Cowok Rocker Masuk Pesantren

Cowok Rocker Masuk Pesantren
Episode.30


__ADS_3

Nisa merasa tidak enak jika terus menumpang di rumah keluarga Iqbal. Apalagi dia tidak bekerja. Nisa juga harus memikirkan biaya persalinannya nanti yang pastinya tak sedikit. Jika tidak bekerja dari sekarang, mau dapat uang dari mana untuk mencukupi kebutuhan anaknya.


Nisa memberanikan diri menghampiri Bu Fatma untuk meminta izin. "Tante, saya ingin izin keluar mencari pekerjaan."


Bu Fatma mengalihkan arah pandangnya sehingga kini menatap Nisa. "Tapi kamu sedang hamil, Nak. Sebaiknya kamu jangan bekerja yang membuatmu kecapean.


"Tidak ada pekerjaan yang tidak capek, Tan. Saya hanya ingin mengumpulkan uang buat biaya persalinan saya nanti,'' ucap Nisa.


''Kamu tidak usah memikirkan itu, Nak. Biar tante yang menanggung semuanya. Lagian Tante sudah menganggap kamu seperti anak tante sendiri sama seperti Aisha,'' ucap Bu Fatma.


''Tetap saja Nisa merasa tidak enak jika hanya menumpang di rumah ini, Tan.'' Nisa memegang satu tangan Bu Fatma. ''Nisa mohon ya izinkan Nisa untuk mencari pekerjaan.''


''Apa tidak sebaiknya kamu mengajar saja seperti Aisha?'' ucap Bu Fatma.


Nisa menggeleng pelan. ''Nisa tidak mau menjadi aib pesantren jika mengajar disana. Nisa ini hamil di luar pernikahan.''


Bu Fatma tahu bagaimana beratnya Nisa menjalani hidup. Mungkin dengan bekerja, Nisa bisa melupakan semua masa lalunya. Bu Fatma yakin Nisa adalah wanita yang kuat.


''Baiklah, tapi kamu bekerja di kantor Iqbal saja. Mungkin disana lebih aman untuk kamu. Saya tidak bisa membiarkan kamu bekerja di luar,'' ucap Bu Fatma.


''Baiklah, terima kasih atas izinnya. Semoga saja Nisa di terima di kantor Kak Iqbal.''


''Amin. Tante akan bantu bicara sama Iqbal, nanti setelah dia pulang dari kantor.''


''Terima kasih banyak, Tante. Kalau begitu Nisa pamit ke belakang dulu,'' ucap Nisa.


''Silakan!''


Nisa berlalu pergi dengan perasaan senang. Semoga saja dia bisa di terima bekerja di kantor Iqbal. Karena ada banyak harapan yang ingin dia capai di masa depan. Termasuk menghidupi biaya kebutuhan anaknya. Tidak mungkin juga selamanya dia tinggal di rumah Bu Fatma. Jadi, mulai sekarang Nisa harus bekerja dan menabung.


...


...

__ADS_1


Akhirnya Nisa di terima bekerja di kantor Iqbal. Dia di tempatkan di bagian asisten staf. Di hari pertama bekerja, tentu banyak sekali yang ingin berkenalan dengannya. Terlebih dia datang satu mobil bersama Iqbal.


''Hai Nisa, sepertinya kamu ini dekat dengan Pak Iqbal. Apa kamu saudara istrinya?'' tanya salah satu rekan kerja Nisa yang bernama Mela.


''Saya teman baik dari istrinya Pak Iqbal,'' jawab Nisa.


''Apa kamu sudah menikah?''


''Belum,''' jawab Nisa.


'' Nanti saat waktu istirahat, kita ke kantin bareng yuk!'' ajak Mela.


''Boleh, Kak,'' jawab Nisa sambil tersenyum menatap Mela.


Nisa dan Mela kembali diam. Mereka kembali mengerjakan pekerjaannya masing-masing. Nisa memang cukup pintar. Hanya satu kali di ajarkan saja sudah mengerti.


Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas, tetapi Nisa masih saja sibuk menatap layar laptopnya.


''Sebentar, Kak.'' Nisa membereskan meja kerjanya. Lalu dia mengambil tas selempangnya. Nisa dan Mela keluar bersamaan dari ruang kerjanya.


Kedatangan mereka di kantin tentu menjadi sorotan. Apalagi Nisa yang merupakan satu-satunya karyawan berhijab di kantor itu. Nisa dan Mela duduk di salah satu kursi yang kosong.


"Nis, kamu mau pesan apa?"


"Em apa ya?" Nisa terlihat bingung.


"Biar aku pesankan makanan favorit di kantin," ujar Mela.


"Boleh, Kak."


Tak lama, makanan yang Mela pesan sudah terhidang di atas meja. Namun, tiba-tiba Nisa merasakan bau menyengat dari makanan itu. Nisa segera memakai masker.


"Nis, kok mau makan malah pakai masker?" tanya Mela.

__ADS_1


"Iya, Kak. Nisa tidak mau makan itu. Kuahnya ada bawang gorengnya."


"Kamu tidak suka bawang goreng?"


Ingin rasanya Nisa menjawab dia merasa mual dengan bau bawang goreng. Tetapi jika dia berkata jujur, nanti Mela malah curiga kepadanya.


"Kurang suka, Kak. Semuanya buat kak Mela saja. Nanti biar Nisa yang bayar," ucap Nisa.


"Lalu kamu mau makan apa?"


"Aku cari di depan saja," ucap Nisa.


"Ya sudah sanah ke depan beli makanan. Nanti bawa makanannya kesini," pinta Mela.


"Memangnya Kak Mela tidak apa-apa jika di tinggal sendiri?"


"Tidak apa-apa, sudah biasa kok," jawab Mela.


Nisa berlalu pergi ke depan berniat membeli sesuatu untuk mengganjal perutnya. Sesampainya di depan, Nisa melihat ada penjual rujak. Dia mendekati penjual itu dan langsung memesan dua porsi.


Setelah membeli rujak, Nisa hendak kembali ke kantin. Namun, jalanan depan kantor terlihat padat. Nisa menatap kanan kirinya saat hendak menyeberang. Saat Nisa berada di tengah jalan, tak sengaja dia hampir tertabrak oleh sebuah mobil yang melintas. Mobil itu berhenti tepat beberapa senti dari Nisa.


Sejak tadi Nisa menutupi wajahnya dengan ke dua tangannya. Dia sangat takut tertabrak. Tiba-tiba Nisa mendengar suara seorang lelaki. Spontan dia membuka ke dua tangan yang menutupi wajahnya. Lelaki itu tak lain adalah Reno.


"Maaf ya, tadi tidak sengaja. Apa ada yang luka?" tanya Reno sambil menatap Nisa dari atas sampai bawah.


"Tidak ada, tapi lain kali kalau bawa mobil hati-hati. Saya permisi dulu." Nisa berlalu pergi menuju ke kantor Iqbal.


Reno masih memperhatikan Nisa. Hingga terdengar suara klakson dari arah belakang mobilnya. Beberapa pengendara lain merasa terganggu dengan mobil Iqbal yang berhenti di tengah jalan. Reno langsung memasuki mobil dan berlalu pergi dari sana.


'Kenapa Nisa masuk ke kantornya Iqbal? Apa dia bekerja disana? Hm sepertinya Gue harus mulai menjalankan rencana itu ,' batin Reno.


...

__ADS_1


__ADS_2