Cowok Rocker Masuk Pesantren

Cowok Rocker Masuk Pesantren
Episode.17


__ADS_3

Iqbal sudah pulang dari rumah sakit. Namun, dia belum di perbolehkan beraktivitas yang berat-berat dulu. Iqbal memutuskan untuk tidak pergi ke kantor selama beberapa hari hingga kondisi kakinya jauh lebih membaik sehingga boleh bepergian. Untuk sementara Iqbal mengerjakan pekerjaannya dari rumah.


Sudah dua hari Aisha tidak pergi mengajar di pesantren, karena dia ingin fokus menjaga suaminya. Namun, pagi ini dia mendapat pesan dari salah satu Ustazah yang memintanya untuk datang. Karena cukup kewalahan jika kurang satu orang saja tenaga pengajar.


Aisha sudah selesai melayani suaminya. Dengan ragu, dia mendekati suaminya yang sedang duduk bersantai. Sebenarnya Aisha merasa sedikit tak enak untuk meminta izin kepada suaminya.


''Mas, ada yang ingin aku bicarakan,'' ucap Aisha sambil berdiri di samping tempat tidur.


''Kamu mau bicara apa? Kok terlihat serius sekali sih?''


''Tadi aku dapat telepon, katanya di suruh kembali mengajar. Hanya saja aku merasa tak enak sama Mas Iqbal jika tidak ada yang jagain di rumah.''


''Sayang, para santriwati butuh kamu. Lebih baik kamu pergi mengajar saja. Lagian Mas sudah jauh lebih baik kok,'' ucap Iqbal.


''Apa Mas Iqbal yakin? Tapi aku merasa tak enak, Mas?''


''Kamu tenang saja, sayang. Di rumah masih ada mamah, masih ada bibi yang bisa membantu Mas jika Mas menginginkan sesuatu,'' Iqbal meyakinkan istrinya jika dia akan baik-baik saja biarpun istrinya pergi mengajar.


''Baiklah. Kalau begitu aku bersiap dulu ya.''


''Iya, sayang.'' Iqbal tersenyum menatap istrinya.


Aisha pergi dengan di antar oleh sopir. Iqbal tidak membiarkannya pergi sendirian. Karena dia takut ada orang jahat di luar sana. Mengingat Reno dan gengnya masih sering mengganggu.


Tak lama setelah kepergian Aisha, Iqbal mendapat telepon dari Rani. Rani mengatakan jika saat ini sedang berada di perjalanan menuju ke rumahnya.


Iqbal sedang duduk di ruang depan. Dia mendengar ketukan pintu rumahnya. Dia meminta Bi Ijah untuk membukakan pintu.


Terlihat Rani melangkah memasuki rumah. Dia mendekati Iqbal lalu duduk di hadapannya. Rani memang sengaja datang untuk membicarakan pekerjaan.


"Pak, saya membawa berkas yang harus di tanda tangani oleh Bapak." Rani mengambil berkas dari dalam tas yang dia bawa lalu menaruhnya ke atas meja.


"Baiklah, nanti saya baca dulu berkasnya baru saya tanda tangani. Oh iya, apa kamu sudah baik-baik saja?"


"Sudah, Pak. Saya sudah lebih baik sekarang. Saya harap Pak Iqbal juga bisa kembali secepatnya ke kantor."


"Saya juga maunya seperti itu, hanya saja kondisi saya yang masih belum membolehkan saya beraktivitas. Oh iya, dokumen ini kamu ambil besok ya."


"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu mau ke kantor," ucapnya ramah.

__ADS_1


"Silakan!"


Setelah kepergian Rani, kini Iqbal kembali duduk bersantai. Nanti saja dia mengecek dokumennya. Sekarang dia harus mengecek laporan keuangan yang baru saja di kirimkan oleh asisten ayahnya. Karena pekerjaan Iqbal setiap harinya makin bertambah. Otaknya yang jenius membuatnya bisa cepat dalam mengerjakan apa pun yang di ajarkan.


...


...


Aisha baru pulang mengajar. Dia melihat suaminya yang baru keluar rumah. Pakaiannya terlihat rapi. Sepertinya suaminya ada urusan penting di luar.


"Mas, kamu mau kemana?" tanya Aisha.


"Mas mau bertemu klien di luar, sayang."


"Tapi kan Mas Iqbal baru juga sembuh, kok sudah pergi-pergi saja sih?"


"Maafkan suamimu ini, sayang. Habisnya bosan di rumah terus. Lagian Mas juga sudah boleh beraktivitas lagi seperti biasanya," ucap Iqbal.


"Mas pergi sendiri?"


"Tidak, sayang. Nanti Mas ke kantor dulu. Kebetulan Mas pergi sama Rani," ucapnya.


Mendengar suaminya pergi berdua dengan Rani, membuat Aisha cemburu. Aisha tak bisa membayangkan jika suaminya terus berada di dekat wanita sexy itu. Ada rasa takut di hatinya jika saja suaminya tergoda oleh Rani.


"Tumben sekali kamu mau ikut sama suamimu."


"Ya karena sekarang sudah sore, Mas. Aku tidak bisa membiarkanmu pergi berduaan saja dengan sekretarismu."


"Apa kamu cemburu?" Iqbal memperhatikan raut wajah istrinya. Entah mengapa dia merasa jika istrinya sedang cemburu kepadanya.


"Tidak, aku biasa saja. Aku hanya khawatir dengan kesehatanmu, Mas. Apalagi kan kamu baru saja sembuh."


"Baiklah, kalau kamu tidak cape, kamu boleh ikut kok."


"Aku mau menaruh buku dulu sebentar," Aisha bergegas masuk ke dalam rumah. Dia menaruh beberapa buku yang ada di tangannya ke atas meja, lalu cepat-cepat keluar menghampiri suaminya.


Setelah Aisha masuk ke mobil, Iqbal langsung saja mengemudikan mobilnya menuju ke kantor. Hanya perjalanan 30 menit saja mereka sampai di kantor. Ternyata sekretarisnya sudah menunggu di depan pintu keluar.


Iqbal membuka kaca mobilnya lalu berucap kepada Rani, "Kamu duduk di belakang ya! Kebetulan istri saya juga ikut," ucap Iqbal.

__ADS_1


Terlihat raut wajah Rani sedikit kecewa. Padahal dia ingin pergi berdua saja dengan Iqbal, tapi ternyata istrinya ikut. Iqbal segera mengemudikan mobilnya setelah melihat Rani sudah duduk di jok belakang.


Mereka sampai juga di depan sebuah cafe tempat pertemuan dengan klien. Iqbal menatap sekitarnya mencari keberadaan klien-Nya. Kemudian dia melihat seseorang melambaikan tangan kepadanya. Iqbal bergegas pergi menghampirinya.


"Selamat datang, Pak Iqbal," ucapnya ramah.


"Maaf jika kedatangan kami telat, Pak Aldo."


"Tidak masalah, kebetulan saya dan sekretaris saja juga baru sampai." lalu lirikan mata Aldo tertuju kepada Aisha. "Siapa wanita cantik di sampingmu?" tanya Aldo.


"Dia Aisha istri saya," jawab Iqbal.


"Wah Pak Iqbal pintar sekali mencari istri. Carikan satu yang seperti istri Bapak dong," ucap Aldo.


"Pak Aldo mau saya kenalkan sama teman saya di pesantren? Kebetulan dia juga wanita yang baik," sahut Aisha.


"Wah boleh tuh," jawab Aldo.


Aldo tersenyum menyeringai entah sedang memikirkan apa. Dia ingin mencoba wanita berhijab, karena selama ini yang sering dia tiduri hanya wanita malam. Tanpa Iqbal ketahui, Aldo adalah kakak dari Reno, yang tak lain rivalnya.


Di bawah meja, sejak tadi Aldo mendaratkan kakinya di atas punggung kaki Rani. Aldo memang sudah ahli dalam menaklukkan wanita. Apalagi wanita modelan seperti Rani yang berpakaian sexy.


Iqbal dan Aldo memulai membahas kerja sama mereka. Iqbal merasa jika perusahaan Aldo cocok untuk bekerja sama dengan perusahaannya. Ke duanya berjabat tangan setelah mendapat kesepakatan.


"Saya harap perusahaan kita bisa bekerja sama dengan baik, Pak Aldo," ucap Iqbal.


"Semoga saja," jawabnya.


Rani menunggu Iqbal selesai berbicara dengan Aldo. Barulah dia angkat bicara.


"Maaf, Pak Iqbal. Nanti biar saya pulang sendiri," ucap Rani.


"Loh memangnya kenapa, Ran? Kamu tidak enak sama istri saya?"


"Bukan seperti itu, Pak. Hanya saja mungkin Bapak ingin berduaan dengan Bu Aisha," ucap Rani.


"Saya tidak masalah kok kalau kamu ikut dengan kita. Berangkatnya bersama, maka pulangnya pun Mas Iqbal sudah sepantasnya mengantar kamu sampai ke rumah," ucap Aisha.


"Sebenarnya saya sudah ada janji dengan orang," ucap Rani.

__ADS_1


Iqbal dan Aisha tidak bisa melarang keinginan Rani, jika memang dia tidak ingin pulang bersama mereka.


Aldo tersenyum senang, akhirnya malam ini dia mendapatkan mangsa baru. Sepertinya Rani itu wanita gampangan. Tetapi sayang sekali, Iqbal sepertinya tak menyadari itu.


__ADS_2