Cuma Seorang Pelayan 2

Cuma Seorang Pelayan 2
Kencan?


__ADS_3

"Mau kemana kita sekarang?' Tanya Irwan saat mobil sudah mulai berjalan.


"Lah? Kan, bapak yang punya rencana..." Jawab Rara bingung.


"Ya... barangkali saja, kamu masih ada acara gitu..." Sahut Irwan.


"Enggak ada, Pak. Habis kuliah ini saya memang enggak ada acara, mau langsung pulang saja setelah mengembalikan baju tadi." Kata Rara.


"Oh... Ya sudah. kita jalan-jalan saja dulu enggak apa-apa kan?" Tanya Irwan sambil menoleh kearah Rara, meneliti tanggapan Rara atas ajakannya.


"Jalan-jalan...? Kemana?" Tanya Rara sambil balik menatap Irwan. Irwan melihat kalau sepertinya Rara tidak keberatan untuk menemaninya jalan.


"Ya... kemana saja. Ke mall? Gimana?" Usul Irwan.


"Sebenarnya enggak ada masalah sih. Cuma saya itu mau tahu, sebenaranya ada apa bapak ngajak saya ketemu? Ada perlu apa?'"Tanya Rara akhirnya. Kali ini wajahnya terlihat serius menatap Irwan.


"Pertama... bisa enggak Rara enggak panggil saya, pak... bapak... gitu. Saya kok berasa tua banget ya dipanggil begitu." Kata Irwan sambil menunjukkan senyuman setengah memohon. Rara jadi nyengir serba salah mendengarnya.


"Habis saya harus panggil apa?" Rara akhirnya bertanya.


"Panggil Mas aja, lebih enak kedengarannya." Pinta Irwan langsung.


"Oh, ya enggak apa-apa... Mas... Mas ini ngajak ketemu dengan saya, ada apa?" Rara mengulangi pertanyaannya.


"Enggak ada apa-apa juga. Cuma pingin ketemu aja."


"Heh?!" Mendengar jawaban Irwan, Rara malah jadi tambah bingung.


Irwan tertawa melihat ekspresi wajah Rara yang setengah melongo itu.


"Kenapa? enggak boleh?" Tanya Irwan masih sambil tertawa kecil. Rara menatap Irwan dengan pandangan heran.


Ada ya orang aneh kayak gini?


"Orang kok rendom gini sih..." Rara menggerutu pelan, tapi masih bisa didengar oleh Irwan.


Irwan masih saja tersenyum mendengar gerutuan Rara.


Asli, Rara enggak tahu musti kesal atau senang sih sama orang yang namanya Irwan ini. Sudah rela menunggu dan menjemputnya ke kampus cuma buat ketemu doang? Terus tujuannya apa coba?


"Terus kalau udah ketemu mau ngapain?" Tanya Rara akhirnya.


"Ya.. kita jalan-jalan saja. Enggak apa-apa kan?"


Sesaat Rara terdiam, sungguh dia sama sekali enggak menyangka kalau pertemuannya dengan Irwan bakal seperti ini.


"Kenapa? Kamu keberatan?" Tanya Irwan saat dirasakan Rara tidak langsung menjawab pertanyaannya.


"Saya cuma bingung musti gimana." Jawab Rara jujur.


"Enggak usah bingung. Yang harusnya bingung itu aku..." Kata Irwan lagi yang membuat kening Rara berkerut.


"Emangnya kenapa mas yang harusnya bingung?" Tanya Rara sambil menatap Irwan yang masih memfokuskan pandangannya ke depan.


"Lah iya... Enggak tahu kenapa, sejak ketemu kamu kemarin itu, aku terus kepikiran kamu..."

__ADS_1


"Gombal...!" Sahut Rara langsung sambil tertawa.


"Nah kan? Mana ada yang percaya... Orang aku sendiri aja masih bingung..." Jawab Irwan.


ha ha ha...


Rara benar-benar enggak tahu harus bagaimana menanggapi ucapan Irwan.


"Berarti oke kan, ini... kita jalan-jalan ke mall?" Tanya Irwan meyakinkan.


Lagi-lagi Rara terdiam berpikir. Mereka sudah terlanjur bertemu juga, enggak ada ruginya kan, kalau dia sekedar jalan-jalan dengan laki-laki ini? Sepertinya Irwan bukan laki-laki nakal... kan?


"Ke mall, ya?' Tanggap Rara kemudian.


"Iya, kenapa? Mau ke tempat lain? Tapi ini udah sore kalau mau ketempat lain. Nanti pulangnya malah kemalaman." Kata Irwan.


Rara masih diam, sibuk menimbang.


"Kenapa?" Irwan bertanya lagi, saat melihat keraguan di wajah Rara. "Apa perlu aku berikan KTP atau SIM ku, supaya kalau ada apa-apa kamu tahu harus mencariku kemana?" Imbuhnya.


"Ish... bukan gitu..." Jawab Rara langsung.


Sebenarnya dia ragu itu karena dia ingat hanya ada selembar uang berwarna hijau saja di dompetnya. Kalau ada apa-apa gimana?


"Mau ngapain di mall?" Tanya Rara.


"Ya jalan aja. Mau nonton... makan..."


"Kayak orang pacaran aja." Celetuk Rara spontan iseng.


"Ya pacaran beneran juga enggak apa-apa..." Sahut Irwan enteng.


Irwan tertawa. Rara mengernyit. Sementara mobil terus saja melaju.


Akhirnya mereka benar-benar pergi ke mall. Irwan mengajak Rara menyusuri deretan toko di gedung megah itu. Rara cuma berani melirik saja barang-barang yang dipajang di etalase toko-toko itu. Sadar diri lah... Uang di dompet udah mepet!


Irwan yang melangkah di samping Rara memperhatikan. Saat dia melihat, kalau Rara memperhatikan suatu barang tertentu lebih lama dari yang lain, Irwan mencoba menawarkan pada Rara untuk membelikannya, tapi tentu saja Rara tidak berani menerimanya.


Dia cukup tahu diri untuk tidak "memanfaatkan" Irwan dan kantung ajaibnya. Walaupun Irwan sendiri sepertinya tulus ingin membelikan sesuatu untuk Rara.


Hanya satu dari sekian banyak tawaran Irwan yang Rara enggak bisa untuk menolak. Yaitu saat Irwan mengajaknya makan. Enggak mungkin nolak kan, kalau diajak makan? Udah laper juga... he he he.


"Mau makan apa?" Tanya Irwan.


"Terserah mas deh..." Jawab Rara.


"Beneran?"


"Ya, benerlah... emang kenapa?" Rara balik bertanya.


"Soalnya perempuan itu suka bikin serba salah. Katanya terserah, tapi kalau dipilihkan enggak cocok..." Jawab Irwan.


"Lah... Kalau itu mah, cowoknya aja yang enggak peka... Enggak bisa baca gelagat." Rara membela diri.


"Makanya enggak bisa baca gelagat itulah... makanya cowok itu bertanya..."

__ADS_1


Rara hanya memutar matanya menanggapi pembelaan Irwan. Irwan tertawa.


"Jadi ini beneran ya, terserah mas ya..."


Rara mengangguk. Dalam hati dia berkata... Waduh, cowok ini sudah membahasakan dirinya 'MAS" pula.


"Kalau gitu kita ke kedai hotplate itu ya...?" Ujar Irwan menentukan. Tapi dia masih membuka kesempatan untuk Rara menolak pilihannya.


"Boleh." Jawab Rara setuju. "Boleh tahu, kenapa mas Irwan pilih kedai itu?" Lanjut Rara sambil berjalan mengikuti Irwan yang sudah melangkah ke sana.


"Mau sekalian survey... mungkin enggak, kalau di restorant ku, dikasih menu hotplate." Jawab Irwan.


"Iya? Mas Irwan mau tambah menu?" Rara menatap punggung Irwan yang berjalan satu langkah di depannya agak menyamping.


"Masih dalam proses pengkajian... Mas mau bikin menu yang special, tapi terjangkau...."Katanya. Rara mengangguk-angguk paham.


Irwan dan Rara memilih menu hotplate yang berbeda. Ini adalah usulan Rara, supaya mereka bisa punya pilihan untuk reverensi menu hotplate di restorant Irwan nanti.


Menu yang Rara pilih adalah hotplate mie ayam jamur, sedangkan Irwan memilih menu steak dengan kentang goreng.


"Gimana? Enak enggak?" Tanya Irwan setelah Rara melakukan suapan pertamanya.


"Enak." Jawab Rara.


"Mas boleh coba?" Tanya Irwan. Secara naluriah, Rara spontan mengangguk. Irwan mengulurkan garpunya untuk mencicipi mie yang dihadapi Rara. Usai menyuap, Rara menatap Irwan menunggu penilaiannya.


"Gimana?" Tanya Rara.


"Ya... Enak. Dengan beberapa bumbu tambahan, bisa jadi lebih sempurna rasanya." Jawab Irwan.


"Oh... juragan restoran mah tahu ya, bumbu tambahannya... kalau buat aku sih, gitu aja udah enak..." Kata Rara sambil tertawa kecil dengan menutup mulutnya.


Irwan balas tertawa mendengar ucapan Rara yang secara tidak langsung memujinya.


"Nih, Rara cobain punya mas." Kata Irwan. Dia sudah memotong daging steak di piringnya dalam potongan-potongan kecil. Irwan menusuk sepotong daging itu disusul dengan sepotong kecil wortel dengan garpu, setelah dia celupkan ke saus lalu dia mengangsurkan garpunya ke arah mulut Rara. Tanpa banyak berpikir, Rara langsung melahap nya.


"Gimana?" Tanya Irwan.


"Enak juga..." Jawab Rara.


"Pake banget?"


"Enggak tahu..." Sahut Rara jujur sambil tertawa, tangannya refleks menutup mulutnya saat dia tertawa. Kebiasaan kecil ini pun tidak luput dari perhatian Irwan. Dia ikutan tertawa.


Entah karena suasana atau karena pembawaaan Irwan yang enggak terlalu jaim, hingga obrolan mereka bisa mengalir begitu saja. Sambil makan, Rara ngobrol dengan Irwan dengan tanpa beban. Bahkan Rara bisa makan dengan tenang tanpa merasa terburu-buru saat melihat piring dihadapan Irwan sudah tandas lebih dulu.


"Makanlah dengan tenang, mas masih mau merokok dulu. Rara enggak apa-apa kan, kalau mas merokok?" Kata Irwan.


"Silahkan, mas." Kata Rara. Bukankah saat ini mereka makan di smoking area?


Setelah Irwan selesai merokok, dan Rara juga sudah selesai makannya, Irwan lalu mengajak Rara untuk pulang.


"Kali ini kencan kita pendek saja ya... Lain kali kita luangkan waktu yang lebih banyak agar lebih leluasa jalan-jalannya."


"Heh?! Kencan?"

__ADS_1


...🌹🌞Bersambung🌞🌹...



__ADS_2