal akan kembali ke pesantren. Ibunya memberinya banyak bingkisan untuk di bagikan kepada para santri. Namun, Iqbal sedikit malas membawa semua bingkisan itu karena terkesan berlebihan. Lagian di pesantren juga di kasih makan.
"Nah semua bingkisan sudah mamah taruh di bagasi. Jangan lupa nanti kamu bagikan ke teman-teman kamu ya," ujar Bu Fatma kepada anaknya.
"Mah, Iqbal malas sekali bawa semua bingkisan itu. Lagian di pesantren juga di kasih makan kok."
"Jangan seperti itu, Nak. Semuanya sudah mamah siapkan jadi kamu harus membagikannya kepada teman-teman kamu di pesantren. Anggap saja itu sedekah dari mamah. Apa kamu tidak kasihan sama mamah yang sudah membungkus makanan itu satu-satu?" Bu Fatma merubah raut wajahnya sehingga terlihat sedih.
Iqbal tak tega melihat ibunya sedih. Dia mengiyakan apa kata ibunya agar ibunya senang. Walaupun sebenarnya malas membawa barang sebanyak itu.
"Baiklah, Iqbal akan membawa dan membagikannya kepada semua santri," ucap Iqbal.
Setelah berpamitan kepada ke dua orang tuanya, kini Iqbal bergegas pergi. Dia pergi di antar oleh sopir ibunya menuju ke pesantren. Ada rasa ingin berlama-lama di rumah, tetapi itu tidak bisa dia lakukan. Berhubung libur yang di berikan oleh pihak pesantren hanya dua hari saja.
Setelah empat puluh menit di perjalanan, kini Iqbal sampai juga di depan pondok pesantren tempatnya menimba ilmu. Iqbal keluar dari mobil di susul oleh sopir. Sopir itu membantu membawa barang bawaan Iqbal hingga ke dalam. Berhubung barang bawaan Iqbal memang sangat banyak.
"Kamu sudah kembali? Kenapa barang bawaan kamu banyak sekali?" Fahmi bertanya kepada Iqbal. Kebetulan dia habis dari masjid dan berpapasan dengan Iqbal.
"Tidak usah banyak tanya! Cepat bantu bawa! Ini berat loh,'' Iqbal memberikan barang bawaannya yang ada di tangan kiri.
'Duh ngapain juga tadi nyamperin Iqbal. Jadinya kan harus bawa ginian,' batin Fahmi sambil mengikuti Iqbal yang sudah melangkah duluan.
__ADS_1