Cowok Rocker Masuk Pesantren

Cowok Rocker Masuk Pesantren
Episode.25


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


Keadaan Iqbal sudah baik-baik saja. Dia juga sudah kembali bekerja seperti biasanya. Walaupun sebenarnya Aisha masih sedikit khawatir dengan suaminya, tetapi Iqbal bisa meyakinkan jika dia sudah baik-baik saja. Walaupun Iqbal sudah merasa jika dirinya baik-baik saja, tetapi dia harus tetap kontrol sesuai dengan yang di jadwalkan oleh dokter.


Pagi ini tidak seperti biasanya. Aisha masih terlelap dalam tidurnya. Padahal sudah hampir pukul lima pagi. Iqbal yang habis mandi, dia mendekati istrinya dan mencoba membangunkannya.


''Sayang, ayo bangun! Kamu belum Shalat loh.'' Iqbal menepuk pelan punggung istrinya. Pagi ini istrinya sungguh aneh. Biasanya rajin sekali bangun pagi, tetapi kali ini masih terlelap.


''Em malas sekali Mas,'' ucap Aisha tanpa membuka matanya.


''Sejak kapan ya istriku jadi pemalas? Perasaan biasanya istriku ini yang paling rajin di rumah ini,'' ucap Iqbal.


Aisha diam tak menjawab. Rasanya begitu malas untuk beranjak dari atas tempat tidur. Iqbal tak tinggal diam. Dia menggendong istrinya dan memindahkannya ke sofa.


''Mas, kamu ngeselin banget sih.'' Aisha membuka matanya. Satu tangannya menutup mulutnya yang menguap.


''Habisnya kamu tidak bangun-bangun juga. Sekarang kamu berwudhu dulu deh. Kamu Shalat subuh dulu. Tadi Mas sudah Shalat berjamaah sama mamah dan yang lain. Mas bangunin kamu nggak bangun-bangun jadinya di tinggalin.''


''Baiklah aku mau Shalat sekarang, tapi nanti tidur lagi,'' ucap Aisha lalu beranjak dari atas sofa.


Iqbal masih menatap istrinya hingga memasuki kamar mandi. Entah apa yang terjadi kepada istrinya. Istrinya mendadak pemalas. Iqbal jadi ingat dirinya waktu masih jadi anak rocker. Dia selalu bangun siang dan malas melakukan apa pun kecuali ngumpul bareng teman-temannya dan balapan motor.


'Ada apa ya dengan Aisha, aneh sekali dia,' gumam Iqbal dalam hati.


Iqbal bersiap dengan pakaian kerjanya. Dia bercermin menatap penampilannya. Setelah melihat penampilannya rapi, kini Iqbal duduk di sofa sambil menunggu istrinya yang sedang Shalat.


''Sayang, Mas sudah siap nih. Ayo kita ke bawah!'' ajak Iqbal.


''Mas duluan saja deh. Nanti aku sarapan sendiri saja, sekarang masih mengantuk mau tidur lagi,'' ucap Aisha.


''Memangnya kamu tidak mau bantu-bantu di dapur? Biasanya kamu rajin sekali loh.''


''Lagi malas, Mas,'' ucap Aisha sambil kembali berbaring di atas tempat tidur.


Akhirnya Iqbal keluar kamar sendirian. Dia pergi ke ruang makan. Ternyata menu sarapan mereka sudah tertata rapi di atas meja makan. Terlihat Bu Fatma membawa teko dan menaruhnya ke atas meja.


''Dimana istrimu? Kok kamu sendirian?'' tanya Bu Fatma sambil menatap ke sekitar mencari keberadaan Aisha.

__ADS_1


''Aisha tidur lagi, Mah. Tadi bangun cuma Shalat subuh saja,'' jawab Iqbal.


''Loh tumben sekali istrimu begitu. Apa dia sedang sakit?''


''Tidak, Mah. Aisha baik-baik saja kok.''


''Mungkin istrimu kecapean. Biarkan saja dia tidur lagi. Nanti kamu langsung pergi ke kantor saja, tidak usah bangunin,'' ujar Bu Fatma.


''Iya, Mah.''


Iqbal dan ibunya mulai sarapan berdua. Kebetulan Pak Bima juga sedang berada di luar kota. Setelah selesai sarapan, Iqbal langsung pergi ke kantor sesuai saran ibunya.


Sudah hampir pukul tujuh pagi, tetapi tidak ada tanda-tanda Aisha keluar dari kamar. Bu Fatma berniat untuk mengeceknya ke kamar. Saat ini Bu Fatma sudah berdiri di depan pintu dan mengetuknya. Tetapi Aisha belum juga membuka pintu.


'Lagi ngapain sih Aisha. Tumben sekali dia seperti ini,' gumam Bu Fatma dalam hati.


Bu Fatma mencoba mencari kunci cadangan kamar anaknya. Akhirnya Bu Fatma menemukan kunci cadangan itu di laci meja dekat tangga. Bu Fatma bergegas kembali ke kamar anaknya dan mencoba membuka pintu yang terkunci. Ternyata berhasil, Bu Fatma mendorong knop pintu dan mulai masuk ke dalam. Terlihat Aisha yang masih terlelap di bawah selimut.


"Nak, ayo bangun! Kamu jangan tidur terus, tidak baik untuk kesehatan," Bu Fatma mencoba membangunkan menantunya.


Setelah beberapa kali di bangunkan, kini Aisha membuka ke dua matanya. Aisha mendudukkan dirinya di atas kasur. Terlihat tak enak melihat mertuanya sampai membangunkannya. Entah kenapa Aisha inginnya tidur terus.


"Mungkin kamu kecapean, Nak. Tapi sekarang kamu mandi dulu ya lalu sarapan. Kamu juga sampai melupakan kalau harus mengajar loh."


"Aduh benar, Mah. Aku ...," ucap Aisha terhenti karena tiba-tiba rasa mual melanda.


"Sebentar, Mah. Aku mau ke kamar mandi dulu." Aisha bergegas pergi ke kamar mandi dan mengeluarkan isi perutnya.


Bu Fatma masih menatap menantunya yang sudah masuk ke kamar mandi. Terlihat sekali ada yang aneh dengan menantunya itu. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi dengannya.


Bu Fatma melihat menantunya keluar dari kamar mandi. Tetapi cara jalannya cukup pelan dan tangannya terus memegang kepalanya. Bu Fatma mendekatinya karena khawatir.


"Nak, kamu kenapa?"


"Mah, aku .... " tiba-tiba Aisha tak sadarkan diri. Untung saja Bu Fatma menopang tubuhnya sehingga Aisha tak jatuh ke lantai.


Bu Fatma memapah Aisha dan membantu menidurkannya ke atas kasur. Lalu keluar dari kamar untuk menelepon dokter keluarganya. Bu Fatma juga meminta pembantunya untuk membuat bubur untuk Aisha. Karena sepertinya Aisha sedang tidak enak badan. Itu terlihat dari wajahnya yang sedikit pucat.

__ADS_1


30 menit kemudian, seorang dokter perempuan mendatangi rumah Bu Fatma. Tentu Bu Fatma menyambutnya dengan ramah.


"Selamat datang, Dok. Maaf jika saya mengganggu aktivitas dokter. Tapi itu menantu saya sepertinya sedang sakit. Dari pagi dia tidur terus. Tadi baru saya bangunkan, tiba-tiba dia mual lalu pingsan," ujar Bu Fatma.


"Boleh saya cek?" tanya Dokter Maira.


"Silakan! Dia ada di kamar atas," ucapnya.


Bu Fatma mengantar dokter Maira ke kamar atas. Menyuruhnya untuk segera memeriksa Aisha.


Kini dokter Maira mencoba memeriksa Aisha. Setelah memeriksa lalu menatap Bu Fatma yang berdiri di sampingnya.


"Maaf, sepertinya kita harus menunggu menantu ibu untuk bangun. Karena ada sesuatu yang harus saya pastikan," ucapnya.


"Apa itu?" tanya Bu Fatma.


"Sepertinya menantu Ibu sedang hamil," ucap dokter Maira.


"Hamil?" Aisha yang baru siuman, kaget mendengar kata hamil yang di lontarkan oleh dokter Maira.


"Akhirnya kamu bangun juga, Nak. Mamah khawatir sama kamu," Bu Fatma mendekati Aisha lalu duduk di pinggir ranjang.


"Mah, tadi siapa yang katanya hamil?" tanya Aisha memastikan.


"Kemungkinan kamu sedang hamil, Nak."


"Bu Aisha, biar coba tes dulu pakai testpack. Jika hasilnya positif, sebaiknya Bu Aisha langsung saja memeriksakan diri ke dokter kandungan," ucap Dokter Maira sambil mengambil testpack dari dalam tas, lalu memberikannya kepada Aisha.


"Baik, Dok. Kalau begitu saya ke kamar mandi dulu." Aisha beranjak dari duduknya.


"Mau mamah antar tidak? Takutnya kamu pingsan lagi di dalam?"


"Tidak usah, Mah. Ais sudah tidak apa-apa kok," ucapnya sambil tersenyum menatap Bu Fatma.


Tak lama, Aisha keluar dari kamar mandi. Ternyata benar hasilnya positif. Aisha dan Bu Fatma sama-sama senang. Aisha pun segera menghubungi suaminya dan meminta suaminya untuk mengantarnya ke rumah sakit.


..

__ADS_1


..


Mohon maaf baru up, minta doa.nya aja biar saya cepat sembuh. Biar bisa up banyak.


__ADS_2