
Kandungan Aisha semakin lama semakin membesar. Iqbal menjaga Aisha dengan baik. Aisha pun sekarang hanya di rumah saja. Walaupun membosankan tetapi semua itu demi kandungannya yang saat ini sudah berusia delapan bulan. Untung saja ada Nisa yang selalu menemaninya. Kehamilan mereka yang hanya berbeda satu minggu saja.
Aisha yang sedang berbincang bersama Nisa, mendengar ponsel milik Nisa berdering. Nisa menghentikan pembicaraannya lalu meraih ponselnya dari atas meja. Aisha memperhatikan raut wajah Nisa yang terlihat bahagia. Sepertinya yang menghubungi Nisa itu seseorang yang spesial.
"Ais, aku pamit ke kamar dulu ya," ucap Nisa.
"Iya, Nis."
Aisha memperhatikan Nisa hingga tak terlihat lagi dari pandangan matanya. Aisha penasaran siapa yang menghubungi Nisa. Karena Nisa terlihat bahagia sekali. Aisha memutuskan untuk mendekati kamar Nisa. Dia mendekatkan telinganya di pintu mencoba menguping pembicaraan Nisa.
Iqbal yang baru pulang kerja melihat istrinya sedang berdiri di depan kamar Nisa. Dari gerak-geriknya terlihat sangat aneh. Tidak biasanya istrinya menguping di depan kamar orang.
"Sayang, kamu lagi ngapain?" Iqbal menepuk pelan bahu istrinya.
Aisha menoleh ke samping melihat istrinya yang sedang berdiri tak jauh darinya. "Mas Iqbal kalau pulang ucap salam dulu atau gimana gitu."
"Tadi sudah, sayang. Hanya saja kamu yang sepertinya tak mendengar."
"Masa sih?" Aisha tampak berpikir.
"Sudah, tidak usah di pikirkan. Lebih baik sekarang kamu bicara sama Mas. Kenapa kamu menguping?"
Aisha menaruh jari telunjuknya di bibir suaminya. Mengisyaratkan suaminya agar jangan berisik. Lalu menarik tangan suaminya menjauh dari sana.
"Sayang, kamu mau ajak Mas kemana?" Iqbal sama sekali tak protes melihat istrinya menggandeng tangannya.
"Ke sana." Aisha menunjuk ruang keluarga.
__ADS_1
Kini ke duanya duduk saling berdekatan. Iqbal langsung saja meminta penjelasan dari istrinya. Aisha menarik napasnya perlahan lalu mulai menjelaskan semuanya.
"Jadi, tadi itu ada yang menelepon Nisa. Aku tidak tahu itu siapa. Tetapi Nisa langsung senyum-senyum dan pergi ke kamar. Aku penasaran dong, jadinya aku menguping saja. Eh Mas Iqbal malah muncul dan mengacaukan semuanya," jelas Aisha.
"Maaf, sayang. Tapi kenapa harus menguping segala? Kenapa kamu tidak tanya langsung sama Nisa?" Iqbal bertanya kepada istrinya.
Aisha menggelengkan kepalanya. "Tidak semudah itu. Nisa itu sangat pintar menyembunyikan sesuatu."
"Bagaimana jika kita cari tahu saja, sayang." Iqbal melontarkan sarannya.
"Apa rencana Mas Iqbal?"
Iqbal mulai membisikan sesuatu ke telinga Aisha dan Aisha mengangguk setuju.
...
Hari ini jadwal pemeriksaan Aisha dan Nisa. Namun, Aisha sengaja tidak mengajak Nisa pergi bersama dengannya. Dia juga sudah menyuruh sopir pergi membeli sesuatu, sehingga Nisa tidak bisa di antar. Aisha sudah pergi dari beberapa menit yang lalu. Sedangkan Nisa masih duduk sambil memesan taxi online. Sudah beberapa kali mencari taxi online, tetapi tidak ada satu pun yang Nisa dapat. Akhirnya Nisa menelepon Reno dan meminta bantuannya.
Tak menunggu lama untuk Reno sampai di depan rumah Iqbal. Kebetulan tadi Reno sedang ada urusan di sekitar kompleks perumahan itu. Reno melihat Nisa keluar dari halaman rumah.
"Maaf ya kalau aku merepotkan. Tapi sejak tadi tidak ada taxi online yang bisa aku pesan," ucap Nisa sambil melangkahkan kakinya mendekati Reno.
"Tidak merepotkan kok. Kebetulan saya juga sedang lewat daerah sini. Ayo masuk!" Reno membukakan pintu mobilnya.
"Terima kasih, Kak." Nisa tersenyum menatap Reno.
"Sama-sama bumil cantik."
__ADS_1
Reno bergegas masuk lalu mengemudikan mobilnya.
Iqbal dan Aisha yang sedang mengintai Nisa dari jarak jauh, langsung saja mengikuti mobil yang di naiki oleh Nisa. Mereka belum melihat jelas sosok laki-laki yang pergi bersama Nisa. Karena tadi melihatnya dari arah belakang.
Kini mobil mereka sampai di halaman rumah sakit. Iqbal memarkirkan mobilnya tepat di sebelah mobil Reno. Mereka masih belum keluar sebelum melihat Nisa keluar. Hingga pada akhirnya Iqbal dan Aisha terkejut melihat sosok lelaki yang keluar bersamaan dengan Nisa. Dia adalah Reno yang dulunya selalu mengganggu ketenangan hidup Iqbal. Dengan cepat Iqbal dan Aisha keluar dari mobil lalu menghampiri mereka.
"Nisa, kamu kok sama Reno?" tanya Aisha.
"Iya, Ais. Maaf aku belum sempat bercerita kepadamu. Selama ini Reno selalu membantuku," ucap Nisa dengan jujur.
Iqbal menatap Reno penuh selidik. Dia curiga jika kebaikan Reno itu karena ada niat terselubung. Karena yang dia tahu, Reno bukan tipe orang yang suka menolong orang.
"Apa rencanamu mendekati Nisa? Jangan berani-beraninya kamu menyakiti dia. Karena hidupnya sekarang pun sedang tak mudah," ucap Iqbal.
"Santai, Bro. Niat awalku memang mendekati Nisa karena ingin bisa dekat dengan istrimu. Tapi lama kelamaan aku kagum kepadanya dan aku merasa tertarik dengannya. Aku tidak peduli lagi dengan hal-hal lain selain dia," ucap Reno.
"Mana ada laki-laki yang tertarik kepada wanita hamil. Jika bukan karena ada niat terselubung atau hal lainnya." Iqbal masih menatap Reno dengan tatapan curiga.
Nisa mencoba mencairkan suasana agar tidak menegang seperti sekarang ini.
"Kak Iqbal, Ais, bukannya aku ingin membela. Tetapi setelah aku amati, Kak Reno memang tulus kepadaku. Awalnya aku menjauhinya karena aku merasa tak pantas dekat dengannya. Tetapi dia terus berusaha mendekatiku dan meyakinkanku," jelas Nisa.
"Itu benar, bahkan aku berniat menikahi Nisa setelah anak itu lahir," ucap Reno.
Iqbal dan Aisha terkejut sekaligus senang mendengar niat baik Reno yang terlihat tulus. Namun, Iqbal masih harus menyelidiki Reno diam-diam. Takutnya jika apa yang Reno ucapkan hanya sandiwara.
...
__ADS_1
...