
Rara memacu motornya kembali ke tempat fotokopian. Mengambil pesanannya, lalu langsung kembali pulang.
Rasanya buat Rara, dia melakukan semua pekerjaan itu dengan cepat. Tapi dia lupa, orang yang dia hadapi berikutnya itu Bu Surti. Orang yang selalu dapat menemukan cacat cela orang lain.
"Kemana saja? Cuma beli gelas plastik saja kok setahun..." Omel Bu Surti, saat Rara menghadap.
Deuh, hiperbola sekali...
Batin Rara.
"Maaf, bu. Tapi beli gelasnya sudah dari tadi selesai, Bu... Gelasnya sudah ta' kasihkan Narsih... Aku tadi balik lagi untuk ambil fotokopian, lupa..." Sahut Rara jujur.
"Lah kok bisa lupa? Mikir apa aja kamu? Jangan karena kamu enggak punya kerjaan, kamu bisa seenaknya keluyuran... Ingat, kamu bukan juragan di sini... kamu juga punya kewajiban untuk membantu pekerjaan di rumah... jangan mentang-mentang kamu kuliah, terus kamu mau enak sendiri enggak mau membantu... "
Nah... nah... kan? Merembet dia...
Rara menghela nafas berusaha menyabarkan diri.
Yang keluyuran itu siapa? Yang mau enak sendiri itu siapa? Yang enggak mau mbantuin itu siapa? Kenapa jadi mbulet gini sih?
Rara kembali bermonolog.
Sebenarnya, apa yang ada dikepalanya saat itu ingin dia sampaikan langsung pada Bu Surti, tapi dia masih menghormati Bu Surti dan enggak mau karena masalah sepele begini jadi tambah panjang urusan.
"Maaf, Bu. Saya tadi buru-buru dan lupa... ada yang harus saya kerjakan?" Ucap Rara akhirnya to the point.
"Plastik segel cup nya kurang, kamu belikan segera. Biar cepat di kemas... Jam delapan semuanya musti sudah siap..." Perintah Bu Surti.
Oalah... cuma mau nyuruh beli plastik segel aja ngomongnya muter-muter ga karuan... eh, jadi aku musti balik lagi toh?
"Baik, Bu. Saya segera berangkat." Jawab Rara. Setelah itu dia segera undur diri dan pergi menuju parkiran.
Pantesan, bu Surti ngomel-ngomel. Pasti karena mikirnya aku ini memang sengaja keluyuran... Coba tadi tahu kalau mau disuruh beli plastik lagi, kan bisa sekalian...
Rara menepuk dahinya sendiri karena merasa bodoh. Kalau gini kan, dia harus kerja dua kali...
Makanya Rara... jadi orang jangan keminter dan suudzon... Belum apa-apa sudah mikir mbulet segala, akhirnya jadi harus bolak-balik kan?
Rara mengomeli dirinya sendiri.
Ya habis, image Bu Surti itu memang mbulet... kalau ngomong sama dia pasti enggak ada habisnya, kecuali kamu mengaku kalah dan diam... 🤭🤭🤭
Sisi lain hati Rara membela diri.
Lah, kok malah jadi kayak perang si putih dan si hitam gini sih... (Bayangin si putih dengan hole di atas kepala, dan si hitam yang bertanduk...) 🤭
Sesuai perintah, Rara pergi beli plastik segel dan langsung balik lagi ke rumah. Walaupun semuanya dia kerjakan secepat dia bisa, tetap saja. Jam delapan kurang sedikit dia baru sampai rumah.
Aduh, kok udah mau jam delapan? Mana belum sarapan, belum mandi...
__ADS_1
"Ra, nanti bantuin nganterin buburnya ke posyandu ya..." Pinta Minah saat dia memberikan plastik segel itu.
Lah... masih ada lagi...
"Heng... Insya Allah ya... sekarang aku izin siap-siap ke kampus ya..." Katanya.
Minah mengangguk. Dia percaya dengan kata insya Allah yang Rara ucapkan.
Jangan salah paham... Kalau orang lain yang mengatakan insya Allah, Minah tidak akan terlalu percaya.
Walaupun arti dari insya Allah itu sendiri adalah "jika Allah mengizinkan". Tapi biasanya orang mengatakan "Insya Allah" itu sebagai kalimat lain untuk menghindar, hingga kemungkinan untuk ditepati itu kurang dari 10%.
Ya, mungkin maksudnya, hanya jika Allah mengizinkan saja dia akan melakukan apa yang diperbincangkan. Istilah kasarnya, Dia enggak mau melakukan dan jika dia harus melakukan, itu hanya karena takdir.
Ya... dari pada bilang "enggak mau" yang pasti langsung diprotes si pembicara. Jadi kalimat amannya ya... insya Allah.
Tapi kalau Rara, Minah percaya. Kalau dia sudah bilang insya Allah, kemungkinan IYA nya itu lebih dari 90%.
Jadi, untuk masalah pengiriman, aman...
Pikir Minah.
Rara segera mandi dan bersiap untuk kuliah.
Beberapa menit kemudian, dengan tas siap di bahu, Rara melangkah ke dapur. Dia mau makan, karena dia belum sempat sarapan dengan benar. Dia tadi cuma nyomot tempe dan minum teh hangat sebelum pergi ke toko.
"Sudah siap?" Tanya Rara, sambil melirik jam tangannya. Jam delapan lewat.
Batin Rara.
"Kurang sedikit, tuh udah diwadahi kerdus ..." Jawab Minah.
Rara menatap tumpukan gelas dalam kerdus.
"Ya sudah, aku tunggu sambil makan." Kata Rara.
Lalu dia mengambil makanan untuknya sendiri.
Sambil makan, dia memperhatikan teman-temannya mengemas kacang hijau. Hingga tiba-tiba, ponselnya berdering. Dilihatnya nama "Tuan Danu" muncul di layar.
"Halo, tuan..." Sapanya.
"Halo, Ra... kamu dimana?" Tanya Danu langsung.
"Di dapur, tuan..."
"Oh... " Setelah itu Danu langsung memutuskan sambungan. Kening Rara mengerut menatap ponsel yang masih menyala, menampilkan gambar kucing yang dia pakai sebagai wallpaper.
Ini maksudnya apa?
__ADS_1
Rara melanjutkan makannya. Tapi belum sampai dia menelan makanan nya, sosok Danu sudah muncul di pintu.
Awalnya dia enggak nyadar kalau Danu datang, sampai panca indra nya menangkap perubahan suasana yang drastis. Ruangan yang semula ramai oleh ocehan enggak jelas tiba-tiba terasa senyap.
"Tuan..." terdengar suara seseorang menyapa. Rara langsung mengangkat wajahnya dari piring yang dihadapinya. Netranya masih sempat melihat Danu melempar senyum sebelum mengarah padanya.
"Ra... aku minta bantuan kamu bisa?" Tanyanya langsung.
"Heh? Emm, maksudnya bantuan apa, tuan?" Rara segera merubah cara bicaranya yang semula dirasa tidak sopan karena terlalu kaget dengan kedatangan Danu yang tiba-tiba.
"Emm bisa kita bicara di luar..." Tanya Danu sambil memberi isyarat dengan tangannya agar Rara ikut dengannya. Rupanya dia merasa sedikit canggung, karena semua orang yang ada di ruangan itu seakan memasang mata dan telinga pada percakapan mereka.
Musti sekarang ya... ?
Tanya Rara, tapi cuma dalam hati. Dia menatap isi piringnya yang belum habis sesaat sebelum akhirnya berdiri.
"Bisa tuan... " Jawab Rara.
Apa sih yang enggak buat kamu...
Lanjutnya.
Mereka berjalan keluar ruangan dapur dan sedikit menepi di tempat yang tidak terlalu ramai orang.
Mereka berdiri saling berhadapan. Tidak terlalu dekat, tapi juga tidak terlalu jauh. Yang pasti Rara masih bisa mencium aroma parfum dari tubuh Danu. Membuatnya ingin semakin mendekat, agar bisa menghirupnya lebih dalam.
Aroma tubuhnya saja sudah sebegini memabukkan... gimana kalau bisa memeluk tubuh itu...
An*jay... Rara, sadar... sadar!
Tanpa sadar Rara menggeleng-gelengkan kepalanya cepat untuk mengusir imaginasi nakal yang masuk begitu saja di otaknya.
"Kenapa?" Tanya Danu saat melihat Rara menggeleng-gelengkan kepala seperti itu.
"Heng? Eh, enggak... ada lalat barusan..." Sahut Rara ngasal.
"Ada apa, tuan? Apa yang bisa saya bantu?"
...🌼Bersambung🌼...
...Would...
...you...
...Give...
...me...
...your...
__ADS_1
...LIKE...
...please.. 🙏...