
Pagi hari di kediaman Darmawan.
Rara sudah selesai bersih-bersih diri dan sholat. Dilihatnya jam di HP nya masih menunjukkan angka 05.05 pagi.
Dia juga mengecek jadwal kuliahnya. Dilihatnya kalau dia mulai ada kelas jam sembilan.
Masih ada waktu...
Pikirnya.
Setelah yakin kalau dia tidak ada tugas kuliah yang harus diselesaikannya pagi ini, Rara lalu pergi ke dapur.
Di dapur, kesibukan sudah berlangsung. Biasanya orang-orang dapur itu memulai pekerjaan mereka saat menjelang shubuh. Makanya, saat Rara sampai sana suasana disana sudah ramai.
"Morning... morning...!" Sapa Rara saat masuk.
"Hai, Ra..." Balas beberapa dari mereka. Sebagian lagi hanya menoleh saja mendengar sapaan Rara.
"Ra, duduk sini..." Seru Minah, salah satu crew tetap di dapur.
Rara mengangguk dan tersenyum. Dia lalu mendekat dan kemudian duduk di samping Minah yang sedang menyiangi sayuran bersama dua orang lainnya. Tuti dan Narsih.
"Enggak kuliah, Ra?" Tanya Tuti. Hampir bersamaan dengan itu Rara juga bertanya.
"Masak apa kita hari ini...?"
Spontan mereka tertawa, mentertawakan ketidak sengajaan yang sebenarnya enggak lucu juga.
"Aku masuk siang hari ini..." Jawab Rara. "Jadi, mau masak apa ini?" Rara mengulangi pertanyaan nya.
"Biasalah... sayur lodeh..." Kali ini Narsih yang menjawab.
Rara mengangguk menanggapinya. Sayur lodeh... Apapun isinya tetap saja namanya sayur lodeh. Lodeh kacang panjang... lodeh terong... lodeh labu siam... Semuanya lodeh. Hanya campurannya yang suka lain-lain.
__ADS_1
Sambil ikutan menyiangi sayuran, mata Rara beredar ke seputar ruangan.
Di dapur itu ada sekitar sembilan orang, dan mereka sedang dengan kesibukan masing-masing.
Selain kelompok kecilnya yang sedang menyiangi, Ada juga yang di depan tungku, sedang memasak nasi dengan dandang yang besar. Lalu ada yang sedang meracik bumbu, ada juga yang sedang memarut kelapa untuk diambil santan nya.
Rara paling malas kalau dapat tugas memarut. Tahu sendiri lah... memarut itu sangat berbahaya untuk keindahan jarinya, karena biasanya kalau dia memarut, setidaknya dua atau tiga kali kukunya tergesek paku-paku kecil nan tajam itu. Belum lagi kalau pas meleset dan mengenai jarinya. Wih kecil tapi pedih banget.
Sebenarnya nyonya sudah membelikan mereka parutan listrik. Tapi karena crew dapur itu orangnya banyak, ya... dari pada mereka enggak ada kerjaan, jadi mereka diperintahkan untuk memarut dengan manual. Begitu instruksi dari bu Surti. Kepala pelayan yang kini menjabat, menggantikan mbok Darmi
Sekedar info saja. Sepertinya nyonya enggak tahu soal ini, karena memang tidak ada yang berani melaporkan hal ini pada nyonya. Bukan, bukan karena tidak berani melawan Bu Surti, tapi lebih karena mereka tidak mau diberhentikan, karena majikan berpikir lebih banyak karyawan dari pada pekerjaan yang tersedia.
Sungguh, kalau ngomongin soal pegawai. Rasanya tidak ada orang yang punya karyawan lebih banyak di daerah ini selain tuan Darmawan.
Tuan Darmawan itu nerima orang kerja padanya bukan hanya mempertimbangkan skil mereka, bukan juga karena merasa perlu atau tidaknya tenaga mereka. Tapi lebih banyak karena merasa iba, jika ada orang yang tidak punya pekerjaan. Karena itu, jika ada referensi dari orang yang cukup bisa dipercaya, biasanya diterima saja orang yang mencari pekerjaan di rumah itu.
"Ya, selagi mereka rajin, mau ditempatkan dimana saja, dan mau terima gaji yang enggak bisa disebut besar, ya silahkan datang kemari..." Begitu jawaban nyonya jika ada seseorang datang memberi referensi untuk calon pegawai.
Ya, gaji atau upah yang diberikan di keluarga Darmawan memang relatif lebih kecil dibandingkan dengan upah di tempat lain. Tapi keluarga Darmawan menjamin semua kebutuhan primer pegawainya.
Rara tahu, adil yang dimaksud nyonya itu bukan adil yang berarti sama rata. Enggak.
Adil yang dimaksud nyonya itu adil sesuai dengan porsi kerjanya. Seorang sopir tentu gajinya tidak akan sama dengan seorang buruh bubut (tukang rumput) juga enggak akan sama dengan seorang kerani.
Rara pikir, gaji itu bukan segalanya untuk para pegawai tuan Darmawan. Buktinya, sebagian besar karyawan enggan pindah kerja ke tempat lain yang menawarkan gaji yang lebih besar. Kalaupun ada, beberapa dari karyawan yang keburu pindah itu, minta balik lagi ke rumah keluarga Darmawan.
Sebagian dari mereka bilang, kalau bekerja di keluarga Darmawan itu, seperti kerja di rumah sendiri. Enggak ada beban.
Satu hal lagi... Kalian pasti tidak menyangka, kalau jam makan pagi para pegawai tuan Darmawan itu selalu lebih awal dari jam makan pagi majikan mereka.
Kalau majikan mereka biasa sarapan jam setengah tujuh pagi. Para pegawai malah harus sudah selesai sarapan sebelum jam enam. Kenapa? Karena majikan mereka mau, para pekerja itu bekerja dalam keadaan perut sudah terisi.
"Bagaimana bisa bekerja dengan baik, kalau perut mereka lapar."
__ADS_1
Begitu kata majikan mereka.
Itulah salah satu alasan, kenapa pegawai bagian dapur selalu memulai pekerjaan mereka menjelang shubuh.
(Duh, kepanjangan ngelantur nya). Balik lagi ke dapur keluarga Darmawan pagi itu...
"Ra, bantuin menyisir gula merah ini." Perintah Mak Poni, sesepuh di antara crew dapur, yang menghampirinya dengan sebuah baskom stainless. Diatasnya terlihat keresek plastik berisi gula merah.
"Buat bikin apa ini, Mak?" Tanya Rara. Soalnya gula merah yang harus disisir itu jumlahnya banyak. Rasanya enggak mungkin kalau cuma untuk bumbu masakan.
"Untuk bikin bubur kacang hijau." Narsih yang menjawab.
"Buat...?" Rara belum paham.
"Acara posyandu nanti..."
"Ooohhh..."
Ini salah satu contoh lain kebaikan keluarga Darmawan. Mereka sangat mudah menyumbang bahan dan tenaga yang mereka punya untuk acara sosial.
"Ya... pegawai disini kan banyak, biar mereka membantu membuatkan makanan untuk anak-anak yang datang ke posyandu." Begitu kata nyonya.
Para kader merasa senang. Para chef merasa bangga... mereka tidak melihat, para pemarut kelapa meringis sambil meniupi jari mereka yang sudah ternoda merah... 🤭😅✌
...🍓bersambung🌶...
...Give ...
...me ...
...your ...
...LIKE ...
__ADS_1
...please.. 🙏...