
Jam istirahat, Rara duduk di kantin sambil menikmati semangkuk mie ayam. Perutnya terasa lapar sekali, karena tadi pagi dia memang tidak sempat sarapan.
Eng... bukan enggak makan sama sekali sih... Dia tadi sempat nyomot tempe goreng di dapur. Tapi makan tempe goreng dua potong mah enggak bisa disebut udah sarapan, kan? Makanya dia musti makan yang agak berat sekarang.
Semula dia mau pesan nasi soto... tapi pas lihat teman lain pesan mie ayam dengan saus yang begitu kental, membuatnya beralih memilih mie ayam juga akhirnya.
"Makan mie, lagi?" Tegur sebuah suara menyela kenikmatannya. Rara segera mendongak melihat pemilik suara.
"Tuan... eh, mas... monggo. Mas makan..." Tawar Rara agak gugup. Bener deh, dia sama sekali tidak menyangka kalau akan bertemu Danu di kantin itu. Danu tersenyum.
"Jangan terlalu banyak makan mie, ntar cacing diperutmu bingung, yang mana usus, yang mana mie..." Gurau Danu diikuti oleh tawanya sendiri. Rara dan Ratna ikutan tertawa mendengar lelucon receh itu.
"Monggo, mas..." Tawar ulang Rara.
"Iyalah, aku mau makan. Tapi enggak mau mie..." Jawab Danu. "Eh, aku boleh duduk di sini?" Lanjut Danu bertanya. Dia menatap Rara dan Ratna yang duduk sambil menatapnya.
"Eh, boleh.. monggo, mas." Rara dan Ratna menjawab hampir bersamaan. Danu kembali tersenyum dan duduk dihadapan kedua gadis itu.
"Sendirian aja, mas?" Tanya Ratna sambil menatap ke seputaran Danu, mencari keberadaan teman-teman Danu yang biasanya mengikuti bagaikan ajudannya.
Baru saja Ratna bertanya demikian, tahu-tahu muncul begitu saja seorang gadis dan langsung merapat ke arah Danu.
"Ih... Mas Danu, ditungguin di sana kok malah duduk disini sih..." Rengeknya begitu saja. Danu sampai merasa sungkan sendiri karenanya.
Rara dan Ratna menatap gadis yang baru datang itu dengan pandangan... Aneh? Takjub?
Ih, ini mah bukan takjub kagum... Tapi takjub karena agak kaget gitu... Ada ya, orang yang enggak tahu malu seperti itu? Ngelendot ke cowok yang bukan apa-apanya, di tempat umum semacam kantin begini. Mana dengan gaya sok manja gitu. Bikin pengen muntah melihatnya.
"Oh, maaf aku engak tahu kalau kamu nungguin aku." Kata Danu dengan datarnya sambil berusaha melepaskan tanganya dari gadis itu.
"Ayo mas, kesana... Itu, sudah aku pesankan nasi soto. Sayang kalau enggak dimakan." Ajak gadis itu yang enggak lain adalah Marina.
"Wah, aku lagi enggak kepingin makan nasi soto..." Tolak Danu.
"Mas Danu mau pesan apa? Biar aku pesankan..." Desak Marina.
"Em... Aku mau mie ayam..." Jawab Danu seketika, saat melihat mangkuk mie ayam di depan Rara yang belum habis isinya. Rara tadi terlalu takjub dengan sosok di depannya, sampai-sampai dia lupa untuk makan.
"Oh, oke. Aku pesankan ya..." Ujar gadis itu. Danu mengangguk dan melihat Marina melangkah mendekati ibu kantin untuk memesan mie ayam untuk Danu.
Seperginya Marina, Danu kembali menghadap kearah Rara dan Ratna yang masih terbengong-bengong melihat makhluk yang baru saja meninggalkan meja mereka.
__ADS_1
"Ehem..." Danu berdehem, bingung dengan situasi yang mendadak aneh itu.
"Eh... Em... Itu siapa, mas?" Tanya Ratna berusaha mengalihkan perhatiannya. Aslinya dia ingin tertawa melihat Danu yang merasa serba salah begitu. Tapi dia masih sungkan dengan Danu. Makanya dia setengah mati menahan tawa.
"Em... Itu..." Belum selesai Danu bicara, terdengar suara ponselnya berdering.
"Maaf..." Ucap Danu lalu sedikit menjauh dan menerima sambungan telepon itu.
Beberapa saat dia berbicara dengan orang di sebrang sambungan. Rara dan Ratna pura-pura abai dengan hal itu dan melanjutkan acara makan mereka.
"Ra... Aku ada perlu, nanti kalau Marina balik kesini, tolong kasih tahu ya. Makasih udah di pesenin. Bilangin itu mie nya suruh bungkus saja bawa pulang." Kata Danu saat selesai menjawab panggilan telepon itu.
"Enggak jadi makan, mas? Nanti dia kecewa loh. " Kata Ratna iseng menggoda.
"Semoga nggak lah... dia tadi kan tanya, aku mau pesan apa? Bukan aku mau makan apa..." Jelas Danu sok polos dengan senyum devil bertameng malaikat.
Rara dan Ratna hanya bisa meringis mendengar jawaban itu.
"Sudah, ya. Aku pergi dulu. Sudah ditungguin ini..." Ujar Danu. Rara dan Ratna spontan mengangguk.
Setelah itu, Danu lalu bergegas pergi meninggalkan mereka.
Rara mengikuti kepergiannya dengan tatapan mendamba.
Rara meringis.
Sebenarnya dia sudah bertekad untuk mengurangi kadar sukanya pada Danu. Tapi sungguh, sulit sekali untuk kabur dari pesona Danu.
Dimatanya, segala sesuatu tentang Danu itu selalu menarik perhatian nya. Jangankan saat orangnya ada di sekitar. Saat orangnya tidak ada pun, secuil berita tentangnya selalu bisa menarik perhatiannya.
"Move on... move on..." Ucap Ratna mengingatkan akan niat Rara terhadap Danu akhir-akhir ini.
"Susah banget, Rat..." Sahut Rara jujur.
"Makanya jangan merhatiin sama mikirin Danu melulu..." Nasehat Ratna.
"Kalau saja semudah yang kamu katakan... Otakku itu udah di stel otomatis. Segala sesuatu pasti berhubungan dengan Danu. Kalau mau melupakan dia, sepertinya musti di reset. Balik lagi ke stelan pabrik... "
Ratna tertawa mendengar ucapan Rara.
"Udah deh, jangan ngebahas Danu sekarang...Terus gimana jadinya, soal kostum itu, Ra?" Tanya Ratna melanjutkan pembahasan mereka tadi pagi.
__ADS_1
"Enaknya gimana ya, Rat?" Rara balik bertanya bingung.
Belum sempat Ratna menjawab, Marina datang dengan membawa mangkuk mie ayam yang sedianya untuk Danu.
"Danu kemana?" Tanya Marina langsung, tanpa ba bi bu untuk sekedar berbasa-basi.
"Pergi..." Jawab Rara.
"Iya udah tahu, Kalau dia enggak ada di sini artinya dia pergi... tapi pergi kemana?" Ucap Marina dengan nada meninggi dan terdengar kesal.
"Lah ya, enggak tahu... Memangnya kemana dia mau pergi musti bilang sama kita." Sahut Ratna jadi ikutan nyolot.
Marina menghentakkan kakinya kesal. Setelah itu dia berbalik pergi.
"Eh, kelupaan, mie nya disuruh di bungkus katanya..." Seru Rara menambahkan. Marina cuma menoleh sebentar dengan kesalnya.
Ratna dan Rara cuma menggedik kan bahunya tak acuh melihat sikap Marina yang sedang kesal itu. Memang bukan urusan mereka, kan?
Kini mereka kembali berdua. Ratna dan Rara kembali lagi membahas soal kostum kondangan yang belum juga selesai urusannya.
"Pinjem punya Sofi aja gimana?" Usul Ratna
"Daripada kamu balik lagi ke rumah, kejauhan... Tambah lama lagi...Lagian, ukuran badan kalian kan enggak jauh beda..." Lanjut Ratna.
"Emang enggak apa-apa sama Sofi nya?" Tanya Rara ragu.
"Enggaklah, pasti. Sofi pasti punya banyak baju buat acara begitu..." Komentar Ratna sok yakin.
Rara menimbang-nimbang.
Sepengetahuannya, Sofi memang cukup modis, jadi pasti koleksinya banyak, kalau dipinjem sebentar sepertinya enggak apa-apa.
Ya udah deh, aku WA dulu Sofi nya, biar nanti dia siapkan baju yang bisa aku pinjam." Kata Rara kemudian.
...๐น๐Bersambung๐๐น...
All reader ku yang baik... Tolong beri like, komen, rate dan favorit nya.
...please.. ๐...
Love and thank you pake banget buat kalian... ๐ฅฐ
__ADS_1
...โ โ โ...