Cuma Seorang Pelayan 2

Cuma Seorang Pelayan 2
Dilema


__ADS_3

Selamat!


Rara berhasil masuk lebih dulu dibanding Pak Sudibyo. Dosen yang satu ini memang punya ke khas-an dalam masalah kehadiran.


Mahasiswa yang datang satu detik saja di belakangnya, bakalan ditolak masuk ke kelas. Makanya , untuk mahasiswa yang biasanya ngaret, khusus jam pelajaran Pak Sudibyo, pasti datang lebih awal. Kalau sudah telat mereka langsung berbelok ke kantin atau tempat lain. Ya, daripada menanggung malu. Karena melihat pintu ditutup begitu saja di depan hidungmu?


Pernah ada yang mencoba membujuk untuk diperkenankan masuk saat terlambat, yang ada kompensasinya dia musti bikin resume bab materi yang sedang berlangsung satu jam setelah selesai mengikuti mata kuliah tersebut. Kalau enggak, kehadirannya tidak akan dihitung! Gila enggak? Ya, lebih baik enggak masuk sekalian.


Rara menghempaskan tubuh di samping Ratna. Ratna cuma mendecak, saat melihat seulas senyum masih tersamar di bibir sahabatnya itu.


"Kenapa, kamu?" Tanya gadis itu akhirnya, saat dilihatnya tidak ada tanda-tanda Rara mau cerita.


"Kenapa?" Rara balik bertanya dengan raut seakan tak mengerti arah pertanyaan Ratna.


"Itu bibir kenapa dari tadi peringas-peringis kayak laki-laki baru dapet jatah?" Tanya Ratna dengan kejamnya.


"Heh? Jatah? Jatah apaan?" Tanya Rara sok polos.


Ratna mendelik.


Rara meringis (lagi) tanpa sadar.


"Tuh kan, peringas-peringis..."


"Masa, sih? Biasa aja deh..." Elak Rara. Dia berusaha mengkondisikan raut wajahnya.


Tapi memang, wajah itu cerminan hati. Kalau hati lagi sumpek wajahnya juga jadi jutek. Tapi kalau hati sedang riang, wajahnya juga kelihatan sumringah gitu.


"Ada apa?" Ulang Ratna enggak terpengaruh dengan elakan Rara.


"He he... Mas Danu janji mau traktir makan aku..." Jawab Rara akhirnya jujur, lengkap dengan senyum bahagianya.


"Cuma mau ditraktir makan aja, senengnya minta ampun." Ejek Ratna. "Seperti enggak pernah ditraktir aja..."


"Ya, lain dong... Ini yang traktir kan mas Danu..." Sahut Rara.


"Lain dimananya?" Tanya Ratna. "Lah wong kamu ditraktir itu karena kamu sudah berbuat baik sama dia. Lain lagi kalau dia ngajak kamu makan malam romantis, seperti candle light dinner, gitu. Kalau seperti itu, bisa dibilang dia perhatian sama kamu... Kalau cuma traktir biasa saja sih... si Rohman juga sepertinya lebih sering traktir kamu dari pada dia... Kok kamu enggak berbunga-bunga gitu ditraktir sama Rohman?"


Lah...? Kok dibandingin sama Rohman sih?


Rara terdiam... Bukan hanya karena dia tidak tahu mau jawab apa, tapi juga karena Pak Sudibyo sudah mulai mengedarkan pandangannya, mengabsen mahasiswanya yang punya rapat intern dengan teman duduknya.




Beberapa hari kemudian di rumah kediaman Keluarga Darmawan...



Rara tengah membantu menyiapkan makan siang untuk para juragan. Biasanya, kalau waktu makan siang begini, yang disiapkan cukup empat piring saja. Untuk Tuan Darmawan, Nyonya Supami, Nyonya Santi dan Nyonya Yulia.



Sekedar informasi, Nyonya Yulia itu ibu tiri dari tuan Danu, alias madu dari Nyonya Santi. Tapi sejauh yang Rara tahu, keduanya terlihat akur-akur saja. Entahlah, mungkin mereka benar-benar akur, atau mereka itu begitu pandai menyembunyikan masalah. Intinya mereka terlihat begitu kompak.



Tanpa sadar, Rara pernah berharap... Jika suatu waktu ada keajaiban, dirinya bisa bersanding dengan Danu, rasanya dia rela kalau harus menjadi yang kedua seperti Nyonya Yulia.

__ADS_1



Ya... orang seperti dirinya kan enggak mungkin berharap jadi *the only one* untuk seorang Danu. Rara sadar diri dan paham akan kondisinya. Rasanya dia udah cinta mati dengan laki-laki itu. Baginya, asal bisa mendampingi Danu selamanya udah bagus banget.



Tapi, sewaktu Rara mendengar obrolan para majikan siang itu, saat makan siang, tiba-tiba saja ada perasaan aneh muncul dalam hatinya.



Awalnya, nyonya Yulia bercerita tentang acara arisan yang diikutinya bersama beberapa orang wanita yang kebetulan juga istri-istri dari rekan bisnis suaminya.



"Oh, iya... Ibu, mas, mbak Santi... di tempat Bu Sugeng, aku ketemu dengan Bu Su'eb. Dia tanya, kapan kira-kira kita ada waktu, mereka ingin mengundang kita makan malam di rumahnya." Kata Nyonya Yulia.



Rara yang kebetulan ada disana langsung pasang kuping dengan seksama. Hatinya kebat-kebit enggak karuan.



"Cuma makan malam?' Tanya Nyonya Santi dengan tatapan curiga.



"Yaaa, katanya sih cuma makan malam. Tapi ya... mbak tahu sendirilah, Pak Su'eb gimana..." Jawab Yulia.



"Masih soal Danu?" Tanya Tuan Darmawan memastikan.




"Bagaimana, Mas? Apa pendapat Mas Darmawan soal anaknya Pak Su'eb itu?" Tanya Nyonya Yulia.



"Ya, aku sih enggak masalah. Asal anaknya enggak keberatan..." Jawab Tuan Darmawan dengan datarnya. Tapi dari ekspresi wajahnya kelihatan, kalau beliau masih mempertimbangkan wacana itu.



"Bagaimana pendapat ibu dan mbak Santi?" Tanya Nyonya Yulia pada mertua dan madunya.



"Aku terserah anaknya..." Jawab Nyonya Supami. Nyonya Santi tidak segera menjawab, membuat Nyonya Yulia menatapnya menunggu jawaban.



"Entahlah... Aku kurang sreg dengan anak itu..." Jawab Nyonya Santi akhirnya.



*YESS*!!!


__ADS_1


Batin Rara bersorak. Setidaknya dia punya satu suara yang memberinya kesempatan. Kesempatan untuk apa? Enggak tahu juga. Pokoknya dia senang kalau Danu tidak berjodoh dengan anaknya Pak Su'eb itu.



"Tapi kalau Danu bisa memimpinnya dengan baik, aku enggak masalah. Yang penting anakku bahagia..." Imbuh Nyonya Santi membuat perasaan Rara yang tadi sedikit melayang tiba-tiba terhempas lagi.



Rara termenung di sudut, dekat pintu ruang makan.



*Rara... katanya kamu sadar diri... katanya kamu enggak bakalan banyak berharap... katanya kamu mau mengalah asalkan Danu bahagia... tapi, baru mendengar kalau Danu mau dijodohkan saja sudah merasa sakit? Bagaimana jadinya kalau kamu benar-benar seperti Nyonya Yulia atau Nyonya Santi? Sanggupkah kamu berbagi*?



Rara sibuk berbicara sendiri dalam hati.



Sejak mendengar percakapan itu, Rara benar-benar memikirkan kembali hubungan satu arah yang dia tujukan pada Danu.



Sungguh, sangat sulit untuknya bisa menormalkan kembali perasaannya pada Danu. Dia sudah terlanjur memupuk perasaan itu hingga tumbuh subur dengan liarnya. Merambat dan membelit hati dan pikirannya.



Segala hal yang dia lakukan tanpa sadar selalu dia sangkut pautkan dengan Danu. Mau mandi dan dandan supaya enggak malu kalau bertemu Danu. Mau makan, mikirnya biar seger kalau bertemu Danu. Sampai-sampai soal kuliah juga alasannya, supaya enggak malu kalau nanti bersanding dengan Danu. Pokoknya semuanya untuk Danu.



Tapi, bagaimana jika ternyata Danu ditakdirkan bukan untuknya?


Kalau awalnya sih, dengan entengnya dia bisa menjawab. **Cinta tidak harus memiliki**... Mau Danu bisa bersamanya atau tidak, yang penting Danu bahagia. Tapi itu dulu.... Sekarang?



Entahlah. Rara mulai menganalisa kembali hatinya. Entah dia sanggup atau tidak menghadapi Danu yang jika sudah bergandengan dengan orang lain.



Nyatanya, baru mendengar rencana perjodohan Danu saja, hatinya sudah terasa sakit. Melihat Danu dekat dengan Nilam, dia juga sudah cemburu. Bagaimana jadinya kalau nanti sampai memilih orang lain sebagai istrinya? Bagaimana kabar hatinya?



...๐ŸŒน๐ŸŒžBersambung๐ŸŒž๐ŸŒน...



...Would you...


...Give me...


...your LIKE...


...n comment...


...please.. ๐Ÿ™...

__ADS_1



![](contribute/fiction/6014561/markdown/14436271/1671783284175.jpg)


__ADS_2