Cuma Seorang Pelayan 2

Cuma Seorang Pelayan 2
Mengerjakan Tugas.


__ADS_3

Rara mengedarkan pandangannya. Di ruang tamu itu hanya ada satu sofa dan satu meja tamu. Tapi tempat kosong di sekitarnya cukup luas. Dengan gerakan yang sedikit kasar, Rara menghempaskan tubuhnya duduk di lantai. Rara menghela nafas. berusaha melegakan dadanya.


Ra... sadar... dari awal kamu memang enggak punya kelayakan untuk bisa bersanding dengan Danu...


"Mas, boleh minta tugas yang mau diselesaikan itu...?" Tanya Rara pada Anto, berusaha mengalihkan perhatiannya.


"Oh, iya. Sebentar..." Jawab Anto. Setelah itu dia langsung pergi ke kamarnya untuk mengambil tugas yang dititipkan Danu padanya.


"Enak banget jadi juragan ya, Ra..." Punya asisten buat menyelesaikan tugasnya, sementara yang punya tugas malah happy-happy..." Celetuk Iwan dengan gaya bercanda. Rara cuma bisa mesem mendengarnya.


Setelah Anto menyerahkan laptop dan semua bahan yang sudah disiapkan Danu. Rara mulai mempelajarinya.


Sebenarnya tugas Rara cuma mengedit tulisan Danu, lalu menambahkan referensi yang juga sudah disiapkan oleh Danu. Jadi Rara cuma mengetik ulang text dalam buku sesuai paragraf atau halaman yang sudah ditandai Danu.


Mungkin karena waktunya mepet (seperti kata Danu pagi tadi), jadi Danu tidak punya waktu untuk mengedit ulang tulisannya.


Tapi dia masih ada waktu buat jalan bareng Nilam...


Batin Rara kekeuh enggak rela, kalau Danu masih bersama Nilam.


semenit... dua menit...


Tak terasa, sudah lewat dari enam puluh menit, Rara berusaha fokus membaca, dan mencoba merangkai kalimat penghubung antar paragraf yang akan dia ketik. Tiba-tiba muncul Danu dari pintu masuk.


"Assalamu'alaikum..."


"Waalaikum salam..." Sambut Rara serta Anto yang memang duduk di ruang tamu. Anto sengaja duduk di sana, untuk menemani Rara. Sementara Iwan sudah menyingkir dari tadi. Katanya mau cari makanan.


"Sorry.... sorry... aku datang terlambat..." Ucap Danu sambil duduk begitu saja di samping Rara agak kebelakang.


Dia menatap layar laptop melewati bahu Rara. Terasa begitu dekat, hingga rasanya Rara bisa mencium bau matahari dari rambutnya.


Nah... ini nih, yang enggak nguatin...


Keluh Rara. Tadinya dia udah mau pasang muka datar dan cuek sama Danu. Tapi duduk berdekatan seperti ini membuatnya lemah. Yang ada dia malah kebat-kebit ke geeran.


"Mana Nilam nya?" Tanya Anto.


Rara langsung pasang kuping.


"Oh, dia masih di sana... Tadi kepotong waktu istirahat karyawannya..." Jawab Danu. "Jadi aku pulang duluan..." Lanjutnya.


"Gimana Ra, ada masalah enggak?" Tanya Danu beralih pada Rara.


"Enggak." Rara menjawab pendek.


"Emang, ngurusin apa sih?" Anto masih bertanya soal kepergian Danu dan Nilam.

__ADS_1


"Itu... SIM card yang dia pakai itu, dulu aku yang beli... registrasi pakai ID aku... Nah, kemarin itu, enggak tahu digimanain sama keponakan nya, jadi keblokir nomornya. Jadi barusan aku harus ngurusin ke servis center...."


Kata Danu menjelaskan.


"Maaf ya, Ra... kamu jadi ngerjain tugasku sendirian dulu... " Imbuh Danu sambil menatap Rara dengan raut penyesalan gitu, membuat Rara seketika melupakan rasa kesalnya.


"Ya, enggak apa-apa, tu... eh, mas..." Jawab Rara.


"Eh, kamu udah makan belum?" Tanya Danu.


"Mana sempat makan dia, keluar kelas langsung cari kamu... udah gitu langsung aku bawa ke sini..." Anto yang menjawab.


"Waduh... maaf banget ya, Ra... Gimana? Kita makan dulu sekarang?" Tanya Danu sekaligus menawarkan.


Sebenarnya Rara semula enggak merasa lapar, mungkin karena rasa kesalnya pada Danu, jadinya lupa dengan laparnya. Tapi setelah pertanyaan Danu barusan, tiba-tiba saja perutnya merasa lapar. Tapi tugas ini...


"Heng... nanti aja deh, sekalian. Kita selesaikan dulu tugas ini, baru setelah itu aku makan..." Jawab Rara.


"Beneran enggak apa-apa, enggak makan dulu?" Tanya Danu meyakinkan. Rara mengangguk.


"Ya, kalau gitu, cari cemilan aja deh... biasanya cewek kan, suka ngemil.... To, rokok ku habis, lupa mau beli tadi... rokok mu mana?" Tanya Danu sambil celingukan.


"Punyaku juga habis..." Sahut Anto.


Danu berdecak.


Danu memberi selembar uang berwarna biru pada Anto. Tanpa banyak bicara, Anto menerima uang itu dan beranjak pergi.


Sepeninggal Anto, keduanya melanjutkan pekerjaan mereka tanpa banyak bicara. Danu memeriksa hasil pekerjaan Rara melalui ponselnya. Ya, pekerjaan Danu memang di simpan di cloud, jadi bisa dibuka di perangkat lainnya.


Sementara Rara... dia benar-benar menikmati kebersamaannya dengan Danu. Rara merasa bahagia bisa duduk berdekatan seperti itu. Tidak ada kata-kata... Tidak ada pengharapan. Yang penting bisa bersama rasanya sudah cukup untuk Rara.


Pekerjaan selesai sekitar setengah tiga. Danu langsung mengajak Rara makan dengan makanan yang sudah dia beli dengan fasilitas delivery servis dari warung terdekat.


Rara makan dengan nikmatnya, hingga tahu-tahu Nilam datang ke kost an Anto.


"Assalamu'alaikum... " Salam nya.


"Waalaikum salam... " Sahut orang-orang yang kebetulan ada di situ.


"Mas Danu...!" Panggil Nilam langsung. Danu yang tengah menyelesaikan ritual sehabis makannya...merokok, apalagi...? Dia lalu meletakkan batang rokoknya ke asbak. Dia juga langsung menepi, saat Nilam menghenyakan tubuhnya di samping Danu begitu saja, sehingga tubuhnya seolah oleng dan hampir menimpa Danu.


Tanpa sadar Rara mencibir diam-diam karena geram.


"Mas Danu, makasih ya... udah bantuin Nilam tadi..." Kata Nilam sambil memegang lengan Danu dengan gaya manjanya.


"Iya... bukan apa-apa... " Sahut Danu. "Sudah beres?"

__ADS_1


"Sudah, mas..."


"Oh, syukurlah... Oh, iya. Kamu sudah makan?"


"Emmm belum sih... tapi tadi sambil nunggu aku udah makan roti, jadi enggak terlalu lapar... " Jawab Nilam masih dengan gaya manjanya.


"Ya... barangkali mau, makan..."


"Ya, habisss!" Ucap Rara tiba-tiba dengan kerasnya, memutus ucapan Danu. Dia meremas kertas bekas pembungkusan makanannya. Dia melakukan itu seakan-akan tidak menyadari kehadiran Nilam di sana.


Nilam dan yang lainnya spontan menatap Rara.


"Eh, sorry... lupa kalau ada mbak Nilam... maaf Mbak, makanannya sudah habis... enggak bisa nawarin..." Kata Rara pura-pura malu.


"Oh, enggak apa-apa, Ra. Kalau habis kan bisa kamu belikan lagi. Itu tugas kamu kan?" Sahut Nilam telak. Rara cuma menyeringai mendengar perkataan Nilam. Rara tahu maksud Nilam mengatakan itu. Dia seakan ingin mengingatkan Rara pada posisinya di depan Danu.


"Enggak perlu begitu... kita bisa minta tolong dikirim kok, makanannya..." Sela Danu menengahi. Dia merasakan aura tidak sehat di antara kedua gadis itu. "Kamu mau makan apa? Biar aku pesankan." Tanya Danu.


"Enggak perlu, mas. Aku mau langsung pulang, jadi makan di rumah saja. Aku kemari cuma mau bilang terima kasih... Lalu, sebagai tanda terima kasih nya, aku mau ajak mas Danu makan malam..." Kata Nilam dengan sok sweet nya.


"Aku boleh ikut?" Tanya Anto tiba-tiba menyela dengan iseng nya.


"Dan kenapa aku harus ngebolehin kamu ikut?" Nilam balik bertanya dengan judesnya.


"Ya, kan laki-laki dan perempuan enggak boleh pergi berduaan, nanti ada setan menemani kalian..." Jawab Anto sok nasehatin.


"Iya... kamu setannya." tukas Nilam kesal.


Anto merengut.


Nilam mencibir


Danu tersenyum


Rara setengah mati menahan geli.


...🌩⚡Bersambung⚡🌩...


...Would you...


...Give me...


...your LIKE...


...n comment...


...please.. 🙏...

__ADS_1



__ADS_2