Cuma Seorang Pelayan 2

Cuma Seorang Pelayan 2
Ngomong apa, sih?


__ADS_3

Beberapa detik... beberapa menit... keduanya tetap diam. keduanya tidak tahu, bagaimana cara memulai pembicaraan. Tapi ternyata, diam-diaman terlalu lama juga enggak enak. Kayak orang lagi musuhan saja.


"Ehem... "


Akhirnya terdengar suara Danu berdeham, melonggarkan tenggorokannya untuk memulai.


"Ra... Kamu.... baik-baik saja?" Tanya Danu ragu.


Pertanyaan macam apa itu? Udah jelas Rara tidak baik-baik saja...


Danu mencela diri sendiri karena sudah melemparkan pertanyaan yang konyol menurutnya.


"Hem... " Gumam Rara.


Hem itu artinya baik kah?


Danu kembali bertanya-tanya dalam hati. Di liriknya Rara. Wajahnya tidak lagi menunduk, tapi masih berpaling kearah jendela.


Rara terdiam...


Duh... tuan Danu marah enggak ya...? Dia kira-kira percaya enggak ya, dengan omongannya Si Marina itu...


Rara malah sibuk dengan pikirannya sendiri.


Mendapat respon cuma "Hem" aja, membuat Danu juga jadi terdiam.


"Kita makan dulu yuk, sebelum pulang." Kata Danu akhirnya mengganti topik pembicaraan.


"Makan tuan?" Ulang Rara meyakinkan.


"Iya, makan. Perutku lapar... ceritanya saja pergi kondangan... Mau makan-makan enak... Tapi nyatanya enggak sempat makan apa-apa..." Kata Danu sambil tertawa kecil.


Rara meringis. Dia tahu, Danu memang belum sempat makan di pesta tadi. Bayangkan saja, sesaat sebelum perang mulut tadi terjadi, mereka melihat Danu dan teman-temannya sedang menyalami kedua mempelai, lalu beberapa saat setelah perang meletus, Danu muncul. Tak lama setelah Rara pergi dari pesta itu juga, Danu langsung menyusulnya. Bisa dipastikan... dia memang belum makan.


"Maaf... " Kata Rara lirih karena merasa bersalah.


"Maaf untuk apa?" Danu balik bertanya sambil menoleh sekilas kearah Rara.


"Maaf... karena keributan tadi, tuan enggak sempat makan-makan... maaf juga, karena saya sudah merepotkan tuan, dengan mengizinkan saya ikut pulang bersama tuan... maaf juga, kalau ada kata-kata dari Marina dan saya tadi, yang bisa membuat tuan tidak nyaman..." Ucap Rara akhirnya bisa bicara panjang lebar juga.


"Kata-kata mana yang bisa membuatku tidak nyaman, maksudmu?" Tanya Danu lagi. Tapi kali ini dia tidak menoleh. Dia tetap menatap ke depan.


"Kata-kata...."


Rara tidak melanjutkan ucapannya. Haruskah dia mengulang ucapan Marina tadi? Itu mah sama saja dengan memproklamirkan ulang perasaan dia, kan.


"Maksud kamu ucapan dia yang bilang kalau kamu suka aku?" Tanya Danu membuat Rara tersentak. Menoleh kearah Danu sedetik dan seketika menunduk, saat dilihatnya Danu malah sedang menoleh juga padanya.

__ADS_1


Sudah aku duga, tuan Danu pasti mendengar ucapan itu... nah, kan... dia sekarang malah jadi kepikiran...


Kata Rara dalam hati.


"Tenang saja... aku udah tahu kok..." Ucap Danu kemudian dengan entengnya, sambil kembali menatap ke depan.


"A.. apa yang tuan tahu?" Tanya Rara. Tanpa sadar dia kembali mengangkat wajahnya menatap Danu.


"Kalau kamu suka sama aku..." Jawab Danu dengan yakinnya.


"Tuan sok yakin ya... " Rara mencoba mengelak dengan gaya bercanda.


"Bisa jadi... tapi memang sudah lama aku tahu kalau kamu memang suka sama aku." Danu menegaskan.


"Dari mana tuan bisa yakin kalau saya suka dengan tuan?"


"Pandangan orang yang suka dan memuja sama seseorang itu berbeda, Rara. Aku bisa merasakannya... dan aku enggak salah, kan?" Danu kembali menatap Rara.


Rara melengos enggak tahu harus ngomong apa.


"Maaf..." Akhirnya hanya satu kata itu yang keluar dari mulutnya.


"Maaf untuk apa lagi?" Danu kembali bertanya. Kali ini dengan disertai senyuman yang terlihat jahil.


"Maaf... kalau saya sudah lancang... maaf, saya... saya..." Sungguh, Rara bingung mau bagaimana. Alih-alih ingin belagak acuh, yang ada dia malah merasa enggak karuan.


"Aku bilang... tenang saja..." Kata Danu.


Danu menoleh sepintas cuma untuk melihat reaksi Rara. Rara melongo menatap Danu. Danu tersenyum miring. Rara langsung kembali menunduk dengan perasaan campur aduk.


"Tuan... tuan tidak marah?" Tanya Rara takut-takut. Sungguh dia penasaran dengan reaksi Danu, tapi dia juga takut untuk mendengar jawabannya.


Kalau dia marah dan merasa tersinggung gimana? Matilah aku...


Hati Rara mulai kebat-kebit.


"Gini, Ra..." Kata Danu. Tapi dia tidak langsung melanjutkan ucapannya. Dia malah menepikan mobilnya di bahu jalan.


Kening Rara sedikit mengernyit menyadari kalau saat ini mereka berhenti di tepi jalan yang tidak terlalu ramai. Maklumlah, hari memang sudah masuk malam. Tapi perhatian Rara lebih terfokus pada Danu yang kini tengah menatapnya. Tidak... fokus Rara terarah pada ucapannya.


"Ra... jatuh cinta itu hak pribadi setiap orang. Kita tidak bisa memaksa atau melarang orang lain untuk jatuh cinta pada seseorang... Walaupun dilarang, nyatanya cinta itu terus saja tumbuh.


Jangankan orang lain... diri kita sendiri saja tidak bisa mengendalikan kemana arah cinta kita, kan? Apakah kamu memang dari awal berniat untuk jatuh cinta pada ku?"


Rara menggeleng.


Kalau bisa sih, aku enggak mau jatuh cinta sama kamu, tuan...

__ADS_1


Jawab Rara dalam hati.


"Sama... aku juga enggak pernah niat buat jatuh cinta sama kamu..."


DEG


Tuan Danu memang enggak mungkin cinta sama aku...


Baru mendengar ucapan Danu segitu saja sudah membuat Rara nelangsa. Padahal Danu belum lagi selesai bicara.


"Bukan karena kamu jelek atau tidak pantas untuk aku... Hanya saja, Hubungan keluarga kita ini sudah begitu dekat.... Aku takut, jika suatu waktu, ternyata hubungan kita tidak berhasil dan harus putus ditengah jalan... semua itu akan mempengaruhi hubungan kekerabatan keluarga kita..." Lanjut Danu.


Rara menunduk semakin dalam.


"Tapi ya... itu tadi... Rasa suka dan rasa cinta itu memang susah untuk diarahkan... Nyatanya aku malah suka sama kamu... Padahal apa kurangnya Nilam sama kamu...?"


"HEH...???!!!"


Rara seketika mengangkat wajah menatap Danu lekat.


Dia barusan ngomong apa?


"Tuan... bisa tuan ulangi? Barusan tuan mengatakan apa? Saya kok enggak paham, ya." Pinta Rara sambil terus menatap Danu, takut dia memang salah paham dengan kata-kata nya.


"Yang mana? Aku sudah ngomong panjang lebar dari tadi, kamu enggak paham?" Tanya Danu dengan wajah sok tersinggung.


"Tuan..."


Ah, pasti tuan tadi cuma ngeledek aku... Gini ini, nih... kalau rahasia hati diketahui lawan...


Rara kembali menunduk lesu.


Danu tersenyum jahil.


"Ah, sudahlah... Perutku sudah kelaparan rasanya..." Kata Danu kemudian, sambil menghidupkan kembali mesin mobilnya.


Rara sudah kehilangan semangat. Dia diam saja. Berusaha menahan malu dan nelangsa, karena sempat berharap terlalu tinggi.


...🌹🌞Bersambung🌞🌹...


All reader ku yang baik... Tolong beri like, komen, rate dan favorit nya.


...please.. πŸ™...


Kasih Gift juga boleh kalau berkenan... πŸ€­πŸ˜…


Love and thank you pake banget buat kalian... EMMUACHH πŸ₯°

__ADS_1


...☘☘☘...


__ADS_2