
"Ra, kamu sakit..." Kata Danu khawatir.
Tanpa berpikir lebih jauh, Danu segera mengambil posisi merangkul Rara untuk memapah Rara ke ruang kesehatan. Dan laksana orang bodoh berbalut kepolosan, Rara membiarkan dirinya dipapah sambil dirangkul begitu rupa, membuat orang-orang yang ada di sekitar mereka bertanya-tanya dan menduga-duga dengan bebas.
Membuat beberapa pasang mata menatap mereka dengan luka dan kebencian.
Rara memejamkan mata berusaha menghimpun kesadaran. Tapi aroma maskulin yang memenuhi indra penciumannya terasa begitu memabukkan.
Ingin rasanya dia membenamkan diri dalam imajinasi yang terasa begitu menghanyutkan, hingga tiba-tiba imajinasi itu berganti rupa dengan begitu saja. Menjelma menyerupai wajah neneknya. Mbok Darmi.
Dalam imajinasinya itu dilihatnya sang nenek sedang menatap tajam padanya, separuh gusar separuh kecewa. Rasanya neneknya itu sedang marah padanya.
"Mbok!" Panggil Rara lirih karena takut. Tapi mbok Darmi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya seperti tidak setuju, setelah itu mbok Darmi melengos dan menghilang.
"Mbok...!" Panggil Rara lagi. Tapi bayangan mbok Darmi sudah benar-benar menghilang. Yang dihadapan Rara kini ada Mutia dan Ratna serta Marina yang berdiri sedikit di belakang Ratna.
"Kamu kenapa?"
"Kalian ngapain?"
"Beraninya kamu..."
Ketiga kalimat itu terucap hampir bersamaan. Rara menatap mereka bertiga dengan mata berkedip-kedip bingung.
***Emang ada apa***?
Tapi sebelum dia sempat bertanya, dia merasakan suatu gerakan di bahunya. Seketika dia menoleh kearah sampingnya. Sedetik dia masih sempat melihat gerakan Danu menarik tangannya yang semula melingkar di lehernya.
***What?! Barusan aku dipeluk Danu??? Wow!!! Pantesan terasa nyaman sekali***...
Mendadak bayangan mbok Darmi lengkap dengan ekspresinya kembali melintas. Seketika juga Rara membenahi posisi tubuhnya sedikit menjauh dari Danu.
"Dasar perempuan murahan!" Maki Marina membuat semua mata langsung terarah padanya.
"Kau...!" Rara sampai bingung mau membalas makian itu. Mata Rara bergerak kearah Danu dan Marina bergantian. Mencari tahu apa yang akan dilakukan Danu.
"Marina, kita harus bicara.... Kalian tolong Rara ya..." Ucap Danu pada Mutia dan Ratna yang langsung diangguki oleh keduanya.
__ADS_1
Rara, Mutia dan Ratna melihat Danu yang menggiring Marina dengan tatapannya agar segera menyingkir dari sana.
Marina mengikuti langkah Danu setelah melempar tatapan tajam penuh ancaman pada Rara. Rara tidak bergeming, tapi dia juga merasa bersalah pada sesuatu yang nyatanya tidak dia sadari telah terjadi.
Seperginya Danu dan Marina, suasana mendadak terasa canggung. Kini Rara menghadapi tatapan interogasi dari dua temannya.
"Aku enggak tahu... sungguh aku enggak nyadar apa yang telah terjadi..." Bela Rara walaupun keduanya tidak mengucapkan kalimat apapun. Rara sungguh merasa bersalah. Untung panggilan video mengalihkan perhatian mereka. Tertulis nama dan foto profil Irma di layar.
Irma adalah adik satu-satunya dari Rara. Dia sekarang masih duduk di bangku SMA kelas 12. Satu sekolahan dengan non Sabrina, adiknya Danu. Tapi kelas sosial yang berbeda membuat keduanya tidak terlalu akrab.
"Assalammualaikum, mbak...!" Panggil Irma, saat video call itu tersambung.
"Ya... waalaikum salam..." Sahut Rara.
"Mbak pulang jam berapa? Kata ibu jangan sore-sore. Masih banyak yang harus dipersiapkan untuk menyambut tamu nanti malam." Kata Irma.
"Hem... mbak udah tahu..." Jawab Rara setengah asal.
Dia merasa risih, Irma mengatakan hal itu sekarang karena ada Mutia di dekatnya. Pasti berita ini bakalan "bocor" ke pihak Irwan. Kesannya keluarganya benar-benar berharap akan kelancaran acara yang akan diselenggarakan nanti malam. Padahal sih IYA.
Sepintas diliriknya Mutia yang ternyata ikutan tersenyum mendengar berita itu.
Untuk Mutia, walaupun ada keraguan akan keseriusan Rara pada kakaknya, tapi melihat dukungan keluarga Rara, dia berdoa, kalau kedepannya mereka berdua benar-benar bisa berjodoh dan berlanjut hingga kepelaminan. Ya... bukankah ***witing tresno jalaran soko kulino***? Ya... semoga saja kalau mereka sudah bersama, mereka akan saling cinta...
"Lihat mbak..." Ujar Irma.
Dia lalu menunjukkan keadaan ruang tengah yang sudah ditata sedemikian rupa. Kursi dan meja yang semula melengkapi ruangan itu sudah menepi, bahkan sebagian sudah tak kelihatan. Sebagai gantinya sudah terhampar karpet tebal berwana hijau merah. Sudah lengkap dengan beberapa toples kue-kue disana.
"Yang disana juga..." Lanjut Irma.
Selanjutnya, dia menunjukkan keadaan ruang makan yang menjadi satu dengan dapur.
Terlihat beberapa sajian masakan sudah terhidang di atas meja makan. Sementara seputar meja masih terlihat beberapa barang bekas pakai yang belum dibersihkan. Ibu juga masih terlihat memakai celemek berdiri mengiris daun bawang di meja dekat kompor.
"Nduk, pulangnya jangan sore-sore ya..." Ucap ibu saat melihat wajah Rara di layar ponsel anaknya.
__ADS_1
"Iya bu..." Jawab Rara.
"Nih, mbak... semua orang disini sudah bercapek-capek untuk mbak Rara... makanya jangan sampai ngaret dan bikin ibu khawatir ya..." Kata Irma seperti mengingatkan Rara.
"Iya-iya..." Sahut Rara lagi dengan nada seperti bersungut. Tapi Irma tertawa mendengarnya, setelah itu Irma mengucapkan salam dan langsung memutuskan sambungan telpon.
"Waalaikum salam..." Ucap Rara pelan sambil menatap layar ponsel yang sudah kembali menapilkan wallpepar burungnya. "Dasar..." Sambungnya lirih.
Rara menatap Mutia dan Ratna yang terus memperhatikan kegiatannya bertelpon. Ratna baru mau membuka mulut untuk bertanya, saat terdengar kembali bunyi ringtone ponsel. Kali ini punya Mutia yang bunyi. Ada nama "MASQU" tertulis disana.
"Halo... assalammualaikum..." Salam Mutia.
Mutia mendengarkan omongan orang yang diseberang. Dia bahkan sedikit menepi, seakan Ratna dan Rara tidak boleh ikut mendengar obrolannya. Keduanya cuma saling bertukar pandang, tapi tidak berkata apa-apa.
Setelah selesai berbicara, dia langsung menghadap ke Rara dan Ratna.
"Guys... aku izin pulang duluan ya... ada perlu, nih." Ucap Mutia pada kedua temannya.
"Loh, kamu enggak ikut jam kuliah Pak Dibyo?" Tanya Ratna sambil terus menatap Mutia. Mencari tahu, ada berita baik atau buruk, yang membuat temannya itu memutuskan untuk bolos pelajaran pak Dibyo. Melihat ekspresi wajah Mutia, sepertinya bukan berita buruk. Semoga.
"Titip absen aja ya..." Ucap Mutia sambil nyengir.
"Lah...?!"
"Dah... assalammualaikum..." Tanpa menunggu lebih lama, Mutia segera berjalan cepat menuju tempat parkir untuk mengambil sepeda motornya.
"Seenaknya aja tuh, anak..." Sungut Ratna sambil menoleh kearah Rara. Rara cuma bisa meringis mendengarnya.
"Eh, BTW... dirumah kamu ada acara apa, Ra? Kok sepertinya mau menerima banyak tamu... sampai dibeberi karpet begitu..." Tanya Ratna mengalihkan perhatiannya pada Rara.
"Euh? Emmm... Rat, aku ikutan titip absen ya...Aku ada perlu juga..." Kata Rara. Seperti Mutia, dia juga langsung cabut setelah berkata begitu.
Dia tidak memberi kesempatan untuk Ratna bertanya-tanya lebih jauh. Tinggallah Ratna yang mengumpat-ngumpat sendiri karena ditinggal oleh teman-temannya begitu saja.
...🙏bersambung 🙏...
Reders, author masih minta maaf ya, enggak bisa cepat update, karena banyak sekali hal yang harus author selesaikan di RL. Tapi author berusaha untuk tetap melanjutkan cerita ini sampai selesai kok...
__ADS_1
Terima kasih sudah mau setia menunggu update an cerita ini. Semoga kalian tetap suka. Aamiin. 🥰🙏🥰