Cuma Seorang Pelayan 2

Cuma Seorang Pelayan 2
Masih Soal Lamaran


__ADS_3

"Kamu ini beruntung loh, dilamar pemuda sebaik ini... Tinggal bilang 'iya' atau 'enggak' gitu saja wes, Ra..." Tegur bapak yang sepertinya sudah tidak sabar mendengar jawaban Rara.


"Ya enggak bisa semudah itu bilang IYA atau enggak, Pak." Jawab Rara agak senewen.


Sungguh, dia sama sekali enggak ada niat untuk menerima lamaran ini. Tapi ya itu tadi... Dia bingung untuk menolak. Sepertinya kedua orang tuanya sangat berharap kalau dia bakalan bilang IYA.


"Lah memangnya kenapa? Kamu sudah punya pilihan hati sendiri?" Tanya bapak lagi.


Iya


"Ya... enggak gitu juga..."


Bisa celaka kalau orang tuanya tahu kalau dirinya suka dengan Danu.


"Lah, terus?" Kejar bapak.


"Ya... Mas Irwan datang kesini kan tadi cuma mau nganterin aku pulang, bukan untuk melamar. Masa aku datang langsung ditembak lamaran seperti ini...?"


Ibu menatap tajam pada Rara. Bapak juga. Sementara Pak Rusdi dan Irwan saling bertukar pandang.


"Oooh, saya paham maksudnya dek Rara...." Ucap Irwan tiba-tiba.


Semua langsung menatap Irwan, ingin tahu. Apa yang dia tahu... Apa maksud Rara? Sementara Rara sendiri enggak yakin.


Beneran kamu mengerti maksudku?


"Saya paham maksud dek Rara... Lamaran tentu momen sakral buat seorang wanita. Jelas bukan begini caranya pak..." Ucap Irwan kini sambil menatap ayahnya.


Pak Rusdi menelisik wajah anaknya, berusaha membaca maksudnya.


"Oh... Iya... Paham-paham... Nak Rara, kami butuh waktu setidaknya satu hari untuk mempersiapkan lamaran secara resmi. Nanti saya minta ibunya Irwan untuk menyiapkan semuanya... Insya Allah, besok malam kami datang lagi untuk membuktikan keseriusan kami..." Ucap Pak Rusdi.


Rara melongo. Kenapa malah jadi begini? Niatnya untuk membatalkan kok malah seperti mengiyakan dan meminta bukti keseriusan?


Lain ekspresi wajah Rara, lain juga ekspresi wajah bapak dan ibunya. Pak Suminto tersenyum senang mendengar keseriusan dari Pak Rusdi, sementara ibu malah seperti sungkan sendiri, hingga tangannya refleks menepuk paha Rara memperingatkan.


"Tapi...Tapi... bukan begi~."


Rara bingung mau ngomong apa sekarang. Dia hanya bisa menelan ludah yang seakan tersangkut di tenggorokan...


"Maksud Rara tidak usah repot-repot, nak Irwan... Kang Rusdi... Asal nak Irwan memang serius akan menikahi Rara..." Ucap ibu kikuk.

__ADS_1


Ibu tidak ingin keluarga Irwan berpikir, kalau keluarganya mempersulit dan meminta macam-macam barang untuk menerima lamaran itu. Ibu bertukar pandang dengan suaminya.


"Iya betul Kang.. Tadi itu Rara hanya asal ngomong saja, mungkin kaget saja karena lamarannya memang mendadak...." Sahut bapak.


"Ya... ndak apa-apa... Lumrahnya memang begitu..." Kata Pak Rusdi.


"Inggih pak, bu... Suatu kehormatan untuk kami bisa diberi kesempatan untuk melamar dek Rara dengan cara yang terbaik. Lagi pula momennya sekarang memang kurang pas. Mungkin dek Rara masih butuh waktu untuk memikirkan keputusan yang akan diambil." Ucap Irwan.


Pak Rusdi mengangguk-angguk setuju mendengar ucapan anaknya.


"Bagaimanapun keputusan untuk menikah itu adalah keputusan untuk seumur hidup... Jadi rasanya enggak adil, kalau saya bersikukuh untuk meminta jawabannya sekarang. biarlah dek Rara mempertimbangkan, apakah benar-benar mau berumah tangga dengan saya atau tidak... Meskipun berat juga bagi saya, kalau jawaban dek Rara nanti ternyata adalah TIDAK. Tapi insya Allah, kami akan menunggu sampai besok malam..." Lanjut Irwan.


"Masya Allah....Kurang pengertian apalagi nak Irwan ini sama kamu Ra..." Ucap ibu.


Rara kembali terdiam. Ucapan Irwan memang manis, tapi enggak berarti dia bisa semudah itu langsung bilang IYA.


"Baiklah, kalau begitu, nak Irwan... Kang Rusdi... kalau begitu kami juga harus bersiap untuk besok malam, karena kami juga harus menyambut kedatangan tamu agung dengan sebaik mungkin, iya kan, bu?" Ucap Pak Suminto.


"Iya... tentu saja, Pak. Ini kan momen bersejarah untuk keluarga kita... Akhirnya Rara mendapat calon suami..." Ucap ibu dengan berbunga-bunga.


"Ibuuuu." Desis Rara sambil menyipitkan matanya.


"Bapak.. ibu... boleh Rara ngomong berdua dengan mas Irwan ...?" Tanya Rara. Dia merasa harus bicara serius dengan Irwan.


"Yo opo, sih... Dijodohkan seperti menolak, tapi malah minta untuk berduaan..." Celetuk Pak Suminto setengah meledek.


"Loh, bukan gitu..." Rara jadi malu sendiri mendengar ledekan bapak.


"Udah... sana bicara berdua. Didepan sana saja, jangan jauh-jauh..." Perintah bapak akhirnya.


Rara menatap Irwan dan memberi isyarat dengan matanya, agar Irwan mau bangkit dan ikut dia ke teras depan. Irwan mengangguk paham.


"Permisi, Pak... bu..." Pamit Irwan. Lalu dia bangkit dan mengikuti Rara yang sudah berjalan lebih dulu ke teras.


Sampai di teras, Rara segera berbalik menghadap Irwan yang masih berjalan mendekat.


"Maksud mas Irwan apa sih?" Serbu Rara agak sebel.


"Maksudku? Kan sudah jelas, aku mau melamar Rara..."


"Kenapa tiba-tiba begini..."

__ADS_1


"Kalau aku kenal Rara dari kemarin-kemarin... Ya, sudah dari kemarin-kemarin juga aku lamar Rara." Jawab Irwan kalem sambil duduk di kursi rotan yang ada di teras.


Duuuh, gila bener ya nih orang...


"Mas... serius ini..." Rara hampir putus asa rasanya. Irwan tersenyum lagi dengan kalemnya.


"Gini Ra... Kalau aku bilang kalau aku cinta mati sama kamu, itu artinya bohong. Tapi perlu kamu tahu, kalau sejak pertemuan kita malam itu, di otakku hanya dipenuhi oleh kamu..."


"Ishhh gombal." Potong Rara. Tak urung hatinya berbunga juga mendengar ucapan Irwan.


"Loh, bukan gombal ini... Rara pikir kenapa aku ngajak ketemuan hari ini...?"


"Ya, mana aku tahu... Siang ngajak ketemuan... malam melamar, besok apa?"


"Ya married lah..."


Dasar gila!


"Enggak bisa segampang itu kan bilang iya buat nikah..."


"Ya memang enggak segampang itu, makanya aku kasih Rara waktu buat berpikir. Rara mau istikharah dulu... mau minta pertimbangan teman atau sahabat dulu juga boleh. Kalau Rara enggak bisa kasih jawabannya besok malam juga enggak apa-apa..." Ucap Irwan masih dengan nada kalem, membuat Rara malah jadi tambah bingung sendiri.


"Udah deh... jangan jadi beban. Sekarang aku tanya, buat besok Rara siap enggak? Kalau enggak siap, besok kita enggak usah ngadain acara yang aneh-aneh..." Ucap Irwan lagi.


"Lah, terus para bapak itu gimana?"


"Para bapak mah, biar nanti aku yang bicara dengan mereka. Kalaupun kami besok tetap datang, anggap saja sebagai acara silahturahmi antar dua keluarga. Kita anggap saja untuk menyenangkan kedua orang tua kita..."


Rara masih termenung beberapa lama, hingga Irwan akhirnya mengajak masuk kembali ke dalam rumah.


Di dalam, mereka sudah tidak terlalu membahas masalah lamaran itu, hingga Pak Rusdi akhirnya pamitan pulang karena malam memang sudah semakin larut. Tapi sebelum pulang, Pak Rusdi kembali menegaskan niatannya untuk kembali besok malam.


"Dek Minto, kami pulang dulu... Besok malam insya Allah ba'da Isya, kami bertamu kembali jika diperkenankan..."


"Baik Kang... kami tunggu kedatangan Kang Rusdi kekeluarga besok..."


Bapak dan ibu Rara mengantar mereka berdua sampai ke halaman. Sampai Irwan pergi dengan mobilnya dan Pak Rusdi dengan sepeda motor yang beliau gunakan untuk menghadiri musyawarah acara rajaban tahun ini. Musyawarah yang beralih pada musyawarah perjodohan Rara dan Irwan.


Semua orang terlihat begitu senang dan bersemangat. Hanya Rara yang masih gamang.


Danu... oh Danu... Kenapa dia bisa menjajah hati ini sedemikian parah? Rara harus gimana ini...?

__ADS_1


__ADS_2