
Tidak pernah terpikir oleh Iqbal jika hari ini dia akan menikahi Aisha. Bahkan Iqbal sudah menyiapkan mahar yang Aisha sendiri tidak meminta. Iqbal berinisiatif untuk melafadzkan surat Ar-rahman sebagai mahar pernikahannya. Bukan dia ingin so pintar, hanya saja Iqbal ingin memantaskan diri sebagai pendamping hidup Aisha.
Acara akad nikah serta resepsi antara Iqbal dan Aisha terlaksana dengan lancar. Walaupun mempelai pria berbeda, tetapi itu tak menjadi kendala. Karena para tamu yang hadir sudah tahu jika Azmi meninggal karena kecelakaan. Bahkan tadi sebelum akad nikah, mereka melaksanakan doa bersama untuk Azmi.
Terlihat Bu Fatma dan Bu Fatimah menghampiri anak mereka yang sedang berdiri di pelaminan.
''Nak Iqbal, Aisha, kalau kalian sudah cape, kalian bisa ke kamar kalian terlebih dahulu. Kebetulan para tamu juga sebagian sudah pulang,'' ucap Bu Fatimah.
''Benar, Nak. Lebih baik kamu ajak Aisha istirahat di kamar. Kasihan dia kelihatan kelelahan,'' sahut Bu Fatma.
Apa yang di katakan oleh ibu dan mertuanya ada benarnya. Lagian sekarang sudah sore. Bahkan sudah berjam-jam mereka berdiri di pelaminan.
''Ayo, Ais,'' ajak Iqbal sambil membuka telapak tangannya.
Aisha memegang tangan Iqbal. Mereka berdua berpamitan kepada orang tua mereka, lalu segera pergi dengan bergandengan tangan. Sepanjang jalan, Iqbal terus memperhatikan wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya. Sama sekali Iqbal tak ingin melepaskan genggaman tangannya dari Aisha. Sedangkan Aisha sebenarnya mau bergandengan tangan dengan Iqbal karena dia sedikit kesusahan saat berjalan. Aisha tidak biasa memakai high heels.
Sesampainya di kamar, Aisha menyuruh Iqbal untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Sedangkan dia akan menghapus make up yang menurutnya sedikit tebal.
Beberapa menit kemudian, Iqbal keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk untuk menutupi tubuh polosnya. Dia tampak percaya diri karena sudah menjadi kebiasaannya berganti pakaian di dalam kamar. Aisha melihat Iqbal dari pantulan cermin.
''Aaaaa ....'' Aisha berteriak lalu menutupi wajahnya dengan ke dua tangannya.
Iqbal mengerutkan keningnya heran melihat tingkah Aisha. ''Kamu kenapa?''
''Kenapa tidak pakai baju? Apa kamu lupa kalau di kamar ini ada orang lain?'' Aisha melontarkan pertanyaan tanpa membuka tangannya dari wajahnya.
''Bukankah kita suami istri? Jadi wajar kalau kamu melihatku hanya menggunakan handuk saja. Atau jangan-jangan kamu malu ya,'' Iqbal mendekati Aisha dan sedikit menggodanya.
''Cepat ganti pakaian dulu! Aku akan tetap tutup mata sampai kamu selesai,'' ucap Aisha.
''Baiklah, bidadariku yang malu-malu. Suamimu ini akan langsung berganti pakaian,'' Iqbal mendekati koper miliknya lalu mengambil pakaian untuk dia kenakan.
Sudah beberapa menit Aisha menutup mata. Namun, Iqbal tidak mengatakan apa pun.
''Sudah belum?'' tanya Aisha.
__ADS_1
''Sudah apanya, sayang?''
''Ganti bajunya?''
''Sudah dari tadi,'' jawab Iqbal.
Aisha langsung membuka ke dua matanya. ''Kenapa tidak bilang sih?'' Aisha terlihat kesal.
''Sengaja,'' jawab Iqbal. Dia memang sengaja ingin membuat Aisha kesal.
Aisha hanya menghela napasnya. Lalu dia mengambil pakaian ganti karena akan mandi. Aisha membawa pakaian ganti ke kamar mandi karena akan berganti pakaian di dalam.
Iqbal tersenyum karena sudah berhasil mengerjai Aisha. Jika sedang kesal, Aisha terlihat lebih cantik.
Iqbal yang sedang duduk bersantai, dia melihat Aisha yang baru keluar dari kamar mandi. Aisha sudah rapi, bahkan sudah memakai hijab untuk menutupi kepalanya. Sejak tadi Iqbal sudah penasaran seperti apa bentuk rambut istrinya. Namun, sehelai pun tak terlihat.
"Sayang, kenapa kamu pakai jilbab? Bukankah di kamar ini hanya ada kita berdua?" tanya Iqbal sambil memperhatikan istrinya yang sedang menaruh pakaian kotor.
"Aku masih belum siap untuk memperlihatkan auratku di hadapanmu. Maaf, sepertinya nanti malam ...." Aisha menundukkan pandangannya.
"Tidak masalah, aku tidak akan memaksamu. Tapi ada satu permintaanku," ucap Iqbal.
"Jangan panggil aku kamu, tapi panggil aku dengan sebutan Mas atau Abi. Itu terserah kamu mau panggil apa," ujar Iqbal menyarankan.
"Baik, Mas," jawab Aisha.
"Bagus. Sedangkan aku mulai sekarang memanggilmu sayang. Aku harap kamu tidak keberatan."
"Terserah Mas Iqbal saja," ucap Aisha.
Iqbal tahu kalau Aisha belum mencintainya. Namun, itu adalah tugasnya untuk membuat Aisha jatuh hati kepadanya. Iqbal yakin, dengan ketulusannya itu pasti bisa meluluhkan hati Aisha.
...
...
__ADS_1
Sekarang Aisha tinggal di rumah orang tua Iqbal. Tentu itu atas permintaan Bu Fatma dan Pak Bima. Sedangkan Bu Fatimah masih memiliki anak lain yang tinggal bersamanya, yaitu adiknya Aisha yang masih berkuliah. Aisha pun masih di perbolehkan mengajar di pesantren oleh Iqbal. Dia memang tidak mau melarang istrinya melakukan apa pun, selagi itu dalam hal kebaikan.
Kebetulan hari ini Aisha mulai mengajar lagi di pesantren. Penampilannya sudah rapi karena dia sudah bersiap untuk pergi. Namun, Aisha sedang menunggu suaminya yang sedang ke kamar mengambil tas kerjanya.
"Sayang, ayo kita berangkat!" terlihat Iqbal yang baru muncul di hadapan Aisha dan orang tuanya.
"Kalian hati-hati ya, Nak," ucap Bu Fatma.
"Iya, Mah. Kami pergi dulu ya, Assalamu'alaikum," ucap Iqbal.
"Waalaikum’salam," jawab Bu Fatma dan Pak Bima bersamaan.
Kebetulan Aisha juga mengucapkan salam.
Setelah berpamitan, mereka segera pergi. Iqbal akan mengantar Aisha terlebih dahulu menuju ke pesantren. Barulah dia pergi ke kantor. Sekarang jadwal mengajar Aisha pun berubah karena Aisha sudah tidak tinggal di pesantren. Jadi, dia akan mengajar dari pagi hingga sore saja.
Setelah 40 menit lamanya di perjalanan, mereka sampai juga di halaman pesantren. Aisha berterima kasih kepada Iqbal karena sudah mengantarnya. Lalu dia membuka pintu mobil karena hendak turun.
"Apa kamu tidak menjabat tangan suami kamu dulu sebelum keluar?"
"Maaf, Mas." Aisha langsung mengangkat tangannya dan dengan cepat Iqbal menerima jabatan tangan istrinya. Aisha berinisiatif untuk mencium punggung tangan suaminya, walaupun itu belum terbiasa.
Iqbal tersenyum lalu mengusap pelan kepala istrinya dari balik jilbabnya. "Semangat ya mengajarnya, sayang. Suamimu ini juga akan semangat mencari nafkah."
"Iya, Mas. Assalamu'alaikum," ucap Aisha saat hendak turun.
"Waalaikum'salam," jawab Iqbal.
Iqbal tidak langsung pergi. Dia memperhatikan Aisha hingga masuk ke pesantren. Setelah memastikan Aisha sudah masuk, kini Iqbal akan langsung pergi. Iqbal yang akan menyalakan mesin mobilnya tak jadi saat mendengar ketukan dari samping kaca mobil. Dia melihat Fahmi dan beberapa teman lainnya sedang berdiri di luar. Iqbal bergegas keluar untuk menghampiri mereka.
"Eh ada pengantin baru nih," ucap salah satu teman Iqbal.
"Iya nih, kok tidak mampir dulu ya. Sekarang sombong nih," Fahmi berkata seperti itu hanya bercanda saja.
"Maaf, tapi aku ada meeting penting pagi ini jadi harus berangkat lebih awal ke kantor," ucap Iqbal.
__ADS_1
"Percaya deh, calon bapak emang harus rajin cari nafkah untuk istrinya. Semangat, Bro. Kami selalu mendoakan yang terbaik untukmu," ucap Fahmi.
"Terima kasih ya semuanya. Aku pergi dulu," Iqbal bersalaman dengan teman-temannya. Lalu dia mengucapkan salam dan bergegas pergi.