Cuma Seorang Pelayan 2

Cuma Seorang Pelayan 2
Cari Formalin?


__ADS_3

"Ehem..." Deheman orang yang baru datang, seketika membuat orang-orang yang ada di sekitar kancah peperangan langsung mengalihkan perhatiannya.


"Mas Danu...!"


Beberapa orang yang ada di sana menyebutkan nama orang yang berdeham dengan beberapa nada.


Ada nada kaget, hingga sedikit berseru... ada juga yang bergumam lirih dengan khawatir. Rara sendiri hanya bisa membatin. Bingung untuk mengambil sikap.


Rara benar-benar enggak bisa menduga, apa yang akan Danu lakukan terhadap mereka. Rara tahu, kalau Marina itu dijodohkan dengan Danu. Tapi Danu sendiri belum mengambil sikap soal perjodohan itu, Meski kalau hanya dilihat sekilas, Danu seperti tidak setuju... Tapi... ya itu tadi... semuanya belum diputuskan.


"Sedang apa kalian? Sepertinya kok seru sekali obrolan kalian..." Ucap Danu... Enggak jelas dia itu pura-pura enggak tahu atau malah sedang menyindir.


"Eng... enggak ada apa-apa kok, Mas Danu. Aku cuma mau bilang, kalau baju yang dia pinjem dari Mbak Sofi itu bagus..." Ucap Marina sambil menunjuk baju yang dipakai Rara dengan dagunya.


Danu menoleh ke arah Rara. Dilihatnya wajah Rara sudah merah padam. Gabungan antara malu dan marah.


Sungguh, kalau mengikuti kata hati... Rasanya ingin sekali, Rara mendorong wajah Marina masuk ke panci soto yang ada di dekat mereka.


"Oh..." Komentar Danu pendek.


"Dia tadi bilang kalau dia suka sama Mas Danu..." Lapor Marina lagi dengan sengaja menunjukkan, seakan Danu itu memang miliknya dan Rara sudah merendahkan Danu dengan berani menyukainya.


Sekali lagi Rara dipaksa sadar diri, kalau dirinya itu enggak level sama Danu.


Rara geram. Sungguh-sungguh geram. Walaupun dia memang benar-benar menyukai Danu, tapi dia sunguh-sungguh tidak ingin Danu tahu hal itu. Karena efek dari informasi itu benar-benar tidak terlihat bagus.


"Oh..." Kembali Danu berkomentar pendek. Kali ini, Rara sudah benar-benar enggak enak hati.


"Semuanya... Maaf..." Kata Rara. Lalu tanpa menunggu jawaban dari mereka semua, Rara berbalik dan pergi dari pesta.


"Loh...?! Ra... Rara...!!! " Panggil Sofi dan Ratna bersamaan dan segera mengejar Rara.


"Bagus... Tahu diri juga dia..." Kata Marina dengan angkuhnya.


Sofi yang sempat mendengar ucapan Marina menghentikan langkahnya sebentar.


"Kamu... Urusan kamu denganku belum selesai..." Katanya dengan nada penuh peringatan.


Marina mencebik.


Sofi mendesis marah. Tapi dia segera berbalik untuk menyusul Rara.

__ADS_1


"Aku pergi dulu..." Ucap Danu seketika, saat Marina kembali mendekat manja padanya.


"Mas Danu mau kemana?" Tanya Marina bingung ditinggalkan di sana begitu saja. Danu tidak merespon. Dia melangkah menjauh searah dengan perginya Rara tadi, diikuti oleh teman-temannya yang sejak tadi tidak berani berkomentar apa-apa.


"Guys, aku izin pulang duluan ya... Sorry, keadaannya jadi begini..." Ucap Danu pada teman-temannya.


"Iya... enggak apa-apa... Hati-hati... titip Rara..." Ucap Iwan yang mengerti maksud Danu, dan diangguki oleh teman-teman lainnya.


Danu mengangguk.


Dia segera pergi mencari keberadaan Rara dan teman-temannya. Di tempat parkir, dia bisa menemukan mereka. Rara berdiri di samping mobil Sofi sambil mengusap air matanya. Ratna ada di sampingnya, memeluknya dengan rasa khawatir. Sementara Sofi, dia sedang berusaha mengeluarkan mobilnya yang terjepit diantara mobil-mobil tamu lainnya.


"Ra..." Panggil Danu.


Rara menoleh sebentar, tapi begitu tahu kalau yang memanggil itu Danu, dia segera membuang muka. Berusaha menyembunyikan wajahnya yang masih berurai air mata.


Danu mendekat.


"Ra, kamu pulang bareng aku saja..." Kata Danu. Sofi yang sedang berusaha atret menghentikan usahanya sebentar.


"Hari sudah malam... Kalau kalian antar Rara pulang, kalian akan kemalaman pulangnya..." Kata Danu memberi alasan.


"Gimana Ra? Kamu mau pulang bareng mas Danu? Kalau keberatan aku enggak apa-apa kok nganter kamu dulu..." Kata Sofi minta persetujuan Rara.


"Ra... ikut aku saja. Kasihan teman-teman kalau pulang kemalaman... Lagian, ada yang ingin aku bicarakan denganmu..." Ucap Danu lagi.


Perlahan, Danu meraih tangan Rara dan menariknya untuk ikut bersamanya menuju mobil Danu yang terparkir tidak jauh dari situ. Otak Rara rasanya nge-blank. Dia tidak sanggup untuk menolak ajakan itu.


"Kalian hati-hati ya..." Pesan Danu sekalian berpamitan.


Sofi dan Ratna mengangguk. Mereka masih tetap di posisi semula, sampai Rara benar-benar masuk ke dalam mobil Danu.


Mereka lihat Danu dengan lembutnya membukakan pintu untuk Rara. Setelah yakin Rara duduk dengan benar, Danu menutup pintu, lalu dengan setengah berlari, dia memutar ke kursi kemudi.


Setelah mobil Danu meluncur perlahan meninggalkan lokasi, Ratna masuk dan duduk di samping Sofi.


"Duh... Gimana sih, ini... maunya seneng-seneng di pesta... malah ketemu dengan biang kerok..." Keluh Ratna mengeluarkan unek-uneknya.


"Maaf, ya... gara-gara sepupuku, acara kita jadi berantakan..." Sofi jadi merasa enggak enak hati.


"Eh, bukan salah kamu juga Sof... Jangan merasa enggak enak gitu..." Kini Ratna jadi ikutan merasa enggak enak hati karena tanpa sengaja membuat Sofi merasa bersalah.

__ADS_1


"Hei, Kamu beneran saudaraan dengan dia?" Tanya Ratna masih tidak percaya. Sepertinya dia merasa enggak rela, kalau sahabatnya ada hubungan keluarga dengan biang masalah sahabatnya yang lain.


"Sayangnya iya..." Jawab Sofi sambil tersenyum kecut.


"Pantas saja.... Eh, itu orang tahu dari mana sih, kalau baju yang dipakai Rara itu pinjam sama kamu?" Tanya Ratna lagi penasaran.


"Emmm ... Sebenarnya, baju itu dikasih sama kakaknya Marina yang kerja di kota. Sejak semula Marina sudah menginginkan baju itu, tapi enggak dikasih sama kakaknya, malah di kasih ke aku..."


"Memangnya yang punya baju begitu cuma kamu doang?"


"Sebenarnya enggak juga sih... Cuma untuk baju yang satu itu udah aku modifikasi... Tadinya, baju itu panjangnya sampai mata kaki, dengan kain bagian bawah, di rempel dengan kain yang sama dengan bagian lengan. Tapi karena aku kurang suka model seperti itu, aku lalu memotongnya, makanya Marina tahu kalau baju itu punya ku..."


"Oalah..." Ratna jadi bingung mo komentar apa lagi setelah mendengar uraian Sofi yang sebenarnya terdengar sepele, tapi ternyata bisa membuat mereka susah.


"Yang aku enggak ngerti, kenapa Marina seperti dendam banget ya, sama Rara... Memang mereka saling kenal?" Sofi bertanya.


Ratna lalu menceritakan kejadian sewaktu mereka di kantin siang tadi. Sofi mendengarkan uraian Ratna.


"Ohh, jadi ceritanya si Marina itu dijodohin sama Danu? Wah... bisa musibah kalau Danu dapat dia..." Komentar Sofi langsung disusul tawanya. Ratna yang mendengar itu pun jadi ikutan tertawa...


Sementara itu, di mobil Danu.


Rara duduk diam sambil menunduk. Sungguh, rasanya canggung sekali duduk di sebelah Danu dalam kondisi seperti ini.


Ucapan Marina yang mengatakan kalau dia pakai baju pinjaman ke kondangan, juga tentang perasaannya pada Danu membuat dirinya begitu malu.


Inginnya dia membantah, "sedikit berbohong" kalau dia tidak menyukai Danu seperti yang Marina maksud. Tapi hati kecilnya justru melarangnya mengelak dan berbohong soal perasaannya.


Biarlah, kebenaran itu terungkap. Setidaknya Danu kini tahu perasaannya, tanpa dia sendiri harus mengatakannya. Biarlah, tuan Danu sendiri yang memutuskan bagaimana harus bersikap. Mau menerimanya.... (semoga) atau malah menjauhinya...


Setidaknya Rara akan tahu, apa yang harus dilakukan selanjutnya... Tetap mengejarnya (apakah dia masih punya malu untuk mengejar?) Atau mungkin mencari formalin untuk mengobati penyakit hatinya saat ini?


...🌹🌞Bersambung🌞🌹...


All reader ku yang baik... Tolong beri like, komen, rate dan favorit nya.


...please.. πŸ™...


Kasih Gift juga boleh kalau berkenan... πŸ€­πŸ˜…


Love and thank you pake banget buat kalian... EMMUACHH πŸ₯°

__ADS_1


...☘☘☘...


__ADS_2