CUTE MAFIA

CUTE MAFIA
My First Love


__ADS_3

Jika ada yang dihindari Shadow seharian ini tak lain adalah Kai. Beralasan akan sibuk dan meminta pria jangkung itu hanya mengantarnyaa


hingga di pintu masuk kantor Farubun and Maheswara. Duduk termenung di belakang


meja kerjanya, Shadow sejak pagi belum mengerjakan apa pun, tetangga sekaligus


teman yang berani menciumnya ternyata seorang pimpinan mafia sangat menganggu pikirannya.


Kaki Shadow masih melemas, fokusnya telah terbang ke langit, tak ada semangat untuk mengerjakan sesuatu hari itu.


“Shaw.” Suara memanggil menyentak tubuh Shadow dari kursi. Ricchi, papanya terkekeh melihat responnya.


“Papa!” pekik Shadow berdiri dengan wajah merenggut. Dadanya berdebar kencang, bukan karena papanya. Tapi Ricchi memanggilnya dengan nama panggilan yang diberikan oleh Kai.


“Kenapa kaget begitu nak ?” Ricchi duduk di depan meja Shadow, pria paruh baya itu mengenakan suit berwarna navy, kemeja dalamnya berwarna


dark gray.


Shadow merenggut manja dan kembali duduk di kursinya “Papa memanggilku dengan Shaw. Bukan sepeti biasanya.”


“Bukannya Kai memanggilmu dengan sebutan itu, Shaw.”


“Papa, tolong panggil Shadow seperti biasanya.” Gerutunya pelan, merajuk menatap Ricchi yang makin tertawa.


“Ophelia Shadow.”


Shadow mengangguk semangat “Iya itu namaku, pa.”


Ricchi hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Shadow yang tidak biasanya “Sudah menjatuhkan pilihan ?” tanyanya memberikan kode pada tumpukan naskah di atas meja anaknya.


Shadow menggeleng malas “Shadow belum membacanya, pa.”


“Tentukanlah, nak. Sebelum ayahmu kembali kesini, kau tahu sendiri jika Liam belum mengijinkanmu untuk kerja lapangan.”


“Ayah menghambat karierku.” Imbuhnya yang membuat Ricchi terbahak tawa keras.


“Katakan itu di depan ayahmu, Shaw.”


Shadow mendesah lemah “Papa, tolong berhenti memanggilku dengan Shaw. Shadow jadi ingat Kai.”


“Bukannya kau terus mengingatnya ?”


Dengan wajah merajuk, Shadow menggelengkan kepala “Tidak. Aku tidak mengingatnya.” Ucap Shadow mencoba mengelabui papanya, pria yang


sangat tahu jika ia berkata dengan tidak jujur. Kai terus hadir di pikirannya, terlebih sejak tadi pagi.


“Papa sangat tahu jika ada yang menganggu pikiran anak gadisku. Tidakkah kau ingin membaginya dengan papa ?”


Shadow menarik napas dan mengampil satu naskah film yang berada paling atas tumpukan map. Pura-pura membaca kemudian kembali menutup map berwarna hitam itu.


“Tidak menarik.” Kesah sambil menaruhnya ke bagian kiri meja.


“Kau belum menjawab pertanyaan papa, nak.” Ricchi mengingatkan Shadow, gadis berambut ikal dibiarkan tergerai menatap lurus ke arahnya.


“Pa, jika punya teman yang mempunyai sisi gelap. Apakah papa masih tetap berteman dengannya ?” tanya Shadow membuat Ricchi melebarkan manik coklat miliknya.


“Jika kau membicarakan tentang Kai. Tentu saja papa akan terus berteman dengannya, dia anak yang sangat sopan dan supel. Orang tuanya


terpandang, keluarga besarnya bukan kalangan dari biasa. Mereka adalah keluarga sukses yang memiliki darah Indonesia. Walau secara tampilan Kai tidak memiliki gen Asia, tapi papa sangat percaya dia adalah anak yang baik.”


Shadow termenung pendengar perkataan papanya. Ia bisa menilai temannya, sorot mata Kai tidak pernah menyembunyikan sesuatu untuk


mengelabuinya. Mungkin sebelumnya, saat di Bali. Ketika Kai datang saat dini hari berlumuran darah, dan membohonginya jika itu darah ayam. Shadow tidak pernah melihat ayam di sembelih tapi tahu membedakan mana bau amis hewan dan darah manusia.


Temannya seorang pembunuh. Bagaimana ia menjelaskan hal itu kepada pria di depannya ?


Ricchi pasti akan mengajak Shadow terbang ke negara yang tidak terdeteksi radar seorang mafia, tapi cepat atau lambat mereka pasti akan


ditemukan.


Shadow belum tahu nama jelas kelompok mafia yang dipimpin Kai, tapi dengan anggota sebanyak tadi pagi dengan badan tinggi besar sudah


menciutkan nyali orang-orang yang melihat mereka, termasuk dirinya.


“Pa, bolehkah aku tidur di rumah ?” tanya Shadow membuat Ricchi mengalihkan pandangan dari layar ponsel lalu menatap anak sulungnya.


Pria tampan paruh baya itu sontak berdiri “Bagaimana jika kita pulang lebih cepat, Shaw. Kita ke swalayan berbelanja bahan makanan dan


memasak bersama.” Ucapnya sambil memutari meja.


“Papa.” Rengek Shadow manja “Jangan memanggilku dengan nama itu.”


Ricchi tertawa kecil sambil menarik tangan anaknya “Jangan ingat Kai jika aku memanggilmu dengan sebutan itu, nak. Tapi sungguh sebutan


itu sangat bagus, papa menyukainya. Sangat menyukainya. Papa pikir selain baik, Kai itu anaknya pintar. Mungkin sedikit jenius.”


Shadow tertawa kecil “Sedikit jenius ?”


“Ya, mungkin saja. Kalau dia jenius, mungkin sudah seperti kakak sepupunya, orang terkaya ketiga dunia nak. Ah, keluarga Kai sangat hebat.


Kau sangat beruntung bisa berkenalan dengannya.”


Shadow mendecih dalam rangkulan papanya “Bukan hanya berteman, tapi juga bertetangga, pa. Kai itu gila, dia membeli gedung apartemenku


yang harganya tidak bisa dihitung dengan kalkulator dalam semalam.”


Langkah Ricchi terhenti menatap Shadow “Apa ?” tanyanya kaget

__ADS_1


“Ya papa, Kai Navarro membeli gedung apartemenku. Harga kamar apartemenku saja sudah sangat mahal, tapi dia membeli seantero bangunan seperti membeli hotdog di Sunset Road.”


Bibir Ricchi terkulum sambil menggelengkan kepala “Pria yang nekat dan papa sangat menyukainya.”


“Papa !” seru Shadow


Ricchi tersenyum menatap lekat anak gadisnya yang membuat Kai mengambil keputusan gila seperti didengarnya “Cinta harus diperjuangkan.”


Gumamnya


Manis sewarna milik Ricchi itu melebar menatapnya “Cinta ? Kami berteman, pa.” tak terhitung Shadow berseru merajuk kepada pria yang menjadi cinta pertamanya.


Ricchi mengecup pipi merona Shadow “Waktu akan menjawabnya, Shaw.” Ucapnya sembari berjalan meninggalkan kamar kerja sang anak. Ricchi hanya memberikan kode kepada sekretaris Shadow dan wanita itu menganggukkan kepala tanda mengerti bahwa atasannya hendak bolos bersama CEO Farubun and Maheswara.



Kai bermalas-malasan di sofa, terbaring dengan handphone di tangan. Menunggu kabar dari gadis favoritnya. Tidak ada balasan dari pesannya


yang baru saja ia kirim, bukan hanya sekali tapi tiap 10 menit menanyakan kabar Shadow. Awalnya dibaca kemudian hanya tercentang satu.


Gadis yang sangat dingin dan tidak berperasaan. Shadow tidak tahu efek di hati Kai akan sikap dingin yang membuatnya uring-uringan.


“Kai Navarro, kau tidak makan, nak ?” tanya Kila duduk di sofa sebelah kanan


Dengan wajah merenggut Kai menatap mamanya “Kai tidak lapar ma.” Rajuknya menyahut, ia pun lalu berdiri dan pindah di sofa tempat Kila


duduk. Membaringkan kepalanya di pangkuan sang mama, tempat favorit Kai.


“Ada apa anak kesayangan mama ?” pandangan Kila turun menatap wajah Kai sambil mengelus surai putih sehalus sutra, persis dengan rambut suaminya.


Kai mendesah pelan, memeluk tubuh Kila “Kenapa Shadow tidak membalas pesanku, ma ? Dia juga melarangku ke kantornya.”


Kila terkekeh dan memandang ke arah Hugo yang berjalan menuju tempat mereka.


“Anakmu sedang jatuh cinta, Hugo Chan.” Tawa Kila semakin keras, suaminya hanya tersenyum simpul sambil menganggukkan kepala.


“Akhirnya anak terakhir kita menemukan gadisnya.” Hugo menyahut dan duduk di sofa sebelah. Tawa kecil terdengar manis membuat Kai


melerai pelukan lalu mengarahkan pandangan kepada pria bersurai putih mengenakan kemeja santai berwarna sama.


“Dia menghindariku, pa, ma.” lapornya sembari bersungut.


Hugo menatap Kila dan bertukar senyuman simpul “Begitulah wanita, Hijo. Mereka suka mengulur perasaan pria seperti layaknya main


layangan. Ketika kita mendekat dia menjauh, ketika kita menjauh dia mencari.”


“Hei sejak kapan aku mengejarmu, Hugo Chan ?” mata Kila melebar memandang suaminya. Hugo tertawa keras dan tangannya menjulur ke atas untuk menjawil pipi kekasih hatinya.


“Tidak pernah. Aku yang terus mengejarmu, Kei.”


“Kai, Jangan dengarkan papamu. Tidak semua wanita seperti itu. Wanita sekarang banyak yang lebih duluan mengungkapkan perasaaannya.”


menjauh.” Kai menyahut sembari menaikkan tubuhnya dan duduk, tetap berdekatan


dengan sang mama.


“Jadi tidak adalagi wanita mengejarmu, Hijo ?” tanya Hugo sambil tersenyum jahil. Bergantian memandang Kila dan Kai. Anak manjanya telah menjatuhkan kepala di cerukan bahu Kila.


“Tentu saja masih ada, pa. Tapi Kai sudah berhenti berkencan. Ketika bertemu dengan Shadow entah mengapa Kai kehilangan minat bertemu dengan


mereka lagi. Bahkan jika melihat wanita secantik apapun, tidak menggoyahkan perasaanku kepada gadis dingin itu.” Kai menjawab dengan nada manja.


Kedua orang tuanya tertawa “Kita baru berapa hari di Hollywood. Kau belum kemana-mana, Hijo.” Ucap Hugo menggoda anaknya.


Kembali Kai menaikkan kepalanya “Siapa bilang, pa. Kai ini memiliki pergaulan level atas di kota ini. Beberapa teman Sky menitipkan pesan.”


“Sky ?” Kila bertanya


Kai mengangguk “Mama hanya terfokus dengan cucu. Sky diam-diam seperti itu tapi sibuk menjodohkan Kai dengan teman modelnya.” Ucapnya mengarahkan pandangan ke lantai atas, kamar saudara kembarnya berada.


“Teman Sky yang mana ? Model Victoria's ?” Kila memperjelas. Tidak sekali pun ia ingin menjodohkan Kai walau banyak relasi mereka yang bertanya tentang anak bujangnya.


Manik biru melebar membuat alis Kai mengerut, pun lalu mengangguk “Yang sering berfoto di sosial medianya.”


Kila menangkup bibirnya “Kai, mereka sangat cantik, nak. Apa yang kau tunggu ?”


Kai mendengus pelan dan berdiri, pindah di dekat Hugo.


“Tolong mama. Jangan jahat seperti ini. Shadow pun sangat cantik walau dia dingin.” Kai memeluk tangan papanya. Hugo mengelus pipi Kai.


“Yeah, Shadow cantik. Tapi dia tidak menyukaimu Kai Navarro. Kejarlah yang pasti-pasti saja.”


Mata Kai beradu dengan mata sipit papanya yang berwarna coklat “Papa pasti dulu banyak yang mengejar, kan ? Tapi kenapa memilih mengikuti mama ? Wanita yang tidak memiliki hati untuk papa ?”


Tidak ada sepersekian detik bantal sofa melayang mengenai tubuh Kai “Beraninya kau berbicara seperti itu !” Seru Kila yang langsung berdiri, di saat bersamaan Kai melompat dari sofa. Berlari menjauh dari amukan Kila, mamanya.


“Sini kau, Alpheratz Kai Navarro !” teriak lantang Kila yang hendak mengejar Kai namun tangannya di tahan oleh Hugo. Prianya hanya tertawa


kecil melihat kehebohan ibu dan dan anak itu.


“Mulai malam ini kau tidak tidur denganku !” kembali Kila ketika tubuh Kai melewati pembatas ruang tengah menuju ruang tamu.


Kai berbalik dan berdiri melayangkan pandangan kepada Kila yang tidak berkutik dalam genggaman Hugo.


“Ya mama. Aku mulai malam ini akan tidur di apartemen. Dan semoga aku bisa tidur bersama dengan Shadowku.” Sahutnya dengan lantang.


“Kai !” kedua orang tuanya bersamaan berseru menyebut namanya.

__ADS_1


Pria muda bermanik biru itu tertawa keras sambil melambaikan tangan “Kai pergi dulu yah, papa dan mama sayang. Mau mengurus kantor baru Black Panther.”



Shadow mengikuti arahan Ricchi menyiapkan menu makan malam untuk mereka. Sang papa sebelumnya keluar entah kemana, mungkin menemui tamu yang menekan bel rumah. Steak and shrimp diletakkan di atas piring pipih


berwarna putih.


Shadow menaikkan bahu lalu mendesah ketika mengatur piring di atas meja makan. Sedikit janggal karena Ricchi, papanya memasakkan menu dinner untuk tiga orang. Alasan Ricchi, jika ada tamu yang akan ikut makan malam dengan mereka.


Shadow baru saja selesai mengisi gelas tinggi dengan wine berasal dari Italy, lalu menaruh botolnya di meja. Suara langkah kaki membuatnya membalikkan badan.


Senyum tipis di wajahnya hilang ketika melihat pria muda yang berjalan bersama dengan Ricchi. Ya, pria yang dihindarinya adalah tamu sang papa.


Kai tersenyum lebar dengan wajah bak malaikat ketika melihat Shadow.


Malaikat pembunuh. Ya, itu sebutan tepat kepada Kai yang berdiri di dekatnya hanya berapa detik kemudian.


“Hai Shaw. Papa mengajakku makan malam bersama.” Ucapnya ramah dan lembut.


“Ayo makan, menunya sangat sederhana Kai. Ibu Shadow masih di Jakarta. Namun jika Dee dan Liam sudah kembali kami akan mengundangmu makan bersama di rumah ini.” ucap Ricchi menyilakan Kai untuk duduk.


Kai hanya mengangguk dan tersenyum mengiyakan perkataan Ricchi. Matanya tetap mengarah pada gadis yang memberenggut sambil duduk di kursi depan.


Shadow menikmati makan malamnya dengan banyak diam dan terus mengunyah acuh. Mendengarkan bagaimana Ricchi dan Kai saling berbincang. Sambung menyambung tiada habisnya.


“Jadi kedua orang tuamu ada di Hollywood ?” tanya Ricchi menyesap wine setelah menghabiskan isi piringnya. Matanya menatap pria muda yang memiliki wawasan yang sangat luas. Benar di pikirannya jika Kai berotak cerdas, cenderung jenius.


“Iya, pa. Mereka ada di sini. Bertemu dengan saudara kembarku dan cucunya.” Sahut Kai ikut menyudahi makan malamnya. Ia memilih


gelas berisi air putih dibandingkan wine yang begitu menggoda. Mengendarai mobil alasan Kai tidak menyentuh minuman berwarna merah itu.


Ricchi tersenyum lebar dengan wajah antusias “Mungkin kita bisa mengajak orang tuamu untuk makan bersama.”


“Papa.” Seru Shadow meninggikan volume suaranya.


Kai menatap Shadow dengan mata sedikit dipicingkan, sorot mata yang membuat gadis itu tidak berkutik.


“Baiklah. Mungkin papa melewati batas.” Ricchi berdiri dan menghela napas panjang.


Kai dan Shadow mengikuti pria paruh baya itu “Nanti bisa saya bicarakan dengan papa dan mama. Mereka masih lama di Hollywood, sebelum ke Perancis. Kami akan ke Perancis.” Sahut Kai menekankan kalimat terakhirnya


sembari menatap Shadow. Ia bisa melihat perubahan ekspresi gadis bersurai hitam


dan ikal.


“Papa menunggu kabar darimu, nak. Tapi bicaralah terlebih dulu dengan Shadow.” Ricchi menepuk pelan punggung Kai sembari menyunggingkan senyuman simpul.


“Kalian papa tinggal.” Ricchi berjalan setelah menerima jawaban perpisahan dari Kai dan Shadow.


Berselang berapa menit kemudian mereka berdiri di taman belakang rumah. Dua sosok jangkung tanpa bicara hanya menikmati udara malam di


Hollywood berhembus menerpa tubuh mereka.


“Ada yang ingin kau katakan, Shaw ?” tanya Kai memecah keheningan di antara mereka. Ia berbalik menatap wajah Shadow sangat cantik


dengan rambut dicepol.


“Tidak ada.” Sahut Shadow pelan.


Kai bergerak ke samping mengikis jarak di antara mereka. Wangi parfum Shadow semakin menguar membuatnya tak bisa menahan diri untuk tidak


merengkuh tubuh gadis itu.


“Kau menghindariku. Tidak membalas pesanku, tidak mengabarkan jika kau akan ke rumah papa. Bukan kembali ke apartemen.” Ucapnya dengan kedua tangan melingkar pada pinggang Shadow. Gadis mengenakan sweater berwarna abu


itu menundukkan pandangan entah kemana yang jelas menghindari beradu pandang dengan Kai.


“Kau menakutkan bagiku, Kai. Kau adalah mafia, orang-orangmu semua menakutkan. Aku tidak punya keberanian untuk kembali ke apartemen dan mendapati pria-pria berbadan besar mengenakan pakaian serba hitam itu. Aku takut.”


Kai menarik napas panjang dan menangkup kedua pipi Shadow “Kami tidak seperti di pikiranmu. Kami hanya bersikap tegas kepada yang jahat, tidak dengan gadis secantik dirimu.”


“Aku tidak cantik.” Sergah Shadow menatap manik biru yang menyala bahkan dengan pencahayaan sinar lampu taman yang temaram.


Kai tersenyum lebar “Kau cantik, bagiku. Walau jujur kau sangat dingin. Kau gadis terdingin yang pernah aku temui sekaligus gadis yang membuatku jatuh cinta. Kau membuatku mengenal cinta pada hati kerasku. Ya Shaw, aku tidak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Kau adalah cinta pertamaku, Ophelia Shadow Farubun.”


###




alo kesayangan 💕,


bagaimana hari kalian ??


bagaimana cuaca kota kalian ?


Jogja cerah dan panas.


tetap sehat semua, banyak minum air putih.


minum vitamin, tetap berolahraga.


dan pakai masker ketika keluar rumah.


love,

__ADS_1


D 😘


__ADS_2