
"Ya sudah... Kalau begitu sampai nanti malam..." Ucap Danu.
"Iya Tuan, sampai nanti malam... Terima kasih."
Sambungan telpon sudah terputus. Mutia memperhatikan Rara yang ekspresi wajahnya seketika sumringah. Lupa sudah dia, dengan masalah tugas yang ada di depan matanya sekarang.
"Ehem..." Dehem Mutia. Menarik Rara dari dunia khayalnya.
Seperti adegan slow motion, perlahan Rara menyadari keberadaan Mutia di depannya. Mutia menatap tajam pada Rara. Kening Rara berkerut.
OH MY GOD .... Aku sudah melakukan kesalahan...!
"Ehem..." Tanpa sadar Rara ikutan berdehem karena tidak tahu apa yang harus dia katakan.
Stupid Rara...
Rara memaki dirinya sendiri. Bagaimana bisa, dia enjoy-nya mengatur waktu ngedate dengan orang lain, sementara sang calon adik ipar ada di depannya?
"Danu...?" Tebak Mutia dengan keyakinan penuh. Ya... siapa lagi orangnya yang dipanggil "tuan" oleh Rara dengan penuh semangat seperti itu.
"Hem." Sahut Rara jujur. Ya... enggak ada gunanya juga dia berbohong.
"So...? Kamu mau nge date dengan Danu?" Kali ini Mutia memastikan dugaannya.
"Bukannya nge-date..."
Walaupun Rara akan dengan senang hati menyebut acara nanti malam itu sebagai sebuah "DATE" tapi masa iya harus ngaku kayak gitu sama Mutia?
"Kalau bukan nge-date, terus apa namanya?" Tanya Mutia.
"Eung... Itu ... kan gini... Tuan Danu pernah janji sama aku, kalau dia mau traktir makan malam ... untuk upah aku udah bantuin dia ngerjain tugasnya..." Kata Rara cepat-cepat menambahkan kalimat terakhirnya, sebelum Mutia menjadi salah paham.
"Hem... Jadi ini ceritanya acara pembayaran hutang, gitu?"
"Yaaa seperti itulah ...." Sahut Rara agak bingung sendiri.
"Kenapa harus makan malam? ... Kenapa juga harus malam minggu?"
"Nah... Kalau itu, aku enggak ngerti..." Jawab Rara. "Ya... mungkin cuma kebetulan aja kali... Kan kalau bukan malam minggu dia-nya sibuk..." Rara mencoba mencari alasan.
"Gitu...?" Mutia masih terlihat tidak yakin. Rara cuma bisa menggedikkan bahunya, berlagak menyerahkan penilaian Mutia semaunya, padahal sih, dia memang enggak tahu lagi mau ngomong apa.
"Tapi kamu enggak ada maksud selingkuh kan?"
"NO... sama sekali enggak lah... Tia, kamu kenal aku kan... masa cewek baik-baik kayak aku selingkuh sih..." Ucap Rara setengah bercanda.
Mutia mencibir.
"Kalau aku enggak kenal kamu, mana mungkin aku biarin kakakku ngelamar kamu..." Jawab Mutia.
Kini senyum jahilnya sudah tersemat dibibirnya.
"Nah, gitu..." Ucap Rara sambil menjentikkan jarinya. "Kamu kenal aku kan..." Ulangnya.
Mereka tertawa. Sementara di lubuk hati Rara, tidak bisa disangkal... muncul rasa bersalah... Yups, kini dia merasa bersalah pada Irwan.
Benarkah dia sudah selingkuh?
Karena merasa takut dituduh selingkuh, akhirnya Rara memutuskan untuk menelpon Irwan dan mengatakan rencananya itu pada sang calon suami.
Ya... Kalau ngomong dulu kan jatuhnya bukan selingkuh. Walaupun tidak merubah artiya, kalau dia memang berkencan dengan orang lain dan bukan dengan calon suaminya. Ya... minimal jadinya selingkuh yang dapet izinlah... eh???🤭😅
"Hallo... mas, assalam malaikum..." Salam Rara, sambil menahan debaran jantungnya.
Sungguh, rasanya deg-degan banget, belum apa-apa dia sudah merasa bersalah begini.
__ADS_1
"Ya... waalaikum salam...." Terdengar sahutan Irwan dari seberang sana.
"Mas... sekarang sedang sibuk kah?" Tanya Rara berbasa-basi.
Dia enggak tahu, apakah sekarang Irwan sedang melakukan pekerjaanya sebagai seorang arsitek atau sebagai pemilik restaurant, dua-duanya mempunyai jam kerja yang tidak pasti.
"Enggak terlalu... ada apa?" Tanya Irwan.
"Eung... Rara mau minta izin... nanti malam Rara ada janji makan malam sama seseorang..." Jawab Rara.
"Iya? Siapa?" Tanya Irwan.
Kalau saja Rara bisa melihat ekspresi wakah Irwan, dia bisa melihat kalau kedua alis Irwan hampir bertemu saat menanyakan hal itu.
"Eung..." Rara sedikit ragu utuk menyebutkan namanya.
"Apakah dia itu masalah yang masih belum selesai itu?" Tebak Irwan.
"Hem." Gumam Rara mengiyakan.
"Oww..." Sesaat Irwan bingung mau komentar apa.
Dan kalau mau jujur, bukan cuma Rara yang masih punya masalah yang belum selesai. Dirinya juga, kan? Tapi kelebihannya, Irwan enggak cerita kalau dia punya masalah sama Rara, jadi kesannya cuma Rara yang "bermasalah" sementara dirinya mendapat peran sebagai seorang yang "bijaksana" yang paham akan kesulitan pasangannya....
Dalam hal ini Irwan curang enggak sih?
Sejujurnya ada rasa bersalah juga dalam hati Irwan, tapi untuk bercerita, dia merasa berat banget, karena menurutnya, masalahnya itu menyangkut nama baik keluarganya...
Tapi terlepas dari masalah hati yang belum konek 100 % dengan Rara, tidak bisa dipungkiri, ada ego yang terusik, saat mengetahui kalau Rara mau jalan dengan orang lain.
"Well... baiklah... Apa aku boleh cemburu?" Tanya Irwan sambil tertawa kering.
"Rara enggak bisa mencegah mas Irwan buat cemburu, tapi yang pasti. Ini akan jadi acara jalan kami yang terakhir. Mas Irwan boleh percaya atau enggak." Jawab Rara berusaha meyakinkan. Enggak pasti, meyakinkan Irwan atau dirinya sendiri sebenarnya.
"Ya... okeylah... Mas cemburu, tapi mas relakan lah... asal cerita diantara kalian segera selesai..." Ucap Irwan akhirnya.
"Rara usahakan, mas.... makasih ya..." Ucap Rara kemudian.
__ADS_1
"Untuk apa?" Tanya Irwan.
"Untuk kepercayaan mas Irwan sama Rara..."
"Oh... okey...mas percayakan hati mas sama Rara... Tolong dijaga, ya."
"Insya Allah... Makasih mas.... wassalammualaikum..."
"Waalaikum salam..."
Sekilas perakapan itu mengalir begitu ringan, tapi jangan ditanya perasaan keduanya. Mereka sama-sama dilanda kebingungan dengan hati mereka masing-masing.
Rara menatap berkeliling jalanan yang mereka lalui. Pikirannya mulai ngelantur enggak karuan sementara hatinya mendadak merasa enggak enak.
"Kita mau makan malam di mana, tuan?" Rara memberanikan diri untuk bertanya.
Dia tahu, ada banyak restauran di daerah itu, tapi feelingnya mengatakan, kalau kemungkinan besar, mereka akan makan malam di restaurant milik Irwan.
"Di restaurant yang dulu kita pernah ke sana..." Sahut Danu membuat jantung Rara seperti berhenti berdetak untuk beberapa detik.
Bagaimana bisa, dari sekian banyak restaurant di kota ini, kenapa harus restaurant nya Irwan yang Danu pilih? Apa karena Danu mempunyai saham di sana, hingga ada unsur bisnis yang mempengaruhi pilihannya? Hadeuh.... apapun itu, pilihan Danu membuat Rara seketika merasa enggak nyaman.
Ini aku musti gimana?
Pantes enggak sih kalau Rara nolak untuk dinner di sana? Tapi kok rasanya enggak sopan banget. Ini bukan acara nge-date seperti nge-datenya orang pacaran, tapi ini nge-date orang yang bayar hutang... lebih parahnya lagi, ini acara nge-date seorang majikan dengan pelayannya. Mana bisa sang pelayan yang ngatur... mau makan di sana , enggak mau makan di sini...
Sementara Rara bingung sendiri, tanpa terasa mobil yang dibawa Danu sudah mencapai pelataran parkir restaurant Irwan.
"Ayuk." Ajak Danu.
Sejenak Rara geragapan, dia kaget sendiri waktu sadar, kalau ternyata mereka sudah sampai di tujuan.
Danu sudah melepas seatbelt-nya, dan dia sudah membuka pintu di sampingnya. Rara segera ikutan membuka seatbeltnya sendiri dan ikutan membuka pintu. Tapi untuk turun, dia melakukannya dengan perlahan.
Matanya sekilas beredar, memindai situasi.
Kira-kira dia ada di sini enggak ya?
Danu melangkah ke arah pintu di samping Rara. Otomatis Rara bergegas turun. Rara sedikit menepi, saat Danu menutup pintu itu untuknya.
"Kemarin kelihatannya kamu seneng banget di ajak makan di sini, makanya sekarang aku ajak makan di sini lagi..." Ucap Danu. "Enggak apa-apa, kan?" Tanya Danu sambil menatap Rara yang masih berdiri di samping mobil dan mengedarkan pandangannya ke seputaran area restauran itu.
"Euh? Iya... enggak apa-apa, tuan..." Jawab Rara, enggak punya jawaban lain.
Ya, kalau waktu itu sih, emang dia enjoy banget makan di sini... tapi itu waktu belum kenal sama yang punya, kalau sekarang? Ini mah sama aja dengan pamer barang curian sama yang punya... eh, contohnya enggak nyambung ya? Ah, pokoknya gitu deh.. Rara sendiri sampai bingung kok. Lanjut...? Enggak...?
"Masuk yuk." Ajak Danu. Rara mengangguk. Tapi sungguh, feeling dia enggak enak banget.
Sekali lagi dia mengedarkan pandangannya. Kali ini sampai ke bagian atas restoran. Dari tempat parkir ini bisa terlihat ada area outdoor yang ada di lantai atas.
Nah... kan, bener....
Walaupun disana enggak terang benderang seperti area parkir ini, tapi Rara bisa yakin kalau laki-laki yang sedang berdiri sambil bersandar kepagar besi itu adalah Irwan. Dia sudah melihat kedatangannya...
*mam*pus aku*...
...🏵bersambung 🏵...
Dear My all reader.
Makasih banyak masih mau membaca tulisan ini. Semoga semuanya sehat terus ya...
Boleh minta like komen n favoritnya dong. Supaya authornya tahu, kalau kalian sudah mampir di sini.
__ADS_1
Tengkyu... Tengkyu... Tengkyu...
...☘☘☘...