
"Hei, kenapa kalian malah ada di sini?"
Rara dan Danu segera menoleh kearah asal suara. Melihat seorang laki-laki datang, Danu dengan segera bangkit dan mengulurkan tangan menyambutnya. Mereka bahkan berpelukan singkat dengan akrabnya.
"Ayo silahkan... " Ucap laki-laki itu sambil ikutan duduk di sana dengan menarik kursi di dekatnya.
Rara menepi sedikit. Khayalan nya langsung terhenti.
"Sudah pesan, makanannya?" Tanya orang yang Rara yakin bernama Irwan. Soalnya tadi Danu menanyakan orang yang namanya itu ke greater tadi, kan?π€
"Sudah..." Jawab Danu sambil menoleh kearah Rara sepintas, seakan ingin meyakinkan kalau jawaban Rara sama dengannya.
"Iya, sudah..." Kata Rara mengiyakan. Dia agak bingung. Musti panggil apa sama orang ini. Mas... pak... atau tuan juga?
Sepertinya Irwan ini usianya lebih tua dari Danu, Belum lagi pembawaannya yang terlihat begitu dewasa, membuat Rara jadi sungkan padanya.
"Bagaimana pestanya tadi?" Tanya Irwan. Rupanya dia tahu tentang kegiatan mereka hari ini.
"Ya... pestanya meriah, ada hiburan band-nya juga..." Jawab Danu.
"Oh... pasti ramai kalau begitu..." Komentar Irwan.
"Iya... ramai.... ramai sekali malah." Kata Danu sambil tersenyum penuh arti pada Rara. Rara langsung tersenyum kecut saat menyadari arti senyuman Danu.
"Oh ya?" Komentar Irwan sambil tersenyum juga dan menoleh pada Rara seakan minta diyakinkan. Tapi Rara hanya menggedikkan bahunya enggan komentar.
"Hei, di sini malam ini bukannya ada live music juga?" Tanya Danu. Sambil bicara begitu, matanya beredar memperhatikan kearah dekat meja kasir. Rara mengikuti arah pandang Danu.
Di sana... Di dekat meja kasir, tepatnya di sebelah tangga (Rara baru tahu kalau di sana ada tangga), ada sebuah standing mic dan keyboard yang sepertinya sedang di stel oleh seorang laki-laki. Rara enggak tahu, dia itu teknisi atau pemain keyboard nya, karena belum terdengar nada apapun dari sana.
Sementara itu, di depan meja kasir, kini terlihat seorang wanita menggunakan atasan berupa blouse putih berlengan panjang, dipadukan dengan rok sepan hitam yang panjang juga. Sepertinya bahan kain rok itu melar, hingga bisa pas di badan pemakainya, hingga membentuk tubuh wanita itu seperti biola spanyol... π
Kalau enggak ada kalung mutiara yang menghiasi lehernya, bisa jadi orang lain akan menganggapnya karyawan magang... π
Eh, tapi. Secara keseluruhan, penampilannya oke kok. Wanita itu tengah ngobrol akrab sambil tertawa-tawa dengan kasir dan greater restoran. Rara langsung menduga, kalau dia itu pasti penyanyi yang mau manggung malam ini.
"Iya... Setiap hari rabu malam begini ada live musik bertema jazz... Sebentar lagi pasti main. Biasanya mulai jam delapan..." Jawab Irwan.
"Lagunya jazz?" Rara keceplosan bertanya. Dia penasaran, kenapa musiknya bertema jazz? Setahu dia musik jenis ini memang kurang peminatnya kalau di daerah mereka ini. Kenapa enggak dangdut atau pop, gitu?
__ADS_1
"Kenapa? Enggak umum ya?" Irwan balik bertanya sambil tersenyum kecil.
Ragu-ragu Rara mengangguk.
"Ya... memang tidak umum.. tapi bukan tidak ada peminatnya..." Jawab Irwan kemudian masih sambil tersenyum.
"Kami hanya mencoba memfasilitasi hobi orang-orang yang kebetulan tidak umum itu.
Ya... kalau senang musik dangdut atau pop atau jenis musik yang umum disukai orang sini lainnya, sudah barang tentu banyak juga di suguhkan oleh restoran lainnya... Karena itu, kami berusaha menghimpun penggemar musik... jazz khususnya di sini..."
"Kalau begitu, apakah disini juga menyajikan live music dengan genre lain...? Di waktu yang lain, maksudnya..." Tanya Rara lagi.
"Iya ada... Hari sabtu dan minggu ada live music untuk genre bebas. Tergantung request dari tamu. Hanya hari rabu ini saja, kami suguhkan khusus irama jazz... Tahu kenapa?" Irwan balik bertanya.
Rara berpikir sebentar.
"Karena di hari Rabu, biasanya jumlah tamu tidak sebanyak saat weekend...?" Jawab Rara sedikit ragu. Tapi jawabannya langsung diacungi jempol oleh Irwan.
"Ya... betul. Agar jumlah tamu bisa lebih konstan setiap harinya, kami perlu menyajikan sesuatu yang bisa menarik minat mereka selain hanya karena makanan...
Ya, umumnya memang restoran memang buat acara makan-makan bersama teman, kerabat atau keluarga... Tapi kalau bisa untuk tempat berkumpulnya orang-orang yang mempunyai hobi sama kan juga lebih baik..." Ucap Irwan.
"Sudah mengerti?" Tanya Danu pada Rara. Sekali lagi Rara mengangguk, tapi kini mengarah pada Danu.
"Kalau sudah mengerti, sekarang boleh aku berunding dengan bos ini?" Tanya Danu sambil mengerling pada Irwan. Irwan tertawa.
"Yang bos itu siapa? Kamu yang ngemodalin kok, aku yang dipanggil bos." Katanya sambil tertawa.
"Ya kamulah bosnya, orang kamu yang punya restoran, kamu juga yang mengelola..." Sahut Danu juga sambil tertawa.
"Nggih, monggo para bos berunding. Saya mau nungguin makanan nya aja..." Kata Rara setengah bercanda.
Keduanya tertawa.
"Emmm gini. Sebelum rundingan kita mulai, ada yang ingin aku tunjukkan." Kata Irwan pada Danu.
"Oh, ya? Boleh." Sahut Danu.
"Em... datanya ada di ruangan ku... Kamu mau lihat sekarang atau nanti saja setelah selesai makan?" Irwan memberikan pilihan.
__ADS_1
Sesaat Danu menatap Rara.
"Kalau aku tinggal sebentar enggak apa-apa, Ra?" Danu bertanya. Sepertinya dia merasa enggak enak karena harus meninggalkan Rara sendirian.
"Enggak lama-lama kan, tu... an?" Rara bertanya dengan nada melemah di akhir kalimat. Takut keliru sebut.
"Enggak, cuma sebentar kok... enggak sampai lima belas menit." Irwan yang menjawab.
Mendengar itu, Rara pun mengangguk dan tidak berkeberatan. Setelah melihat Rara mengangguk, kedua orang laki-laki itu pun bangkit dari duduknya.
"Kalau nanti makanan nya datang sebelum kami kembali, makanlah lebih dulu..." Ucap Danu mempersilahkan.
"Iya, tuan." Kata Rara sambil mengangguk. Danu tersenyum. Setelah itu dia mempersilahkan Irwan untuk melangkah lebih dulu.
"Sebentar ya, mbak..." Pamit Irwan pada Rara. Rara kembali mengangguk.
Mereka lalu melangkah meninggalkan meja. Rara menatap mereka hingga hilang naik lewat tangga yang tadi tidak dilihat Rara, di dekat meja kasir.
Sepertinya tuan Danu ini ada andil juga sama terbentuknya restoran ini...
Pikir Rara sambil kembali memperhatikan situasi restoran. Semakin malam rupanya suasana mulai semakin ramai pengunjung.
Sang biduan mulai melakukan pembukaan shownya. Hampir bersamaan dengan itu, makanan yang mereka pesan pun tiba. Tapi tentu saja Rara cukup tahu diri, untuk tidak makan lebih dahulu seperti kata Danu tadi. Dia hanya berani makan makanan pembuka saja.
Sambil menikmati makanan pembuka, (Rara sengaja berlama-lama menikmati makanan pembuka itu, supaya ada alasan kalau nanti Danu tanya, kenapa belum mulai makan, makanan utama mereka). Rara memperhatikan penyanyi jezz itu.
Iramanya memang jazz, tapi lagunya lagu daerah atau lokalan Jawa. Yang Rara tahu, lagu-lagu jenis begini biasanya disebut jenis lagu bossanova. Karena lagu-lagu nya cukup familiar, Rara pun jadi menikmati musik ini.
Hadeuh... Makan sambil mendengarkan lagu model begini... kenapa serasa jadi Noni Belanda ya...
...πΉπBersambungππΉ...
All reader ku yang baik... Tolong beri like, komen, rate dan favorit nya.
...please.. π...
Kasih Gift juga boleh kalau berkenan... π€π
Love and thank you pake banget buat kalian... EMMUACHH π₯°
__ADS_1
...βββ...