
Komitmen... konsekwen... itu adalah kunci dari keberhasilan hubungan yang ditawarkan Irwan.
So clear, right? Tapi kenapa begitu sulit untuk bilang IYA. Kenapa dia masih saja merasa terpukau dengan hubungan yang tak jelas dengan Danu???
Saat dia terpikir akan Danu, mendadak ponselnya berdering. Rara meraih ponsel itu, dan coba lihat, siapa yang telpon???
DANU.
Refleks saja dia langsung menggeser ikon hijau yang bergambar telpon itu.
"Halo, assalam mualaikum..." Sapanya.
Bersamaan dengan waktu dia menyapa, matanya tanpa sengaja terarah pada Irwan yang duduk di depannya, dan seketika dia merasa kalau dirinya sudah bertindak tidak sopan pada Irwan.
Bagaimana bisa, dia menerima telpon begitu saja sementara dirinya sedang "ngobrol" dengan seseorang. Dia takut Irwan merasa diabaikan olehnya.
"Mas, maaf... " Ucap Rara sungguh-sungguh sambil sedikit menjauhkan telpon itu dan menutup speakernya.
"Enggak apa-apa, silahkan..." Sahut Irwan pelan, diikuti gerakan tangan untuk memastikan maksudnya pada Rara, tanpa bermaksud menunjukkan kehadirannya pada si penelepon.
Rara mengangguk sebagai ucapan terima kasih atas pengertian Irwan.
"Ada apa, tuan?" Tanya Rara kembali pada Danu di sebrang telpon.
"Gimana keadaan kamu? Kamu sehat-sehat saja kan?" Tanya Danu dengan nada yang terdengar khawatir.
"Oh...saya enggak apa-apa kok, tuan..."
"Oh... syukurlah. Aku tadi kaget banget lihat muka kamu pucet gitu... Beneran kamu enggak apa-apa?" Danu seakan belum percaya kalau Rara memang tidak apa-apa.
"Benar, tuan. Saya baik-baik saja..." Rara berusaha meyakinkan. Dan kamu tahu... Hatinya senang sekali mendapat perhatian begitu besar dari Danu.
"Alhamdulillah... Tadinya aku mau ngajak kamu buat makan malam... aku janji mau ngajak kamu makan malam kan?" Kata Danu.
Seketika pipi Rara menghangat.
Yeay...! Danu mengajaknya makan malam!
Ingin rasanya dia bersorak gembira, Untung dia segera sadar diri. Apalagi waktu matanya kembali menatap keberadaan Irwan didepannya.
"Wah benarkah? ...Eh, ehem... makasih banyak tuan..." Ucap Rara berusaha mengendalikan diri.
Untung saja mereka berbicara lewat telpon, hingga Danu tidak bisa melihat ekspresi kegembiraan di wajah Rara.
Saking senengnya Rara mendengar berita itu, sampai enggak sadar kalau Irwan masih terus memperhatikannya.
Walaupun tidak dengan menatapnya secara langsung. Irwan bisa tahu kalau Rara sedang senang, hanya saja dia tidak tahu, apa yang telah membuat Rara senang.
__ADS_1
"Ya... dari kemarin aku mau bilang itu sama kamu. Tapi kemarin kamu enggak pulang..."
Lanjut Danu pada Rara.
"Iya, tuan... saya kemarin pulang kerumah bapak..." Ucap Rara memberi tahu.
"Oh, iya... bagaimana kabar bapakmu?" Tanya Danu penuh perhatian.
"Bapak baik..."
"Syukurlah... ibu dan adik kamu?"
"Mereka juga baik tuan..." Jawab Rara.
Mendengar pertanyaan Danu serupa itu untuk Rara terdengar menyenangkan. Seakan Danu memang benar-benar perhatian padanya. Padahal secara logika, pertanyaan serupa itu sangatlah umum dan wajar diajukan untuk orang yang memang sudah saling mengenal begitu lama.
"Alhamdulillah, syukur kalau begitu.... Lalu, bagaimana dengan rencana makan malamnya? Apa kamu akan pulang malam ini?" Tanya Danu kembali pada masalah awal.
"Eung... Enggak tuan... malam ini saya masih ke rumah bapak ..."
"Ya... Kalau begitu, bagaimana kalau besok malam? Bisa?" Tanya Danu.
"Eung... besok saya enggak ada rencana apa-apa sih, tuan...." Jawab Rara.
"Ya sudah... besok saja kita makan malam..." Ucap Danu memutuskan.
"Sama-sama... sampai besok ya... "
"Iya, tuan..."
"Wassalam mualaikum"
"Waalaikum salam..."
Sambungan telpon terputus.
Tanpa sadar Rara menatap ponselnya dengan wajah penuh berbunga. Lupa kalau ada orang di depannya tengah memperhatikan setiap perubahan ekspresinya.
"Ehem..." Dehem Irwan mengkode Rara untuk kembali menapak di bumi. Seketika Rara tersadar. Wajahnya memerah, perasaannya campur aduk. Ada malu, berbunga juga rasa bersalah jadi satu.
"Oh... maaf..." Rara bingung untuk berkomentar.
"Enggak apa-apa... Kelihatannya seneng banget..." Kata Irwan seakan menggoda.
Dia berusaha terlihat "no problem" dengan sikap Rara saat bertelpon barusan. Tapi sebenarnya dia berusaha menyembunyikan rasa cemburu yang datang begitu saja dalam hatinya.
It's not jealousy... It's too early
__ADS_1
Sangkal hati Irwan. Tapi itu hanya sangkalan. Buktinya hatinya berdenyut tidak nyaman setiap mengingat ekspresi wajah Rara yang sumringah saat menerima telpon tadi.
"He he he... maaf. Eung... Gimana jadinya tadi?" Rara memilih untuk mengganti bahan pembicaraan, tapi dia mengajukan pertanyaaan yang salah. Karena Irwan justru mengembalikan pertanyaan itu kembali padanya.
"Ya... Rara sendiri gimana maunya?" Katanya.
Sesaat Rara terdiam.
"Maafkan aku Mas... sejujurnya aku enggak tahu musti gimana..." Ucap Rara jujur. Irwan tersenyum tipis.
"Mas kan sudah bilang, kalau mau, Rara bisa kok bilang enggak...." Kata Irwan dengan nada senormal mungkin. Nyatanya, kini egonya mulai tersentil.... Ada rasa enggak rela jika dia ditolak begitu saja oleh Rara. Apalagi kalau dia mengingat kembali ekspresi Rara saat menerima telepon tadi. Siapa orang itu? Kenapa Rara sepertinya bahagia sekali saat menerima telepon darinya.
"Ra... bukan mas mau mendesak... Tapi apa yang membuat Rara ragu? Apakah Rara ragu pada mas, atau apa? ....Atau mungkin, Rara sudah punya pilihan hati sendiri?" Tembak Irwan tiba-tiba. Rara terhenyak dan terdiam.
"Apakah tebakan mas ini benar?"
Pilihan hati IYA... Tapi aku sadar itu enggak mungkin...
Rara menggigit-gigit bibirnya sendiri. Haruskah dia jujur pada Irwan? Tapi kalau sampai bapak dan ibu tahu, gimana? Rara sungguh enggak mau membuat orang tuanya kecewa, apalagi merasa malu kalau sampai tahu anaknya mengharapkan anak juragan mereka.
Rara tahu, bagaimana orang tuanya menempatkan diri mereka terhadap keluarga Darmawan. Layaknya dalam suatu kerajaan, orang tuanya adalah hamba, sementara Tuan Darmawan adalah Rajanya. Paham SENDIKO DAWUH sungguh-sungguh diterapkan oleh orang tua Rara. Maksudnya adalah totalitas dalam mengabdi.
Makanya, jangankan membayangkan untuk berbesan. Berani mengangkat wajah saat membawakan minuman saja, sudah dianggap ngelunjak bagi mereka.
Lalu, apa kabar dengan hati yang terlanjur mencinta ini? Rara sudah bisa memastikan, Kalau sampai orang tuanya tahu, mereka pasti akan memaksanya untuk memutus harapannya itu. Bisa-bisa dirinya malah dilempar dari lingkungan keluarga, kalau sampai dia bersikeras mempertahankan mimpinya.
Lalu... kalau sudah tahu akan demikian jadinya, untuk apa dia membocorkan rahasia hatinya ini? Malah nambah masalah saja kan. Apalagi jika mempertimbangkan, kalau sesungguhnya, jika mereka bisa berbesan dengan keluarga Irwan, hal itu juga bisa berarti naik derajat untuk keluarga Rara.
Minimal, keluarganya kelak bisa terbebas dari bayang-bayang "Dinasti" Darmawan. Keturunannya juga bisa hidup bebas dari "gelar" pelayan yang selama ini disandang turun temurun.
Rara menghela nafas panjang, sebelum akhirnya dia bicara.
"Emmm gini mas... Sebelumnya aku minta maaf. Bukan aku mau menolak... tapi, aku masih punya satu masalah yang belum selesai. Jadi sekarang intinya, semua aku kembalikan lagi pada mas Irwan. Kalau mas Irwan mau kasih aku waktu untuk menyelesaikan masalahku, aku terima lamaran mas Irwan. Tapi kalau enggak... maaf. Aku enggak bisa melangkah selama masalahku ini masih membelit kakiku..."
"Asal kita konsekwen dalam komitmen ini, enggak masalah..." Sahut Irwan. Membuat Rara lagi-lagi terlibas rasa bersalah karena sudah "memanfaatkan" ketertarikan Irwan padanya.
...🏵bersambung 🏵...
Dear My all reader.
Makasih banyak masih mau membaca tulisan ini. Semoga semuanya sehat terus ya...
Boleh minta like komen n favoritnya dong. Supaya authornya tahu, kalau kalian sudah mampir di sini.
Tengkyu... Tengkyu... Tengkyu...
...☘☘☘...
__ADS_1