
TING
Sebuah notifikasi pesan masuk terdengar dengan kerlipan nyalanya layar ponsel itu. Sekilas Rara membaca, pesan itu dari ...
Irwan lagi.
Karena sedang grogi dan memerlukan sesuatu untuk pengalih perhatian, Rara lalu meraih HP nya dan membuka pesan dari Irwan.
[Udah... nikmati saja, enggak usah merasa terganggu dengan pesan ini.]
Kening Rara berkerut.
Ini apa maksudnya?
[Emang sedang menikmati, lumpianya enak deh.] Balas Rara ngasal.
"Gimana? Enak kan?" Tanya Danu.
"Euh? Iya, enak mas..." Jawab Rara, dia jadi enggak fokus karena konsentrasiya terpecah pada pesan Irwan barusan dan pertanyaan Danu.
Sementara itu life music mulai berlangsung. Beberapa lagu pembuka sudah dinyanyikan. Mungkin karena waktu itu malam minggu, hingga suasana yang disuguhkan terkesan begitu romantis. Apalagi lagu-lagu yang dinyanyikan adalah lagu-lagu cinta.
Sesaat sosok Irwan tersingkir dari ingatan Rara. Dia mulai hanyut dalam imaginasi tentang Danu saat ini.
Apalagi saat samar-samar, Rara mendengar suara Danu menyenandungkan beberapa bait lagu itu. Jangan salahkan Rara, kalau kemudian dia jadi berkhayal, kalau Danu sengaja menyanyikan lagu itu untuknya. 😍
Setelah menyanyikan sekitar empat lagu, sang penyanyi yang merangkap sebagai MC itu kemudian menawarkan, apabila ada diantara para audience yang mau request lagu tertentu, atau kalau mau mereka juga dipersilahkan untuk ikut bernyanyi.
"Kamu mau request lagu?" Tanya Danu tiba-tiba.
"Heh?" Rara sama sekali enggak menyangka kalau Danu akan bertanya seperti itu padanya.
"Mau request lagu? Atau malah mau nyanyi sendiri, mungkin...?" Tanya ulang Danu sambil menatap Rara.
Rara seketika hilang fokus saat dia menatap wajah Danu. Cara menatap Danu begitu.... apa ya? Mempesona...? Memuja...?
Ya Allah....
Jantung Rara berdegub begitu cepat. Tanpa dapat di cegah rona bahagia bercampur malu mewarnai wajahnya. Jika sudah demikian, salahkah jika dirinya merasa begitu tersanjung? Salahkah dia jika merasa begitu bahagia? It's really like a dream come true.
Setengah mati Rara berusaha menangkap momen itu dan memenjarakannya dalam album memori nya...
Berbekal kenangan indah ini, aku akan mulai melangkah melanjutkan hidupku sendiri tanpa bayang-bayangmu, tuan...
__ADS_1
Saat Rara memalingkan wajahnya untuk sekedar mengalihkan perhatianya dari perasaan GeeR. Mendadak matanya melihat keberadaan Irwan di ujung tangga. Dia sedang melangkah turun.
Ya Allah... (lagi).
Melihat Kedatangan Irwan, jantung Rara masih berdegub dengan cepat, tapi sekarang dengan rasa berbeda. Dilihatnya Irwan tersenyum padanya...
"Hai..." Sapanya.
Danu yang semula tidak menyadari kehadiran temannya itu seketika menoleh.
"Oh, hai..." Sahut Danu.
Keduanya lalu bersalaman. Sementara Rara hanya membalas dengan senyuman yang terasa canggung di bibirnya.
"Sorry, aku barusan lihat kalian waktu turun dari tangga... Apa aku sudah mengganggu acara kalian?" Tanya Irwan basa-basi.
"Enggak kok..." Jawab Danu, tapi sambil mejawab demikian Danu menoleh kearah Rara seperti mengkonfirmasi kalau jawabannya memang benar. Rara sendiri lagi-lagi cuma bisa tersenyum dan mengangguk kecil (ya... habis mau giman lagi?). "Mau gabung...?" Tanya Danu ikutan berbasa-basi.
"Wah... enggak lah... aku masih jam kerja ini..." Jawab Irwan sambil memberi gesture menatap ke sekitar, memberi kode pada Danu kalau dia harus mengawasi dan menjaga kegiatan malam ini bisa berjalan dengan lancar. Danu tertawa dan paham.
"Hai Ra... gimana makanannya enak?" Sapa Irwan pada Rara yang sejak kedatangan Irwan memilih memfokuskan diri bermain dengan garpunya, seolah-olah garpu itu lebih penting dan menarik dari keberadaan Irwan. Padahal sih karena rasanya dia sudah mati gaya untuk berhadapan dengan pria itu.
Disapa demikin oleh Irwan membuat Rara sedikit grogi.
"Syukurlah... " Ucap Irwan. Sepertinya masih ada sesuatu yang ingin dia katakan, tapi sebuah panggilan tiba-tiba mengalihkan perhatian mereka semua.
"Mas Irwan...!"
Hampir semua orang menoleh kearah asal suara. Terlihat Nilam datang bersama seorang wanita yang kelihatannya sedikit lebih dewasa dari Nilam.
"Oh... Hai..." Sapa Irwan.
Nilam yang semula melangkah dengan penuh semangat mendekat, tiba-tiba menahan langkahnya saat matanya menangkap keberadaan Danu dan Rara.
"Hai... Kalian ada di sini...?" Sapa Nilam pada Danu dan sedikit tersenyum pada Rara. Rara balas tersenyum dan mengangguk sedikit pada Nilam dan wanita disampingnya.
"Siapa dia?" Pikir Rara.
"Iya... Aku lagi bayar hutang nih, sama Rara..." Ucap Danu sambil tertawa.
DEG
Seperti ada sesuatu yang menonjok ulu hati Rara. Ya, buat Danu ini cuma sebuah acara bayar hutang janji... enggak seperti dirinya yang menganggap kalau hal ini adalah suatu kencan...
__ADS_1
"Hutang gimana?" Tanya Irwan sambil menatap Rara dan Danu bergantian.
"Ya... kan mas Danu ini pernah minta tolong Rara buat ngerjain tugasnya, buat upahnya mas Danu pernah janji buat traktir Rara, gitu..." Rara langsung menjawab pertanyaan Irwan.
"Ooh..." Ucap Irwan sambil manggut-manggut. Sementara Rara sendiri... Dia setengah mati menanamkan jawaban itu pada otaknya sendiri.
Ini cuma acara pembayaran hutang... ini cuma acara pembayaran hutang...
"Eh, Ra. Kenalin ini Tante Farida... Dia ini adik ibunya mas Irwan..." Ucap Nilam kemudian pada Rara.
"Oh... saya Rara, tante..." Sapa Rara sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Wanita yang bernama Farida itu membalas uluran tangan Rara dan tersenyum ramah.
"Hai, Ra... Maaf kemarin saya enggak bisa hadir waktu ada acara di rumah kamu..." Ucap Farida yang seketika membuat kening Danu sedikit berkerut.
"Ya... enggak apa-apa, tante..." Kata Rara.
"Memangnya ada acara apa di rumah kamu, Ra?" Tanya Danu hampir bersamaan dengan ucapan Rara tadi.
"Eh, mas Danu belum tahu ya...?" Cetus Nilam.
"Em, Nilam, carikan tempat untuk Tante Farida. Kita berdiri begini mengganggu kenyamanan orang lain..." Potong Irwan dengan intonasi datar, tapi berkesan tajam. Dia enggak mau dibantah oleh Nilam.
Rara melihat Irwan menatap serius pada Nilam. Nilam terdiam walaupun sempat melemparkan tatapan seperti hendak memprotes ucapan Irwan. Tapi kemudian terlihat Farida menepuk bahu Nilam pelan.
"Eh, iya... ayo kita cari tempat Nilam..." Ucap Farida mendukung usulan Irwan. "Kami permisi dulu, Danu... Rara..." Ucap Farida lagi sambil mendorong pelan punggung Nilam, mengajaknya untuk menyingkir dari sana.
Walaupun dengan sedikit berat hati, Nilam mengikuti langkah Farida untuk menjauh dari kursi Danu dan Rara. Tapi dia masih sempat mengerling tajam, pada Rara.
"Maaf ya... sudah mengganggu acara kalian, silahkan dilanjutkan acara makannya, aku mau ngecek yang lain..." Ucap Irwan kemudian berpamitan.
Danu dan Rara mengangguk. Irwan melangkah kearah Nilam dan Farida tadi menuju. Tinggal Danu dan Rara yang duduk berdua, tapi kini suasana sudah berubah....
...😨bersambung 😨...
Dear My all reader.
Makasih banyak masih mau membaca tulisan ini. Semoga semuanya sehat terus ya...
Boleh minta like komen n favoritnya dong. Supaya authornya tahu, kalau kalian sudah mampir di sini.
Tengkyu... Tengkyu... Tengkyu...
...☘☘☘...
__ADS_1