
"Gimana, mas? Mau kan makan malam denganku?" Tanya Nilam kembali pada Danu.
"Emm, makasih ya. Tapi sekarang aku masih sibuk... kapan-kapan aja ya, makan malamnya." Sahut Danu diplomatis.
"Oh... iya, enggak apa-apa, mas.... Nanti kalau sudah ada waktu, mas kasih tahu aku ya." Ucap Nilam dengan raut kecewa.
"He em."
"Ya, sudah... kalau begitu, aku pamit dulu, ya." Ucap Nilam kemudian, saat dirasa kalau dirinya tidak punya alasan lain untuk tetap tinggal di sana.
"Oh, iya..." Danu masih mempertahankan sopan santunnya.
"Sekali lagi, makasih ya mas." Ucap Nilam lagi masih belum bergerak dari posisi semula.
Kali ini Danu tidak menjawab tapi dia mengangguk dengan anggunnya lengkap dengan senyumnya yang menawan.
Nilam menatap sekeliling mereka terlebih dahulu sebelum benar-benar bergerak untuk meninggalkan tempat itu. Mungkin dia berharap, ada yang akan berbasa-basi untuk menyuruhnya tetap tingal. Tapi nyatanya sampai beberapa detik berlalu, enggak ada yang menyuruhnya tetap tinggal.
Akhirnya, dia benar-benar pergi dari situ, diikuti tatapan bermacam arti dari Danu, Rara dan Anto.
Setelah Nilam pergi, Rara segera merapihkan alat tulisnya yang tadi sempat keluar dari dalam tasnya untuk membuat beberapa catatan.
Rara memastikan tidak ada lagi yang tertinggal, setelah itu, Rara pun ikutan pamit untuk kembali ke kampus.
"Semua sudah selesai ya, mas. Sekarang saya mau kembali ke kampus. Masih ada satu mata kuliah lagi yang harus saya ikuti hari ini." Kata Rara pada Danu.
"Oh, iya Ra. Makasih banget ya..." Ucap Danu.
Rara tidak mengatakan apa-apa. Dia cuma mengangguk dan tersenyum.
"Eh, sebentar. Aku anterin ya." Imbuh Danu cepat.
"Heng... Makasih." Sahut Rara yang tiba-tiba jadi salting gara-gara membayangkan dirinya berduaan dengan Danu.
"An, pinjem motornya sini, Nanggung amet deket gini mau pakai mobil." Ucap Danu pada Anto.
"Boleh, tuh kuncinya ada di deket TV." Sahut Anto.
Danu melangkah ke meja tempat TV dan memungut sebuah anak kunci di sana.
"Yuk, Ra." Ajak Danu sambil melangkah mendahului menuju teras, tempat motor Anto terparkir sementara.
"Mata Kuliah siapa sekarang?" Tanya Danu basa-basi sambil menempatkan motor di depan pintu pagar yang sudah terbuka.
"Pak Sudibyo." Jawab Rara.
"Wah, Jangan sampai terlambat kalau dosen itu." Komentar Danu.
Rara naik keatas motor, dan duduk di belakang Danu dengan jarak tertentu dari punggungnya.
"Sudah?" Tanya Danu memastikan, sebelum dia mulai menjalankan motornya.
"Sudah." Jawab Rara.
__ADS_1
Danu melirik sebentar ke belakang, memastikan sekali lagi, kalau Rara benar-benar siap untuk meluncur bersamanya.
"Hati-hati... Kalau mau pegangan boleh, kok." Kata Danu saat dilihatnya Rara berpegangan pada jok dibawahnya.
Dia mulai menghidupkan mesin motor nya.
Beneran boleh pegangan ke badanmu?
Perlahan dengan sedikit ragu plus deg degan enggak jelas gitu, Rara menyentuh pundak Danu.
Dalam bayangannya, dia berpegangan erat pada pinggang Danu. Persis adegan romantis orang pacaran, yang sering dia lihat di TV. Tapi sekali lagi... adab dan rasa malu mencegahnya untuk melakukan hal itu.
"Sudah, mas..." Katanya Pelan.
"Hem..."
Danu setelah merasakan Rara memegang bahunya, lalu segera melajukan motor itu.
Sumpah demi apa, Rara enggak bisa menggambarkan, bagaimana bahagianya dia, bisa menyentuh tubuh laki-laki itu.
Kisuran angin yang berlarian kebelakang terasa begitu menguntungkan nya. Karena bersama angin itu, bercampur dengan aroma tubuh Danu.
Rara menarik nafas dengan rakusnya, seakan tak rela jika aroma itu berlalu begitu saja tanpa sempat mampir ke hidungnya.
Sekian tahun hidup bersama, rasanya enggak pernah sekalipun dia bersentuhan dengan Danu.
Adab dan status membatasinya untuk bisa berdekatan dengan Danu. Aturan tidak tertulis selalu menempatkannya paling sedikit satu meter dari lawan bicara. Tidak boleh terlalu dekat, tidak juga terlalu jauh.
Motor Danu hentikan di depan pintu gedung fakultas Rara.
Rara segera turun walaupun agak enggan.
"Makasih, tuan."
"Kok tuan?"
"Oh, maaf. Makasih mas... "
Danu tersenyum.
"Aku yang harusnya berterima kasih.... Kamu mau minta apa buat ucapan terima kasihnya?" Tanya Danu.
Mahar boleh enggak?
Batin Rara spontan.
Dia seketika menunduk, menyembunyikan senyuman konyol yang dia sadari muncul di bibirnya.
"Loh? Ayo ngomong aja, mau minta apa?" Tanya Danu lagi. Dia tahu Rara tersenyum diam-diam, cuma dia enggak tahu apa sebabnya. Dan hal itu membuatnya penasaran.
"Emmm, kalau minta traktiran makan aja, boleh enggak mas?" Tanya Rara akhirnya.
Sebenernya dia ingin ngomong...
__ADS_1
Boleh minta candle light dinner enggak?
Tapi tentu saja Rara enggak berani ngomong gitu sama tuannya itu. Bisa kacau kehidupan mimpinya nanti.
Sekali lagi Rara harus menyadarkan dirinya sendiri, kalau dia itu cuma seorang pelayan, enggak boleh ngelunjak.
Kalau iya, Danu nanti meluluskan permintaannya untuk mentraktirnya makan, itu sudah bagus. Minimal dia pernah makan satu meja dengan Danu. Tinggal di edit aja background saat makan berdua itu nanti dalam khayalannya, sebagai suatu moment candle light dinner mereka... 🤭🤭🤭
"Cuma minta traktiran makan?" Tanya Danu memastikan.
Emang boleh minta yang lain?
Pikir Rara mulai ngaco. Tapi tetap dia menyadarkan dirinya sendiri JANGAN NGELUNJAK!
Rara mengangguk.
"Oke, deal. Nanti aku traktir makan deh. Tapi waktunya lihat scedule ku dulu ya." Kata Danu menyanggupi. Seketika Rara mengangguk. Wajahnya seketika berseri.
"Iya mas. Makasih sebelumnya."
"Iya, sama-sama.... Sudah, sana masuk. nanti kalau aku ada waktu luang aku kabari..." Kata Danu. Sekali lagi Rara mengangguk.
Dia segera melangkah masuk ke gedung, tidak berani menoleh lagi ke arah Danu. Dia takut Danu melihat ekspresi wajahnya yang sudah sangat sulit di kendalikan. Senyum di bibirnya sungguh sangat sulit untuk ditahan.
Selangkah melewati pintu, Rara langsung berbelok dan menepi di tembok. Memastikan dirinya tersembunyi, dia menatap Danu yang sudah menghidupkan kembali mesin motornya. Dia tetap disana sampai Danu meluncur dan menghilang dari pandangan.
WOW... Ingin rasanya dia melompat saking gembiranya. Dia mau makan-makan bareng Danu!
WOY...!
WOY...!
"Rara...!" Seru seseorang menarik Rara kembali kealam nyata.
Seketika Rara menoleh kearah asal suara. Dilihatnya Ratna di depan kelasnya, menunjuk dengan kerlingan ke suatu arah. Rara mengikuti arah kerlingan itu.
"Sapiii!!!" Maki Rara.
Spontan dia berlari menuju kelasnya. Berlomba dengan sang dosen yang ternyata juga sedang menuju kesana dari arah lain.
...🌹🌞Bersambung🌞🌹...
...Would you...
...Give me...
...your LIKE...
...n comment...
...please.. 🙏...
__ADS_1