Cuma Seorang Pelayan 2

Cuma Seorang Pelayan 2
Ribut


__ADS_3

Ya udah deh, aku WA dulu Sofi nya, biar nanti dia siapkan baju yang bisa aku pinjam." Kata Rara kemudian.




Seusai jam kuliah, sesuai kesepakatan, Rara dan Ratna langsung pergi ke rumah Sofi.



Di rumah Sofi, Rara ditawari berbagai macam pilihan model gaun yang bisa dia pakai untuk pergi ke kondangannya Hanum.



"Ihh, cantik-cantik banget sih, baju kamu, Sof. Sampai bingung mau pake baju yang mana..." Keluh Rara antara bingung tapi bersemangat.



"Yang pink itu aja Ra... itu bagus..." Usul Ratna yang ikutan excited melihat gaun-gaun itu.



"Waduh, kalau pakai yang pink itu mah, aku enggak berani bergerak, Rat. Lihat belahannya tinggi banget." Tolak Rara.



"Yang warna sage itu, gimana?" Tawar Sofi.



"Bagus sih... tapi bukaan lehernya lebar banget, kalau merosot gimana?"



"Yang warna peach?"



"Yang warna marun?"



"Yang brukat dongker... "



"Yang bahan silky itu... "



Beberapa pilihan warna, model serta bahan sudah ditawarkan. Rara sampai bingung sendiri. Semuanya bagus. Tapi Rara enggak yakin, gaun itu bakal terlihat bagus di badannya.



"Udah deh, yang ini aja..." Putus Rara kemudian. Dia malah menunjuk sebuah gaun yang terlihat sederhana sekali.



"Yakin kamu mau pakai yang itu? Itu yang bahannya brukat atau organza lebih bagus." Kata Sofi memastikan.



"Udah deh, ini aja. Baju ini bisa dipakai dengan sepatu sneakers ku. Aku enggak mungkin pinjam sepatu kamu... ukurannya kegedean..." Jawab Rara.



![](contribute/fiction/6014561/markdown/14436271/1672394639173.jpg)



Akhirnya, jadilah Rara memakai gaun yang dia kombinasi kan dengan sepatu sneakers.



Agak enggak umum sih, pergi kondangan pakai style seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi. Dia enggak mungkin pakai sepatu Sofi yang kegedean. Mau pinjam punya ibunya lebih enggak mungkin. MALU.



Mau mendadak beli! Hey... dia bukan anak Sultan yang bisa langsung beli sesuatu yang dia mau.



Akhirnya, setelah mereka selesai berdandan dan bersiap, mereka pergi ke pesta pernikahan Hanum.


__ADS_1


Hari sudah masuk sore, saat mereka sampai di sana. Pesta yang cukup meriah. Orang tua Hanum mengundang satu grup musik untuk menghibur para tamu. Tapi tentu saja, yang menonton bukan hanya para tamu, tapi juga tetangga sekitar.



Usai menyalami yang punya hajat, mereka menikmati panganan yang tersedia. Sesekali mereka bersenandung mengikuti lirik lagu yang sedang dinyanyikan sang biduan.



Tengah mereka asik makan-makan itu, tiba-tiba bahu Rara disenggol Ratna. Rara menoleh, menatap wajah Ratna. Ratna menggerakkan dagunya memberi isyarat. Rara menoleh mengikuti isyarat Ratna.



Ooo



Ternyata, di pelaminan... Nampak Danu tengah menyalami mempelai. Secara otomatis, mata Rara langsung memindai orang-orang yang datang bersama Danu. Di sana tidak ada perempuan lain, selain mempelai yang berjenis kelamin perempuan.



*Jadi dia datang bersama teman-teman lelakinya*...



Batin Rara. Perasaan lega tiba-tiba datang begitu saja.



"Enggak bareng ceweknya?" Kata Ratna. Maksudnya berbisik. Tapi karena backsound musik cukup keras, jadinya enggak bisa berbisik.



"Emang siapa ceweknya sekarang?" Tanya Rara agak was-was. Kok dia enggak tahu cewek Danu sekarang siapa?



"Ya enggak tahulah... kamu yang tinggal bareng kok..." Sahut Ratna.



"Eh, kamu masih suka sama dia?" Celetuk Sofi yang sejak tadi hanya menyimak. Ya, Dia tahu, karena mereka berteman sejak SMA.




"Makin parah..." Komentar Ratna. Rara sendiri cuma mesem. Enggak tahu harus ngomong apa.



"Enggak tahu diri..." Tiba-tiba terdengar suara celetukan dari arah belakang mereka.



Spontan mereka berbalik untuk mengetahui, siapa yang bicara dan ditujukan pada siapa.



"Kamu ngomong sama siapa?" Tegur Sofi pada seorang gadis yang ternyata adalah Marina. Entah sejak kapan dia ada di sana.



"Deuh, dia lagi... " Ujar Ratna malas.



"Itu... sama orang yang enggak tahu diri... seekor punguk aja pingin terbang ke bulan... Kondangan pake baju pinjem aja, mau bersanding sama Tuan Danu... Ngimpi!" Ucap Marina penuh emosi.



DEG.



Rara langsung tahu, kalau ucapan Marina itu pasti ditujukan pada dirinya.



"Kamu itu ngomongin soal apa sih? Enggak jelas banget." Sofi menjadi sewot sendiri.



"Guys, sorry ya... sepupuku sudah bicara ngaco... Perasaan cuma minum air mineral, kenapa jadi mabok gitu..." Ucap Sofi lagi dengan nada menyesal.


__ADS_1


"Dia sepupu kamu?" Tanya Rara dan Ratna hampir bersamaan.



Dengan agak malu, Sofi mengangguk.



"Iya, aku sepupunya. Kenapa?" Mau pinjem bajuku juga?" Sentak Marina tanpa berniat mengurangi volume suaranya.



"Enggak punya modal saja pingin gaya-gayaan pakai baju bagus..." Cetus Marina lagi.



Sungguh Rara enggak enak hati seketika. Marina bolak-balik mengungkit masalah dirinya yang pinjem baju Sofi. Duh... kalau saja dia bawa baju ganti. Ingin rasanya dia langsung membuka bajunya dan mengembalikannya pada Sofi.



Ingin dia berteriak, memberi tahu semua orang, kalau dia pinjem bajunya Sofi itu bukan buat gaya-gayaan, tapi karena menghargai temannya yang menjadi pengantin hari ini. Seandainya tahu bakal begini, Rara pasti akan merasa lebih baik memakai kemeja flanel dan celana jeans nya dari pada di hina seperti ini.



"Ra... maaf ya...." Ucap Sofi yang juga merasa tidak enak hati. Apalagi melihat Rara yang cuma bisa tertunduk.



Sofi menduga, kalau Rara merasa malu karena ucapan Marina hingga hanya menunduk.



Enggak... Rara tidak menunduk karena malu. Memang kenyataan, kalau baju yang dia pakai itu barang pinjaman, dan itu tidak membuatnya malu.



Dia menunduk itu karena dia sedang berusaha menguasai emosinya. Kalau dalam adegan film anime, dari atas kepalanya pasti sudah ada api yang berkobar-kobar menunggu saat untuk meledak.



Tapi Rara tahu diri... Dia itu seorang tamu di acara pernikahan teman baiknya. Dia enggak mau cari perkara... enggak cari sensasi hanya dengan mengumbar kemarahan.



"Baju ku ini, memang baju pinjaman... Tapi yang punya saja enggak apa-apa... Terus, ada masalah apa dengan kamu? Urusan aku suka sama tuan Danu juga enggak ada hubungannya dengan mu. Kenapa kamu yang seperti kebakaran jenggot?" Rara berusaha mengendalikannya nada suaranya sedatar mungkin. Tapi tidak begitu dengan Marina.



"Makanya aku sebut kamu itu enggak tahu diri..." Potong Marina sengak.



"Rin! Kamu kalau ngomong pakai otak dong...!" Sentak Sofi yang merasa sepupunya itu sudah keterlaluan. Sungguh, dia mulai merasa malu sendiri, karena orang-orang sekarang sudah beralih menatap mereka dan enggak lagi nonton sang biduan.



Rara dan Marina bersitatap dengan tajam. Bisa dibayangkan... ada ratusan petir yang disampaikan lewat tatapan itu. Hingga suara langkah mendekat memutus petir-petir itu.



"Ehem..." Deheman orang yang baru datang, seketika membuat orang-orang yang ada di sekitar kancah peperangan langsung mengalihkan perhatiannya.



...🌹🌞Bersambung🌞🌹...



All reader ku yang baik... Tolong beri like, komen, rate dan favorit nya.



...please.. πŸ™...



Gift juga boleh kalau berkenan... πŸ€­πŸ˜…



Love and thank you pake banget buat kalian... EMMUACHH πŸ₯°



...☘☘☘...

__ADS_1


__ADS_2