
Rara kehilangan semangat. Dia diam saja. Berusaha menahan malu dan nelangsa, karena sempat berharap terlalu tinggi.
Palingan dia tadi salah dengar atau salah paham...
Maksud tuan Danu tadi pastinya, apa kurangnya Nilam kalau dibandingkan dengan aku?... Jelas enggak ada kurangnya lah. Yang ada aku yang njomplang kalau dibandingkan dengan dia...
Sudah cantik... pintar... baik... dan yang pasti, dia bukan keturunan pelayan seperti aku...
Rara akhirnya hanyut dengan pemikirannya sendiri, sampai-sampai dia tidak sadar kalau mobil sudah berbelok masuk ke suatu pelataran parkir.
Danu menghentikan mobil di depan sebuah bangunan bergaya bali. Lengkap dengan umbul-umbul bermotif kotak-kotak hitam putih di dekat pintu masuknya.
Danu tahu, kain bermotif seperti papan catur itu disebut kain poleng. Kalau kamu pergi ke Bali, pasti akan menemukan kain ini... di jalan-jalan, pohon besar, patung, gapura hingga tempat ibadah umat yang beragama Hindu itu.
Selain karena nilai estetik nya, kain poleng juga memiliki arti penting dan sakral dalam kehidupan masyarakat di Bali. Seperti yin dan yang pada budaya Tionghoa. Yaitu representasi dua sifat yang berbeda atau bertolak belakang, yang digambarkan lewat warna hitam dan putih.
"Ayo, Ra..." Ajak Danu.
Rara sedikit terkejut mendengar ajakan Danu.
Eh, sudah sampai...
Rara tidak menjawab, tapi tangannya bergerak membuka pintu, sementara matanya beredar memperhatikan keadaan sekelilingnya.
Danu berjalan masuk ke restoran. Rara segera mengikutinya, sementara matanya tetap beredar memperhatikan.
Pasti restoran mahal ini...
Pikirnya.
Lihat saja, baru mencapai pintu saja, seorang greater menyambut mereka. Restoran biasa enggak bakalan pakai greater-greateran segala. Datang, cari bangku sendiri (kalau enggak kebagian gabung dengan orang bangkunya),
"Selamat datang, mas... mbak... sudah reservasi?" Tanya greater itu.
Mungkin karena melihat pakaian yang saat ini mereka kenakan, hingga terlihat kalau mereka memang sengaja datang untuk kencan.
"Belum mbak..." Sahut Danu.
"Meja untuk dua orang...? Mari..." Kata greater itu, kemudian dia memandu keduanya ke meja yang dirasa cocok untuk mereka.
Danu dan Rara hanya membuntuti saja. Ternyata, greater membawa mereka ke meja yang sedikit mojok di restoran itu.
"Apakah meja ini cukup sesuai, mas... mbak?" Tanyanya.
"Iya, meja ini cukup..." Jawab Danu, lalu dia mendahului duduk. Rara pun ikutan duduk di depan Danu.
Duh... rasanya kok seperti sedang kencan ya...
Pikir Rara.
"Ini buku menunya, mas... mbak... Apakah ada yang bisa segera saya hidangkan? Atau mas dan mbak perlu waktu untuk memilih menu?"
__ADS_1
"Kami pilih-pilih dulu, ya..." Ucap Danu.
"Silahkan mas dan mbak memilih menunya, jika sudah siap memesan, mas dan mbak bisa panggil kami dengan menekan bell di sebelah sana..." Kata greater itu sambil menunjuk letak bell nya.
"Baik, Terima kasih..." Kata Danu lagi. "Oh iya... maaf mbak, mau tanya... apa pak Irwan ada di tempat sekarang?" Tanya Danu segera sebelum sang greater pergi.
"Pak Irwan...? Maksud mas, pak Irwan pemilik restoran ini?" Tanya greater itu meyakinkan dengan nada super hati-hati. Iyalah... Hari gini suka ada saja orang yang SKSD untuk mengambil keuntungan pribadi.
"Iya. Kalau memang ada, tolong sampaikan, saya Danu minta bertemu..." Ucap Danu lengkap dengan nada yang sopan serta senyum malaikat nya. Rara yang cuma kecipratan senyum saja jadi ringan rasanya... apalagi si greater. Terlihat pipinya seketika merona mendapat senyum seperti itu.
"Akan saya cek dulu ya, mas..." Katanya sambil tersipu.
Kalau tadi melihat senyum Danu Rara ikutan merasa ringan... tapi setelah melihat sang greater yang jadi tersipu dibuatnya, Rara balik merasa sebal.
Kenapa dia jadi cengengesan enggak jelas gitu...
"Kamu mau makan apa, Ra?" Tanya Danu beralih memperhatikan buku menu.
Rara jadi ikutan membuka buku menunya. Satu detik... dua detik... dari sudut matanya Rara masih melihat sang greater berdiri di tempatnya semula.
"Ehem...!"
Dehem Rara agak keras sambil mengangkat wajahnya dan menghadap pada sang greater.
Seketika sang greater tersadar.
"Maaf... silahkan anda memilih... permisi..." Katanya sedikit tergagap.
"Kenapa Ra?" Tanya Danu berlagak enggak tahu.
"Enggak kenapa-napa..." Sahut Rara cepat, lalu kembali membaca buku menu.
Rara membaca daftar menu ditangannya. Bisa ditebak... tempatnya bagus seperti ini, makanannya juga pasti mahal.... (untuk Rara).
Lihat saja, menunya aja lengkap begini... ada beberapa macam steak yang mewakili menu western... ada juga bebek peking, tomyam dan beberapa jenis dimsum untuk mewakili menu eastern. Sementara untuk menu khusus Indonesian... Hei, ada lalapan...!
Emmm yummy...
Sebenarnya kalau mengingat saat ini mereka sedang memakai kostum pesta seperti itu, kurang cocok kalau memilih menu lalapan. Kalau nasi goreng atau steak, baru cocok.
Pakai baju elegan, makannya juga harusnya dengan cara elegan.. pakai sendok, garpu dan pisau... Lah kalau pilih lalapan, makannya musti pakai tangan langsung. Dan kalau makan pakai tangan itu biasanya... ENGGAK ADA yang Elegan.Tapi.. Mana ada orang makan lalapan pakai sendok... pasti bakalan enggak asik banget kan? π
Heleh... siapa perduli dengan kostum? Yang penting mereka bisa makan enak dan nikmat. Bener, kan?
"Emm gurame ini kelihatannya enak, tuan..." Kata Rara yang memperhatikan gambar di buku menu.
"Em, iya... kita pilih itu saja ya." Kata Danu yang sepertinya tergoda juga dengan menu itu.
Baru saja dia akan membunyikan bell, seorang pelayan sudah lebih dulu datang untuk mengantarkan welcome drink bagi mereka.
Danu sekalian mengatakan pesanan nya pada pelayan itu.
__ADS_1
"Saya pesan gurame bakar, mbak." Katanya. "Kamu pesan apa lagi Ra?" Tanya Danu pada Rara.
"Eng... ini... es gold ini apa mbak?" Tanya Rara, saat melihat macam-macam menu desert.
"Oh, itu semacam es buah, dengan rasa jeruk yang kental mbak... Isinya ada kelapa muda... nanas... jeruk, jelly... selasih, dan beberapa buah lainnya. Karena warnanya kuning, makanya di namakan es gold." Terang pelayan itu.
"Ya sudah aku pesan itu saja. Penasaran ingin coba..." Kata Rara kemudian.
"Masnya mau pesan apa?" Tanya pelayan pada Danu.
"Disamakan saja, mbak..." Jawabnya.
"Oh, baik, jadi pesanan nya..."
Pelayan itu membacakan ulang pesanan Danu dan Rara, mulai dari makanan pembuka hingga penutup. Setelah disetujui oleh Danu dan Rara, diapun pergi untuk menyiapkan pesanan mereka.
Sementara menunggu, Rara kembali mengedarkan pandangannya ke seputaran area restoran itu.
Bagus dan apik.
Itu kata-kata yang bisa dia berikan untuk penilaian dekorasi restoran ini.
Bangunannya semi terbuka, karena hanya bagian depan yang dibentengi dengan tembok, bagian samping dan belakang merupakan perpaduan kaca dan kayu yang bisa dibuka lebar.
Di dalam ruangan utama, tertata meja dan kursi yang bisa disesuaikan dengan jumlah tamunya. Di dalam ruangan itu juga, terdapat beberapa tanaman dalam pot besar di beberapa sudut, dengan pencahayaan yang cukup terang, tapi tidak menyilaukan, hingga terkesan teduh dan segar.
Dari dinding kaca serta bukaan pintu kayu yang lebar bisa dilihat, di bagian belakang, terdapat beberapa gazebo yang hampir mengitari sebuah patio.
Patio yang ada di restoran ini, sangat tertata apik, lengkap dengan taman dan kolam yang dihiasi lampu warna warni. Warna-warna itu berpedar menambah indah suasana malam.
Baru saja khayalan nya terbentuk, membayangkan kalau dia sedang kencan dengan Danu... Tiba-tiba terdengar suara sapaan...
"Hei, kenapa kalian malah ada di sini?"
Rara dan Danu segera menoleh kearah asal suara. Melihat seorang laki-laki datang, Danu dengan segera bangkit dan mengulurkan tangan menyambutnya. Mereka bahkan berpelukan singkat dengan akrabnya.
"Ayo silahkan... " Ucap laki-laki itu sambil ikutan duduk di sana dengan menarik kursi di dekatnya.
Rara menepi sedikit. Khayalan nya langsung terhenti.
...πΉπBersambungππΉ...
All reader ku yang baik... Tolong beri like, komen, rate dan favorit nya.
...please.. π...
Kasih Gift juga boleh kalau berkenan... π€π
Love and thank you pake banget buat kalian... EMMUACHH π₯°
...βββ...
__ADS_1