
"Masuk yuk." Ajak Danu.
Rara mengangguk. Tapi sungguh, feeling dia enggak enak banget. Sekali lagi dia mengedarkan pandangannya. Kali ini sampai ke atas, ke area outdoor yang ada di lantai atas.
Nah... kan, bener....
Walaupun disana enggak terang benderang seperti area parkir ini, tapi Rara bisa yakin kalau laki-laki yang sedang berdiri sambil bersandar kepagar besi itu adalah Irwan. Dia sudah melihat kedatangannya...
*mam*pus aku*...
Rara melangkah mengikuti langkah Danu sedikit di belakangnya (dia enggak berani menjajarinya). Perutnya mendadak merasa mulas. Hatinya dag dig dug enggak karuan. Rasa hatinya campur aduk hingga sulit untuk di definisikan. Yang pasti ada rasa amazing bisa nge-date dengan Danu, nervous, tapi juga feeling guilty sama Irwan. Apalagi saat menyadari kalau Irwan memang hadir di sana... Duh.... beneran deh rasanya jadi enggak nyaman deh.
Awalnya Rara membayangkan kalau nge-date kali ini bakal menjadi pengalaman yang unforgetable, tapi dalam kesan indah. Minimal ini bakal jadi bekal mental dia, karena walaupun dia enggak bisa jadian dengan Danu, dia mempunyai kenangan yang indah dengan dia. Tapi kalau begini situasinya, apakah ini bakal jadi kenangan indah? Rara kok enggak yakin ya...
"Selamat malam, mas...mbak..." Sambut greater di depan pintu.
Danu dan Rara hanya tersenyum membalas sapaan itu.
"Saya sudah pesan meja..." Ucap Danu pada greater itu.
"Oh, iya. Atas nama siapa mas?" Tanya greater itu sambil mengeluarkan sebuah notebook kecil dari saku seragamnya. (Bayanginnya notebook ini dalam artian harfiah ya... buku kecil buat nyatet, bukan notebook model laptop yang biasa para mahasiswa bawa-bawa). 😅
"Atas nama Danu..." Jawab Danu.
Sang greater kelihatan mencari sesuatu dalam catatannya. Sementara itu Rara mengedarkan pandangannya ke seputaran ruangan.
Suasana restorant malam ini nampak lebih ramai dibanding saat dia datang beberapa malam lalu. Kelihatan juga, kalau tamu-tamunya di dominasi oleh beberapa pasangan yang sepertinya memang berencana kencan di sana. Apalagi saat melihat area gazebo sepertinya sudah terisi semua.
***Alhamdulillah***...
Syukur Rara tanpa sadar. Hal ini berlawanan dengan harapan dia dulu.
Ya, dulu... waktu pertama dia datang ke restaurant ini dan melihat gazebo yang di tata apik, otaknya langsung travelling. Dia mengkhayal kalau dia dan Danu bisa kencan di gazebo itu pasti bakalan romantis banget jadinya. Tapi sekarang... mendadak saja dia merasa bersyukur banget kalau tempat dia dan Danu makan nanti bukan di gazebo.
Kebayang dong... Gimana pendapat Irwan kalau tahu dia duduk berduaan saja dengan Danu di gazebo seperti para pasangan itu... (Hei... abaikan pendapat kalau Danu memang tidak menganggapnya sebagai teman kencannya malam ini okey.)
__ADS_1
Greater memandu mereka menuju meja yang disiapkan untuk mereka. Meja itu berada tidak jaun dari pentas kecil yang ada di dekat tangga.
Sebuah meja makan biasa sebenarnya, hanya saja hiasan nyala parapin kecil yang ditaruh di dalam toples kecil berisi air berwarna biru itu memberi kesan gimanaa gitu... (mungkin karena efek perasaan Rara pada Danu saja yang bikin suasan di ruangan itu terasa begitu romantis untuk Rara...).
Rara dan Danu duduk berhadapan dengan posisi menyamping dari pentas, sehingga keduanya bisa melihat penampilan di pentas dengan nyaman.
"Silahkan, mas... mbak..." Ucap Greater itu. Lalu dia menyerahkan buku menu masing-masing pada Danu dan Rara.
"Mohon maaf, saya permisi dulu, waiter kami akan membantu mas dan mbak selanjutnya..." Ucap Greater itu saat melihat ada pasangan lain yang baru memasuki area restaurant.
"Oh, iya... terima kasih..." Ucap Rara dan Danu hampir bersamaan.
***Jangan nervous... jangan malu-maluin***...
Rara berusaha menenangkan diri. Dia benar-benar ingin menikmati malam ini (Ya, kapan lagi bisa dinner dengan Danu?) Tapi kenapa dia merasa kalau dia sekarang ini lagi selingkuh ya? Dan perasaan itu benar-benar mengganggunya.
"Mau langsung pesan makanan utama atau mau icip-icip dulu?" Tanya Danu menarik perhatian Rara dari layar ponselnya.
"Eung... terserah tuan saja..." Ucap Rara bingung. Dia ingin bisa berlama-lama dengan Danu. tapi jelas tanpa ada bayang-bayang Irwan di sana...
"Enggak panggil tuan di sini, bisa? Ntar aku malah lupa kalau kita sekarang sedang ada di luar..." Ucap Danu sambil tersenyum risih.
Rara mengangguk. Terlepas dari dia setuju atau enggak, bukankah tugas utamanya selama ini hanya untuk menyetujui semua ucapan ataupun perintah majikannya?
Danu menghela nafas, melihat anggukan Rara. Dia sebenarnya ingin Rara menyampaikan pendapatnya sendiri akan semua pendapat dari dirinya, tapi susahnya, memang apa lagi jawaban yang dia harapkan selain persetujuan Rara atas ucapannya. (Serba salah ya?)🤔
Seorang waiter mendekat dan menanyakan pesanan mereka. Danu memilih menu pembuka. Otomatis Rara juga memilih menu serupa. Menurut Danu supaya mereka bisa sedikit berlama-lama di sana sambil menikmati sajian life music yang memang disuguhkan khusus setiap weekend.
"Gimana? Enak?" Tanya Danu saat mereka sudah menikmati appetizer mereka. Rara memilih lumpia isi rebung dengan saus tomat untuk appetizernya, sementara Danu memilih martabak telur. Rara mengangguk yakin. Mengabaikan suasana hati yang sedang enggak karuan, rasa lumpia yang ada di mulutnya itu memang enak.
__ADS_1
"Mau nyobain?" Tawar Danu tiba-tiba membuat Rara melongo dan menatap Danu sesaat, sebelum akhirnya dia sadar dengan sopan santun dan langsung menurunkan pandangannya.
Enggak sengaja, pandangnnya kini malah mengarah pada piring martabak di depan Danu. Hal itu membuat Danu berpikir, kalau Rara memang mau mencicipi menunya tapi malu untuk bicara.
Karena itu dia mengiris martabak telurnya dan dia letakan potongan itu di atas piring Rara, berdampingan dengan sisa lumpia Rara yang belum sempat dia makan.
"Cobain deh, enak kok..." Kata Danu.
"Ehem... iya. Terima kasih... mas..." Ucap Rara, kini benar-benar grogi dia.
Sungguh, perlakuan Danu malam ini membuat angan Rara semakin melambung jadinya.
Bagaimana tidak, sudah berbulan-bulan... bahkan bertahun-tahun lamanya dia hidup dengan membayangkan peristiwa serupa ini dengan Danu. Dan saat khayalan itu benar-benar terjadi... membuat dirinya mendadak seperti tremor. Tangan bergetar ... jantung berdebar serta keringat dingin menyelimuti tubuh... Pokoknya feeling amazing-lah.
Rara lalu menusuk potongan martabak itu dan langsung memasukkannya ke mulut.
Untuk mengurangi rasa grogi, dia makan sambil melirik ponsel yang tanpa sengaja dia taruh di atas meja dekat dengan gelas minumnya. dan....
TING
Sebuah notifikasi pesan masuk terdengar dengan kerlipan nyalanya layar ponsel itu. Sekilas Rara membaca, pesan itu dari ...
Irwan lagi.
...😨bersambung 😨...
Dear My all reader.
Makasih banyak masih mau membaca tulisan ini. Semoga semuanya sehat terus ya...
Boleh minta like komen n favoritnya dong. Supaya authornya tahu, kalau kalian sudah mampir di sini.
Tengkyu... Tengkyu... Tengkyu...
__ADS_1
...☘☘☘...