
"Tidak semua pernikahan yang sukses itu berawal dari saling mencintai, Ra. Contohnya orang tuamu ini...
Jangan ditanya bagaimana kalau ibu dikasih kesempatan untuk memilih ulang, apakah ibu akan tetap memilih bapakmu untuk menjadi pendamping ibu. Karena ibu enggak tahu jawabannya.
Yang pasti sekarang... Sudah terbukti nyata, bapakmu yang sudah mendampingi ibu sekian tahun... sudah memberikan ibu kebahagiaan-kebahagian yang walaupun enggak berlimpah karena keadaan kami memang begini... tapi setidaknya bapakmu selalu berusaha agar ibu tidak menderita sedikitpun... "
Terlihat pandangan ibu berkaca-kaca saat bercerita. Seketika Rara tahu, bagaimanapun jiwa bapak dan ibunya sudah menyatu.
"Bu... Kalau Rara merasa ragu sekarang gimana...?" Tanya Rara hati-hati. Dia sama sekali tidak ingin membuat ibunya merasa kalau dia menyesal telah menerima lamaran Irwan. Ya... menyesal sih enggak, tapi untuk menerima sepenuhnya juga dia belum bisa.
Ibu menghela nafas. Kembali dia mengelus-elus punggung Rara penuh sayang.
"Ibu paham... ibu mengerti kalau sekarang kamu masih merasa ragu untuk menerima Irwan sebagai suamimu. Memang tidak bisa dengan begitu saja kamu bisa menyukai... atau bahkan mencintai seseorang. Berdo'a lah, semoga Allah memberikan ketetapan hati, supaya kamu bisa melangkah ketahap penikahan dengan lebih yakin."
"Adakah do'a supaya keraguan ini hilang dari dalam hati Rara?" Tanya Rara iseng.
Sungguh dia bertanya itu karena memang iseng. Dia benar-benar tidak tahu apa yang akan dia minta dalam do'anya. Apakah dia akan memohon keajaiban, supaya Danu tiba-tiba mencintai dan melamarnya? Atau berdo'a supaya dirinya bisa melupakan Danu? Atau malah berdo'a, supaya dia bisa mencintai Irwan? Ketiganya saat ini terlihat tidak mungkin.
"Ibu ingat, bu Nyai pernah bilang di salah satu pengajian, kalau salah satu amalan yang bisa membantu kita menghilangkan keraguan itu dengan cara membaca surat Al Falaq sama surat Annas sebelum kita tidur.
Sebenarnya bukan hanya masalah keraguan sih... tapi karena kamu masalahnya sekarang soal keraguan, ya... ibu rasa surat ini bisa juga membantumu.
Katanya kedua surat ini termasuk surat utama untuk memohon perlindungan dari Allah. Denger nih...
qul a'ụżu birabbin-nās
malikin-nās
ilāhin-nās
min syarril-waswāsil-khannās
allażī yuwaswisu fī ṣudụrin-nās
minal-jinnati wan-nās
Nah, udah jelas kan? Kita berlindung kepada Tuhan Manusia ... Raja manusia... Sesembahannya manusia, dari apa? Dari kejahatan bisikan setan yang bersembunyi. Setan yang membisikan kejahatan ke dalam dada manusia, dari golongan jin dan manusia.
Kata bu Nyai, keragu-raguan itu adalah salah satu upaya setan dalam mengganggu manusia, mereka berusaha membuat goyah keyakinan dan keimanan seseorang. Karena keragu-raguannya, manusia memilih untuk melakukan kesalahan.
Karena itu, bacalah surat-surat itu sebelum kamu tidur. Insya Allah kamu akan dilindungi dari gangguan setan dari segala macam keraguan... kekhawatiran... kegelisahan..."
Rara mengangguk-angguk mendengar uraian ibu. Walaupun uraian ibu terdengar sangat "awam", tapi Rara tahu, kalau yang disampaikan ibu itu memang benar adanya.
Ya... walaupun dirinya bukan anak pondokan, tapi ilmu itu pernah dia dapatkan, hanya saja memang belum pernah dia amalkan dengan sebenarnya.
Mungkin sekarang waktunya aku mengamalkan ilmu ini... Entah bagaimana jadinya nanti, biar Gusti Alloh yang memutuskan...
"Sudah... sekarang sudah larut malam. Tidurlah. Besok kamu kuliah?" Ucap Ibu kemudian mengurai pelukan mereka. Rara mengangguk.
"Tidurlah... Jangan lupa baca do'a." Kata ibu lagi sambil membenahi selimut Rara. Rara teringat, kalau ibu selalu melakukan hal ini padanya, membenahi selimutnya setiap kali dia tidur di rumah. Tentu bukan hanya pada Rara, tapi pada Irma juga.
"Terima kasih, bu." Ucap Rara saat ibu membelai keningnya sesaat sebelum pergi keluar kamar. Ibu tidak menjawab, tapi beliau tersenyum yang seketika membuat hati Rara hangat.
__ADS_1
"Tidurlah..."
Hari ini hari Sabtu. Waktunya weekend kalau orang lain bilang. Tapi enggak buat Rara dan beberapa orang temannya, karena hari ini ada mata kuliah Pak Dibyo.
Kadang Rara agak senewen juga dengan pengaturan jadwal mata kuliah Pak Dibyo ini. Masa kemarin sore dia yang pegang, besoknya, pagi-pagi, dia lagi yang pegang.
Nah, kalau jam pelajarannya berdekatan gitu, biasanya apa yang kemarin jadi topik (masalah), otomatis besoknya pasti berlanjut. Seperti dapet SKS dobel gitu.
Nah, kalau kemarin sore dia enggak masuk, besoknya pasti dia kena "karma". Karena dia otomatis enggak bakal nyambung dengan materi yang dibahas kemarin. Tapi kalau dia mau enggak masuk sekalian, bisa tambah gawat lagi kan?
Dan... disinilah dia akhirnya, duduk menghadapi text book yang susah payah dia cerna sendiri, karena pembahasannya kemarin, tapi diberikan tugasnya hari ini...
"Gimana? Udah paham?" Tanya Mutia sambil ikutan duduk di sebelah Rara. Rara cuma menoleh sekilas lalu kembali memelototi buku yang tak berdaya itu.
"Lumayan banyak atau lumayan sedikit?" Tanyanya lagi sambil tertawa.
"Ya... Ya lumayan sedikit." Jawab Rara sambil ikutan tertawa.
"Hei, Katanya kamu kemarin ikutan bolos pelajaran Pak Dibyo?" Tanya Mutia.
"He'em" Gumam Rara menjawab pertanyaan Mutia.
Mutia hendak bertanya lagi, tapi tiba-tiba terdengar ringtone dari ponsel Rara berdering. Rara meraih ponsel dari dalam tasnya. Ada nama Danu terpampang disana. Mutia memancingkan mata memperhatikan tindakan Rara. Rara memberi tanda agar Mutia tidak bersuara.
"Halo, assalamualaikum." salam Rara
"Hai, waalaikum salam." Sahut Danu. "Kamu ada dimana sekarang?" Tanya Danu basa-basi.
__ADS_1
"Eung, saya masih di kampus tuan. Ada apa, ya?" Rara balas bertanya.
"Enggak... Aku cuma mau memastikan. Nanti malam jadi, kan?" Tanya Danu, membuat Rara seketika teringat akan janji kencannya dengan Danu. (Boleh ya, ini disebut kencan? please...)😅
"Oh, iya." Jawab Rara seketika dengan antusiasnya. Walaupun tidak berhadapan dengan orangnya, Danu seperti melihat mata Rara yang berbinar hanya dengan mendengar nada suaranya saat menjawab.
"Ya sudah... Kalau begitu sampai nanti malam..." Ucap Danu.
"Iya Tuan, sampai nanti malam... Terima kasih."
Sambungan telpon sudah terputus. Mutia memperhatikan Rara yang ekspresi wajahnya seketika sumringah. Lupa sudah dia dengan masalah tugas yang ada di depan matanya sekarang.
"Ehem..." Dehem Mutia. Menarik Rara dari dunia khayalnya. Seperti adegan slow motion, perlahan Rara menyadari keberadaan Mutia di depannya. Mutia menatap tajam pada Rara. Kening Rara berkerut.
***OH MY GOD .... Aku sudah melakukan kesalahan***...!
...🏵bersambung 🏵...
Catatan:
Surah al-Falaq dan an-Nās disebut juga dengan Sūrah al-Mu'awwidzatain yang berarti dua sūrah yang melindungi.
Al Mu'awwidzatain sendiri diambil dari awalan kedua surah yang sama-sama menggunakan kata A'uzu (aku berlindung).
Biasanya (Hendaknya), ketika manusia sedang dalam kondisi sakit atau sedang dalam bahaya, tentu dirinya akan senantiasa berdoa kepada Allah SWT supaya dirinya tetap dilindungi oleh-Nya.
Begitu kan, saudara-saudara? Kalau ada kurang/lebihnya ya mohon maaf... 🙏
...☘☘☘...
__ADS_1