Cowok Rocker Masuk Pesantren

Cowok Rocker Masuk Pesantren
Episode.16


__ADS_3

Sudah satu minggu lamanya Iqbal dan Aisha menikah. Namun, mereka belum melakukan hubungan suami istri. Iqbal tak mau memaksa Aisha jika memang belum siap. Apalagi Iqbal belum melihat ada cinta untuknya. Di hadapan orang tua, Iqbal dan Aisha selalu memperlihatkan kemesraannya. Walaupun itu hanya akting agar orang tua mereka tak curiga.


Iqbal dan keluarganya sedang sarapan bersama. Mereka mendengar ada yang mengetuk pintu. Bi Ijah yang berada di dapur, bergegas pergi untuk membukakan pintu.


"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?" tanya Bi Ijah.


"Saya mau bertemu dengan Pak Iqbal. Kebetulan kami akan pergi pagi ini juga ke kota B," ucap Rani yang merupakan sekretaris Iqbal.


"Silakan masuk! Kebetulan Den Iqbal sedang sarapan bersama keluarga," ucap Bi Ijah.


Rani melangkah memasuki rumah lalu menunggu Iqbal di ruang depan. Sedangkan Bi Ijah menghampiri Iqbal dan memberitahu jika ada tamu yang mencarinya. Iqbal mempercepat sarapannya.


"Iqbal, kalau makan pelan-pelan, nanti keselek loh," ucap Bu Fatma.


"Iqbal buru-buru, Mah. Nanti mau pergi ke kota B untuk meeting." Iqbal mengambil tisu lalu mengelap bibirnya.


"Mas, mau aku bantu siap-siap?" tanya Aisha.


"Boleh, sayang. Kamu siapkan bekal saja untukku," pinta Iqbal.


"Baik, Mas." kebetulan Aisha sudah selesai sarapan. Dia bergegas menyiapkan bekal untuk suaminya.


Setelah menyiapkan bekal, Aisha memberikannya kepada Iqbal. Kebetulan Iqbal sudah berada di depan bersama Rani.


"Mas, ini bekalnya," Aisha menaruh bekal untuk suaminya ke atas meja.


"Terima kasih, sayang." Iqbal memperlihatkan senyum manisnya.


Aisha masih berdiri menatap wanita yang duduk di hadapan suaminya. Penampilannya sexy sekali, pakaiannya ketat, bahkan rok yang di pakai di atas lutut. Beberapa kali Aisha menyebut istighfar di dalam hatinya. Tiba-tiba ingatan negatif terlintas di benaknya. Aisha takut jika suaminya tergoda oleh sekretarisnya itu.


Iqbal melihat istrinya yang masih berdiri di tempat." Sayang, kok berdiri saja? Sini duduk!" Iqbal menepuk sofa di sebelahnya.


"Tidak usah, Mas. Lagian Mas Iqbal juga sudah mau pergi," kata Aisha.


"Kalau begitu Mas pergi sekarang ya, sayang. Mas usahakan nanti siang sudah pulang," Iqbal berdiri lalu mendekati istrinya. Menjabat tangannya lalu mendaratkan kecupan singkat di kening istrinya.


Iqbal memberikan kode kepada Rani untuk ke mobil duluan. Barulah Iqbal menyusulnya setelah berpamitan dengan orang tuanya. Kebetulan Aisha juga mengantarnya hingga ke depan rumah.

__ADS_1


Aisha melihat sekretaris suaminya duduk di jok depan tepat di sebelah suaminya. Dia jadi khawatir jika suaminya tidak kuat dengan godaan melihat wanita sexy di sampingnya. Biar bagaimana pun Iqbal adalah lelaki yang butuh pelampiasan hasrat. Sedangkan dirinya belum pernah sekali pun memberikan haknya kepada Iqbal. Aisha mencoba menepiskan pemikiran negatif yang terlintas di benaknya. Dia percaya jika suaminya pasti tidak akan tergoda oleh wanita lain.


Aisha kembali masuk ke rumah. Dia akan bersiap untuk pergi ke pesantren.


...


...


Sudah hampir malam, tetapi Iqbal tak kunjung datang. Sejak tadi Aisha mondar-mandir di depan rumah menunggunya. Jujur saja dia begitu mengkhawatirkan suaminya.


Terlihat Bu Fatma menghampiri Aisha. "Ais, ayo masuk! Kita tunggu suami kamu di dalam saja."


"Ais nunggu disini saja, Mah," ucap Aisha.


"Tapi disini dingin, Nak. Nanti kamu masuk angin loh."


"Tidak kok, Mah. Ais mau nunggu sebentar lagi. Nanti kalau Mas Iqbal tidak muncul juga, Ais akan masuk."


"Baiklah," Bu Fatma mengusap pelan lengan menantunya.


Sudah cukup lama Aisha menunggu, tetapi belum ada tanda-tanda kepulangan suaminya. Aisha mengedarkan pandangannya ke sekitar. Lalu dia bergegas masuk ke dalam rumah. Aisha pergi ke kamar dan melaksanakan shalat isya. Tak lupa dia berdoa untuk suaminya, agar suaminya selamat di perjalanan.


Di tempat lain, yaitu di sebuah rumah sakit, terlihat Iqbal yang baru siuman. Tadi dia kecelakaan saat hendak pulang. Iqbal mengambil ponselnya yang ada di atas meja dekat ranjang tempatnya berbaring. Dia menghubungi istrinya untuk memberitahukan keberadaannya saat ini.


Untung saja Aisha langsung mengangkat panggilan telepon darinya.


''Assalamu'alaikum, Mas. Kamu dimana? Kenapa belum sampai juga?'' dari ucapannya, Aisha terlihat begitu khawatir.


''Waalaikum'salam. Maaf ya, sayang. Karena mas baru mengabari kamu. Tadi saat hendak pulang mobil Mas menabrak pembatas jalan. Untung saja Mas tidak apa-apa. Hanya luka lecet saja,'' ucap Iqbal.


''Kok bisa sih? Terus sekarang Mas dimana? Biar aku susulin,'' ucap Aisha.


''Mas ada di rumah sakit Pelita. Kamu kesini besok saja, sayang. Kalau sekarang sudah hampir tengah malam.''


''Aku harus pergi sekarang, Mas. Biar bagaimana pun aku ini istrimu,'' ucap Aisha.


''Baiklah, tapi kamu di antar sopir ya. Jangan pergi sendiri loh.''

__ADS_1


📞''Baik, Mas. Nanti Aku juga akan memberitahu mamah. Mungkin saja mamah ingin ikut.''


Kini mereka sudah selesai berteleponan. Aisha bergegas keluar kamar untuk memberitahukan kepada Bu Fatma dan Pak Bima bahwa Iqbal kecelakaan dan saat ini berada di rumah sakit.


Aisha sudah bersiap pergi. Ke dua orang tua Iqbal pun ikut pergi ke rumah sakit. Mereka sangat khawatir dengan kondisi Iqbal yang mereka sendiri belum tahu bagaimana keadaannya.


Jarak dari rumah ke rumah sakit pelita cukup jauh. Karena rumah sakit itu berada di dekat perbatasan kota. Tetapi untung saja jalanan tidak macet, sehingga mereka cepat sampai.


Sesampainya di rumah sakit, mereka segera pergi menuju ke ruang inap tempat Iqbal berada. Kebetulan tadi Iqbal sudah memberitahu jika dia berada di salah satu ruang VIP.


''Mas, kenapa bisa seperti ini? Aku khawatir sekali loh,'' Aisha duduk di kursi dekat suaminya berbaring. Dia memegangi satu tangan suaminya seolah memperlihatkan kekhawatirannya.


Iqbal tersenyum melihat istrinya yang terlihat begitu mengkhawatirkannya.


''Mas tidak apa-apa kok, sayang.'' Iqbal mengusap pelan pucuk kepala istrinya dari balik jilbab.


''Kasihan loh istrimu nungguin kamu sejak sore. Dia berdiri terus di depan rumah,'' ucap Bu Fatma.


''Benarkah? Apa kamu begitu mengkhawatirkan suamimu, sayang?'' Iqbal menatap istrinya penuh cinta.


''Mas, jangan menatapku seperti itu. Malu loh ada mamah papah.'' Aisha menundukkan pandangannya.


''Kalian kalau mau cinta-cintaan nanti saja. Kamu dapat musibah juga masih senyum-senyum begitu,'' sindir Bu Fatma.


''Iqbal hanya sedang bahagia, Mah. Karena Aisha terlihat sangat mengkhawatirkan Iqbal,'' jawabnya.


''Mas, setiap istri juga pasti akan merasa khawatir jika melihat suaminya terluka,'' kata Aisha.


''Benar kata istrimu, Iqbal. Dulu mamah kamu juga seperti itu saat kami masih muda,'' sahut Pak Bima.


''Jadi sekarang mamah tidak perhatian sama papah,'' Bu Fatma berpura-pura merajuk di hadapan suaminya.


''Bukan seperti itu juga, Mah,'' ucap Pak Bima.


Iqbal dan Aisha saling melempar senyum melihat orang tuanya yang sedang berdebat kecil.


''Mas, dimana sekretaris kamu? Apa dia baik-baik saja?'' tanya Aisha.

__ADS_1


''Dia ada di ruangan sebelah. Dia juga cuma lecet-lecet saja kok,'' jawab Iqbal.


Sebenarnya Aisha ingin cepat-cepat menemui suaminya karena dia takut kalau suaminya hanya berduaan dengan Rani. Apalagi penampilan Rani yang sangat sexy, takutnya membuat Iqbal khilaf.


__ADS_2