
Jam istirahat siang... Rara dan Ratna sudah siap mau melangkah ke kantin. Mustinya sih sholat dzuhur dulu, ya... Tapi berhubung perut lapar, jadi mereka memilih ke kantin dulu....
Ada yang bilang... biar lebih khusyuk sholatnya kalau perut kenyang... atau bisa juga dengan alasan... mesjidnya masih penuh jadi ngantri pakai mukena nya...
Ya, terserah mereka lah, alasannya apa hingga menunda waktu sholat. Asal jangan bablas malah enggak sholat aja ya... π
Tapi belum sampai keluar kelas, langkah mereka terhenti karena panggilan Mutia dan Sari, teman mereka satu kelas.
"Ratna... Rara...!" Panggil mereka hampir bersamaan, berusaha mengatasi kegaduhan kelas.
Biasalah... Enggak anak SD ataupun anak kuliahan, kalau namanya bubar kelas musti saja ramai. Kayaknya happy banget aja gitu, serasa baru selesai kerja rodi.. (Eh...? Perumpanaan yang aneh) π
"Apa?" Tanya Ratna sambil menoleh kearah mereka. Rara ikutan menoleh.
"Kopyokan... kopyokan..." Kata Sari.
(kopyokan\=pengundian nama dalam arisan)
"Weh?! Sekarang emang udah waktunya ya?" Tanya Rara enggak yakin.
"Iya lah... sekarang udah tanggal berapa?" Kata Mutia. Dia tidak bertanya, tapi justru untuk mengingatkan Rara.
"Walahh... iya..." Kata Rara saat menyadari, kalau ternyata hari ini adalah waktunya pengundian pemenang arisan.
Ratna dan Rara mengurungkan niatnya untuk segera ke kantin, dan berbelok kembali ke meja mereka.
"Nunung sama Wita mana?" Tanya Ratna, sambil duduk di bangku depan mereka. Rara ikutan duduk di sebelahnya.
Kedua teman yang disebut terakhir itu kebetulan beda kelas dengan mereka, tapi masih sama-sama satu jurusan, jadi cuma kadang-kadang saja mereka barengan.
"Mereka enggak datang, katanya mau ngerjain tugas kelompok. Tapi uang mereka sudah dititipin kok tadi..." Jawab Sari.
"Cuma tinggal tiga orang kan ya, yang belum menang?" Mutia memastikan.
"He em..." Gumam yang lain mengiyakan.
"Silahkan deh, kalian duluan aja, bedakku masih cukup sampai bulan depan..." Kata Rara.
Ya... arisan yang mereka ikuti itu bukan arisan yang hadiahnya sampai jutaan gitu memang. Mereka sengaja membentuk kelompok arisan, yang anggotanya cuma enam orang. Iurannya juga cuma lima puluh ribu per bulan. Bukan buat investasi, tentu saja. Tapi tujuan utama mereka mengadakan kelompok arisan ini, cuma untuk memenuhi kebutuhan kosmetik mereka yang terkadang terasa terlalu mahal.
Coba saja kamu hitung. Berapa biaya yang kamu butuhkan buat beli skin care. Walaupun bukan barang-barang branded mahal, tapi kalau dihitung keseluruhan, lumayan ngabisin duit juga kan? Makanya, mereka ber-enam mengatasi masalah biaya sembako perempuan ini dengan cara arisan. Dengan begitu, setiap bulan mereka hanya perlu lima puluh ribu buat anggaran make up.
Lima puluh ribu kali enam sama dengan tiga ratus ribu... tiga ratus ribu enggak cukup buat make up? Ya... silahkan tambahin aja sendiri... π
Sementara Sari dan Mutia berunding untuk menentukan siapa yang mau ambil uangnya duluan (Karena memang hanya sisa mereka dan Rara yang belum menang) Rara merasakan ponselnya bergetar di dalam totebag nya. Tangan Rara menelusup masuk ke dalam tas. Tapi bukan ponsel yang dia ambil. Dia mengeluarkan dompetnya.
"Nih... bayaran ku..." Katanya sambil menyerahkan uang berwarna biru terakhir dari dompet itu.
"Ini punyaku..." Ratna ikutan menyerahkan uangnya.
Rara melirik sepintas isi dompet Ratna. Enggak banyak, tapi yang jelas enggak setipis punyanya.
Hadeuh... duit tinggal dua puluh ribu... Cukup atau enggak ini sampai minggu ini...
Rara melihat uang terakhir di dompetnya itu dengan sedikit kecut.
Kapan ya, aku jadi Sultan... bisa bebas pakai duit semaunya...
__ADS_1
Rara segera mengembalikan dompet kedalam tas, saat dirasakan ponselnya bergetar kembali.
"Siapa yang mau ambil duluan?" Tanya Ratna. Rara cuma mendengarkan, karena tangannya kini sudah meraih ponsel yang kembali bergetar.
"Mutia aja dulu..." Terdengar suara Sari menjawab. Tapi fokus Rara sudah teralih. Ada pesan baru dari nomor tidak bernama di ponselnya.
Nomor siapa ini?
+628xxxxxxx123 :
[Hai, Ra... Lagi sibuk enggak? Bisa kita ketemu? ]
"Dari siapa?" Tanya Ratna, saat melihat kerut di kening Rara setelah menatap ponselnya.
"Enggak tahu..." Jawab Rara jujur.
"Loh? Kok enggak tahu?" Ratna bertanya lagi. Ini mah bukan sekedar kepo jadinya. Tapi dia penasaran.
"Emang enggak tahu... Pengirimannya enggak ada dalam kontak." Kata Rara.
"Ngomong apa dia?" Tanya Ratna.
"Ngajak ketemuan..."
"Hadeuh... enggak jelas... udah yuk kita makan aja ya. Lapar nih..." Kata Ratna kemudian sambil bangkit dan menarik tangan Rara untuk ikut bersamanya.
"Hem..." Gumam Rara setuju. "Yuk Mutia... Sari... kita duluan ya..." Pamitnya sambil mengikuti langkah Ratna.
"Rat... ntar pinjem duitnya ya, dua puluh... Duit di dompet buat jaga-jaga naik ojek..." Kata Rara sambil jalan menjajari Ratna.
Mereka sampai di kantin dan memesan makanan. Saat mulai makan, terasa ponsel Rara kembali bergetar. Rara meraih ponselnya dan melihat, ada notif baru. Pesan dari nomor yang sama.
Ini nomor siapa sih...
Sementara tangannya sudah terlanjur membuka pesan itu.
+628xxxxxxx123 :
[Yah... kok cuma di read doang? ]
Rara hampir tersenyum geli membaca pesan itu. Terbayang olehnya, ekspresi orang yang sedang nunggu jawaban, tapi yang dilihat hanya dua centang biru. Enggak ada pesan sama sekali... Pasti senewen deh rasanya... π
Tapi kalau mo bales itu Rara juga masih mikir...
Emang kamu siapa? Kenapa aku harus bales pesan kamu?
Untung saja, enggak lama kemudian muncul pesan baru.
+628xxxxxxx123 :
[Eh maaf, aku lupa kasih tahu. Aku Irwan, kita ketemu hari rabu kemarin, masih ingat? ]
Hoalah... rupanya Irwan toh... ada apa dia ngajak ketemuan?
Rara :
[Oh, iya...
__ADS_1
Sejenak Rara bingung mau nyebut mas atau pak ya? Nyebut mas itu kesannya kok sok akrab.. Nyebut pak kayak formil banget ya...? π€
Iya, Pak Irwan... ada apa ya?]
+628xxxxxxx123 :
[Gini Ra, Kalau kamu enggak sibuk, bisa kita ketemu? ]
Rara berpikir sebentar. Ada apa ini? Kenapa Irwan ingin bertemu dengannya? Ngomong-ngomong dia dapat nomor Rara dari mana?
"Siapa Ra?" Ratna kembali bertanya, saat dilihatnya Rara tengah berpikir untuk membalas pesan di ponselnya.
"Eum... ini pak Irwan..."
"Pak Irwan, siapa?" Ratna menghentikan makannya dan menatap Rara penuh selidik.
"Pak Irwan temannya tuan Danu." Jawab Rara sambil mengetikkan jawaban pesan nya.
Rara :
[Boleh, pak... kapan?]
"Temennya Danu kok nge WA kamu?" Ratna masih belum paham.
"Lah... aku juga enggak tahu kenapa... makanya aku bales ini."
"Kamu mau ketemuan dengan dia?"
"Lah, dia yang ngajak ketemuan... Mau nolak enggak enak, sungkan sama tuan Danu, aku nya..." Jawab Rara.
+628xxxxxxx123 :
[Kalau nanti setelah kuliah Rara selesai, bisa? ]
Widih... Kok dia tahu kalau Rara lagi kuliah?
Rara :
[Boleh, pak... Ketemuan dimana?]
+628xxxxxxx123 :
[Aku jemput kamu di pelataran parkir kampus kamu ya? ]
WADUH...
...πΉπBersambungππΉ...
All reader ku yang baik... Tolong beri like, komen, rate dan favorit nya.
...please.. π...
Kasih Gift juga boleh kalau berkenan... π€π
Love and thank you pake banget buat kalian... EMMUACHH π₯°
...βββ...
__ADS_1