
Operasi Iqbal berjalan dengan lancar. Saat ini Iqbal sudah melewati masa kritisnya. Aisha dan yang lainnya merasa lega melihat Iqbal yang sedang berada di masa pemulihan. Hanya saja Iqbal belum sadarkan diri karena pengaruh obat.
''Ais, ayo kita cari makan dulu! Ini sudah lewat waktu makan siang loh,'' Bu Fatimah mendekati anaknya yang sedang duduk di kursi dekat ranjang suaminya berbaring.
''Ais tidak lapar, Mah. Mamah duluan saja,'' ucap Aisha.
''Nak, kalau kamu sakit nanti siapa yang akan menjaga suamimu. Kamu jangan siksa dirimu seperti ini ya.'' Bu Fatimah terus membujuk anaknya.
''Mamah belikan saja deh, biar Ais makan disini,'' pintanya.
''Baiklah, kalau begitu mamah pergi keluar dulu ya. Assalamu'alaikum,'' ucap Bu Fatimah.
''Waalaikum'salam,'' jawab Aisha.
Aisha masih setia memandang wajah suaminya. Perlahan dia daratkan tangannya di kepala suaminya dan mengusapnya pelan. Aisha juga sudah beberapa kali mendaratkan ciuman singkat di kening suaminya. Terlihat sekali rasa khawatir yang begitu besar.
''Mas, cepat bangun! Aku sedih lihat kamu seperti ini, Mas. Kamu harus jelaskan semuanya kepadaku, siapa yang sudah berani membuatmu terluka seperti ini.'' Aisha membaringkan kepalanya di dekat lengan suaminya.
Karena asyik berbicara, Aisha sampai tak menyadari jika suaminya sudah siuman. Sengaja Iqbal diam mendengarkan istrinya yang terus berceloteh. Sebuah senyuman terukir di sudut bibir Iqbal. Iqbal merasa senang melihat istrinya terlihat begitu mengkhawatirkannya. Iqbal merasakan lengannya basah. Sepertinya istrinya itu menangis. Jika saja keadaannya baik-baik saja, mungkin Iqbal akan langsung memeluk istrinya.
''Kamu menangis?''
Suara Iqbal membuat Aisha spontan mengangkat kepalanya. Aisha menatap suaminya yang sedang tersenyum kepadanya.
''Sejak kapan Mas Iqbal siuman?''
''Sejak kamu menangis, sayang. Kamu khawatir ya sama Mas?''
''Ih ngeselin, jadi sejak tadi Mas Iqbal dengerin semua ocehanku.'' Aisha memanyunkan bibirnya berpura-pura merajuk.
__ADS_1
''Mas senang melihat kamu khawatir seperti itu. Tandanya kamu cinta sama Mas. Terima kasih ya, sayang. Kamu adalah segala-galanya untuk Mas.''
''Uuh jadi ingin peluk.'' Aisha memeluk suaminya yang sedang berbaring. Dia menyentuh suaminya dengan berhati-hati, karena takut menyentuh bagian perutnya yang habis di operasi.
''Sayang sekali ya Mas tidak bisa membalas pelukan kamu, sayang.''
''Tidak apa-apa, Mas. Kamu jangan terlalu banyak bergerak,'' ucap Aisha sambil melepaskan pelukannya.
''Iya, sayang. Mas ingin cepat-cepat pulih biar bisa mesra-mesraan lagi sama kamu,'' ucap Iqbal sambil mengedipkan sebelah matanya.
''Itu pasti, Mas. Tapi aku penasaran nih, siapa yang sudah membuat kamu terluka seperti ini?'' Aisha menatap suaminya menunggu penjelasannya.
''Reno, dia dan teman-temannya menghadang Mas di jalan,'' ucap Iqbal.
''Astaghfirullah'aladzim, aku tidak menyangka kalau Reno seperti itu, Mas.''
''Tapi memang itu kenyataannya, sayang. Ah sudahlah kita jangan bahas itu. Lebih baik bahas masa depan kita berdua saja,'' ucap Iqbal.
''Mas tidak punya bukti untuk melaporkan Reno. Lagian kejadian itu begitu cepat. Sudahlah, Mas sudah ikhlas. Nanti juga pasti Reno mendapatkan balasannya atas apa yang dia perbuat.''
''Ke depannya kita harus lebih berhati-hati, Mas. Aku masih tidak menyangka saja kalau Reno yang baik di depanku, ternyata aslinya jahat.''
''Mungkin dia baik sama kamu karena ada maunya, sayang. Kamu harus berhati-hati ya.''
''Mas Iqbal tenang saja. Aku akan berusaha menjaga diri dengan baik,'' ucap Aisha.
...
...
__ADS_1
Setelah beberapa hari berada di rumah sakit, kini Iqbal sudah di perbolehkan untuk pulang. Aisha juga sudah cuti mengajar dari pesantren. Dia ingin fokus merawat suaminya.
Aisha memasuki kamar dengan membawa nampan. Kebetulan dia membawakan makan siang untuk suaminya.
''Mas, ayo makan dulu! Kamu harus minum obat loh,'' ucap Aisha sambil menaruh nampan yang dia bawa ke atas nakas.
''Obat lagi? Rasanya sudah bosan minum obat. Em kali ini saja Mas tidak minum ya,'' ucap Iqbal.
Aisha menggelengkan kepalanya. ''Katanya mau cepat sembuh, jadi Mas juga harus rajin minum obat,'' ucap Aisha.
''Tapi kamu suapi ya makannya,'' pinta Iqbal.
''Untuk suami tercinta, pasti aku turuti,'' Aisha mengambil piring dari atas nampan yang sudah penuh dengan nasi dan lauk. Dia mulai mengambil nasi itu dengan sendok lalu menyuapi suaminya.
Iqbal merasa senang memiliki seorang istri seperti Aisha. Begitu perhatian, tulus penuh cinta.
''Sayang, terima kasih ya. Kamu sudah rela cuti demi mengurusku seperti ini.''
''Sama-sama, Mas. Ini sudah kewajibanku sebagai seorang istri. Nah sekarang kamu tinggal minum obat ya.'' Aisha membuka laci lalu mengambil obat milik suaminya.
Setelah meminum obat, Iqbal kembali beristirahat. Sedangkan Aisha pergi ke dapur menaruh piring kotor bekas makan suaminya.
Terlihat Bu Fatma menghampiri Aisha yang sedang mencuci piring. ''Nak, jangan terlalu rajin, biar Bibi saja yang mengerjakan,'' ucap Bu Fatma.
''Cuma piring satu kok, Mah. Masa nunggu Bibi yang cuciin. Ais tidak apa-apa kok. Lagian ini piring bekas Mas Iqbal makan.''
''Kamu sungguh istri yang Sholeha, Nak. Beruntung sekali Iqbal memiliki istri sepertimu,'' puji Bu Fatma.
''Mamah terlalu berlebihan. Aisha biasa saja kok,'' kata Aisha.
__ADS_1
''Tidak, Nak. Bagi mamah, kamu ini istri Sholeha.''
Aisha hanya tersenyum saja. Walaupun di puji seperti itu, tetapi tidak pantas jika dia menyombongkan diri. Aisha tipe wanita yang apa adanya, sama sekali tidak pernah memuji atau membanggakan dirinya sendiri.