
Danu memperhatikan wajah Rara. Benar seperti yang dikatakan pekerja tadi. Keningnya berkeringat... matanya sedikit berair... Rara juga bolak-balik membersit hidungnya yang sudah berair. Tanpa sadar mata Danu terpaku pada bibir Rara yang merah dan bergetar menahan pedas.
Bagaimana jadinya kalau bibir itu dilumat?
Deg deg... deg deg...
Seketika Danu mengerjapkan matanya mengusir semua halu yang mendadak hinggap di otaknya.
Tapi sungguh, pemandangan bibir merah dan bergetar itu tidak bisa hilang dengan mudah dari ingatannya.
"Ra, maaf ya. Aku belum bisa bayar utang traktiran... masih sibuk soalnya..." Kata Danu mencari bahan pembicaraan untuk mengalihkan fokus pikirannya.
"Ya, enggak apa-apa tuan... Saya masih bisa numpang makan sama ibunya tuan, kok..." Jawab Rara sambil bercanda.
Danu tertawa kering mendengar istilah numpang yang Rara gunakan. Kok enggak enak banget ya, kesan yang di dapat dari istilah itu.
"Sebenarnya aku mau ajak kamu besok... tapi ternyata besok aku masih ada acara..." Lanjut Danu berusaha abaikan dengan masalah istilah itu.
"Iya, enggak apa-apa tuan. Besok saya juga enggak bisa kayaknya." Sahut Rara.
"Kenapa? Ada jam kuliah?" Tanya Danu. Iseng aja untuk sekedar memperpanjang basa-basi.
"Rencananya besok mau ke acara nikahan temen..."
"Iya? Dimana?" Tanya Danu. Kali ini nada bicaranya lebih serius. Ya... enggak seserius kalau mendengarkan uraian dosen tentu saja. Tapi tetap terlihat lebih serius daripada tadi yang hanya sekedar basa-basi.
"Di daerah Pakis..." Jawab Rara.
"Lah, kok sama... Aku juga besok ada undangan nikahan temen di sana." Danu memberi tahu.
"Iya kah? Siapa nama temannya tuan?" Tanya Rara dengan semangat.
"Gunadi... manten perempuannya namanya... Hanum." Jawab Danu sambil mengingat-ingat, memastikan kalau nama pengantin perempuan yang dia katakan sudah benar.
"Wah... kalau gitu manten yang dituju sama, tuan. Hanum itu teman SMA saya..." Sahut Rara.
Seketika mereka berdua tertawa, mentertawakan kebetulan yang sebenarnya enggak lucu juga.
"Pergi dengan siapa besok?" Tanya Danu.
"Bareng teman-teman, tuan." Jawab Rara enggak jelas. Ya, yang disebut teman-teman kan banyak. Namanya siapa juga enggak cuma satu, tapi masa iya, Danu harus bertanya, siapa nama teman kamu? Bukan urusannya juga kan?
Beberapa detik keduanya terdiam. Rara mau melanjutkan makan mie nya. Tapi dengan adanya Danu di sana membuatnya merasa canggung. Hingga...
"Tuan, beneran enggak mau dibuatkan mie juga?" Tanya Rara.
"Eh, enggak." Jawab Danu seakan baru sadar kalau kehadirannya membuat Rara sungkan untuk makan.
"Silahkan habiskan mienya. aku masuk dulu..." Ucap Danu akhirnya.
"Em, iya tuan. Silahkan..." Sahut Rara.
Danu melangkah pergi diikuti oleh pandangan oleh Rara hingga hilang di balik pintu.
Jam sembilan kurang tiga menit. Rara berlari menyusuri koridor, menuju ke kelasnya. Berdoa dengan sepenuh hati, *semoga sang dosen belum sampai*...
"Ra... cepetan." Panggil Toni sang ketua kelas.
*Aduh... ini juga udah cepet-cepet*...
__ADS_1
Seru Rara dalam hati. Ya, cuma dalam hati. Nafasnya enggak sanggup berbagi kalau masih harus bersuara...
Pagi hari, Rara memang sedikit kalang kabut dengan pekerjaannya. Ya, semalam dia berhasil menyelesaikan tugasnya setelah jam di ponselnya menunjukkan angka 02.15.
Akibatnya, jam tidur dia sudah berkurang. Akibatnya lagi, dia bangun kesiangan. Jam setengah tujuh dia baru bangun. Dan yang paling parah dari semua akibat itu adalah... dia diceramahin panjang lebar oleh Bu Surti.
Ya... kan kalau jadi anak yang *ngenger* itu enggak bisa seenaknya mangkir dari pekerjaan rumah. Walaupun para majikan sebenarnya sudah membebaskan Rara dari segala tanggung jawab pekerjaan rumah. Tapi tidak demikian pelaksanaannya.
Rara masih punya tenggang rasa dan perasaan sungkan kalau tidak membantu pekerjaan rumah walaupun cuma sebentar. Belum lagi nyinyiran orang-orang yang seakan iri dengan posisinya. Bikin kuping dan hati panas saja.
Mbok Darmi bukan enggak tahu hal yang dihadapi cucunya itu, tapi dia sudah menyerahkan masalah "pembinaan" cucunya itu pada orang yang berwenang, dalam hal ini ya... Bu Surti.
Makanya, walaupun sudah kesiangan, Rara tetap menyempatkan diri membantu di dapur. Setelah membantu sekedarnya... (cuma ngisi absen maksudnya), Rara segera kembali ke kamar. Bahkan dia me ngeprint makalahnya itu sambil mandi dan berdandan.
*Moga-moga enggak ada yang salah cetak*...
Do'a nya.
Dan sekarang... dia berhasil masuk kelas dengan selamat. Dosen ternyata belum datang. Tugas juga masih ada waktu untuk dikumpulkan.
*Hugh... Alhamdulillah... Selamat*.
"Ra, nanti kamu jadi pergi ke mantenan nya Hanum?" Tanya Ratna yang duduk di sampingnya. Kebetulan Hanum itu temenan juga dengan Ratna. Ya, mereka kan satu almamater SMA nya.
"He em... " Sahut Rara.
"Rencananya kan mau berangkat bareng dari rumah Sofi..."
"He em." Sahut Rara lagi.
Kemarin memang mereka sepakat untuk berangkat bareng-bareng dari rumah Sofi, teman dekat mereka saat SMA, tapi yang kini kuliah di Akademi yang berbeda dengan mereka.
__ADS_1
"Terus, kamu udah bawa kostumnya?" Tanya Ratna lagi.
"Kostum?" Tanya Rara enggak ngerti.
"Iya lah... masa mau ke kondangan pake baju begini... " Kata Ratna sambil menunjuk pakaian yang saat ini mereka kenakan. Kemeja flanel, celana jeans dan sepatu sneakers.
Seketika Rara menatap Ratna. Matanya membulat saat tersadar kalau dia lupa membawa bungkusan bajunya.
"Ya, ampun Ratna... aku lupa. Baju itu udah aku siapin lengkap dengan alat make-up nya... Tapi tadi aku buru-buru... ketinggalan jadinya..." Keluh Rara setengah kesal setengah bingung.
"Terus...? Nanti kamu mau pulang dulu ke rumah?" Tanya Ratna.
Rara belum sempat menjawab, tapi dosennya sudah keburu masuk. Jadinya percakapan mereka pun terjeda.
"Gimana?" Bisik Ratna.
"Enggak tahu... ta pikirin lagi deh." Rara balas berbisik bingung.
Menurut rencananya kan, mereka mau berangkat bareng dari rumah Sofi itu, karena rumah Sofi lebih dekat dengan lokasi pernikahan Hanum, selain itu, di rumah Sofi ada mobil yang siap mengantar mereka, jadi kan bisa lebih mudah jangkauan nya. Lah, kalau balik ke rumah dulu ... Selain rumah kediaman keluarga Darmawan itu cukup jauh, agak dipinggir kota. Transportasi dari dan kesana itu sedikit terbatas. Susahlah kalau harus bolak-balik dalam waktu yang singkat.
*Duh... ini enaknya gimana ya? masa musti balik ke rumah dulu? Kan jauh itu*...
Pikir Rara.
*Ah, sudahlah, gimana nanti saja*...
...🌹🌞Bersambung🌞🌹...
All reader ku yang baik... Tolong beri like, komen, rate dan favorit nya.
...please.. 🙏...
Love and thank you pake banget buat kalian... 🥰
__ADS_1
