Cuma Seorang Pelayan 2

Cuma Seorang Pelayan 2
Lah... kok?


__ADS_3

"Kali ini kencan kita pendek saja ya... Lain kali kita luangkan waktu yang lebih banyak agar lebih leluasa jalan-jalannya."


"Kencan?" Ulang Rara dengan ekspresi wajah aneh.


"Lah iya, kencan... kenapa?" Tanya Irwan sambil tertawa melihat ekspresi wajah Rara yang seperti tidak terima kalau acara mereka barusan disebut kencan.


"Emang kita sedang kencan?" Rara balik bertanya.


Dalam pikirannya, ungkapan kencan itu digunakan untuk pasangan kekasih yang janjian untuk melakukan kegiatan bareng supaya lebih dekat, istilah pendeknya mungkin bisa disebut berpacaran. Sementara mereka kan enggak berhubungan dalam bentuk apapun. Temenen aja enggak, masa iya mereka kencan seperti itu.


"Terus kalau orang janjian buat ketemuan, namanya apa kalau bukan kencan?" Kata Irwan.


"Kalau waktu aku sekolah dulu, dikamus itu ditulis, Janji untuk saling bertemu di suatu tempat pada saat yang telah ditentukan itu namanya kencan. Emang sekarang udah ganti ya, definisinya?" Goda Irwan. Rara terdiam setengah tersipu malu.


"Lah... jadi kencan yang itu maksudnya..." Gumam Rara pelan setengah mendesis dan membuang wajah. Malu juga sudah merasa ke GeeR an barusan.


"Udah ah, ayok pulang!" Tukas Rara akhirnya berusaha mengganti pokok pembicaraan.


Dia mendahului berjalan menuju tempat parkir. Masih dengan tertawa geli, Irwan mengikuti langkah Rara.


Sampai di parkiran, setelah dibukakan pintunya oleh Irwan, Rara langsung naik. Irwan segera menyusul dan duduk di belakang kemudi.


Sepintas diliriknya Rara yang masih pasang wajah cemberut karena kena "PRANK" ucapan Irwan tadi. Diam-diam Irwan tersenyum lagi karena masih merasa geli melihat ekspresi wajah Rara.


"Ngapain senyum-senyum!" Sentak Rara kesal. Disentak seperti itu senyum Irwan malah tambah lebar, tapi cuma sebentar. Irwan aslinya senang melihat Rara yang eksresif polos. Enggak jaim atau berkesan dibuat-buat. Tapi demi untuk menjaga perasaan Rara, Irwan langsung menahan senyumnya itu.


"Enggak... enggak apa-apa..." Jawab Irwan. "Tapi kalau misalnya Rara mau kita melakukan kencan dengan definisi yang lain enggak apa-apa kok..." Imbuh Irwan cepat sambil melengos dan langsung menutup rapat bibirnya. Kelihatan banget, kalau dia berusaha untuk menahan senyumnya.


"Enggak usah macem-macem deh..." Tegur Rara seperti enggak terima.


Dia enggak mungkin mau kencan seperti itu dengan Irwan, hatinya kan, sudah dipenuhi oleh Danu? Masa iya, dia mau "pacaran" dengan laki-laki lain.


Irwan cuma menggedikkan bahunya sebagai ganti ucapan 'terserah' .


Mobil mulai melaju meninggalkan pelataran parkir mall. Irawan sudah mengarahkan mobilnya untuk mengantar Rara ke rumah kediaman keluarga Darmawan. Tapi di persimpangan, Rara menyuruhnya membelok ke arah lain.


"Belok kanan saja, mas." Katanya.


"Heh? Mau kemana?" Tanya Irwan.


"Pulang." Jawab Rara.


"Pulang kemana?" Tanya Irwan lagi.


"Ke rumah bapak ibuku lah..." Jawab Rara dengan ringannya.


"Oh, mas pikir Rara tinggal di rumah keluarga Darmanwan..."


"Iya sih, biasanya. Tapi sekarang aku mau pulang ke rumah orang tuaku dulu."

__ADS_1


Mau minta uang dulu sambungnya dalam hati.


"Oh... kearah mana ini?"


"Ke perumahan bougenvile..."


"Bougenvile?"


"Iya, bougenvile... mas tahu jalannya, kan? Yang ada di kawasan Gunung Mas..." Ucap Rara menyebutkan sebuah lokasi perumahan.


"Iya... " Kata Irwan.


Sepertinya Irwan sudah hapal benar arah menuju lokasi perumahan itu. Dia tidak terlalu banyak bertanya. Mobil melaju pasti hingga tidak sampai tiga puluh menit, mobil sudah mencapai gerbang perumahan.


"Di blok mana rumahnya?" Tanya Irwan.


"Blok C no 26." Jawab Rara.


Blok C... kalau gitu...


Sambil mengarahkan kemudinya, Irwan sibuk memperhatikan keadaan sekitar.


"Mas Irwan sudah hapal daerah ini?" Tanya Rara tiba-tiba.


Ya, Rara merasa heran juga, kok Irwan bisa menuju rumahnya tanpa banyak bertanya. Sepertinya dia cukup familiar dengan lokasi ini.


"Blok C no 26... yang itu, Ra?" Katanya sambil memperlambat laju mobil hingga berhenti dengan mulus di depan pagar satu unit rumah, yang modelnya hampir sama dengan rumah-rumah lain di sekitarnya.


"Eh, Iya..." Jawab Rara.


Rara membuka pintu mendahului Irwan yang baru turun. Ditatapnya pintu pagar yang saat itu terbuka lebar.


Ada apa ini? Kenapa pagarnya terbuka lebar? Batin Rara sambil mulai berjalan kearah sana.


"Ayok mas, masuk dulu." Tawar Rara. Irwan mengangguk dan menyusul Rara masuk.


Di depan pintu rumah yang juga terbuka lebar, Rara berhenti untuk melepas sepatunya. Tapi matanya melongok memperhatikan ke dalam rumah.


Di ruang tamu, terlihat bapak dan ibunya tengah duduk menghadapi seseorang yang duduk membelakangi pintu. Rara tidak tahu siapa tamunya itu.


"Assalam mualaikum..." Salam Rara.


"Waalaikum salam..." Sambut orang yang di dalam sambil menengok kearah Rara. Rara mengangguk dan tersenyum untuk menyalami sang tamu, tapi belum masuk, Rara masih menunggu Irwan yang juga sedang melepas tali sepatunya.


"Kamu pulang, Ra..." Ucap ibu yang segera bangkit untuk menyambut anak perempuannya yang memang jarang pulang.


"Iya, bu..." Kata Rara. Tapi pandangnnya masih terarah pada Irwan. Setelah melihat Irwan selesai melepas sepatu, baru dia menghadap pada ibunya. Rara mencium tangan dan pipi ibunya.


"Eh, ada tamu..." Ucap ibu saat melihat orang lain ada bersama anaknya.

__ADS_1


"Assalam mualaikum, bu." Salam Irwan. Dia juga menyalami dan mencium tangan ibu (tapi enggak cium pipi ya...) ๐Ÿ˜…


"Waalaikum salam..." Sahut ibu.


"Ayo masuk- masuk, le..." Kata ibu. Rara sendiri sudah mendahului masuk dan menyalami bapak yang masih duduk bersama tamunya.


"Assalammualaikum..." Salam Rara.


"Waalaikum salam." Sahut bapak juga tamu bapak.


Setelah mencium tangan bapak, Rara kemudian bersalaman dengan sang tamu.


Tamu itu seorang laki-laki yang kira-kira usianya hampir sama dengan bapak.


"Dengan siapa kamu, nduk?" Tanya bapak sambil menatap ke pintu, dimana istrinya masuk diikuti oleh seorang laki-laki muda.


"Dengan teman, pak..." Jawab Rara.


"Assalammualaikum..." Salam Irwan.


"Waalaikum salam..." Sahut bapak dan tamunya.


"Loh?!" Seruan kaget terucap dari mulut sang tamu.


"Bapak?!" Ucap Irwan enggak kalah kaget.


Irwan dan sang tamu saling tatap dengan pandangan seperti tidak percaya. Serta merta, Irwan mencium tangan sang tamu dengan takjim.


"Bapak kok disini...?" Tanya Irwan, hampir bersamaan dengan...


"Lah, kamu kok bisa sampai ada di sini, le?" Tanya sang tamu.


"Siapa dia, Kang?" Tanya bapak Rara yang bernama Suminto pada tamunya.


"Ya ini anak mbarep ku, To." Kata sang tamu yang bernama Rusdi, yang ternyata adalah ayahnya Irwan.


Irwan segera menyalami Suminto, yang tadi sempat tertunda karena kaget melihat bapaknya ada di rumah Rara.


"Eeeyalah... ini toh, anak e sampeyan, kang. Kok bisa barengan dengan anakku ini?" Tanya Suminto.


"La yo embuh, kok iso... kamu ini gimana to, Le... enggak pernah njenguk orang tua, sekalinya ketemu kok ya, dirumah perawan..." Sahut Rusdi antara bingung dan geli.


(La yo embuh, kok iso\= Ya enggak tahu, kok bisa...)


Jangan ditanya lagi ekspresi Irwan. Dia sungguh malu, juga serba salah jadinya mendengar teguran bapaknya. Tanpa sadar dia mengusap tengkuknya, salah tingkah.


"Kebetulan ini, Pak..." Sahut Irwan yang seketika bingung mencari alasan...


...๐ŸŒน๐ŸŒžBersambung๐ŸŒž๐ŸŒน...

__ADS_1


__ADS_2