Cuma Seorang Pelayan 2

Cuma Seorang Pelayan 2
Jangan Kecewakan dia.


__ADS_3

Hampir jam delapan, saat Rara turun dari angkot yang membawanya ke kampus. Dia melangkah dari tepi jalan raya menuju gerbang kampusnya.


Harusnya dia berjalan cukup cepat karena waktu mulainya jam kuliah sudah dekat, tapi Rara enggan berlari-lari. Dia masih merasa sedikit mengantuk karena jam tidurnya kurang.


Hari ini dia bangun sedikit kesiangan, karena semalam dia tidur cukup larut. Masalah lamaran dadakan dari Irwan membuatnya sulit untuk langsung tertidur.


Otaknya terus berputar, mencari tahu, apa yang harus dia lakukan. Sungguh, dia tidak ingin membuat orang tuanya kecewa. Rara melihat harapan yang begitu besar dari sorot mata bapaknya.


Rara sendiri ragu, apa yang membuat bapak demikian yakin, untuk berbesan dengan pak Rusdi. Apakah karena pak Rusdi itu temannya... sahabatnya? Atau karena melihat potensi yang bagus dari sosok Irwan? Atau mungkin karena keduanya?


Sementara untuk ibu... Ekspresi ibu memang terlihat lebih datar, tapi ibu juga tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya, mengetahui kalau ada seorang laki-laki baik yang meminta anak gadisnya untuk menjadi pasangannya.


Ya... Ibu hanyalah seorang wanita sederhana. Melihat anaknya sudah tumbuh dewasa, harapannya hanya satu... Semoga anaknya bisa segera mempunyai pasangan, bisa hidup makmur bersama pasangannya dan bisa membentuk keluarga baru yang bahagia. Cuma itu.


Ibu tidak berharap dirinya kaya... Walaupun kalau memang iya juga enggak akan menolak. Tapi yang pasti ibu ingin anaknya mapan dan berkeluarga. Karena ibu ingin, kelak, jika orang tua sudah tidak bisa mendampingi, ada orang lain yang akan menjaga anaknya dengan setulus hati.


Lalu, untuk Rara sendiri?


Sejauh ini, Rara belum menemukan alasan yang kuat untuk menolak kehadiran Irwan di hidupnya. Tapi enggak bisa semudah itu juga dia bisa menerima. Hatinya saat ini masih dipenuhi oleh Danu. Enggak ada tempat secuilpun untuk Irwan.


Kalau mengikuti egonya sih, dia maunya langsung bilang "enggak" saja ke Irwan. Titik. Enggak perlu repot-repot mikir. Tapi ya itu tadi... Kalau dia mempertahankan Danu, lalu... mau dibawa kemana hubungan satu arah ini? Sampai kapan dia akan puas hanya menjadi bayangan untuk Danu?


"Rara...Rara...!"


Sebuah suara menarik Rara dari keasikannya berpikir. Dia celingukan mencari arah asal suara.


Tanpa sadar ternyata dia sudah memasuki area kampus, dan ada banyak mahasiswa yang berseliweran, karena jam belajar memang belum mulai. Dari arah parkiran sepeda motor, Rara melihat Mutia melambai dan memintanya untuk menunggu. Seketika perut Rara terasa mulas. Rasanya dia bisa menebak, kalau ada sesuatu yang akan dibicarakan oleh teman sekelasnya itu. Sesuatu yang juga sudah bisa ditebak tentang apa.


Mutia berjalan cepat setengah berlari menghampirinya.


"Hai...!" Sapanya.


"Hai." Balas Rara. Keduanya berjalan bersisian menuju kelas mereka.


"Ra... Kamu serius dilamar mas Irwan?" Tanya Mutia langsung tanpa prolog apapun lagi.


"Kamu udah tahu?" Rara balik bertanya.


"Ya, gimana bisa enggak tahu, kalau saat kamu bangun tidur di pagi hari, sudah disambut kehebohan..." Ucap Mutia setengah kesal setengah geli.

__ADS_1


"Heboh apa?" Rara kini yang bertanya.


"Ya heboh... Bapak menyuruh ibu segera berbelanja, membelikan segala sesuatu untuk hantaran nanti malam..."


Rara terperengah mendengar cerita Mutia. Dia bisa membayangkan kehebohan itu dalam benaknya. Dalam waktu yang bersamaan dia juga seketika merasa begitu bersalah dalam hati.


Saat orang lain sedang berusaha semaksimal mungkin untuk "memuaskan" calon pasangannya, dia sendiri malah ragu untuk menerimanya.


"Jadi bener? Mas Irwan melamar kamu?" Ulang Mutia.


"Hem." Sahut Rara.


"Kok bisa? Kapan kalian bertemu?"


"Kemarin."


"Sejak kapan kalian kenal?"


"Dua hari lalu."


"Hah?!"


"Kok bisa dia langsung melamar kamu?" Tanya Mutia lagi.


"Ya... enggak tahu juga. ... Sebenarnya yang awalnya mau melamar itu bapak kamu." Terang Rara jujur. "Aku pikir bapak kamu bercanda, tapi nyatanya bapak kamu malah nyuruh mas Irwan melamar aku langsung..." Lanjut Rara.


"Terus...? Kamu terima?" Tanya Mutia sambil terus menatap wajah Rara.


"Enggak tahu... Aku belum bilang apa-apa... Aku masih kaget jadi bingung..."


"Lalu gimana dengan mas Danu?" Tanya Mutia. Kini matanya fokus menatap wajah Rara. Rara sampai terhenti langkahnya mendengar pertanyaan itu.


Lalu bagaimana dengan mas Danu? Pertanyaan yang mudah tapi sangat sulit untuk dijawab. Bagaimana dengan mas Danu? Kenapa pertanyaan itu tiba-tiba terasa begitu menusuk di hatinya?


Rara kini merasa seperti berada di ujung batas waktu. YES or NOT... Take it or Leave it... Kalau dia bilang Iya... hatinya yang akan merana... tapi jika dia bilang TIDAK, ada banyak hati yang akan kecewa.


Akankah dia menjadi seorang yang selfish. Ataukah dia harus melupakan rasa cintanya yang sudah begitu merambat dan berakar dalam hatinya.


"Ra... Aku temen kamu, aku tahu gimana perasaan kamu sama mas Danu. Hanya saja, bukan porsiku untuk menyampaikan hal itu pada bapak dan mas ku.... Jujur, aku sama sekali enggak keberatan kalau kamu nanti jadi mbak-ku. Hanya saja aku minta satu... jangan kecewakan mas ku itu. Juga bapakku. Beliau sangat bersemangat sekali ingin berbesan dengan bapak kamu...temannya sepengajian..." Ucap Mutia sambil memegang lengan Rara seakan memohon sekaligus mengancam agar Rara benar-benar memikirkan keputusan yang akan diambilnya.

__ADS_1


Sesaat Rara terdiam sambil menggigit-gigit bibirnya sendiri, sibuk berpikir dan menimbang.


"WOY...! Rara....! Mutia...!" Seru seseorang menarik perhatian keduanya. Spontan keduanya segera menoleh. Di ambang pintu kelas, Ratna terlihat menggerak-gerakkan tangannya menyuruh mereka untuk bergegas masuk.


"Masuk dulu yuk... Ntar kita omongin lagi..." Kata Mutia, dia menarik pelan lengan Rara yang sudah digenggamnya. Rara mengangguk. Mereka melanjutkan langkahnya menuju kelas.


Pelajaran demi pelajaran berlangsung. Rara berusah untuk fokus pada meteri yang diberikan. Bukan untuk sok rajin, Dia hanya ingin mengalihkan perhatiannya sesaat yang dirasa sudah cukup lelah untuk memikirkan masalah lamaran. Bahkan mood makannya saja sampai menghilang gara-gara mikirin hal itu.


Saat jam istirahat, saat teman-temannya memilih ke kantin untuk mengisi perut, Rara memilih untuk duduk di selasar kelas dengan diktat di pangkuannya. Maksudnya ingin membaca, tapi tetap saja, fokusnya buyar. Apalagi saat tidak sengaja, matanya melihat sosok Danu tengah asik genjrang-genjreng dengan teman-temanya di kejauhan.


Biasanya dia akan dengan senang hati menonton dari kejauhan. Benar-benar cuma menonton, karena suara mereka tidak sampai ke tempat duduknya. Melihatnya ngobrol... tertawa... kadang-kadang mengusap rambutnya kasar kebelakang sungguh pemandangan yang sangat membahagiakan.


Tapi kini... kenapa rasanya kok seperti ada yang mengganjal dan membuatnya gelisah. Ada perasaan tidak rela jika dia harus melepaskan impian itu. Tapi bersamaan dengan itu, dia juga merasa putus asa akan impiannya yang tidak mungkin tercapai.


Rara membuang pandang, berusaha untuk fokus pada bacaan di pangkuannya. satu kalimat... dua kalimat... Kenapa semakin dia baca kok malah semakin dia tidak mengerti.


Mendadak dia seperti seorang penderita disleksia... Rangkaian huruf-huruf itu mendadak menjadi seperti pazel yang harus dia rangkai untuk menjadi satu kata utuh. Benar-benar menguras tenaganya. Tanpa sadar keringat dingin keluar dari tengkuknya.


"Ra...!"


Sebuah panggilan sukses membuatnya melonjak dari duduknya. Si pemanggil juga sepertinya ikutan terkejut melihat reaksi Rara. Keterkejutan Rara jadi bertambah saat melihat siapa yang kini sudah berdiri di depannya.


Danu!


"Tu...eh, Mas..." Seketika otak Rara rasanya nge blank. Wajahnya tidak bisa menyembunyikan perasaanya yang kacau.


"Ra... kamu enggak apa-apa?" Tanya Danu.


Melihat wajah Rara yang seperti orang sakit, refleks tangannya menyentuh lengan Rara bagian atas. Danu merasakan tubuh Rara yang gemetar dan melihat keringat dingin di dahinya.


"Ra, kamu sakit..." Kata Danu khawatir.


Tanpa berpikir lebih jauh, Danu segera mengambil posisi merangkul Rara untuk memapah Rara ke ruang kesehatan. Dan laksana orang bodoh berbalut kepolosan, Rara membiarkan dirinya dipapah sambil dirangkul begitu rupa, membuat orang-orang yang ada di sekitar mereka bertanya-tanya dan menduga-duga dengan bebas. Membuat beberapa pasang mata menatap mereka dengan luka dan kebencian.


...🍀bersambung 🌴...


Reders, author minta maaf ya, enggak bisa cepat update, karena banyak sekali hal yang harus author selesaikan di RL. Tapi author berusaha untuk tetap melanjutkan cerita ini sampai selesai kok...


Terima kasih sudah mau setia menunggu update an cerita ini. Semoga kalian tetap suka. Aamiin. 🥰🙏🥰

__ADS_1


...☘☘☘...


__ADS_2