
Iqbal yang sedang bermain bola di lapangan, dia melihat dua orang wanita yang sedang berjalan di pinggir lapang. Dari kejauhan pun Iqbal bisa tahu jika itu adalah Aisha. Iqbal terus menatap Aisha hingga keluar dari gerbang pesantren. Iqbal menghentikan permainannya dan lebih memilih untuk mengejar Aisha.
"Iqbal, mau kemana?" Fahmi yang masih berada di lapangan, bertanya kepada Iqbal yang sedang melangkah pergi.
"Gue cabut dulu, Bro. Ada urusan penting," ucap Iqbal.
Mereka kembali bermain bola. Tidak ada yang mengejar kepergian Iqbal. Mereka tidak mau kena masalah seperti Iqbal yang sering di hukum.
Iqbal yang baru keluar dari gerbang pesantren, dia melihat Aisha dan temannya menaiki becak. Entah kemana mereka akan pergi, tetapi yang pasti Iqbal harus mengikuti mereka. Iqbal melihat ada becak yang melintas di depannya. Lalu dia menyetopnya dan menaiki becak itu mengikuti kemana Aisha pergi.
Di tengah perjalanan terlihat ada Reno yang sedang mengendarai motornya di jalanan. Tak sengaja Reno melihat Iqbal yang sedang naik becak. Walaupun Iqbal berpakaian berbeda dari biasanya, tetapi Reno masih bisa mengenali jika itu adalah Iqbal. Reno tak langsung mencegat Iqbal. Dia memilih untuk mengikuti kemana Iqbal pergi.
Iqbal melihat Aisha turun di depan toko alat tulis. Lalu dia menghampiri Aisha dan menyapanya. Dari arah belakang, Iqbal menepuk pelan bahu Aisha.
"Hai," ucap Iqbal.
Aisha dan Nisa menoleh ke belakang. Dengan cepat Aisha menyingkirkan tangan Iqbal dari bahunya. Sedangkan Nisa sejak tadi menatap Iqbal tak berkedip. Dia begitu mengagumi ketampanan Iqbal.
"Ngapain kamu disini? Apa kamu mengikutiku?" Aisha tampak tak suka melihat keberadaan Iqbal. Karena Iqbal main pegang-pegang seenaknya. Bahkan terakhir kali, Iqbal berani mengambil ciuman pertamanya.
"Ya aku memang mengikutimu," jawab Iqbal.
Reno melihat Iqbal yang sedang mengobrol bersama wanita. Reno yakin jika wanita tercantik yang tak lain adalah Aisha, merupakan kekasih Iqbal. Reno masih memantau mereka dari jauh. Belum saatnya dia menghampiri Iqbal.
Aisha mengusir Iqbal dari sana. Dia tidak mau kalau nanti ada santri lain yang melihat Iqbal dekat-dekat dengan santriwati malah menjadi fitnah. Terpaksa Iqbal menurut apa kata Aisha. Padahal dia masih ingin berada disana.
Iqbal kembali menaiki becak menuju ke pesantren. Tanpa dia sadari, Reno kembali mengikutinya. Kini Reno menghentikan motornya di depan pesantren. Tadi dia melihat Iqbal memasuki pesantren itu.
"Oh jadi sekarang Iqbal tinggal disini? Ada angin apa itu anak so pintar sekarang masuk pesantren. Sepetinya Gue harus memberinya pelajaran," gumam Reno.
Reno memutuskan pergi dari sana. Lain kali dia akan mengajak gengnya untuk menyerang Iqbal. Yang terpenting untuk saat ini sudah mengetahui tempat tinggal Iqbal.
....
__ADS_1
....
Saat ini Ustadz Malik sedang mengumpulkan beberapa santri yang mengikuti kegiatan pencak silat di lapangan pesantren. Jadi dari mereka akan di seleksi satu persatu. Yang terpilih nanti akan mewakili pesantren mereka dalam ajang perlombaan pencak silat antar pesantren tingkah nasional.
Terlihat Iqbal menghampiri temannya yang sedang bertanding di lapangan. Salah satunya adalah Fahmi yang terkenal pintar dalam hal bela diri. Ustadz Malik yang menyadari kedatangan Iqbal, langsung saja menghampiri.
"Ngapain kamu disini?" tanya Ustadz Malik.
"Saya boleh ikutan tidak?"
"Memangnya kamu bisa berantem? Dari tampangnya sih tidak meyakinkan," Ustadz Malik meragukan Iqbal.
"Saya bisa kok, hanya bela diri saja itu mudah."
"Wah wah sepertinya ada jagoan baru nih di pesantren. Cepat tunjukan kalau kamu bisa!" ucap Ustadz Malik.
Iqbal melangkah ke tengah, dimana di sekelilingnya ada beberapa santri yang menunggu giliran mereka untuk di seleksi. Terlihat salah satu santri maju ke depan atas permintaan Ustadz Malik. Santri itu akan mencoba menghadapi Iqbal. Ke duanya tampak fokus dan mulai melayangkan pukulan. Dengan mudah Iqbal bisa mengalahkan lawannya. Para santri bertepuk tangan melihat kehebatan Iqbal.
Pukulan demi pukulan Iqbal layangkan. Ternyata sang guru mampu Iqbal kalahkan. Itu membuat para santri menatapnya tak berkedip. Baru kali ini ada yang mampu mengalahkan guru mereka.
"Selamat, Iqbal. Kamu yang terpilih mewakili pesantren ini dalam ajang pencak silat antar pesantren tingkat nasional. Tetapi kalau boleh saya tahu, kamu belajar dimana? Dari gerakan kamu sepertinya sudah terlatih?" sang guru yang bernama Ikhsan, bertanya kepada Iqbal.
"Sejak SMP hingga kuliah saya mengikuti ekstra kurikuler pencak silat. Saya juga sudah pernah mendapat beberapa penghargaan."
Pak Ikhsan bangga dengan Iqbal yang ternyata sudah terlatih dalam hal bela diri. Itu berarti tidak salah jika Iqbal terpilih untuk mewakili pesantren. Namun, ada satu orang yang masih tak percaya dengan kemampuan yang di tunjukan oleh Iqbal. Siapa lagi kalau bukan Ustadz Malik.
Semua peserta memberikan selamat kepada Iqbal. Mereka salut dengan kemampuan yang Iqbal miliki. Selama ini belum ada yang bisa mengalahkan pelatih mereka. Namun, iqbal dengan mudahnya mengalahkannya.
...
...
Tengah malam, semua santri yang sedang tidur terbangun karena suara motor yang begitu nyaring. Sepertinya ada yang sengaja mengganggu ketenangan mereka. Ustadz Malik dan beberapa santri pergi ke depan untuk melihat siapa yang membuat onar. Mereka melihat geng motor yang terlihat seperti berandalan yang sengaja membunyikan motornya dengan nyaring. Bahkan salah satu dari mereka ada yang atraksi di jalanan. Jelas sekali keberadaan mereka sangat mengganggu ketenangan pesantren.
__ADS_1
"Hei, siapa kalian? Kenapa kalian mengganggu di pesantren kami?" dengan tegas Ustadz Malik bertanya kepada mereka.
"Anda tidak perlu tahu siapa kami. Yang jelas kami datang untuk mencari Iqbal. Cepat suruh dia kemari atau kami hancurkan pesantren ini!" ucap Reno penuh penekanan.
Sudah Ustadz Malik duga, geng motor yang datang mengganggu ini komplotannya Iqbal. Ustadz Malik meminta salah satu santri untuk memanggil Iqbal. Tak lama, Iqbal datang menemui mereka. Iqbal tak menyangka jika Reno tahu keberadaannya. Jika begini pesantren ini akan menjadi sasaran mereka.
Prok prok prok
Reno dan teman-temannya bertepuk tangan saat melihat kedatangan Iqbal.
"Guys, jagoan kita sudah datang nih," ucap Reno.
"Ngapain Lo datang kesini, Ren? Tempat ini tidak menerima kehadiran orang seperti Lo Lo pada." Iqbal menunjuk mereka satu persatu.
"Songong amat Lo sekarang. Gue cuma penasaran, seorang Iqbal musuh kita kok tinggal di pesantren. Turun level Lo sama kita," ucap Reno.
"Jaga mulut Lo kalau bicara!" Iqbal mendekat lalu memegang kerah baju Reno.
Reno yang tak terima, langsung menghajar Iqbal. Begitu pun teman lainnya yang ikut memberikan pukulan ke arah Iqbal. Fahmi yang melihat Iqbal di kroyok hendak membantunya. Namun, tak jadi saat Ustadz Malik menahan tangannya.
"Tidak usah di bantu! Biar Iqbal sendiri yang selesaikan. Lagian dia yang memiliki urusan dengan geng motor itu," ujar Ustadz Malik.
Iqbal mampu mengalahkan mereka semua. Ilmu bela diri-nya memang tidak di ragukan lagi. Reno dan teman-temannya pergi dari sana karena tak mampu lagi melawan Iqbal. Para santri meneriaki mereka yang terlihat so jagoan tetapi nyatanya bisa di kalahkan oleh Iqbal.
"Hei, kalian jangan berteriak! Nanti bisa mengganggu ketenangan pesantren ini," ucap Ustadz Malik kepada para santri. Lalu Ustadz Malik menatap Iqbal. "Iqbal, jangan mentang-mentang kamu jagoan pesantren yang akan menjadi wakil pesantren ini untuk ajang pencak silat, kamu bisa seenaknya sendiri membawa gengmu itu berbuat rusuh disini," ucap Ustadz Malik kepada Iqbal.
"Maaf, mereka itu bukan teman saya. Saya akan pastikan jika mereka tidak akan berbuat rusuh disini lagi," kata Iqbal.
"Memang itu yang harus kamu lakukan. Awas saja kalau besok-besok mereka datang kesini lagi."
Iqbal tidak tahu kenapa Reno dan gengnya bisa mengetahui tempat keberadaannya. Ini tidak bisa di biarkan begitu saja. Bisa-bisa Reno dan gengnya terus mengacau di pesantren.
'Sepertinya Gue harus minta tolong Geng Gue untuk berpatroli di sekitar pesantren. Jika Reno dan gengnya datang lagi, ada mereka yang menghadapi,' gumam Iqbal dalam hati.
__ADS_1