
Irwan melangkah masuk ke dalam kamarnya. Dia melepas arloji yang melingkar di pergelangan tangannya dan menaruhnya di meja.
Sepintas dilihatnya, jarum jam itu menunjuk kearah angka sebelas dan delapan. Sudah hampir larut malam. Anak-anak buahnya sebagian besar malah sudah pulang, tapi ada beberapa dari mereka memang pulang lebih akhir karena kebagian piket untuk closing restorant.
Irwan juga mengosongkan saku celananya sebelum melepasnya untuk dia taruh di keranjang baju-baju kotornya. Ada beberapa koin, kunci serta ponsel di sana.
Sejenak dia menyempatkan diri untuk memeriksa ponsel itu. Ada beberapa pesan di WA dan dua miscall. Pesan yang dia lihat, dia klasifikasikan sebagai pesan biasa yang tidak harus segera di respon, tapi miscall-nya...
Nama penelpon yang tertera langsung menarik seluruh atensinya. "DIA" itu nama yang tercantum di panggilan itu. Irwan urung menaruh ponsel itu ke meja. Dia malah membawanya untuk duduk di tepi kasur dan melakukan panggilan balasan.
Beberapa detik terdengar nada sambung di ponsel itu, tanpa sadar Irwan menggetak-getakkan kakinya sambil menunggu panggilannya terjawab, hingga...
"Hallo..." Terdengar sahutan dari seberang. Suara seorang wanita.
"Eh, Hai... Belum tidur kan?" Tanya Irwan langsung.
"Sudah bersiap untuk tidur sampai kamu telpon..."
"Oh... maaf..." Ucap Irwan canggung. Ya, dia tahu... sebenarnya sudah terlalu malam waktunya untuk melakukan panggilan seperti ini, apalagi saat dia tahu kalau "DIA" yang ditelponnya sekarang, melakukan panggilan padanya tadi, sekitar jam delapanan, sudah sedikit terlambat bukan untuk melakukan Callback. Tapi Irwan tak kuasa untuk menunggu waktu yang "wajar" untuk menelpon balik, karena itu artinya dia harus menunggu hingga esok.
Terdengar nada tawa kering dari lawan bicaranya.
"It's okey... gimana?" Tanya orang yang disebrang.
"Gimanaaa..." Irwan ragu untuk menjawab. Sepertinya wanita yang disebrang paham dengan yang dipikirkan Irwan, karenanya dia pun memulai pembicaraan.
"Aku dengar dari Nilam, kamu melakukan lamaran malam ini..."
Irwan menghela nafas panjang.
"Ya." Jawab Irwan akhirnya, cukup pendek.
"Ya... sepertinya itu langkah yang baik untukmu..." Ucap wanita itu.
"I hope..." Sahut Irwan.
Sedetik ... dua detik... keduanya terdiam, seakan bingung atau ragu untuk memberikan komentar.
"Da... aku sudah melangkah, sekarang giliranmu yang melangkah..." Ucap Irwan akhirnya membuka suara kembali.
Terdengar helaan nafas dari seberang.
"I'll try..." Sahut wanita itu kemudian lirih.
"Melangkahlah... aku akan selalu mendampingimu dari kejauhan..." Ucap Irwan. Tak ada jawaban, tapi samar-samar ada isak tertahan terdengar.
"Da..." Panggil Irwan.
"Ya... Ya... Aku tahu.... Selamat malam, Wan. Do'a ku selalu menyertaimu."
"Selamat malam, Da. Ku do'akan yang terbaik juga untuk mu..." Ucap Irwan.
Setelah itu tidak ada yang berbicara. Sepertinya keduanya masih enggan untuk memutus pembicaraan lebih dulu. Tapi akhirnya sambungan itu memang benar-benar terputus. Entah siapa yang memutuskannya, karena dua-duanya memang menekan icon merah bergambar telpon itu akhirnya.
Beberapa saat Irwan masih termangu menimang-nimang ponsel ditangannya, sebelum bergerak untuk menaruhnya di meja.
Irwan bersiap untuk bersih-bersih dan berganti pakaian, sebelum dia mengakhiri aktifitasnya malam ini dengan tidur.
Terdengar suara derit pintu gerbang yang di tarik, tanda oprasional restaurant sudah benar-benar selesai. Kini hanya tinggal satpam saja yang menemaninya di rumah ini.
Irwan berbaring di kasurnya. Badannya terasa lelah, tapi kantuknya belum datang, membuatnya hanya bisa diam, merenung, memikirkan sesuatu yang seharusnya sudah tidak perlu dipikirkan, karena keputusan sudah diambil.
Konsekwensi dan komitmen...
Ya... dia harus konsekwen dengan komitman yang sudah mereka ambil.
Bukankah itu yang membuatnya kuat untuk terus melangkah...
Semoga demikian juga hal nya dengan dia...
(Jodoh Pasti Bertemu by Afgan)
🎶🎶
...*Andai engkau tahu*...
...*Betapa ku mencinta*...
...*Selalu menjadikanmu*...
...*Isi dalam doaku*...
...*Ku tahu, tak mudah*...
...*Menjadi yang kau minta*...
...*Kupasrahkan hatiku*...
...*Takdir 'kan menjawabnya*...
...*Jika aku bukan jalanmu*...
...*Ku berhenti mengharapkanmu*...
...*Jika aku memang tercipta untukmu*...
...*Ku 'kan memilikimu*...
...*Jodoh pasti bertemu*...
__ADS_1
...*Andai engkau tahu*...
...*Betapa ku mencinta*...
...*Kupasrahkan hatiku*...
...*Takdir 'kan menjawabnya*...
...*Jika aku bukan jalanmu*...
...*Ku berhenti mengharapkanmu*...
...*Jika aku memang tercipta untukmu*...
...*Ku 'kan memilikimu*...
...*Jodoh pasti bertemu*...
...*Ho-oh-oh*...
...*Jika aku (jika aku) bukan jalanmu*...
...*Ku berhenti mengharapkanmu*...
...*Jika aku memang tercipta untukmu*...
...*Ku 'kan memilikimu*...
...*Oh-uh-uh*...
...*Ku berhenti mengharapkanmu*...
...*Jika aku memang tercipta untukmu*...
...*Ku 'kan memilikimu*...
...*Jodoh pasti bertemu*...
^^^🎶🎶^^^
Lagu Afgan itu sudah berulang-ulang diputar Rara. Untung saja Rara mendengarkannya melalui earphone, hingga tidak mendapat protes dari Irma, orang yang ada satu ruangan dengannya.
Sebenarnya bukan karena takut diprotes oleh Irma, Karena nyatanya Irma sudah tertidur beberapa menit lalu. Sepertinya dia kecapekan, karena sejak pulang sekolah tadi ibu tak henti memerintah nya melakukan ini itu...
Rara menikmati lagu itu lewat earphone pada awalnya karena hanya ingin privasi, memikirkan tindakan yang sudah dia lakukan. Menerima tawaran Irwan untuk berkomitmen dalam ikatan pertunangan.
Serasa, dirinya adalah tokoh dalam lagu itu...
🎶
*Jika aku bukan jalanmu*
*Kuberhenti mengharapkanmu*
*Jika aku memang tercipta untukmu*...
*Ku kan memilikimu*...
*Jodoh pasti bertemu*...
Tanpa terasa, air mata menetes membasahi pipinya. Sungguh, Rara sudah bertekad untuk mulai belajar mencintai Irwan dan melupakan impiannya pada Danu. Tapi kenapa baru mengingat niatnya itu saja hatinya sudah terasa nyeri.
Ada rasa enggak rela untuk melepas impian yang sudah membuatnya nyaman selama ini. Rasanya seperti sudah patah hati beneran. Nelangsa.
Semakin dipikir, rasanya semakin nyeri... ada rasa putus asa bercampur dengan kekesalan. Ternyata, sakit sekali rasanya, merelakan impian yang sudah membuainya selama ini.
Melupakan Danu nyatanya tidak semudah mengucapkannya. Tapi balik lagi ke rencana awal. Ini bukan tindakan yang bisa membuatnya bahagia sekarang... Tapi dia berharap, itu bisa membuatnya bahagia di masa depan. Jika bukan dirinya yang bahagia, minimal orang tuanyanya harus bahagia...
"Ra... "
Terdengar sebuah suara memanggil namanya. Rara mendongak. Dilihatnya ibu berdiri di pintu. Seketika secara refleks, Rara mengusap air mata di pipinya. Ibu melihat itu, karenanya ibu juga bergegas menghampiri Rara.
"Ra... ada apa?" Tanyanya pelan penuh khawatir.
Ya, ibu mana yang tidak akan khawatir, jika melihat anaknya tahu-tahu menangis begitu saja tanpa tahu apa penyebabnya.
"Enggak apa-apa, bu." Sahut Rara berusaha menutupi kedukaannya. Ragu segera mengatur ekspresi wajahnya se normal mungkin.
__ADS_1
"Rara cuma hanyut dengan lagu yang Rara dengerin... " Lanjut Rara sambil mengembangkan senyum.
"Beneran cuma karena itu?" Tegas ibu.
Rara mengangguk. Tapi ibu masih terus menatap Rara seakan mengatakan ingin menegaskan sekali lagi, "benarkah hanya karena itu? "
"Tapi bu... " Ucap Rara akhirnya. "Sebenarnya Rara ragu. Ibu tahu kan... Rara mengenal mas Irwan itu belum lama. Apakah Rara memang benar berjodoh dengannya? Apa Rara nanti enggak menyesal karena sudah menerima lamaran ini begitu cepat?" Ungkap Rara.
"Ya... kalau seperti itu, kamu tinggal berdo'a pada Gusti Alloh. Semoga Irwan itu memang benar jodoh mu. Bersamaan dengan itu, kalian harus bekerja sama, berusaha mengatasi semua masalah yang muncul, agar kalian tidak akan menyesal...
Kalau masalah kenal baru sebentar sih, ibu sendiri kenal bapakmu setelah ibu menjadi istrinya... " Ungkap ibu.
"Benarkah?" Tanya Rara tidak percaya.
"Ya... setidaknya, hampir seperti itulah ..." Ibu membelai pundak Rara, sementara pandangannya seakan menerawang ke masa silam.
"Ibu dulu, pertama kenal bapakmu, waktu bapak datang ke rumah... waktu itu, ceritanya, sama bapak e ibu... embahmu. Ibu mau dititipkan untuk bekerja di rumah keluarga Nyonya Supami.
Ibu ya senang-senang saja, wong mau kerja... biar punya uang sendiri... waktu itu rasanya sudah bagus sekali. Anak perempuan bisa keluar dari rumah untuk bekerja.
Zaman dulu, anak perempuan enggak bisa bebas keluar dari rumah kalau enggak sama orang tua atau suaminya. Sama teman perempuan saja sangat terbatas.
Makanya, waktu ditanya, kamu mau ikut dia, maksudnya bapakmu, untuk membantunya bekerja di rumah juragannya? Ibu langsung iya-iya saja...
Enggak tahunya, sebelum pergi itu. Ternyata bapak e ibu sudah bikin akad dulu dengan bapak mu... he he he " Cerita ibu panjang lebar di susul tawanya.
"Terus...? Ibu mau gitu saja?" Tanya Rara. Kini perhatiannya sudah teralih sepenuhnya pada cerita ibu.
"Ya... mau bagaimana lagi? Wong sudah akad. Ya, mau enggak mau... ibu ikut bapakmu... " Jelas ibu.
"Lalu... apakah ibu merasa terpaksa?"
"Awalnya iya... Ada kesel, marah, pokoknya sebel banget deh lihat bapakmu itu... Tapi lambat laun, ibu mulai mikir... Mau sampai kapan ibu kesal sama dia... Lama-lama kok jadi capek sendiri. Yang ibu keselin kelihatannya kok dingin-dingin aja."
"Iya? Bapak enggak marah sama ibu di cuekin?" Kejar Rara antusias.
"Enggak. Bapakmu itu sabar. Ya, memang dia enggak ngebujuk-bujuk ibu. Apalagi ngerayu. Enggak blas. Tapi dia perhatian. Kalau dia lihat ibu kecapekan... tahu-tahu dia datang, bawain ibu air degan atau dawet atau apa gitu.."
Rara termenung. Mungkinkah hubungannya dengan Irwan nanti akan seperti itu?
"Tidak semua pernikahan yang sukses itu berawal dari saling mencintai, Ra. Contohnya orang tuamu ini...
Jangan ditanya bagaimana kalau ibu dikasih kesempatan untuk memilih ulang, apakah ibu akan tetap memilih bapakmu untuk menjadi pendamping ibu. Karena ibu enggak tahu jawabannya.
Yang pasti sekarang... Sudah terbukti nyata, bapakmu yang sudah mendampingi ibu sekian tahun... sudah memberikan ibu kebahagiaan-kebahagian yang walaupun enggak berlimpah karena keadaan kami memang begini... tapi setidaknya bapakmu selalu berusaha agar ibu tidak menderita sedikitpun... "
Terlihat pandangan ibu berkaca-kaca saat bercerita. Seketika Rara tahu, bagaimanapun jiwa bapak dan ibunya sudah menyatu.
...🏵bersambung 🏵...
Dear My all reader.
Makasih banyak masih mau membaca tulisan ini. Semoga semuanya sehat terus ya...
Boleh minta like komen n favoritnya dong. Supaya authornya tahu, kalau kalian sudah mampir di sini.
Tengkyu... Tengkyu... Tengkyu...
__ADS_1
...☘☘☘...