
Semakin Reno mendekati Nisa semakin pudar niatnya jahatnya untuk memanfaatkan Nisa. Entah kenapa Reno malah bersimpati kepada Nisa. Apalagi saat Nisa memintanya menjauhinya karena tak pantas di dekati, justru itu membuat Reno merasa penasaran.
Seperti biasa, sore ini Reno menjemput Nisa di kantor. Walaupun akhir-akhir ini Nisa selalu menghindar, tetapi itu tidak membuat Reno untuk menyerah. Sebuah senyuman terukir di sudut bibir Reno saat melihat Nisa keluar dari gerbang perusahaan. Reno membuka kaca mobilnya lalu berteriak memanggil Nisa.
"Nis ... Nisa .... " teriak Reno sambil melambaikan tangan ke arah Nisa.
Nisa menoleh ke sumber suara. Hanya sekilas dia menatap Reno. Kini Nisa kembali melanjutkan langkahnya. Nisa akan menunggu angkutan umum di depan sana.
Reno tak tinggal diam, dia mengemudikan mobilnya mengikuti kemana Nisa pergi. Kini mobil itu sejajar dengan Nisa yang sedang berjalan. Namun, tak sedikit pun Nisa menoleh. Dia hanya fokus dengan langkah kakinya saja.
"Cantik, kok sendirian saja sih. Mau abang temani tidak?" ucap Reno.
Nisa menatap ke samping melihat Reno yang sedang tersenyum manis kepadanya. "Tidak perlu." Nada suara Nisa terdengar jutek.
"Jangan jutek-jutek dong, nanti cantiknya luntur." Reno masih saja mencoba menggoda Nisa.
Nisa menghentikan langkahnya. Dia memegangi kepalanya yang tiba-tiba pusing. Reno yang melihat itu, langsung saja keluar dari mobil. Reno berhasil menopang tubuh Nisa yang hendak jatuh. Dia pandangi dari dekat wajah Nisa yang begitu teduh. Reno langsung saja menggendong Nisa dan menidurkannya di jok belakang mobilnya. Lalu mengemudikan mobilnya menuju ke rumah sakit. Reno khawatir dengan Nisa yang tiba-tiba pingsan.
Sesampainya di rumah sakit, Reno menggendong Nisa hingga masuk ke dalam. Dia menatap kanan kirinya sambil memanggil perawat. Terlihat seorang perawat wanita menghampirinya.
"Sus, tolong teman saya. Tadi dia pingsan di jalan," ucap Reno.
"Mari ikut saya ke ruang pemeriksaan!" pintanya.
Dengan masih menggendong Nisa, kini Reno mengikuti perawat itu. Reno merebahkan Nisa di brankar pasien. Perawat itu memanggil dokter yang sedang memeriksa pasien lain untuk segera memeriksa Nisa. Kebetulan di ruangan itu ada beberapa pasien.
__ADS_1
Reno memperhatikan dokter yang sedang memeriksa. Bersamaan dengan itu Nisa tersadar dari pingsannya. Nisa memegangi kepalanya yang terasa pusing.
"Em saya dimana?" Nisa menatap ruangan yang menurutnya asing.
"Ibu sekarang berada di rumah sakit. Tadi pingsan dan suaminya membawa kesini. Oh iya sepertinya ibu kecapean dan itu menyebabkan ibu pingsan. Saran saya jangan terlalu capek-capek ya karena sepertinya ibu sedang hamil," ucap dokter.
Reno masih terdiam mencerna perkataan dokter. Hamil? Satu kata yang membuatnya terkejut seketika. Dia tidak menyangka kalau Nisa sedang hamil.
"Baik, dok. Tapi apa kondisi janin saya baik-baik saja?" tanya Nisa.
"Untuk janin nanti ibu bisa memeriksakannya ke dokter kandungan," ucapnya.
Dokter dan perawat itu berpamitan pergi karena harus mengurus pasien lain.
Nisa tersenyum kecut. "Itu tidak penting untukmu."
"Apa kamu menganggapku tidak ada selama ini? Aku selalu berada di sampingmu. Berusaha ingin dekat walaupun kamu menolak. Untuk masalah itu kenapa tidak cerita?" tanya Reno.
"Aku belum menikah dan aku hamil di luar nikah," jawab Reno.
"Jadi kamu .... "Reno tak percaya jika Nisa wanita yang tak baik. Karena dari penampilannya terlihat Sholeha.
"Aku di nodai lelaki dan sudah pasti dia tidak mau bertanggung jawab, karena dia seorang cassanova yang sudah biasa meniduri wanita."
Reno ikut sedih mendengar kenyataan pahit yang di lontarkan Nisa. Tidak pernah menyangka jika jalan hidup Nisa akan menyedihkan seperti itu. Hamil tanpa suami itu bukanlah hal muda. Tapi Reno akui jika Nisa itu wanita yang hebat. Masih bisa berjuang bekerja untuk memenuhi kebutuhan.
__ADS_1
"Aku turut sedih dengan apa yang menimpamu," ucap Iqbal.
"Apa sekarang kamu sudah tidak mau lagi dekat-dekat denganku?" Nisa menjeda perkataannya. "Ah itu pertanyaan tidak penting."
"Aku bukan lelaki baik, jadi untuk apa pilih-pilih dalam berteman," ucap Reno.
"Jujur sekali kamu kalau bicara. Jadi teringat orang itu, kamu mirip sekali dengannya," ucap Nisa.
"Seseorang siapa?" tanya Reno.
"Lelaki biadab yang telah menodaiku."
"Enak saja, biarpun suka balapan motor, tapi aku ini bukan lelaki nakal. Sekalipun belum pernah meniduri perempuan."
"Sekarang aku baru paham. Jangan menilai seseorang dari penampilannya. Karena yang berjas juga belum tentu baik," ucap Nisa sambil mengingat Aldo.
"Sudah sudah, nanti saja kita lanjut mengobrolnya. Lebih baik sekarang kita periksa kandunganmu," ucap Reno sengaja mengalihkan pembicaraan mereka.
Nisa mengangguk lalu turun dari atas ranjang pasien. Nisa dan Aldo berlalu pergi keluar dari ruangan itu.
Setelah memeriksakan kandungannya, ternyata kandungan Nisa baik-baik saja. Hanya saja Nisa tidak boleh terlalu kecapean.
....
....
__ADS_1