
Malam sudah mulai larut, Rara menatap jam di layar ponselnya. Jam 10.49.
Udah mau jam sebelas
Rara menggeliat meregangkan badannya yang tiba-tiba saja terasa kaku.
Iyalah, sudah sejak isya tadi dia mantengin layar laptop nya. Kejar target. Tugasnya ini harus diserahkan besok jam sembilan pagi.
Matanya sudah mulai lelah... enggak, sudah mulai ngantuk lebih tepatnya.
"Jangan tidur...jangan tidur... nanti kalau tidur sebelum semua ini selesai, besok kalau kebablasan tidurnya bisa gawat..." Rara berbicara sendiri.
Sekali lagi Rara menggeliat. Celingak celinguk, mencari cemilan untuk mengusir rasa ngantuk. Tapi yang ditemukannya hanya plastik kemasan kosong.
HABIS...!
Rara mengernyit, enaknya gimana ini? Sambil berpikir, Rara mengetuk-ngetuk mejanya. Selain karena iseng, dia juga berusaha membuat suara yang bisa mengalihkan perhatiannya dari kantuk.
Ah, bikin mie rebus!
Biasanya, setelah makan, Rara tidak bisa langsung tidur, karena dia akan merasa mual karena nya. Jadi, setelah perut kenyang, dia masih ada waktu untuk mengerjakan tugasnya lagi.
Setelah menemukan ide brilian untuk mengisi perutnya malam ini, Rara segera bangkit dan melangkah keluar kamar.
Suasana di sekitar kamar nya kini sudah sepi. Teman-teman nya sepertinya sudah mulai mapan di kasurnya masing-masing. Ya, mereka memang harus bangun lebih awal daripada dirinya besok pagi.
Rara masuk ke dapur. Di sana juga tidak ada orang. Tapi dari arah luar, Rara bisa mendengar suara obrolan beberapa orang. Untuk memastikannya, Rara melongok dari pintu yang tidak tertutup rapat.
Nah, kan benar dugaannya. Orang yang sedang ngobrol itu adalah para petugas keamanan yang sedang meronda. Rupanya mereka sedang duduk-duduk sambil minum kopi dan merokok disana.
Rara masuk lagi ke dapur dan mengambil sebuah panci kecil untuk merebus air. Kompor sudah menyala, dan airpun dia rebus. Sementara menunggu, dia membuka kemasan mie instan yang memang tersedia di sana.
"Lagi apa, Ra?" Tanya sebuah suara seketika mengejutkan Rara.
"Astaghfirullah...!" Seru Rara sampai menjatuhkan gunting yang dia pakai untuk membuka kemasan bumbu mie instan itu.
Dia segera menoleh kearah asal suara.
"Tuan Danu..." Kata Rara saat melihat orang yang menyapanya.
"Maaf, kaget ya?" Kata Danu sambil memungut gunting yang dijatuhkan Rara.
"Iya, tuan... tuan muncul begitu saja seperti hantu. Enggak kedengaran suara langkahnya lagi..." Ucap Rara tanpa sadar sudah menggerutu.
"Masa sih, enggak kedengaran... kamu aja yang terlalu fokus bikin mie nya, jadi enggak denger kalau ada orang mendekat..." Kilah Danu, sambil tersenyum antara geli dan memaklumi.
Rara tidak menjawab. Ya bisa jadi yang dikatakan Danu memang benar, dia terlalu fokus bikin mie, sampai enggak dengar ada orang mendekat.
__ADS_1
"Bikin mie apa Ra?" Tanya Danu lagi.
"Ini..." Rara menunjukkan kemasan mie.
"Masih ada, mienya?"
"Sepertinya ada. Kenapa tuan? Tuan mau juga?"
"Enggak... kalau masih ada dan cukup, bisa minta tolong buatin juga, buat orang-orang yang ronda malam ini..." Kata Danu menjelaskan maksudnya.
"Oh, boleh... untuk berapa orang sih?" Tanya Rara sambil membuka lemari penyimpanan memeriksa stok yang tersedia.
"Sekitar lima atau enam orang, rasanya." Kata Danu.
"Oh... siap tuan." Jawab Rara.
Dia lalu mengambil lagi beberapa bungkus mie instan dan menambah air di panci yang sebenarnya sudah mulai akan mendidih.
Melihat Rara sudah mulai menyiapkan pesanannya, Danu kemudian melangkah pergi, bergabung dengan para penjaga malam itu.
Rara menatap tubuh Danu yang menghilang dibalik pintu. Tak lama terdengar sapaan orang-orang yang tengah bekerja itu menyapa Danu.
"Belum tidur, tuan?" Sapa mereka.
"Belum, masih pengen rokok'an." Jawab Danu ramah.
Terdengar suara tawa Danu sebagai jawaban enggak jelas atas gurauan itu.
"Mau keliling sekarang, mas?" Tanya salah satu dari mereka pada temannya.
"Boleh... " Sahut teman yang lain.
"Jangan, tunggu sebentar... Itu, saya sudah minta Rara bikinin mie rebus. Kalian makan dulu saja sambil menemani saya rokok'an." Cegah Danu yang langsung disambut gembira oleh mereka.
Itulah salah satu kebaikan Danu. Dia begitu perhatian dan rendah hati pada pegawainya. Dia enggak malu, duduk bareng dan ngobrol dengan mereka, sehingga para pekerja itu juga merasa dihargai dan bertambah sungkan padanya.
Tak lama kemudian, Rara datang dengan membawa tiga mangkuk mie yang masih mengepulkan asapnya.
"Bapak-bapak... mas-mas... ini mienya..." Kata Rara sambil mendekat dan meletakkan nampan yang dibawanya.
"Cuma tiga, Ra?" Tanya salah satu dari para pekerja.
"Enggak, aku bikin enam. Tapi tadi berat mau dibawa sekaligus... " Jawab Rara.
"Mana aku bawain..." Kata pekerja itu lagi.
"Ada di meja dapur..." Jawab Rara. Eh, yang mangkuknya biru, punyaku..." Imbuh Rara cepat, saat melihat orang yang diajak bicara sudah melesat masuk ke dapur.
__ADS_1
"Kenapa mangkuknya lain? Isinya lain?" Tanya pekerja yang lain.
"Iya, punyaku sudah aku tambahin cabe rawit... " Jawab Rara.
"Perempuan itu kok, ya seneng nya yang pedes-pedes ya... masa, makan bakso lima ribu saja sambalnya sampai tiga empat sendok... apa ya enggak murus itu?" Komentarnya.
(murus\= sakit perut)
"Iya... belum kecap sama sausnya... duh, sampai hitam gitu warna kuahnya. " Sahut temannya setuju.
"Sudah gitu, kalau sudah makan... Keningnya berkeringat... matanya berair, ingusnya juga keluar bibirnya merah sampai bergetar gitu. Duh, mentolo pengen tak ***** aja tuh bibir... " Celetuk teman lainnya yang langsung disambut tawa oleh yang lain.
Rara yang mendengar cuma bisa mesam-mesem aja jadinya. Ya, memang begitu sebagian besar teman-teman perempuannya.
"monggo, mas-mas... bapak-bapak." Kata Rara berpamitan kembali ke dapur. Hampir bersamaan dengan itu, pekerja yang tadi mengambil sisa mie sudah kembali.
"Loh, tuan... ini kok, cuma enam. Buat tuan, mana?" Kata pekerja itu setelah meletakkan masing-masing mangkuk di hadapan penyantapnya.
"Sudah enggak usah... silahkan dinikmati makan mienya... saya tinggal dulu..." Danu malah berpamitan.
"Oh, iya tuan. Makasih mie nya..." Sahut para pekerja.
Danu melangkah masuk melalui dapur seperti semula. Dilihatnya Rara tengah duduk menghadapi semangkuk mie dengan raut wajah berkeringat.
"Enak mie nya, Ra...?" Tanya Danu basa-basi.
Dia berjalan mendekat.
"Enak tuan... tuan beneran enggak mau dibuatin?" Tanya Rara juga basa-basi.
"Pedes banget ya, kelihatannya." Danu tidak menjawab basa-basi Rara malah mengomentari kuah mie yang terlihat begitu merah di mangkuk Rara.
Rara meringis. Danu memperhatikan wajah Rara. Benar seperti yang dikatakan pekerja tadi. Keningnya berkeringat... matanya sedikit berair... Rara juga bolak-balik membersit hidungnya yang sudah berair. Tanpa sadar mata Danu terpaku pada bibir Rara yang merah dan bergetar menahan pedas.
Bagaimana jadinya kalau bibir itu dilumat?
...๐น๐Bersambung๐๐น...
...Would you...
...Give me...
...your LIKE...
...n comment...
...please.. ๐...
__ADS_1