
Iqbal memperhatikan istrinya yang sedang membaca buku. Aisha menoleh saat merasa sedang di perhatikan. Ternyata benar, suaminya sedang menatapnya.
"Mas Iqbal, apa ada hal yang ingin Mas katakan? Sepertinya sejak tadi Mas memperhatikanku?" tanya Aisha.
"Benar, sayang. Mas ingin mengatakan sesuatu sama kamu. Jadi, Mas akan pergi ke luar negeri untuk mengunjungi undangan dari rekan bisnis," ucap Iqbal.
"Apa Mas Iqbal akan pergi bersama Rani?"
"Tidak, sayang. Sebenarnya Mas ingin mengajakmu, karena undangan ini menghadiri acara pernikahan. Tidak mungkin jika Mas pergi dengan wanita lain selain istri Mas sendiri," ucap Iqbal.
Ada rasa lega di hati Aisha saat tahu suaminya tidak pergi bersama Rani. Namun, dirinyalah yang di ajak pergi.
"Aku mau, Mas. Tapi berapa lama kita pergi?"
"Sebenarnya sih dua hari juga kita sudah bisa kembali, tapi apa tidak sebaiknya kita sekalian liburan saja? Selama pernikahan, kita belum merencanakan pergi bulan madu loh," ujar Iqbal memberikan usulnya.
"Bulan madu?" Aisha terlihat gugup, tak terlintas sama sekali di benaknya jika mereka perlu bulan madu.
"Iya, sayang. Kenapa kamu gugup seperti itu? Tenang saja, Mas tidak akan melakukan apa pun tanpa persetujuan kamu."
"Aku terserah kamu saja, Mas. Kalau kita mau sekaligus bulan madu, aku tidak masalah."
"Jadi kamu sudah siap melakukan itu?" Raut wajah Iqbal terlihat bahagia.
"Aku tidak bilang seperti itu loh. Mas Iqbal jangan percaya diri dulu."
"Iya, sayang. Mas tidak akan memaksa kamu. Tidak usah tegang seperti itu." Iqbal mencolek dagu istrinya.
"Tidak kok." Aisha mengalihkan wajahnya dari suaminya.
Iqbal hanya tersenyum kecil memperhatikan istrinya. Sudah menjadi istri pun Aisha masih terlihat malu-malu. Mungkin karena mereka belum pernah bersentuhan lebih intim.
"Mas mau keluar nih, kamu mau di belikan apa?" Iqbal bertanya kepada istrinya.
"Tidak ingin apa pun, Mas. Tapi terserah sih kalau Mas Iqbal mau membelikan sesuatu ya boleh saja."
"Nanti Mas belikan ayam krispi, biar badan kamu jadi berisi kalau makan daging. Biar nanti kalau malam pertama, badan kamu sudah tidak kurus seperti itu." Iqbal sedikit meledek istrinya.
"Mas Iqbal apaan sih." Aisha mencubit pelan pinggang suaminya.
__ADS_1
Interaksi ke duanya terlihat semakin dekat. Tanpa Aisha sadari, sebenarnya dia sudah menerima Iqbal sebagai pendamping hidupnya.
...
...
Iqbal dan Aisha sudah berpamitan kepada ke dua orang tuanya. Tentu mereka pun mendukung niat baik Iqbal untuk mengajak Aisha berbulan madu. Walaupun yang mereka lakukan nanti hanya liburan saja. Iqbal memang tak mau berharap lebih kepada istrinya, karena istrinya yang memang belum memberikan kode untuk siap berhubungan lebih dekat.
Setelah selesai berpamitan, mereka pergi ke bandara di antar oleh sopir. Aisha sudah tak sabar ingin cepat-cepat sampai. Karena dia sama sekali belum pernah pergi ke luar negeri.
"Sayang, kamu mau mampir beli cemilan tidak? Biasanya cewek kalau di perjalanan sukanya makan."
"Em aku ingin buah saja, Mas."
"Loh kok buah? Seperti sedang diet saja, sayang."
"Memangnya orang diet saja yang boleh makan buah? Aku itu sudah terbiasa kalau di perjalanan makan buah, itu membuat kita tidak mual, Mas."
"Baiklah." Lalu Iqbal meminta sopirnya untuk berhenti di swalayan terdekat.
Setelah selesai berbelanja, mereka kembali melanjutkan perjalanannya ke bandara. Setelah beberapa menit menunggu, semua penumpang pesawat dengan tujuan singapura di minta untuk segera masuk, karena sebentar lagi jadwal penerbangannya.
"Mas, kamu tidur?"
"Tidak kok, Mas hanya sedikit pusing saja kepalanya," jawab Iqbal.
Aisha memegang kening suaminya yang tak panas. Sepertinya suaminya hanya pusing akibat menaiki pesawat, bukan pusing karena sakit. Aisha menyodorkan melon potong kepada suaminya.
"Nih makan, aku jamin nanti Mas Iqbal tidak akan pusing lagi," ucap Aisha.
"Benarkah? Kamu seperti dukun saja bisa tahu," kata Iqbal.
"Aku itu lebih pintar dari dukun, maka dari itu tahu kalau Mas Iqbal bakalan tidak mual lagi setelah makan buah melon ini," ujar Aisha.
Iqbal mengambil satu potong buah melon lalu mulai melahapnya. Ternyata benar, rasa mualnya sudah berkurang. Aisha memang penyelamatnya.
"Terima kasih, sayang. Sekarang rasa mualku sudah berkurang loh," ucap Iqbal.
"Sama-sama, Mas. Syukur deh kalau kamu sudah tidak mual lagi," ucap Aisha.
__ADS_1
Iqbal dan Aisha saling mengobrol selama perjalanan. Sehingga Iqbal sudah tidak merasa mual lagi.
...
...
Aisha dan Iqbal sudah terlihat rapi dengan penampilannya masing-masing. Mereka akan langsung pergi ke tempat pernikahan William yang merupakan rekan bisnis Iqbal.
"Kamu sudah cantik kok, sayang," ucap Iqbal kepada istrinya yang sedang bercermin.
"Mas, apa aku boleh mengenakan cadar?" tanya Aisha.
"Kamu sudah dandan cantik seperti itu loh, masa ingin pakai cadar? Nanti kecantikanmu tidak terlihat loh.” Iqbal merasa permintaan istrinya kali ini sedikit aneh.
"Begini, Mas. Ini kan di luar negeri, aku hanya menghindari untuk bersentuhan. Karena disini itu laki-laki dan wanita yang bukan pasangan pun wajar berpelukan di tempat umum.''
''Kamu benar juga, sayang. Mas tidak ingin melihat kamu di sentuh oleh lelaki lain. Jadi, untuk hari ini Mas izinkan kamu memakai cadar,'' ucap Iqbal.
Iqbal membantu memakaikan cadar kepada istrinya. Setelah itu mereka bergegas pergi. Kebetulan Iqbal sudah menyewa mobil yang dia pakai selama berada disana. Jadi, bisa bebas pergi kemana pun dengan mengemudi sendiri.
Sesampainya di sebuah hotel bintang lima, mereka langsung masuk menuju ke tempat acara. Tak lupa Iqbal memperlihatkan undangannya. Karena tidak sembarang orang bisa masuk, apalagi jika tanpa undangan.
''Selamat atas pernikahannya, Mr. William,'' ucap Iqbal dalam bahasa inggris.
Iqbal menjabat tangan Mr. William, sedangkan kepada wanita di sampingnya, Iqbal hanya tersenyum tanpa berjabat tangan. Begitu pun dengan Aisha yang hanya menjabat tangan pengantin wanitanya saja. Padahal tadi Mr. William sempat mengangkat tangan mengajaknya bersalaman.
''Maaf, Mr, Mrs. Istri saya ini wanita yang taat agama, jadi tidak menjabat tangan lawan jenis selain suaminya sendiri,'' Iqbal berkata seperti itu karena takut jika Mr. William atau pun istrinya tersinggung.''
''Oh oke, tidak masalah. Mohon maaf saya tidak tahu,'' ucap Mr. William.
Setelah memberikan selamat kepada pengantin, Iqbal mengajak Aisha untuk duduk di salah satu kursi yang kosong, sambil memperhatikan rangkaian acara. Tentu acara pernikahan yang mereka lihat terlihat aneh, karena Mr. William dan istrinya non muslim. Namun, Iqbal dan Aisha tetap menghormati mereka. Di acara itu juga hanya Aisha sendiri yang berhijab. Yang lain sebagian besar berpakaian sexy yang memperlihatkan lekuk tubuhnya.
''Mas, setelah kita selesai menikmati hidangan, sebaiknya kita langsung pulang saja.'' Aisha berbisik kepada suaminya.
''Memangnya kenapa, sayang? Kamu sudah tidak sabar untuk jalan-jalan?''
''Bukan seperti itu, tapi aku risih melihat mereka berpakaian seperti itu. Aku yang malu sendiri, Mas,'' ucap Aisha sambil menatap ke sekitar.
''Baiklah, sayang. Nanti kita langsung berpamitan kepada Mr. William dan istrinya."
__ADS_1