
"Eeeyalah... ini toh, anak e sampeyan, kang. kok bisa barengan dengan anakku ini?" Tanya Suminto.
"La yo embuh, kok iso... kamu ini gimana to, Le... enggak pernah njenguk orang tua, sekalinya ketemu kok ya, dirumah perawan..." Sahut Rusdi antara bingung dan geli.
(La yo embuh, kok iso\= Ya enggak tahu, kok bisa...)
Jangan ditanya lagi ekspresi Irwan. Dia sungguh malu, juga serba salah jadinya mendengar teguran bapaknya. Tanpa sadar dia mengusap tengkuknya, salah tingkah.
"Kebetulan ini, Pak..." Sahut Irwan.
"Ayok, Le... duduk dulu..." Ibu mempersilahkan.
"Inggih, bu terima kasih..." Sahut Irwan sambil duduk di samping bapaknya.
"Ra... ambilkan gelas untuk mas e..." Perintah ibu pada Rara.
Rara melangkah untuk mengambil gelas di dapur, sementara telinganya masih dia pasang untuk mendengarkan obrolan bapak, ibu dengan tamu mereka.
Setahu dia bapak ini adalah ayahnya Mutia, teman sekampusnya. Rumahnya memang tidak terlalu jauh dari sini. Hanya selisih dua blok saja. Tapi selama berteman dengan Mutia, dia sama sekali enggak tahu, kalau dia punya kakak laki-laki.
"Lah, bapak ini kan bapaknya Mutia..." Kata Rara menyela karena enggak tahan penasaran, sambil menaruh gelas dan tatakannya diatas meja.
"Lah iyo, nduk. kamu sendiri kan ya sudah sering ke rumah sih..." Sahut Pak Rusdi.
"Jadi Mas Irwan dengan Mutia bersaudara dong?" Kata Rara lagi. Sementara tangannya sudah menuang air teh dalam teko besar yang memang sudah tersedia di sana.
"Ya iya... Irwan dan Mutia itu anakku, mereka kakak adik, tapi ya... memang beda ibu." Jelas Pak Rusdi sambil tertawa.
"Eeeyalah..." Gumam Rara dan Bu Suminto hampir bersamaan.
Irwan yang dibicarakan hanya mengangguk dan tersenyum saja.
"Monggo nak, diminum teh nya..." Ibu mempersilahkan.
"Inggih bu. Terima kasih..." Sahut Irwan.
"Ini baru ada acara apa, sih bu... kok bikin teh banyak, terus ini seperti baru ada banyak tamu...?" Tanya Rara, sambil menatap sekitar ruang tamu yang masih menyisakan beberapa gelas dan piring kosong. juga beberapa remah kue yang sepertinya belum sempat dibersihkan.
__ADS_1
"Barusan ada rapat kecil untuk panitia acara Rajaban nanti..." Sahut ibu.
Rara akhirnya ber Ooo ria tanpa suara. Perhatiannya kembali pada obrolan bapaknya dan Pak Rusdi yang masih berlanjut.
"Irwan ini memang sejak SMA sudah ngekost sendiri, terus kuliah... Sekarang dia malah menempati rumah yang diwarisi dari ibunya dan bikin restorant sendiri di sana. Jadi ya... jarang-jarang kami bisa bertemu.." Ucap Pak Rusdi menerangkan.
"Di sana tinggal dengan siapa, Le?" Tanya ibu.
"Sendirian, bu." Jawab Irwan sambil tersenyum jengah.
"Sendiri?" Ulang ibu.
"Ya... enggak benar-benar sendiri juga sih... Rumah itu menyatu dengan restorant, jadi ya banyak para karyawan yang menemani." Jawab Irwan.
"Karyawannya pada nginep di sana?" Tanya ibu lagi.
"Ya enggak. Restorant buka dari jam sembilan sampai jam sepuluh malam, kalau weekend sampai jam dua belas. Nah, kalau sepanjang waktu itu ya... temannya banyak..." Jelas Irwan.
"Ooo..."
(Le, ta' golekno konco gelem a \= Nak, dicarikan teman mau, kah?)
"Maksudnya?" Irwan balik bertanya.
"Ya.... nek kamu mau. Bapak lamarkan nak Rara ini untuk kamu... Dek Minto, gimana... Boleh enggak anakmu ta minta untuk jadi pasangan anakku?" Tanya Pak Rusdi langsung beralih pada Pak Suminto.
"Heh?!" Irwan dan Rara sampai shock mendengarnya.
Pak Suminto sendiri malah tertawa menerima permintaan Pak Rusdi.
"Kalau aku seneng-seneng wae besanan dengan njenengan, Kang. Yo opo, Ra?" Sahut Pak Suminto.
Rara menatap ayahnya dengan kening berkerut. Walaupun ada pertanyaan Yo opo Ra, yang artinya Gimana, Ra? Tapi Rara tidak yakin kalau itu murni kalimat tanya. Nada yang digunakan bapak untuk bertanya lebih cenderung seperti kalimat konfirmasi gitu.
"Bapak-bapak ini ngomongin apa sih...?" Rara jadi bingung mau menjawabnya. Emang ini serius?
"Wan... Yo opo?" Pak Rusdi balik bertanya pada Irwan.
__ADS_1
Sekarang Irwan yang kelimpungan. Sejujurnya, dari semalam memang otaknya cuma dipenuhi dengan Rara. Sampai- sampai hari ini dia seharian nongkrong di kampus yang sudah bertahun-tahun memberinya gelar almamater, ya cuma untuk melihat Rara. Tapi kalau ditembak langsung untuk melamar, dia sama sekali enggak terpikir sampai sana.
"Loh, yo opo sih arek iki... Jadi anak laki-laki harus tegas. Ini bapak sudah bukakan jalan... Anak gadis orang jangan buat mainan. Kalau suka langsung lamar aja..." Ucap Pak Rusdi dengan nada guyon tapi penuh ketegasan.
Irwan menatap Rara yang kebetulan juga sedang menatapnya.
Rara menatap Irwan bukan ada maksud apa-apa, dia sedang membaca situasi, obrolan ini serius atau cuma bercandaan orang-orang tua? Karena sudah sering juga orang-orang tua, teman bapak dan ibunya itu bilang "Pak Minto, anakmu ta pek mantu yo..." Tapi itu semua cuma bercandaan. Rara tahu dari gaya obrolan mereka, dan tidak pernah ambil pusing karenanya. Tapi yang sekarang ini, Rara merasakan keseriusan dari obrolan ini.
"Iya, Pak ... dek Rara... Saya suka dengan dek Rara... Kalau dek Rara tidak keberatan, mau kah dek Rara menikah dengan saya... Jadi istri saya?" Ucap Irwan tegas sambil terus menatap Rara. Entah keberanian itu datangnya dari mana. Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya.
Ealah, dek. Orang ini sudah mengganti panggilannya padaku dengan dek?!
Rara shock, dia terdiam. Sementara yang lain juga terdiam menunggu jawaban Rara. Rara mengedarkan pandangan, menatap orang-orang yang ada di depannya kini bergantian.
Sejujurnya, di dalam hati Rara sudah dipenuhi dengan nama Danu. Tapi dia sendiri tahu, kalau posisi Danu dan dirinya cuma sebagai seorang pelayan dan majikannya, bisa dianggap teman oleh Danu saja sudah Alhamdulillah. Tapi untuk sampai ke jenjang pernikahan itu sama sekali enggak mungkin. Dan Rara enggak berani bermimpi sampai kesana.
Sekarang, Irwan melamarnya. Sudah jelas kalau hatinya tidak bisa menerima semudah itu. Tapi kini ada dua orang tua yang juga harus dia pertimbangkan hatinya. Bapak dan ibu, juga Pak Rusdi sedang menunggu jawabannya. Mereka semua seakan berharap akan kelanjutan hubungan diantara kedua anak mereka.
"Nduk, kok diam saja? Rara mau enggak, menikah dengan nak Irwan? Kalau ayah dan ibu tentu merestui. Tapi semua keputusan ada ditanganmu..." Ucap ibu lembut, sambil membelai rambut Rara.
Diperlakukan demikian, Rara merasa lemah, dia jadi takut untuk membuat hati ibunya kecewa. Ya, bagaimana enggak akan kecewa, kalau anak perempuannya terus berharap pada seorang laki-laki yang jelas-jelas enggak ada harapan untuk bersanding.
"Pak... bu... sebentar - sebentar... Ini kenapa kok jadi acara lamaran sih?" Rara masih mencoba untuk menghindar.
"Loh, namanya jodoh, Ra. Bisa datang dari mana saja dan kapan saja." Ucap bapak Suminto. "Nak Irwan ini, walaupun bapak baru kenal, tapi bapak kenal ayahnya. Bapak percaya, Pak Rusdi sudah mendidik anaknya dengan baik...." Lanjut pak Suminto.
"Insya Allah, saya sudah mendidik anak saya dengan sebaik-baiknya. Masalah sifat dan sikap, bapak ini garansinya, Kalau anak ini macam-macam, nak Rara boleh komplain sama bapak. Kalau masalah penghasilan, selain punya restoran itu tadi, dia juga sebenarnya juga punya pekerjaan lain. Dia bekerja di perusahaan disain grafis... Anak saya ini seorang arsitek..." Kata Pak Rusdi seakan berpromosi.
Irwan yang menjadi bahan promosi sampai tersipu mendengarnya.
"Tuh, Ra... kamu sudah mau diajak jalan sama nak Irwan itu tadi... berarti kamu ada hati kan sama dia... Bapaknya malah sudah mau jadi garansinya... kurang apa lagi?" Tanya ibu pelan pada Rara.
Lah?! Aku jalan sama dia tadi kan karena emang dia yang ngajak ketemuan?
"Kamu ini beruntung loh, dilamar pemuda sebaik ini... Tinggal bilang 'iya' atau 'enggak' gitu saja wes, Ra..." Tegur bapak yang sepertinya sudah tidak sabar mendengar jawaban Rara.
...🌹🌞Bersambung🌞🌹...
__ADS_1