
Rara melangkah di tempat angkot biasa ngetem.
Enggak tahu gimana, pas Rara sampai sana kok ya, kebetulan angkotnya baru saja pergi dalam keadaan penuh, sementara angkot lain malah enggak ada. Makanya dia harus menunggu beberapa saat untuk menunggu angkot berikutnya datang.
Ditunggu beberapa menit, angkot enggak juga datang. Yang datang kemudian malah sebuah mobil CRV putih yang rasanya sedikit familiar untuk Rara.
Mobil itu berhenti pas di depan Rara. Kening Rara berkerut.
Mobil siapa ya?
"Ra...!" Panggil orang yag di dalam mobil itu setelah jendela mobil bergerak turun. Rara lalu sedikit membungkuk untuk melihat siapa orang yang memanggilnya.
"Mas Irwan?" Ucap Rara agak kaget dan heran. "Kok, ada di sini?"
"Ayo masuk..." Ucap Irwan sambil membukakan pintu dari dalam.
"Mas Irwan dari mana?" Tanya Rara lagi. Dia benar-benar enggak menduga kalau akan bertemu Irwan saat itu... di tempat itu...
"Mas tadi dari rumah, mau ke rumah bapak. Sengaja lewat sini, mau ketemu dulu sama kamu." Jawab Irwan. "Ayo masuk... nanti dilihatin orang, kamu disangka diajak siapa lagi..." Ucap Irwan lagi saat Rara tidak juga langsung masuk setelah dia bukakan pintu.
Masih dengan penuh tanya di otaknya, Rara bergerak masuk. Dia duduk disamping Irwan masih tetap menatap Irwan bingung.
"Enggak usah ditatap berlama-lama gitu... Mas tahu kok, kalau mas ini ganteng." Tegur Irwan bercanda.
"Heleh..." Tanggap Rara sambil ngeleos membuang muka sambil tersenyum geli. Irwan tertawa.
"Habis... ngeliatinnya sampai segitunya... biasa aja kali... seorang laki-laki mau nemuin perempuan yang bakal jadi calon istrinya...."
"Emang sudah yakin bakal diterima gitu?" Tanya Rara setengah menggoda setengah meyakinkan. Enggak jelas siapa yang ingin diyakinkan. Entah Irwan ... entah dirinya sendiri...
"Ya karena itu... makanya mas mau ketemu dulu sama kamu... Kemarin malam kita enggak punya kesempatan untuk bicara berdua dengan lebih terbuka. Sekarang... setelah aku dan kamu cukup berpikir... mari kita putuskan apa yang bakal kita sampaikan pada para orang tua itu nanti..." Kata Irwan.
Dia menoleh sepintas kearah Rara untuk melihat reaksinya atas apa yang dia sampaikan. Dilihatnya Rara yang cuma diam menatap lurus ke depan.
"Kita bicara direstorant itu, enggak apa-apa?" Tanya Irwan sambil menatap kearah papan reklame yang terpancang di pinggir jalan yang mereka lalui. Rara mengikuti arah pandang Irwan dan mengangguk. Makanya, Irwan langsung mengarahkan mobilnya kesana.
Restorant itu letaknya tidak jauh dari tempat papan reklame tadi terpasang. Tempatnya juga lumayan nyaman untuk ngobrol. Enggak terlalu ramai, enggak juga terlalu sepi. Hingga jika berbicara dengan nada biasa saja bisa berbaur dengan keramaian yang ada. Jadi enggak berkesan terlalu serius rasanya.
__ADS_1
Irwan menarik kursi untuk duduk Rara, sebelum dirinya sendiri duduk di depannya. Saat ditawari menu makanan, Rara cuma pilih bruschetta dan minuman bersoda, sementara Irwan sendiri memesan secangkir cappucino untuk dirinya sendiri.
"Kamu suka menu western Ra...?" Tanya Irwan berbasa-basi, mengomentari jenis makanan yang Rara pesan. Irwan masih mencari celah untuk masuk ke pembicaraan inti mereka.
"Sukaaa... Tapi enggak banget sih. Cuma tergantung mood aja..." Jawab Rara ringan.
"Oh... Kalau suka, nanti mas cari koki bidang western food buat di restorant, biar kamu bisa makan makanan model begini setiap hari..." Ucap Irwan sambil tertawa kecil.
Rara menatap Irwan setengah melongo.
"Maksudnya?"
"Enggak ada maksud apa-apa... Ya... supaya kamu senang saja..." Sahut Irwan masih dengan senyum di bibirnya.
"Mas..." Rengek Rara tanpa sadar karena merasa digodain oleh Irwan. Irwan lagi-lagi tertawa.
"Ra... Mas ini enggak pinter ngerayu, tapi mas berusaha memahami apa yang kamu mau..." Ucap Irwan kemudian dengan nada yang mulai serius.
"Jangan jadi beban..." Lanjut Irwan saat melihat raut wajah Rara mulai terlihat serius juga. "Saat ini mas cuma pingin ngomong sama kamu, kalau... walaupun kita belum lama bertemu, tapi niat mas semalam itu benar-benar serius.
Ya... memang sih, kalau dilihat dari waktu perkenalan kita, rasanya memang seperti terlalu cepat untuk memutuskan kalau kita mau benar-benar serius menjalin hubungan ini. Tapi kalau memang kita mau serius, untuk apa menunggu terlalu lama?" Jelas Irwan sambil menunduk dan mengaduk-aduk kopinya.
"Sekali lagi mas minta, jangan kamu jadikan beban pertemuan nanti malam itu... Jika kamu memang keberatan. katakan saja. Anggap saja pertemuan nanti malam itu hanya sebagai suatu acara silaturahmi keluargaku dengan keluargamu..."
Rara menghela nafas, kemudian menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Mas... boleh aku tahu... kenapa mas mau melakukan ini semua?" Tanya Rara.
Kini dia sudah berani mengangkat wajahnya dan menatap Irwan.
"Melakukan apa?"
"Ya... ini... Melamarku, tapi tidak menuntut jawaban ..." Sahut Rara. Dia menunduk sebentar, memberi kesempatan Irwan berpikir. Tapi nyatanya Irwan tidak membutuhkan waktu banyak untuk berpikir dan menjawab.
"Karena mas tahu rasanya mendadak ditembak pertanyaan serupa, membuat kita merasa bingung... sungkan... takut... ragu... pokoknya seperti itulah..."
"Lalu kenapa mas mau langsung nembak seperti semalam?"
__ADS_1
"Ya... karena itu permintaan bapak."
"Jadi, kalau yang minta itu bukan bapak, mas Irwan enggak mau?"
"Ya... bukan enggak mau. Tapi pasti berpikir dulu lebih lama..."
"Kenapa?"
"Ya... Karena... Pertama, aku ingin menyenangkan bapak. Kedua aku percaya sama pilihan bapak. Ketiga... aku hanya perlu satu pendorong untuk bilang IYA, aku mau melamar kamu..."
Rara hampir terlongoh mendengar jawaban Irwan yang se-eksplisit itu.
"Jadi enggak ada unsur cinta-cintaan ya, disini...?" Tanya Rara. Enggak tahu, dia harus kecewa atau lega menyadari kenyataan ini. Irwan tersenyum tipis, enggak langsung menjawab.
"We'll see..." Katanya kemudian.
Beberapa saat mereka berdua terdiam. Irwan menyeruput kopinya yang sudah mulai dingin. Sementara Rara kembali mencubiti bruschetta-nya, memakan cubitan itu dan sesekali menyeruput sodanya.
"Apa mas yakin, kalau hubungan ini bakal bisa berjalan dengan baik, hanya dengan tiga alasan tadi?" Tanya Rara akhirnya.
Terlihat Irwan menarik nafas panjang sebelum mulai berbicara dan menjawab pertanyaan Rara.
"Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Tapi selama kita yakin dan mau konsekwen dengan komitmen yang kita sepakati... Insya Allah, semua masalah pasti bisa kita atasi..."
Kini Rara ikutan menghela nafas... Komitmen... konsekwen... itu adalah kunci dari keberhasilan hubungan yang ditawarkan Irwan.
So clear, right? Tapi kenapa begitu sulit untuk bilang IYA. Kenapa dia masih saja merasa terpukau dengan hubungan yang tak jelas dengan Danu???
...🏵bersambung 🏵...
Dear My all reader.
Makasih banyak masih mau membaca tulisan ini. Semoga semuanya sehat terus ya...
Boleh minta like komen n favoritnya dong. Supaya authornya tahu, kalau kalian sudah mampir di sini.
Tengkyu... Tengkyu... Tengkyu...
__ADS_1
...☘☘☘...