Cuma Seorang Pelayan 2

Cuma Seorang Pelayan 2
Sadar... Sabar....


__ADS_3

"Kenapa?" Tanya Danu saat melihat Rara menggeleng-gelengkan kepala seperti itu.


"Heng? Eh, enggak... ada lalat barusan..." Sahut Rara ngasal.


"Ada apa, tuan? Apa yang bisa saya bantu?"


"Gini... Karena suatu.... sebab. Aku salah bikin jadwal. Tugas yang seharusnya dikumpulkan hari Rabu... hari ini... Aku catat tanggal enam... Dua hari lagi..." Terang Danu. Dia tidak menyelesaikan ucapannya, tapi Rara paham dimana masalahnya.


"Jadi....?" Tanya Rara.


Ya, walaupun dia paham masalahnya, tapi dia kan belum tahu. Danu itu mau minta tolong soal apa padanya.


"Eng kamu sibuk enggak? ... Kalau bisa, kamu bantu aku nyusun tugas itu. Waktunya mepet banget. Lagian, sepertinya kamu punya dasarnya buat bantuin aku..." Kata Danu kemudian.


Kalau buat Danu sih, sebenarnya Rara rela melakukan apapun, tapi for real...! Dia juga harus mikirin kuliahnya. Bukan karena apa... Dia itu sekarang bukan "apa-apa".


Kalau dia gagal dalam kuliah, apa yang bisa dia bangga kan? Kalau dia gagal dalam kuliah, dia enggak punya modal untuk bisa berdiri di samping Danu.


Duh, kok ngelantur sih? Ngebantuin Danu sekarang kan enggak membuat kuliahnya langsung jadi DO?


"Emmm sepertinya kamu sibuk ya?" Tanya Danu kemudian memastikan. Rupanya lamanya jawaban Rara atas permintaannya membuat dia berpikir kalau Rara keberatan.


"Eh, enggak, bukan sibuk seperti itu, tuan. Tapi... jam sembilan ini saya aja jam pelajaran." Jawab Rara.


"Tapi setelah itu saya ada jam kosong sampai jam empat nanti..." Imbuh Rara cepat.


"Apakah diantara jeda waktu itu, kamu bisa bantu aku?" Sekali lagi Danu memastikan.


"Emmm insya Allah, bisa." jawab Rara pasti.


"Oh, ya sudah. seusai kuliah nanti aku jemput kamu untuk langsung membantu ku..." Kata Danu riang. Senyum leganya langsung menghiasi wajah tampannya.


Seketika Rara tertular senyuman itu. Hatinya mendadak seperti berbunga-bunga gitu rasanya.


"Oke, makasih sebelumnya ya, Ra." Kata Danu kemudian. Setelah itu dia berbalik dan pergi.


Rara masih tersenyum sambil menatap punggung Danu yang menjauh.


"Rara...! Ini udah setengah sembilan...!" Seruan Minah langsung mengusir semua kupu-kupu yang memenuhi taman hatinya.


"Iya...!" Seru Rara balik dengan setengah panik... Jam setengah sembilan...!


Makananku... pekerjaanku... kuliahku... 😱




Tuan Danu : \[Selesai jam berapa? \]



Rara : \[ Kira-kira, setengah jam lagi.\]



Tuan Danu : \[Oke, kalau gitu aku mau ke perpus dulu, cari tambahan referensi, Kalau kamu selesai duluan, susul aku ke sana ya. \]



Rara : \[oke.\]



Rara membaca ulang chat mereka lewat setengah jam lalu. Saat ini dia sudah berkeliling perpus untuk mencari Danu, setelah tidak menemukannya di parkiran.



*Nih orang dimana sih*?



Rara sudah berusaha memperhatikan satu persatu orang yang ada di perpustakaan itu. Rara cukup hapal seluk beluk perpustakaan ini, karena kebetulan, Rara dan Danu itu kuliahnya di satu badan pendidikan yang sama. Hanya bedanya kalau Danu ambil program S1, sedangkan Rara mengambil program D3.


__ADS_1


Setelah cukup lelah berkeliling dan memastikan kalau Danu memang tidak ada di sana, Rara mengeluarkan ponselnya, bermaksud menelpon Danu.



Rara berdiri bersandar di tembok samping pintu keluar perpustakaan. Ponsel Danu berdering, tapi tidak kunjung diangkat.



*Ya ampun... nih orang kemana sih... niat mau jemput enggak sih*...



Rara memutus panggilannya, matanya sekali lagi beredar mencari sosok Danu, hingga terdengar suara seseorang memanggilnya.



"Ra... Rara...!"



Rara menoleh kearah asal suara.



Tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri, terlihat seorang laki-laki yang Rara kenal sebagai teman Danu duduk bertengger diatas sepeda motornya.



Laki-laki itu melambaikan tangannya menyuruh Rara mendekat.



"Hai... mas Anto..." Sapa Rara sambil berjalan mendekat. "Mas, lihat mas ... "



"Danu?" Potong laki-laki bernama Anto itu. Rara mengangguk.



"Danu sedang ada perlu, dia suruh aku jemput kamu..." Kata Anto.




Apapun alasannya, rasanya kok seneng banget kalau Danu sedang menantinya. Tapi Danu tidak ada disana. Danu tidak sedang menunggunya. Dia bahkan meninggalkannya... 🥺



"Ya, udah... ayok..." Ajak Anto sambil menepuk jok dibelakangnya.



Rara manut. Dia mendekat dan bersiap naik.



"Kita mau kemana?" Tanya Rara sambil naik.



"ke kost-an ku. Kata Danu biar enggak jauh bolak-balik nya. Jam empat nanti kamu masih ada kelas kan?"



Rara mengangguk. Enggak perduli kalau Anto bisa melihat anggukan nya atau enggak. Entah Anto memang melihat anggukan itu atau mungkin karena tidak terlalu peduli juga, dia enggak meminta jawaban ulang. Anto segera menghidupkan mesin motornya dan segera memacunya ke arah tempat kost nya.



Tempat kost Anto enggak jauh dari sekitar kampus. Kost an itu berupa satu rumah yang disewa bersama beberapa teman. Jadi fasilitas yang ada ya, seperti umumnya kalau ada di rumah.



Di sana, Rara kemudian diajak masuk ke dalam. Dia melihat beberapa orang sedang duduk-duduk di rumah tamu rumah itu.

__ADS_1



"Hei..." Sapa Rara. Dia mengenal salah satu dari mereka. Dia Iwan teman Danu juga pastinya.



"Hai, Ra... tumben dengan Anto..." Ucap Iwan.



"Iya... Danu suruh aku jemput dia... Katanya dia ada keperluan dulu... " Anto yang menjawab.



"Keperluan apa?" Tanya Iwan kini pada Anto.



"Nganterin Nilam... "



DEG



Rara tahu siapa Nilam. Dia itu kakak kelasnya di SMA. Kalau untuk Danu dia adik kelasnya. Tapi lebih dari itu, Nilam ini pacarnya Danu. Ya... setidaknya sampai beberapa bulan lalu... Karena setahu Rara, mereka sudah putus.



*Jadi... Danu nganterin Nilam*.... *Danu nganterin Nilam... Sedangkan aku di sini disuruh ngerjain tugasnya*...



Enggak tahu bagian mana yang menyebabkan dadanya tiba-tiba terasa sesak. Apakah mengetahui kalau Danu masih bersama Nilam? Atau menyadari kalau dia seperti "dimanfaatkan"?



No... bukan dimanfaatkan... memang tugas dia untuk melayani. Bukankah dia memang seorang pelayan?



Walaupun tidak ada "kontrak kerja" resmi antara dia dan keluarga Darmawan yang menyatakan kalau dirinya adalah pelayan keluarga itu. Tapi sudah ada "kontrak sosial" yang menjerat keluarganya turun temurun. Kontrak yang hanya bisa putus jika dia mau memutuskan hubungan dan hidup jauh dari wilayah jangkauan keluarga Darmawan.



"Ra... mau ngerjain tugas di sini atau di dalam?" Tanya Anto menarik Rara dari ketermenungan.



"Heng? Oh, iya... di sini aja enggak apa-apa kan?" Tanya Rara yang seketika menata ekspresi wajahnya.



Rara mengedarkan pandangannya. Di ruang tamu itu hanya ada satu sofa dan satu meja tamu. Tapi tempat kosong di sekitarnya cukup luas. Dengan gerakan yang sedikit kasar, Rara menghempaskan tubuhnya duduk di lantai. Rara menghela nafas. berusaha melegakan dadanya.



*Ra... sadar... dari awal kamu memang enggak punya kelayakan untuk bisa bersanding dengan Danu*...



...🌩⚡Bersambung⚡🌩...



...Would...


...you...


...Give...


...me...


...your...

__ADS_1


...LIKE...


...please.. 🙏...


__ADS_2