
Shadow mengerjapkan bola matanya ketika mendengar sayup-sayup suara Kai sedang berbicara. Shadow bisa memastikan jika suaminya itu sedang berbicara lewat telepon, mengingat mereka telah pindah ke Mecklenburg. Hunian tenang sekaligus indah yang berada di tepi Danau Havel, dulunya merupakan tempat tinggal kedua orang tua pemimpin mafia tersebut.
Bulan madu mereka yang seharusnya dihabiskan di sebuah pulau dengan sinar matahari yang bisa membuat kulit Shadow berubah coklat, kini hanya tinggal sebatas impian. Setidaknya selama tiga hari terakhir pasangan baru tersebut menghabiskan waktu bersama di rumah yang sangat tenang tanpa ada gangguan sedikitpun. Sejauh ini, Shadow hanya bisa mengungkap sedikit pengalamannya sebagai wanita yang tidur bersama dengan pria sebuas Kai. Ya, pemimpin mafia tersebut mempunyai gairah tiada surut sama halnya dengan keinginannya dalam menghabisi para musuh Black Panther.
"Jadi orang tersebut bukan suruhan dari mafia Rusia?" suara Kai terdengar datar dan dingin. Shadow sangat paham dengan intonasi Kai, suaminya sedang serius.
Shadow dengan kondisi kesadarannya belum terkumpul total di raga, namun ia memilih untuk bangun dari tempat tidur dan mencari sosok Kai. Shadow merapatkan jubah tidurnya yang halus mengingat udara dingin di rumah mereka, Kai sengaja tidak menyalakan pemanas ruangan. Sementara Shadow tipe wanita yang lebih menyukai udara panas seperti Bali dan Hollywood.
Secercah senyuman hadir di bibir Shadow ketika mendapati prianya sedang berdiri di ruang tamu, tubuh tinggi berotot yang membiarkan dirinya bertelanjang dada. Shadow menelan saliva, membayangkan setiap sentuhan Kai di seluruh tubuhnya, pun kemudian ia menggelengkan kepala dan mengusir pikiran yang bisa membuatnya kembali ke tempat tidur. Shadow lapar, dengan berjingkat pelan ia menuruni tangga, seketika itu juga Kai berbalik dan memandangnya dengan sorot mata tajam.
Shadow otomatis berhenti mendapati Kai menatap tak biasanya. "Apa?" cicitnya kembali melanjutkan langkah kaki.
Kai tidak menjawab hanya menggeleng kemudian kembali terfokus pada lawan bicaranya di telepon.
"Tidak ada bulan madu." desah pelan Shadow sembari berjalan menuju dapur. Shadow mengambil roti tawar dari lemari penyimpanan dan berencana membuat sandwich untuk sarapan.
"Kalian ingin rapat terbatas? Aku ingin diikutkan juga." kata Kai tegas membuat Shadow menaikkan bibirnya sebelah.
"Dasar mafia." gerutunya lalu tersenyum.
Shadow sangat paham dengan posisi Kai Navarro, pria yang memiliki ribuan anak buah yang solid dan kapanpun membutuhkannya. Ya, termasuk ketika mereka masih dalam masa bulan madu. Andai saja Shadow adalah wanita yang tidak mengenal seluk beluk Kai, pastinya ia tidak akan terima momen pernikahannya harus diwarnai dengan drama penembakan, kemudian masa bulan madunya sang suami tercinta tengah sibuk mengatur sebuah rapat bersama dengan para pengawalnya.
Hidup Shadow berbeda, takdir yang digariskan Tuhan tidak seperti wanita pada umumnya. Ia sangat paham dengan itu, petuah-petuah dari kedua orang tua Kai tentang masa depan di simpan baik-baik pun dipraktekkannya. Shadow belajar sabar dan menerima Kai beserta kehidupannya. Cinta untuknya menjadi pemenang, dibandingkan pekerjaan yang menggiurkan di Hollywood. Setidaknya untuk sekarang, Kai sudah pernah menjanjikan kepada Shadow bahwa suatu hari mereka kembali ke surga film dan tempatnya para pesohor dunia menetap.
"Aku memanggil mereka ke sini." ucap Kai kini telah berdiri di samping island table. Kedua tangannya menumpu di atas meja setelah menaruh ponselnya.
"Ya, terserah." sahut Shadow datar. Ia mengisi roti gandumnya dengan selembar daun selada segar dan organik.
"Kau marah?" tanya Kai menyipitkan manik biru lautannya. Tentu saja bibirnya menyeringai nakal dan seksi.
Shadow mencebik. "Tidak. Aku sama sekali tidak marah, Tuan Mafia." jawab Shadow kemudian menaruh dua sandwich di atas piring. Kai membantu Shadow mengisi gelas mereka dengan orange juice.
"Terus apa?" Kai berjalan mengikuti istrinya yang memilih sarapan di beranda luar.
"Nothing. Aku mengerti dengan situasi kita. Kehidupan seperti apa yang kujalani setelah menikah." Shadow mendudukkan tubuhnya di atas sofa beledu berwarna rumput laut.
"Rupanya kau paham." Kai menyahut sambil menyunggingkan senyuman simpul. "Aku mencintaimu, Shaw."
"Aku juga." singkatnya dan melirik pria yang masih betah memamerkan tubuh atasnya. "Kau tidak memakai baju?"
Kai yang sedang menyeruput isi gelasnya menoleh menatap Shadow dengan lekat-lekat. "Buat apa? Nanti juga tidak memakai apa-apa." jawabnya dengan santai.
"Uhuk uhukk!" kontan Shadow terbatuk dan menyemburkan potongan kecil sandwichnya.
"Minumlah." Kai menyodorkan gelas ke arah Shadow, sambil memberenggut wanita cantik itu mengambil dan menenggak isinya dengan perlahan.
"Kau gila!" gerutunya setelah tenggorokannya lancar namun menyisakan bola mata berair karena tersedak.
"Gila kenapa?" Kai tertawa kecil sambil menatap wajah istrinya yang memerah.
"Jangan suka tiba-tiba mengatakan hal vulgar seperti itu." sungut Shadow.
"*** in the morning." ujar Kai tidak mempedulikan protes Shadow.
"Kai Navarro!" Pekik Shadow kencang-kencang. "Please, aku sedang makan. Jangan membuat pikiran terbang kemana-mana."
__ADS_1
"Tidak kemana-mana, Shaw. Hanya ke tempat tidur. Oh, mungkin di sofa ini? Tidakkah kau ingin mencobanya, Nyonya Kai Navarro?"
Wajah Shadow kini menjadi sangat merah, kedua matanya membulat lebar dengan bahu naik turun. Entah karena kesal atau terhasut oleh omongan pimpinan mafia tersebut.
"Bagaimana?" goda Kai sembari mengusap pipi merah Shadow dengan lembut.
...
Sebuah mansion mewah di tengah rimbunnya pepohonan, terdengar pijakan kaki tergesa-gesa di atas marmer lebar bermotif abstrak. Wajah pria paruh baya tersebut terlihat serius, rahangnya kaku dan sorot matanya bak burung elang yang terluka.
"Tuan." sapa pembantu wanita ketika melihat sosok pria paruh baya yang perutnya agak membuncit.
"Dia belum mau makan?" tanyanya terdengar sangat khawatir.
"Terakhir Nona Martina makan kemarin pagi. Tapi, tadi pagi saya sudah membujuknya untuk minum segelas susu." jawab pembantu wanita yang bertubuh agak pendek dan berisi.
Pria yang surainya lebih didominasi dengan warna kelabu itu kemudian menghela napas lega. "Terima kasih, Marisol. Aku sungguh beruntung memiliki orang yang bisa kupercayai untuk mengasuh anak-anakku. Carmen yang malang."
"Tuan Urbina, jangan bersedih." pinta Marisol dengan sorot mata menyendu.
Pria yang dipanggil Urbina lalu menggelengkan kepala berkali-kali. "Benar katamu, bukan saatnya mengingat jiwa indah mendiang istriku. Martina sedang membutuhkan diriku ." ucapnya perlahan.
Marisol membukakan pintu kemudian tersenyum tipis. "Masuklah, Tuan. Mungkin dengan tuan, Nona Martina akan makan. Saya akan menyiapkan makan malam menu kesukaannya."
Urbina Ayuso, pria gempal tersebut menganggukkan kepala kemudian berjalan pelan memasuki kamar tidur yang sangat luas milik putri bungsunya, Martina Ayuso. Sorot mata pria paruh baya tersebut terpaku pada sosok ramping yang melengkung di atas tempat tidur. Rasa iba dan sedih ketika melihat bahu sang putri naik turun, tampaknya gadis itu masih betah mengurai air mata.
Urbina berdeham agak keras, ia berharap kehadirannya diketahui oleh Martina. Sayangnya, Martina terlihat tidak bergeming dari posisinya.
"Putriku yang paling cantik." sapa Urbina membelai surai hitam bergelombang milik Martina. "Sampai kapan kau bersikap seperti ini, anakku?"
"Ya, Putriku." Urbina tersenyum lembut dan penuh kasih.
Martina bergerak, tangannya yang tadinya mendekap sebuah bingkai foto berwarna putih kini terbuka. Urbina dengan jelas melihat isi bingkai tersebut. "Dia telah menikah. Satu-satunya pria yang aku sukai, telah menikah." tuturnya sembari menggulirkan air mata dari kelopak sebesar bawang bombay.
"Kau tampak mengerikan, Putriku." Urbina tidak bisa menolak dirinya untuk berkata jujur. Memang seperti itulah kenyataannya. Anak bungsunya yang setiap biasanya tampil dengan dandanan lengkap, pakaian bermerk, kini menjelma seperti penyihir ratusan tahun yang tidak pernah mendapatkan sinar matahari.
"Papi! Tolong, aku sedang berduka. Baik papi, Luis, Pedro, Antonio, semuanya mengatakan hal yang tidak mengenakkan. Bisakah kalian menghiburku atau setidaknya menculik pria kesayanganku datang ke sini." rajuknya dengan sangat manja.
Urbina spontan menggelengkan kepala dengan tegas. "Tidak. Itu tidak akan terjadi, Putriku. Pria pujaanmu bukan pria-pria Meksiko yang bisa dengan gampangnya takluk di kaki kita."
Martina terisak dua kali, ia sebenarnya hanya bersandiwara untuk isakan tersebut. "Dan tidak ada satupun yang bisa menandingi kehebatannya, Papi. Dia adalah dewa bagiku."
"Martina Ayuso, bangun dari mimpimu, Sayang. Pria yang yang jadikan dewa tersebut adalah Kai Navarro, pemimpin mafia terbesar di dunia. Bukan hanya dirimu yang mengidolakannya."
"Tapi hanya diriku yang bisa menerima dirinya. Wanita itu hanya terpikat dengan ketampanan Kai, dia tidak setangguh diriku yang lahir dan tumbuh besar di keluarga kartel. Kami berjodoh, hanya saat ini kekasihku itu sedang singgah pada hati wanita lain."
Urbina mengangguk, ia tidak membantah putrinya yang mencetuskan kata-kata yang tidak masuk akal. "Marisol sedang membuatkanmu makan malam, Sayang. Papi sangat senang melihatmu lebih tegar, mungkin ada waktunya untuk menangis kemudian bergerak maju."
Gadis berusia 21 tahun itu sontak menggeleng. "Tidak, Papi. Aku tidak akan pernah melepaskan kekasihku, hingga dia bisa melihat keberadaanku yang sangat setia menunggunya. Entah kapan, yang jelas bukan sekarang. Suatu hari, papi akan mengabulkan keinginanku, yaitu membawa Kai Navarro ke Meksiko. Dan nikahkanlah kami."
Urbina beranjak dari duduknya setelah mengelus surai putrinya. "Papi akan meminta pelayan menyiapkan air hangat, bersihkan dirimu dan kita akan makan malam bersama. Kakak-kakakmu akan pulang."
"Baiklah." Martina menyahut pelan separuh terpaksa.
...
Malam menjemput tiga hari yang lalu. Suara hewan di danau terdengar sayup-sayup dari kamar tidur. Sengaja sang pemilik rumah membuka daun pintu geser yang membawa angin sepoi-sepoi masuk ke dalam kamar. Tirai berwarna putih terkibas lembut kadang pelan kadang kencang menyesuaikan ritme hembusan angin.
__ADS_1
Sementara itu, di kursi meja rias sesosok wanita cantik sedang bercermin dengan pikiran entah melayang kemana. Napasnya berat, sesekali ia hembuskan lewat mulut. Betapa jantungnya berdebar sangat kencang saat itu.
"Tuhan." Shadow lirih menyebut pencipta-Nya. Ia kemudian menarik napas yang sangat panjang. "Kenapa aku seperti ini?"
Tubuh Shadow terlonjak ketika mendengar pintu walking closet tertutup bersamaan wangi parfum maskulin bersampur dengan aroma sabun milik Kai.
"Shaw." Suara Kai bergetar memanggilnya. Shadow melihat dari pantulan cermin bagaimana pergerakan tubuh pria berotot dengan tinggi menjulang sedang mengarah ke tempatnya. Kai tidak mengenakan atasan, otot-otot terlatihnya sengaja dipamerkan. Shadow terhipnotis, otaknya bertumpu pada satu titik, yakni gairah. Tidak ada yang lain.
Kai mengecup puncak kepalanya, semacam alarm jika malam ini akan berakhir dengan panas, sepanas gurun sahara.
"Berdirilah, dan tatap aku." Kai menyentuh lengan Shadow, dan wanita itu sedikit oleng ketika menumpukan badannya dengan kedua kaki yang tak bertenaga.
Kai mendengus geli, tapi tetap saja bibirnya gemetar. Jantungnya semakin berdebar rusuh ketika kedua jemari tangan Shadow hinggap di dadanya yang telanjang. "Shaw." panggilnya kembali kepada wanita yang sangat ia cintai.
"Kai." suara serak Shadow bak melodi indah malam itu. Keduanya telah menanti lama untuk saling melepaskan.
Tangan Kai menarik pinggang Shadow merapat pada tubuhnya. "Ahhh." sebuah ******* manis lolos dari bibir istrinya.
Kai merunduk, mendekat pada wajah cantik dan sensual milik Shadow. Tak lupa ia mengucapkan kalimat indah sebagai pembuka malam panjang bagi mereka berdua. "Cintai aku, Shaw. Sebesar aku mencintaimu. Terima diriku dan segala perlakuanku kepadamu. Kau milikku, selamanya adalah milikku."
###
alo kesayangan💕,
aku belajar bikin adegan romantis namun tidak saru..
aku tidak ingin readersku terkontaminasi, aku bukan penulis 21+, tulisan semacam itu bagiku pertanggungjawabannya sangat berat 😊
apa kabar kalian di era PPKM ini?
tetap sehat yah, Ladies...
olahraga, makan bergizi, istirahat cukup, jgn stress dengan kondisi ini, kita lewati bersama-sama dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.
oh yah, kalian kudu vaksin yah❤️,,
aku dh vaksin loh💪🏻.
kalau ada nanya, gimana after d vaksin?
syukur aku gak ada efek apapun, g lemes, g maruk makan, tidurnya normal..
semua berjalan seperti biasa,
aku mank dh membiasakan diri berolahraga sejak lama, kalian juga yah❤️..
bagi yang sakit, kalian berjuang..
aku tunggu kamu kembali pulih, bumi ini juga pulih❤️.
love,
D😘
__ADS_1