
Reno sengaja datang menjemput Nisa. Niatnya dia akan mengenalkan Nisa kepada kakaknya. Sekaligus meminta restu untuk menikahinya. Nisa sudah sangat yakin dengan ketulusan Reno kepadanya.
Aisha melihat Nisa yang sedang bercermin sambil menatap penampilannya sendiri. Bau parfumnya pun sudah tercium wangi di indra penciuman Aisha. Sudah bisa di tebak jika Nisa akan pergi.
"Ekhm ... mau kemana nih?" Aisha berdiri di depan pintu yang terbuka.
Nisa menoleh lalu tersenyum. "Mau pergi bersama Kak Reno. Nisa mau pergi sebentar saja kok. Kak Reno mau mengenalkan Nisa kepada kakaknya. Nisa titip Hana bentar ya."
"Tenang saja, Hana aman disini bersamaku. Ada mamah sama Bibi juga yang bisa menjaganya. Tapi jangan lupa kamu tinggalkan ASI untuknya," ucap Aisha.
"Iya, tadi aku sudah memompa ASI dan menaruhnya di kulkas."
"Semoga kedatangan kamu disana di sambut baik, Nis. Biar hubunganmu dan Kak Reno bisa segera di resmikan," ucap Aisha penuh harap.
"Amin, Ais."
Obrolan ke duanya terhenti karena kedatangan Bi Marni. "Permisi, Non. Di luar ada Den Reno."
"Oh iya, Bi. Nanti Nisa keluar," ucap Nisa.
"Kalau begitu Bibi permisi." Bi Marni berlalu pergi dari sana.
Setelah kepergian Bi Marni, Aisha pun berlalu pergi menuju ke kamar anaknya. Sedangkan Nisa bersiap keluar kamar. Kini Nisa menghampiri Reno yang sedang duduk di ruang keluarga.
"Maaf kalau Kak Reno lama menunggu," ucap Nisa kepada Reno.
"Tidak kok. Ini juga baru datang." Tatapan Reno tak teralihkan dari Nisa.
"Kenapa Kak Reno lihatin aku seperti itu?" tanya Nisa.
"Hari ini kamu cantik sekali. Tidak salah aku memilihmu sebagai calon istri," ucap Reno memuji.
"Terima kasih, Kak." Nisa tersenyum malu.
__ADS_1
Nisa dan Reno berpamitan kepada penghuni rumah, lalu bergegas pergi. Di dalam mobil, Nisa hanya diam sambil meremas gamis yang di kenakannya. Ada rasa gugup dalam hatinya. Takut jika nanti kedatangannya tidak di terima oleh kakaknya Reno.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit, kini ke duanya sampai di depan rumah Reno. Mereka keluar bersamaan. Berjalan berdampingan memasuki rumah. Kedatangannya di sambut hangat oleh Bi Surti. Dengan ramah Bi Surti mempersilakan mereka untuk masuk.
"Bi, tolong panggilkan Kakak. Bilang kalau calon istri adiknya sudah datang," pinta Reno.
"Baik, Den." Bi Surti berlalu pergi dari sana.
Reno mengajak Nisa mengobrol. Dari wajah ke duanya terlihat pancaran kebahagiaan. Karena asyik mengobrol hingga tak sadar dengan kedatangan Aldo.
"Ekhem," Aldo berdehem dan membuat Reno atau pun Nisa menoleh ke sumber suara.
Ke dua mata Nisa terbelalak saat melihat Aldo. Bisa-bisanya setelah sekian lama dia di pertemukan lagi dengan lelaki breng*sek seperti Aldo. Yang jadi pertanyaan, kenapa Aldo ada di rumah Reno?
"Ren, kenapa kamu bawa wanita ini ke rumah kita?" tanya Aldo sambil menunjuk Nisa.
"Dia Nisa calon istriku, Kak," jawab Reno.
"Benar, dia Kak Aldo. Satu-satunya keluarga yang masih aku punya," jawab Reno.
Nisa tak menyangka jika Aldo dan Reno ternyata adik kakak. Entah bagaimana lagi langkah yang harus dia ambil. Menikah dengan adik dari ayah anaknya, itu sungguh lelucon.
"Ren, apa kamu tahu kalau Nisa sudah tidak suci lagi?" tanya Aldo.
"Aku tahu, bahkan dia sudah memiliki seorang putri. Aku menerima mereka dengan sepenuh hati," jawab Reno.
"Kamu mau menikahi wanita yang sudah mempunyai anak? Jangan-jangan itu anak di luar pernikahan. Memangnya tidak ada lagi wanita yang lebih baik dari dia?" Aldo sama sekali tak menyangka jika adiknya akan menikahi wanita yang pernah dia tiduri.
Nisa yang sejak tadi diam kini angkat bicara. "Jika saja aku tidak di nodai oleh lelaki breng*sek, aku tidak mungkin hamil. Jika memang aku tidak di terima di keluarga ini, aku tidak masalah." Nisa berlari pergi keluar rumah.
"Nis, tunggu!" Reno hendak mengejar Nisa, tetapi tangannya di cekal oleh Aldo.
"Ren, dia itu wanita tidak baik. Buktinya dia hamil di luar nikah. Kamu jangan tertipu dengan penampilannya yang seperti itu," ucap Aldo.
__ADS_1
Reno menggeleng. "Nisa hamil karena di nodai oleh lelaki yang tidak bertanggung jawab. Nisa tidak meminta pertanggung jawaban karena sudah mengira kalau lelaki itu tak mungkin mau menerima anaknya."
Reno bergegas pergi setelah memberikan penjelasan kepada Aldo. Sedangkan Aldo masih diam mematung bergelut dengan pikirannya. Jangan-jangan anak yang Nisa lahirkan adalah anaknya.
"Tidak, tidak mungkin anak yang Nisa lahirkan adalah anakku." Aldo menggelengkan kepalanya.
Akhirnya Reno bisa mengejar Nisa. Terlihat Nisa yang sedang duduk di halte sambil menutupi wajahnya dengan ke dua tangannya. Jujur saja perasaannya sedih setelah mendengar ucapan Aldo.
"Nis, kamu kenapa?" Reno mendudukkan diri di sebelah Nisa.
Nisa membuka ke dua tangannya yang menutupi wajah. Terlihat air mata yang menetes di sudut matanya. Nisa bergegas menghapus air mata itu.
"Tidak apa-apa kok. Hanya saja mungkin sebaiknya kita batalkan saja rencana pernikahan kita."
"Kenapa tiba-tiba kamu berkata seperti itu? Sampai kapan pun aku tidak akan melepasmu. Nis, jangan ambil ke hati perkataan kakakku tadi. Dia memang seperti itu, meremehkan wanita karena pernah di kecewakan oleh mantan kekasihnya dulu."
"Bukan itu, tapi ada hal lain," ucap Nisa.
"Apa itu?"
Nisa menghirup napasnya sebelum berbicara. "Aldo adalah ayah kandung Hana. Lelaki yang sudah menodaiku." Nisa menundukkan pandangannya, tak berani menatap Reno.
Reno mengepalkan tangannya, tak menyangka jika kakaknya sejahat itu. Berbuat tetapi tak berani bertanggung jawab. Reno paham bagaimana perasaan Nisa. Mengandung dan melahirkan seorang diri itu tak mudah. Pasti niat Nisa membatalkan pernikahan mereka juga karena tak mau satu rumah dengan Aldo.
Reno sudah yakin dan sudah mantap akan menikahi Nisa. Bagaimana pun keadaannya, Nisa berhak untuk mendapatkan cinta dan kasih sayang yang tulus. Bahkan jika harus pergi dari rumah kakaknya demi menikahi Nisa pun itu akan dia lakukan.
"Aku minta maaf karena kakakku, kamu jadi menderita. Namun, kamu harus tahu kalau aku tidak akan menyerah. Aku tetap ingin menikahimu dan menjadi ayah untuk keponakanku sendiri," ucap Reno.
Nisa senang dengan keteguhan hati Reno. Tetapi untuk sekarang dia perlu berpikir. Masih butuh waktu untuk membuat hatinya yakin.
...
...
__ADS_1