
Iqbal sudah menyelidiki Reno dan ternyata Reno memang tulus mendekati Nisa. Hanya saja dia heran karena Reno bisa jatuh cinta kepada wanita hamil. Mungkin itu memang takdir mereka. Iqbal hanya bisa mendoakan agar Reno dan Nisa memang berjodoh.
Aisha melihat suaminya yang baru pulang dari kantor. Dia menyambut kedatangan suaminya, mengambil tas kerja dari tangan suaminya. Lalu menggandeng tangan suaminya dan mengajaknya duduk bersama.
"Bagaimana pekerjaan hari ini, Mas?" tanya Aisha sambil menaruh tas kerja suaminya ke atas meja.
"Hari ini pekerjaan Mas tidak terlalu banyak, sayang. Jadi Mas tidak terlalu capek," jawab Iqbal.
"Syukurlah, Nisa senang mendengarnya, Mas. Bagaimana kalau nanti malam kita jalan?"
"Mau pergi kemana, sayang?" tanya Alex.
"Jalan-jalan dong, masa cuma Nisa doang yang bisa jalan bareng."
"Nisa jalan sama siapa?"
"Sama Reno memangnya sama siapa lagi? Aku kan jadi pengen jalan juga, Mas."
"Iya, sayang. Nanti malam kita jalan juga." Iqbal mengusap gemas pucuk kepala istrinya dari balik jilbab yang di kenakannya.
"Benarkah?" Aisha terlihat senang.
"Benar, sayang. Ayo sekarang antar Mas ke kamar!" Iqbal menggandeng tangan istrinya lalu melangkah pergi ke kamar.
Di tempat lain yaitu di sebuah pusat perbelanjaan, Reno memilihkan berbagai perlengkapan bayi untuk Nisa. Niatnya memang mengantar Nisa berbelanja untuk keperluan anaknya.
Nisa yang baru keluar dari toko pakaian anak, menghentikan langkahnya saat melihat Aldo bersama seorang wanita. Nisa kembali mengajak Reno masuk ke toko itu dengan alasan ada yang belum terbeli. Padahal niatnya untuk menghindari Aldo.
__ADS_1
"Nis, apa yang lupa kamu beli?" Reno bertanya kepada Nisa, tetapi sejak tadi arah pandang Nisa entah sedang menatap apa.
"Em sepertinya sudah ke beli semua, Kak. Tadi Nisa kira belum beli sepatu bayi," ucap Nisa beralasan.
Reno memperhatikan raut wajah Nisa yang mendadak berubah. Sepertinya ada sesuatu yang di sembunyikan olehnya. Reno mencoba melihat ke arah pandang Nisa. Dia melihat orang yang berlalu lalang. Untung saja Aldo sudah tak ada di depan toko itu lagi jadi Reno tak melihatnya.
"Ya sudah, ayo kita pergi! Katanya tadi kamu lapar. Kita cari makan di sekitar sini," ajak Reno.
"Bagaimana jika kita cari restoran di luar saja, Kak? Tiba-tiba aku tidak mau makan di restoran mall," ucap Nisa beralasan. Sebenarnya Nisa hanya takut jika nanti bertemu dengan Aldo.
"Baiklah, ayo!" Reno melangkah duluan dengan membawa semua belanjaan Nisa di ke dua tangannya. Sedangkan Nisa mulai mengekor di belakang.
...
...
Pagi ini Aisha merasakan sakit pada perutnya. Dia membangunkan suaminya yang masih terlelap di sampingnya. Iqbal pun terkejut melihat istrinya yang merintih kesakitan.
"Tiba-tiba perutku sakit, Mas," jawab Aisha.
Iqbal menatap jam yang ada di dinding. Ternyata masih pukul tiga pagi. Lalu Iqbal membantu memapah istrinya keluar dari kamar. Sekarang juga mereka akan pergi ke rumah sakit.
"Mah ... Mamah ... " Iqbal berteriak memanggil ibunya.
Bukan hanya Bu Fatma saja yang keluar dari kamar karena mendengar suara Iqbal. Namun, Nisa dan juga pembantu di rumah itu ikut keluar. Mereka mendekati Iqbal yang sudah berada di ruang keluarga.
"Nak, kenapa Aisha?" tanya Bu Fatma.
__ADS_1
"Sepertinya Aisha mau melahirkan, Mah," jawab Iqbal.
"Kalau begitu kita langsung pergi saja ke rumah sakit." Lalu Bu Fatma menatap Bi Marni yang berdiri tak jauh darinya. "Tolong siapkan keperluan Aisha, Bi. Nanti bisa di bantu Nisa."
"Baik, Nyonya," jawab Bi Marni.
"Ais, kamu yang kuat ya. Nanti aku akan menyusul tetapi kalau sudah selesai menyiapkan keperluanmu," ucap Nisa.
"Terima kasih, Nis." Tatapan Aisha beralih ke suaminya. "Ayo, Mas! Aku sudah tidak kuat."
"Iya, sayang." Iqbal memapah istrinya hingga keluar rumah di ikuti oleh Bu Fatma di belakangnya. Iqbal akan mengemudi sendiri pergi ke rumah sakit.
Untung pagi buta begini jalanan tidak macet. Jadi, Iqbal bisa mengemudi dengan cepat tanpa hambatan. Hanya dua puluh menit perjalanan, kini Iqbal sudah sampai di rumah sakit.
Iqbal menggendong Aisha memasuki rumah sakit. Sedangkan Bu Fatma sudah berjalan cepat di depannya. Bu Fatma memanggil perawat dan meminta bantuannya untuk segera menangani Nisa.
Kini Iqbal dan Bu Fatma berdiri di depan ruang persalinan. Namun, terlihat pintu yang baru saja tertutup kini terbuka lagi. Seorang dokter keluar lalu menghampiri mereka.
"Dok, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Iqbal yang terlihat khawatir.
"Ibu Aisha akan segera melahirkan. Namun, Ibu Aisha ingin di temani oleh bapak."
"Baik, Dok." Iqbal mengikuti dokter itu masuk ke dalam ruang persalinan.
Beberapa menit kemudian, akhirnya bayi mungil berjenis kelamin laki-laki lahir ke dunia. Iqbal dan Aisha merasa senang karena persalinan anak pertamanya berjalan dengan lancar. Apalagi kondisi ibu dan bayi sama-sama sehat.
"Terima kasih, sayang. Perjuanganmu sungguh besar untuk anak kita." Beberapa kali Iqbal mendaratkan ciumannya di kening istrinya.
__ADS_1
"Ini sudah tugasku sebagai seorang istri sekaligus ibu untuk anak kita, Mas."
....