Cuma Seorang Pelayan 2

Cuma Seorang Pelayan 2
Move on?


__ADS_3

"Ra... kamu jadi menemui orang itu?" Tanya Ratna saat usai jam kuliah sore itu. Tangannya masih mengemasi alat tulisnya, tapi matanya mengarah pada Rara yang juga masih membereskan buku-bukunya.


"Jadilah... Udah bilang iya juga. Enggak enak lah kalau ingkar." Jawab Rara.


"Iya juga sih..." Kata Ratna setuju.


"Tapi kira-kira dia mau ngapain ya, Rat?" Tanya Rara penasaran juga.


"Ya, enggak tahulah... yang terakhir ketemu dengan dia kan kamu... Emang kamu enggak punya clue gitu, kira-kira dia mau ngapain?" Ratna malah balik bertanya.


Rara terdiam sebentar berusaha mengingat-ingat.


"Kayaknya sih, enggak ada. Orang dia ngobrolnya sama mas Danu. Aku disana kan cuma jadi pendengar doang." Jawab Rara kemudian, masih dengan ekspresi orang yang sedang berpikir.


"Mungkin enggak kalau dia suka sama kamu, terus mau pdkt-in kamu?" Tebak Ratna tiba-tiba yang langsung disambut tawa oleh Rara.


"Ngaco kamu... Gimana mau pdkt orang ketemu aja baru sekali... Ngawur aja kamu." Kata Rara masih sambil tertawa. Ratna ikutan ketawa.


"Ya... siapa tahu kan... Namanya aja nebak." Kata Ratna.


"Enggak mungkin lah..." Ujar Rara dengan yakinnya. Ratna cuma mencebik sambil menggerakkan bahunya, seakan berkata... whatever lah...


"Ra, aku temenin sampai parkiran aja ya, soalnya aku harus cepat pulang, ada acara di rumah." Kata Ratna. Kali ini mereka sudah selesai berkemas dan mulai berjalan meninggalkan kelas.


"Bareng aku aja, Ra." Ajak Rohman yang tiba-tiba saja sudah ada dibelakang mereka. Spontan keduanya menengok ke belakang.


Ternyata, dua sahabat Rohman juga sudah ada di sana. Siapa lagi kalau bukan Teguh dan Nedi.


"Enggak bisa Man. Aku udah ada janji..." Sahut Rara.


"Janji sama siapa?" Tanya Rohman. Dia kesal sendiri jadinya karena merasa terlambat mengajak Rara.


"Temennya Mas Danu.." Jawab Rara jujur.


"Mau ngapain?"


"Belum tahu juga..."


"Memang harus ya, nemuin dia?" Tanya Rohman. Pertanyaan biasa sih, tapi terasa ada nada cemburu disana.


"Ya... aku kan belum tahu, dia mau ketemu sama aku itu mau apa. Kalau memang ada hal penting gimana?" Sahut Rara berusaha diplomatis.


"Aku temani ya?" Tanya Rohman.


"Ish, buat apa?" Tanya Rara langsung.


"Ya, barangkali saja aku nanti diperlukan..."


"Perlu buat apa? Enggak usah macem-macem deh... Dia itu temannya mas Danu..."

__ADS_1


"Danu lagi..." Potong Rohman kesal.


Rohman tahu, kalau Rara memang menyukai majikannya itu, tapi dia juga tahu, kalau Rara ngerasa enggak selevel dengannya, makanya Rohman masih berharap Rara mau berpaling padanya.


Sudah berulang kali Rohman mencoba menunjukkan perasaannya itu pada Rara, tidak hanya dengan kata tersirat tapi juga dengan perhatian, tapi pandangan Rara tetap saja tertuju pada Danu. Teman-teman mereka. Ratna, Teguh dan Nedi sampai bingung sendiri melihat hubungan mereka.


"Mau sampai kapan kamu mau terus mengharapkan dia?" Tanya Rohman


Rara tidak menjawab, dia cuma tersenyum dengan arti yang kabur, ada cinta, pengharapan serta putus asa disana.


"Sudahlah, aku pergi dulu ya." Pamit Rara berusaha menutup topik pembicaraan yang membuatnya tidak nyaman. Cukuplah rasa cintanya itu menjadi masalah pribadinya, tidak perlu menjadi topik pembicaraan teman-temannya.


"Jadi perlu aku anterin enggak?" Tanya Rohman.


"Enggak perlu, makasih." Jawab Rara sambil langsung melangkah pergi. Ratna menatap Rara bingung. Jawaban Rara tadi cuma untuk Rohman saja atau juga untuknya? Ditatapnya punggung Rara bejaga-jaga kalau sewaktu-waktu Rara akan berbalik san menyuruhnya untuk mengikuti. Tapi tidak. Rara tidak berbalik dan berkata apapun. Ratna menatap Rohman. Yang ditatap juga masih menatap punggung Rara dengan tatapan antara kesal, cemburu tapi juga cinta.


"Hadeuh... pusing aku ngeliat kalian berdua. Kenapa sih enggak pada sadar diri...?" Kata Ratna kesal sendiri sambil ikutan pergi meninggalkan kaum adam yang belum juga tahu apa yang musti mereka lakukan.


Di pelataran parkir... Rara melihat Irwan sudah berdiri bersandar di samping mobilnya (Rara pikir begitu, karena dia sendiri enggak tahu mobil Irwan yang mana). Begitu melihat Rara mendekat, Irwan yang semula bersandar santai di body mobil segera menegakkan tubuhnya.


"Hai... assalamu'alaikum." Salam Rara.


"Waalaikum salam." Balas Irwan.


"Udah lama nunggunya?" Tanya Rara berbasa-basi


"Enggak juga... Makasih ya, kamu mau bertemu denganku...." Jawab Irwan cepat.


"Iya, enggak apa-apa, Pak." Jawab Rara. "Memangnya ada apa ya, Pak?" Rara balik bertanya. Aslinya dia sudah penasaran, kenapa orang yang didepannya ini mengajaknya untuk bertemu.


"Ayo, masuklah dulu... kita bicara sambil jalan... " Kata Irwan kemudian dengan gaya sok santai. Padahal mah jangan ditanya, bagaimana groginya dia. Dia belum siap mengatakan kenapa dia ingin bertemu dengan Rara sekarang.


Walaupun dengan kening sedikit berkerut, Rara masukan juga ke dalam mobil yang sudah dibukakan pintunya oleh Irwan. Setelah memastikan kalau Rara sudah duduk dengan nyaman, Irwan menutup pintu dan berputar ke kursi kemudi.


Mesin dihidupkan dan perlahan mobilpun melaju meninggalkan pelataran parkir kampus.


"Rara sedang terburu-buru enggak?" Tanya Irwan sambil mengarahkan mobilnya berbelok ke jalan raya.


"Enggak terlalu sih... saya ada perlu ke rumah teman untuk mengembalikan sesuatu..." Jawab Rara. Maksudnya dia mau ke rumah Sofi untuk mengembalikan baju yang dia pinjam kemarin dulu.


"Ya sudah, bagaimana kalau ke rumah teman kamu dulu, dengan begitu kan jadi enggak terburu-buru." Usul Irwan. Rara sampai heran jadinya, ada urusan apa sih sebenarnya laki-laki ini dengannya? Tapi kalau mau mendesak Irwan untuk segera mengatakan keperluannya, Rara juga merasa sungkan.


"Emm ya, enggak apa-apa kalau begitu. Tapi Pak Irwan enggak apa-apa nganterin saya dulu? Nanti malah bapak yang terburu-buru jadinya..." Kata Rara sedikit merasa tidak enak.


"Enggak kok... Enggak apa-apa." Kata Irwan dengan yakinnya.


Akhirnya memang Irwan mengantarkan Rara ke rumah Sofi. Rara bersyukur juga dalam hati untuk ini... Artinya dia bisa ngirit ongkos ojek kan? πŸ˜…


Tidak terlalu banyak percakapan saat menuju rumah Sofi. Paling-paling Irwan yang bertanya lokasi rumah Sofi saja.

__ADS_1


Yang bikin bingung itu waktu Rara harus masuk untuk mengantarkan baju Sofi. Irwan ini diajak masuk atau enggak ya?


"Emm... Pak Irwan mau ikut masuk atau...?" Rara tidak menyelesaikan ucapannya. Dia ragu. Sopan atau enggak sih bertanya seperti itu pada orang yang sudah mengantarkan nya? Kesannya kok enggak mau diikuti gitu ya?


"Kira-kira lama atau enggak ya?" Irwan balik bertanya.


"Harusnya sih enggak, kita masih ada yang harus dibicarakan, kan?"


"Oh... emmm, kalau Rara memang ada yang perlu disampaikan sama temannya enggak apa-apa kok, saya tunggu..." Jawab Irwan.


"Ngobrol sama dia mah, enggak cukup satu jam dua jam, pak." Kata Rara diikuti tawanya. Irwan ikutan tertawa. Ya, dia paham. Adik dan sepupunya perempuan. Dan mereka kalau sudah ngegosip bisa seharian enggak tuntas-tuntas.


Rara turun dari mobil dan berjalan masuk ke halaman rumah. Tak lama kemudian terlihat Rara dan Sofi ngobrol sebentar di teras rumah. Setelah cukup berbasa-basi dan berterima kasih, Rara pamit pulang.


Pada kesempatan itu juga Sofi sempat meminta maaf lagi soal prilaku Marina yang sudah membuat Rara malu di pesta teman mereka.


"Iyaa... jangan merasa bersalah gitu Sof. Kamu sama Marina kan orang yang berbeda." Ucap Rara.


"Iya, tapi aku yang jadi enggak enak sama kamu." Kata Sofi.


Sementara berbicara, mata Sofi memperhatikan mobil yang berhenti di depan rumahnya.


"Kamu datang sama siapa?" Tanya Sofi.


"Oh... emmm temen." Jawab Rara asal. Kalau dia cerita jujur siapa Irwan, dia yakin pertanyaan Sofi pasti langsung meluncur berderet. Jangan kan Sofi... Rara sendiri juga masih bertanya-tanya soal Irwan ini...


"Temen atau temen? Sudah mulai move on, Ra?" Tanya Sofi sambil cengengesan menggoda. Rara lagi-lagi cuma bisa tersenyum menanggapinya.


Haruskah kalimat ini dia amini?


"Sof, sekali lagi, makasih ya..." Kata Rara akhirnya memutuskan untuk berpamitan. "Aku pulang dulu." Katanya.


"Ya udah deh...Paham aku... Tapi besok kita ketemuan lagi ya..." Kata Sofi masih menggoda Rara.


"Ya, lihat besok deh." Kata Rara.


Rara melangkah meninggalkan teras rumah Sofi. Belum sampai mendekat pada mobil, Irwan sudah turun untuk membukakan pintu bagi Rara. Rara sampai terkesima dengan perlakuan Irwan padanya. Sementara di teras rumah, Sofi tersenyum lebar melihat adegan itu. Ditatapnya nya wajah Irwan dengan penuh perhatian.


"Tampan juga... "


...🌹🌞Bersambung🌞🌹...


All reader ku yang baik... Tolong beri like, komen, rate dan favorit nya.


...please.. πŸ™...


Kasih Gift juga boleh kalau berkenan... πŸ€­πŸ˜…


Love and thank you pake banget buat kalian... EMMUACHH πŸ₯°

__ADS_1


...☘☘☘...


__ADS_2