Cuma Seorang Pelayan 2

Cuma Seorang Pelayan 2
Bukan update.


__ADS_3

Sebelumnya author minta maaf, karena lama kelewat lama enggak update.


Sekarang juga bukan update sebenarnya. cuma sekilas berita, author lagi kejar target bikin cerpen.


Sambil nunggu update-an. Berikut ini author kasih satu cerpen, semoga suka. Nanti kalau udah mulai lanjut cerita CSP 2, cerpen ini bakal author hapus dari bab ini. 🙏🙏🙏


Judulnya ... apa ya? Terserah deh, kasih judul sendiri aja. 😊🙏



"Gus...!" Terdengar suara Yanto memanggil teman sekaligus sepupunya itu.



Agus yang duduk setengah sembunyi di balik tembok SD yang berdiri tak jauh dari rumahnya jelas mendengarnya. Dia juga tahu, kenapa Yanto memanggilnya. Tanpa terasa air mata menetes membasahi pipinya.



Hari ini, ibunya akan pergi ke PT PJTKI yang akan membawanya ke Hongkong. Menurut cerita ibunya, ibu akan berangkat ke Hongkong besok. Ibu akan memulai kehidupannya menjadi seorang TKW di sana. Mulai besok dia akan tinggal hanya dengan neneknya.



Ingin rasanya Agus melarang ibunya pergi, Agus ingin terus disamping ibunya. Ya, walaupun ibunya terkadang cerewet dan suka marah-marah, tapi Agus sungguh-sungguh sayang padanya.



Tak terasa tangis diam-diam itu berubah menjadi isak. Agus menangis nelangsa karena tak sanggup menahan ibunya agar tetap bersamanya.



Beberapa bulan lalu ibu meminta "izin" padanya untuk pergi kerja ke luar negri. Ibu cerita sekilas tentang biaya hidup yang semakin besar dan juga cita-citanya untuk menyekolahkan Agus hingga ke bangku unversitas. Saat itu Agus masih bisa bercanda.



"Kalau ibu kerja di hongkong, kan gajinya besar ya... Nanti Agus bisa minta sepeda motor ya..." Katanya waktu itu. Ibunya tersenyum.



"Ya, insya Allah, Gus. Semoga nanti dengan gaji ibu, kamu bisa sekolah sampai tinggi... Jadi orang yang hebat. Supaya enggak sia-sia usaha ibu kerja jauh-jauh ninggalin kamu..." Jawab sang ibu.



"He em." Sahut Agus sambil ***ndusel*** kedalam pelukan sang ibu. Ibu juga mengeratkan pelukannya pada anak laki-laki satu-satunya.



Ditatapnya wajah Agus yang sudah mulai mencetak jelas raut wajah almarhum suaminya.



"Mas... ridhoi aku pergi ya, mas. Aku ingin Agus bisa sekolah sampai kuliah... aku ingin dia menjadi ***orang***, enggak seperti kita... orang-orang yang tidak berpendidikan, hingga sulit mencari pekerjaan yang layak..." Bisik hati ibu sambil membelai dahi Agus dengan sayang.

__ADS_1



Agus sangat menikmati belaian ibunya. Walaupun sekarang dia sudah kelas lima, sebentar lagi kelas enam, tapi dia kadang-kadang masih suka tidur bersama ibunya. Ya, sesekali saja. Karena usianya sudah besar, suka diolok teman-temannya kalau ketahuan masih tidur dengan ibunya. Tapi belaian sang ibu selalu membuatnya merasa damai.



Hanya saja, kali ini rasanya lain. Di setiap belaian itu Agus merasakan denyut nyeri, membayangkan kalau sebentar lagi dia tidak akan merasakan belaian itu lagi. Dalam pejamnya, dia benar-benar menanamkan bayangan ketulusan ibu padanya.



Andai saja sekarang dia sudah besar... Dia pasti akan dengan sangat rela, meninggalkan sekolah dan mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka. Tapi apa daya? SD saja dia belum lulus. Mau cari kerja, kerja apa? Mana ada orang yang mau memperkerjakan anak dibawah umur?



"Ibu..." Gumam Agus dengan gemetar menahan tangis yang kian lama seakan mau meledak.



"Gus... Agus...!" Terdengar lagi suara orang yang memanggil namanya. Tapi sekarang bukan suara Yanto. Tapi suara ibunya. Seketika Agus menoleh kearah asal suara.



Dihapusnya air mata dengan lengannya. Seakan belum puas dan takut ketahuan ibunya kalau dia menangis, dia mengusap wajahnya dengan menyingkap baju yang dikenakannya. Setelah merasa cukup menghilangkan bukti, dengan mengendap dia berjalan menjauh. Agus berlari mencari jalan memutar.



"Gus...!" Terdengar lagi suara orang yang memanggilnya. Kini bukan lagi suara Yanto ataupun ibunya. Itu suara neneknya. Beliau memanggil Agus dari halaman rumahnya.




"Kamu dari mana saja, dicariin dari tadi..." Ucap nenek seakan mengomel. Tapi tidak ada kesan marah sedikitpun dari wajahnya.



"Agus lupa nek. Tadi ke rumah teman ..." Ucap Agus beralasan.



Di dalam rumah Agus bisa melihat dua orang teman ibunya yang seyogyanya akan pergi bersama ibunya hari ini.



"Nduk...! Ini Agus sudah pulang!" Seru nenek memanggil anaknya yang masih mencari Agus.



Tak lama kemudian nampak ibunya berjalan mendekat dari arah sekolahan. Agus melihat penampilan ibunya itu sudah siap untuk bepergian.


__ADS_1


"Gus...dari mana saja kamu, sudah tahu ibunya akan berangkat kok malah enggak ada di rumah..." Omel ibu. Agus meringis menatap ibunya. Kedua orang ibu dan anak itu saling tatap. Kedua mata mereka memerah. Dan akhirnya Agus benar-benar enggak sanggup menyembunyikan tangisnya. Dia berlari memeluk ibunya. Tanpa bicara apapun di sembunyikan wajah di dada ibunya.



Ibu Agus berulang kali menghela nafas, berusaha menahan sesak di dada. Jangan ditanya bagaimana deras air mata membasahi pipinya yang semula sudah dia bedaki dengan rapih. Semua yang ada di sana hanya bisa termangu haru. Nenek malah melipir pergi ke belakang berusaha menyembunyikan tangisnya.



Ibu memeluk Agus dengan erat. Berat sekali rasanya untuk melepas pelukan itu. Sebelas tahun sudah mereka hidup bersama. Walaupun Agus kadang nakal, walaupun kadang dia membuat ibunya itu marah, tapi tidak pernah sekalipun ibunya lupa mencium kening anaknya itu saat malam. Apalagi setelah suaminya tiada, sambil menyelimuti anaknya, ibu tak lupa meniup telinga anaknya kanan kiri saat setelah membacakan doa untuknya.



"Agus, sayang... Agus sekarang sudah besar. Ibu minta tolong jaga nenek ya... Ibu minta izin pergi sebentar untuk mencari biaya Agus sekolah...." Ucap ibunya hampir terbata.



"Agus enggak butuh sekolah. Agus mau sama ibu..." Rengek Agus tanpa menarik wajah dari dada ibunya.



"Lah, kalau Agus enggak sekolah, lalu Agus mau jadi apa? Sekarang ini kalau mau jadi orang harus sekolah yang tinggi. Kalau Agus sudah jadi orang, tentu ibu dan nenek akan bangga. Agus mau membuat ibu dan nenek bangga sama kamu, kan?"



Agus mengangguk.



Perlahan ibu menarik wajah Agus dari dadanya.



"Anak ***lanang*** ibu sudah besar. Dengar kata-kata ibu... Ibu kerja jauh-jauh untuk kamu. Ibu ingin kamu jadi orang sukses. Karenanya belajar yang bener. Semakin cepat kamu sukses, semakin cepat ibu pulang. Kamu paham maksud ibu?"



Sekali lagi Agus mengangguk. Ibu tersenyum lebar.



"Ibu tahu, kamu memang anak yang pintar. Sekarang ibu pergi dulu ya. Doakan ibu supaya semuanya lancar..."



Dan lagi-lagi Agus mengangguk. Dia tidak sanggup berbicara apa-apa lagi. Dia biarkan ibunya mencium pipinya kanan kiri bolak balik, padahal biasanya dia tidak akan membiarkan orang lain melihatnya dicium seperti itu, tapi kali ini dia diam saja. Bahkan menjawab salam ibunya itupun hanya bisa dari dalam hati.



Ditatapnya mobil yang membawa ibunya itu hingga menghilang di tikungan. Dan tiba-tiba saja Agus berlari mengejar mobil itu sambil berteriak.


__ADS_1


"Ibuuu...!!!"



__ADS_2