Cowok Rocker Masuk Pesantren

Cowok Rocker Masuk Pesantren
Episode.35


__ADS_3

Satu minggu kemudian.


Nisa pun kini melahirkan seorang putri yang sangat cantik. Bu Fatma memperlakukan Nisa seperti anaknya sendiri. Bahkan dengan baiknya membantu Nisa mengurus anaknya.


Nisa sedang duduk berdua bersama Aisha. Kebetulan anak mereka sedang tidur siang. Keberadaan Nisa di rumah itu sama sekali tidak mengganggu kententraman keluarga mereka. Malah rumah itu jadi semakin ramai.


Obrolan Ke duanya terhenti karena mendengar ada yang mengetuk pintu.


"Sepertinya ada yang datang," ucap Aisha.


"Biar aku saja yang buka pintunya." Nisa beranjak dari duduknya lalu pergi ke depan. Sambil memegangi perutnya yang terkadang terasa nyeri. Bekas operasi SC yang dia lakukan masih sangat terasa.


Nisa melihat Reno berdiri di depan pintu. Dari penampilannya terlihat rapi. Reno memakai jaz berwarna silver.


"Kak Reno, tumben datang  pakai jas?"


"Iya nih, tadi habis dari kantor. Kebetulan sekarang jam makan siang, jadi aku manfaatkan untuk menengok anak kita," ucap Reno.


"Anakku, Mas. Bukan anak kita," ujar Nisa.


"Sebentar lagi jadi anakku juga, Nis. Oh iya ini aku bawakan buah-buahan untukmu." Reno memberikan bingkisan yang sedang dia pegang kepada Nisa.


"Wah terima kasih, Kak. Ayo masuk!" ajaknya.


Reno mengikuti Nisa masuk ke dalam rumah. Lalu bergabung duduk bersama. Nisa berinisiatif memanggil Bi Marni dan memintanya menyiapkan minum untuk Reno.


"Jadi, kapan nih Kak Reno menghalalkan Nisa?" tanya Aisha kepada Reno.

__ADS_1


"Yang pasti tidak dalam waktu dekat ini, karena Hana masih kecil. Mungkin nanti kalau Hana sudah berusia empat bulan," ucap Reno.


"Terima kasih, Kak. Karena sudah mau menerimaku apa adanya," ucap Nisa penuh syukur.


"Karena wanita sebaik kamu memang pantas di perjuangkan, Nis. Lelaki yang sudah mengecewakanmu pasti akan sangat menyesal jika tahu sebentar lagi kamu menikah denganku. Apalagi sudah ada anak yang cantik seperti Hana," ucap Reno.


Nisa merasa begitu senang karena Reno begitu tulus kepadanya. Dia berharap jika Reno memanglah jodoh yang sudah di takdirkan sang penguasa. Yang bisa menjadi imam yang baik untuknya. Walaupun Reno masih belajar menjadi muslim yang taat, tetapi semoga saja ke depannya bisa jauh lebih baik lagi.


...


...


Iqbal menghampiri istrinya yang sedang memberi ASI kepada anaknya. Baby Azam memanglah tak bisa lepas dari ibunya. Maka dari itu Aisha tak pernah pergi keluar rumah. Karena takut kalau anaknya mencarinya.


"Sayang, suamimu baru pulang kerja nih. Kamu kok tidak menyambut?"


"Pantas saja anak kita gemoy ya." Iqbal memperhatikan anaknya yang sedang memejamkan mata.


"Seperti kamu, Mas."


"Enak saja, seperti kamu tuh yang sekarang mulai gemoy juga."


"Biarkan saja aku gemoy, namanya juga emak-emak." Aisha berekspresi merajuk.


"Maaf, sayang. Bukan maksud Mas memojokanmu. Justru kalau kamu gemoy Mas makin cinta."


"Benarkah?" Raut wajah Aisha berubah seketika.

__ADS_1


"Benar, sayang."


"Karena suamiku ini sangat baik dan pengertian, maka malam ini ... " Aisha sengaja menjeda perkataannya.


"Apa malam ini Mas dapat jatah?" Iqbal mengedipkan sebelah matanya.


Aisha menepuk lengan suaminya. "Enak saja, aku itu baru juga melahirkan, Mas."


"Iya deh, Mas cuma becanda kok."


"Mas, bagaimana kalau kita bantu persiapkan acara pernikahan Reno dan Nisa,' ucap Aisha.


"Kamu baik banget, sayang. Tapi sebaiknya kita biarkan mereka saja yang mengatur semuanya. Lagian kita belum tahu pasti tepatnya tanggal pernikahan mereka," ujarIqbal memberikan sarannya.


"Baiklah kalau begitu. Ais ngikut saja apa kata Mas Iqbal. Yang terpenting hubungan mereka segera di sahkan," ucap Aisha.


"Sayang, sejak tadi kita bahas mereka terus. Bagaiman kalau bahas kita berdua. Jadi, kapan nih Mas bisa mesra-mesraan sama kamu?" Iqbal mengedipkan sebelah matanya kepada istrinya.


"Nanti sebentar lagi. Nunggu anak kita tidur pulas," jawab Aisha.


"Kapan pulasnya? Perasaan dari tadi me*nyusu terus. Kapan Mas kebagian jatahnya?"


Plak


Aisha memukul lengan suaminya. "Mas Iqbal sudah besar masa ingin ASI sih? Malu sama anak kita."


Iqbal menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Istrinya sama sekali tidak peka dengan maksud perkataannya. Iqbal memilih pergi ke kamar mandi meninggalkan istrinya yang masih mengoceh.

__ADS_1


__ADS_2