Cuma Seorang Pelayan 2

Cuma Seorang Pelayan 2
Gelas plastik


__ADS_3

Belum selesai Rara menyisir gula merah. Sebuah suara lain telah memanggilnya.


"Ra...!"


"Ya... " Sahut Rara sambil menoleh mencari orang yang memanggil.


Terlihat, di ambang pintu seorang gadis melambaikan tangannya menyuruh Rara mendekat. Dia itu Nia, orang yang tugasnya wara-wiri membeli atau mengantarkan sesuatu.


"Ada apa?" Tanya Rara sambil bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat.


"Ini... aku disuruh beli gelas plastik buat wadah bubur kacang hijau, yang buat ke posyandu..." Nia seperti memberitahu, seakan-akan Rara lupa atau tidak tahu, untuk apa mereka membuat bubur kacang hijau sebanyak itu.


Rara mengangguk menyatakan kalau dia sudah tahu soal itu.


"Nah, masalahnya.. aku disuruh ngirim makanan ke sawah untuk orang-orang yang nebang hari ini." Lanjut Nia.


Nebang yang dimaksud Nia itu istilah untuk panen tebu.


"Jadi?" Tanya Rara, walaupun dia sudah bisa menebak apa maksud Nia.


"Ya... kamu tolong belikan ya, gelas plastik itu... Tokonya buka jam tujuh. Sedang jam tujuh kemungkinan besar aku belum balik. Tempat nebang nya agak jauh soalnya..." Terang Nia.


Nah, kan benar...


"Kamu pergi sama siapa?" Tanya Rara. Dia tahu, mengantar makanan untuk orang nebang enggak bisa diantar hanya oleh seorang perempuan. Selain bawaannya banyak, medan yang ditempuh juga sulit.


"Sama Tono..." Jawab Nia. Tono juga seseorang yang tugasnya wara-wiri.


"Sunik kemana?"


"Aduh, Sunik lagi PMS. Dia dari tadi nungging tuh di kamar..." Jawaban Nia kali ini sedikit sewot.


Rara terkekeh mendengarnya.


Masalah PMS ini memang kadang bikin senewen. Orang yang enggak pernah mengalami PMS kadang menganggap kalau orang yang sedang PMS itu lebay. Terlalu mendramatisir sakitnya. Dia enggak tahu aja, orang PMS itu suka menderita lahir batin.


Perubahan hormon yang terjadi dalam tubuhnya mengakibatkan seorang wanita mudah emosi. Kadang si penderita masih bisa mengontrolnya, tapi jika ada sesuatu yang memicu... emosinya bisa meledak begitu saja. Dan setelahnya, akan ada perang (dingin) dengan orang disekitarnya yang kena imbas. Belum lagi gejala physic yang membuatnya jungkir balik merasakannya.


Rara juga paham, kenapa Nia minta tolong padanya. Soalnya dia satu-satunya orang yang bisa bolak balik, keluar masuk area rumah dan perkebunan ini, selain team wara-wiri tentu saja, tanpa banyak pertanyaan dari para satpam dan... bu Surti!


Selain itu, dia enggak punya pekerjaan khusus yang harus dia selesaikan di rumah ini setiap harinya. Jadi dia cuma membantu sesampatnya, karena statusnya di rumah ini cuma ngenger. Dan dia ngenger di rumah itu karena neneknya memang tinggal di situ.


Ngenger itu, istilah untuk orang yang belajar dan "numpang" hidup pada orang lain, serta melakukan beberapa pekerjaan sebagai bentuk balas budinya.


Rara tidak diberikan tugas khusus, oleh nyonya. Tapi sebagai orang yang tahu diri dan sadar status, Rara kan enggak bisa leluasa begitu saja kabur dari pekerjaan rumah. Apalagi orang tuanya sudah menanamkan dengan begitu dalam, arti kata " balas budi".


Jangan sampai jadi seperti kacang lupa akan kulitnya.

__ADS_1


Begitu pepatah yang terus di dengung-dengungkan orang tuanya.


Mengenai masalah membantu Nia ini.


"Ya, sudah... nanti aku yang beli. Di toko biasanya kan?" Ucap Rara kemudian.


"He eh. Uangnya minta mbak Ute."


"Iya, beres lah...."


"Ya udah, aku mau siap-siap... "


"Hem..."


Nia pergi.


Rara mau kembali menyisir gula, ternyata pekerjaan itu sudah selesai. Akhirnya dia cuma duduk sambil menunggu tempe goreng matang.


Setelah matang, dia nyomot satu lalu pergi untuk menemui mbak Ute, orang yang bertugas mengatur pengeluaran rumah tangga.


Saat menuju ruangan mbak Ute, tanpa sengaja Rara berpapasan dengan Danu yang sepertinya mau olahraga pagi.


"Pagi tuan... " Sapa Rara.


"Hai, Ra." Sahut Danu. "Mau kemana?" Tanya Danu iseng.


"Mau ke mbak Ute." Jawab Rara.


"Mau beli gelas plastik buat wadah bubur kacang hijau-nya anak-anak posyandu."


"Ooh... Eh?! Posyandu? Biasanya kan hari....?" Danu terlihat seperti berpikir atau mengingat-ingat sesuatu.


"Ya, Tuan... posyandu diadakan setiap hari rabu pertama diawal bulan..." Sambung Rara seakan mengingatkan


"Hari ini tanggal berapa?" Tanya Danu seketika dengan ekspresi kaget.


"Tanggal empat...." Jawab Rara sambil kembali mengingat karena takut salah.


Mendengar jawaban Rara, seketika Danu meraih HP nya dan membuka menu kalender di sana.


"Mati aku...!" Ucap Danu sambil menepuk keningnya, setelah melihat kalender itu.


"Ada apa, tuan?" Tanya Rara khawatir.


"Tugasku... salah tanggal... " Jawab Danu sambil kembali menuju kamarnya. Kening Rara mengerut enggak terlalu paham dengan maksud Danu. Tapi untuk bertanya juga takut malah menghambat, jadinya dia cuma angkat bahu lalu kembali pada niat awalnya. Menemui mbak Ute. Ya uang dulu, masalah lain diurus belakangan... 😅


Tak lama kemudian, Rara sudah keluar dari ruangan mbak Ute dengan uang ditangan. Rara berniat membeli gelas plastik, sekalian memfoto copy materi tugas kuliahnya.

__ADS_1


Dengan sepeda motor yang ada di parkiran, motor inventori untuk para pegawai, Rara pergi untuk membeli gelas plastik.


Menurutnya, karena proses memfoto copy itu perlu waktu, jadi Rara pergi untuk foto copy dulu. Maksudnya, hasil foto copy itu hasilnya akan dia ambil setelah belanja. Siapa yang menduga, kalau ternyata kemudian dia lupa. Setelah membeli gelas, Rara langsung memacu motornya pulang.


Rara baru ingat soal foto copyan nya saat sudah dekat dengan rumah.


"Aduh, kok malah lupa, sih..." Gerutunya kesal sendiri. Seketika muncul pikiran untuk langsung ke tempat foto copy untuk mengambil pesanannya. Tapi saat melihat kantung plastik yang tergantung di stang motornya. Dia memutuskan untuk mengantarkan dulu gelas-gelas itu, baru balik lagi untuk mengambil fotocopy an nya.


Pas di pintu tempat parkir, Rara bertemu dengan Narsih. Rara langsung memanggilnya.


"Narsih...!"


Narsih menoleh.


"Ada apa, Ra?"


"Minta tolong Sih, Tolong berikan ini, pada para pegawai dapur." Kata Rara.


Narsih mengangguk dan mendekat untuk mengambil bungkusan plastik yang disodorkan Rara.


"Kamu mau kemana, lagi?" Tanya Narsih, waktu melihat Rara kembali memutar motornya tanpa turun dan bersiap untuk pergi lagi.


"Mau ambil fotokopian..." Kata Rara.


"Eng, Ra... kamu dicariin bu Surti..." Kata Narsih membuat Rara menunda, men-stater motornya.


"Ada apa?" Tanya Rara.


"Enggak tahu, pasti..." Sahut Narsih.


Rara berpikir... ambil fotokopian dulu atau menemui Bu Surti dulu?


Kalau ngambil fotokopian, cuma werrr, ambil selesai. Kalau ke Bu Surti dulu... iya kalau urusannya cepat, kalau mbulet? Bisa lama nanti...


Mbulet itu istilah untuk menggambarkan suatu urusan yang tidak jelas ujung pangkalnya.


"Narsih, kalau Bu Surti tanya lagi, bilangin, aku ambil fotokopian dulu ya. Kalau nanti, keburu kesiangan aku kuliah nya... " Akhirnya Rara memutuskan. Narsih mengangguk.


...🍓bersambung🌶...


...Give...


...me...


...your...


...LIKE...

__ADS_1


...please.. 🙏...



__ADS_2