CUTE MAFIA

CUTE MAFIA
Unguarded


__ADS_3

“Dari mana?” tanya Kazue kepada wanita bersurai hitam lurus dan bibirnya selalu dipoles lipstik merah menyala, nampak berjalan masuk diikuti dua pengawal pribadinya. Walau Kazue tahu kemana perginya wanita cantik itu, tapi ia ingin tahu apa yang keluar dari bibir Nana.


“Belanja, coba lihat apa yang dibawa Nobuo dan Masaru. Oh ya, aku membelikan beberapa pakaian untukmu. Kita harus menyesuaikan dengan trend yang berlaku di sini.” Nana berlenggak-lenggok menghampiri Kazue yang duduk di kursi single di dekat jendela kaca.


“Kau tidak perlu bersusah payah, sayang. Aku tidak butuh pakaian mahal, yang penting nyaman dipakai.” Kazue merendah sementara kenyataannya ia adalah pecinta barang bermerk. Ia hanya tidak ingin membiasakan Nana menghamburkan uang pribadinya untuk hal seperti itu. Selain cantik dan menggairahkan, Nana adalah sosok wanita yang mandiri. Kazue bisa menghitung berapa kali ia mengeluarkan uang untuk Nana, kecuali saat mereka makan bersama di restoran.


Kazue tidak bodoh, ia sangat cerdas mengetahui motif Nana mendekatinya. Terlebih ia sangat tahu gaya bahasa tubuh Nana yang sepenuhnya tidak tertarik sebagaimana wanita-wanita yang pernah menjadi teman kencan Kazue. Sangat jelas terpancar di sorot Nana bahwa hatinya tidak murni memuja Kazue, kecuali ketika mereka bercinta. Ya, hanya satu-satunya momen Kazue bisa melihat jati diri Nana yang sebenarnya.


“Andai tadi kau mau keluar denganku, kita bisa melihat berbagai macam di sini, Kareshi. Sungguh berbeda dengan Osaka. Aku sudah memutuskan jika menyukai kota ini.” ujar Nana sambil mendudukkan bokongnya di atas paha Kazue.


Mereka menyewa sebuah villa di Hollywood Hills, sebuah perjalanan jauh untuk mencari jejak rival Kazue yakni Kai Navarro. Menetap di villa tersebut membuat Kazue seperti dalam sebuah perjalanan wisata, bukan dalam satu misi menantang kelompok mafia yang sangat ditakuti dan segani di dunia hitam.


“Berhati-hatilah di luar, sayang. Kau tidak ingin ketahuan bukan?” Kazue yang memeluk pinggang wanita dipangkunya menyipitkan mata.


“Eh, Iya. Tentu saja aku tidak ingin bertemu dengan Ba****an itu.” sahut Nana gugup.


Kazue menyeringai, kembali ia mendapati kebohongan di mata kekasihnya. Menurut laporan Nobuo yang sangat setia kepadanya, pengawal Nana mengatakan jika wanita cantik itu menguntit ketika Kai bersama dengan kekasihnya. Sebuah tindakan yang sangat berbahaya, untungnya kedua pengawal Nana cukup cerdik menyamarkan keberadaan mereka. Andai tidak, misi mereka akan mengalami sebuah kegagalan yang besar.


“Aku pikir kau harus membatasi gerakmu, sayang. Aku tidak ingin rencanaku berantakan dengan kesibukanmu berbelanja di tengah kota. Jika membutuhkan sesuatu, kau bisa memesannya lewat online.” Kazue menasehati sambil menepuk paha Nana dengan tegas namun tidak menyakiti.


“Baiklah, aku akan berada di sini sampai misi ini berakhir. Aku ingin melihat mereka hancur, seperti perasaanku setahun yang lalu.” ucap Nana geram kemudian beringsut keluar melewati ambang pintu geser yang terbuka lebar, langkahnya mengarahkan ke arah kolam renang.


Kazue berjalan di belakang, perhatiannya bukan kepada pemandangan melainkan lenggokan Nana yang selalu menggoda.


“Hmm.. Kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan, begitupun diriku.” Kazue optimis seraya memeluk pinggang Nana dari samping.


“Kau belum pernah mengatakan kepadaku rencana menjatuhkan orang itu, Kareshi. Apakah diriku belum cukup setia kepadamu, hingga rencana misimu sangat rahasia. Percayalah, aku tidak mungkin mengkhianatimu.” Bujukan Nana membuat Kazue tersenyum licik.


“Aku tidak tahu, sayang. Isi hatimu sebenarnya, setelah lama kita bersama, kau masih susah dijangkau. Bagaimana jika orang itu melihatmu, dan kau luluh hanya dengan perhatian manisnya.” Ujar Kazue bersandiwara sendu.


“Tidak, tidak.” Nana menggeleng keras. “Aku tidak mungkin melakukan itu. Dia tidak mungkin melirikku, Kareshi. Dia telah memiliki tunangan.”


Mata Kazue melebar. “Dari mana kau tahu jika dia memiliki tunangan?” selidiknya berpura-pura.


“Ah.” Tubuh Nana sedikit tersentak. “Bukankah ada di berita, dia bukan hanya seorang mafia. Kareshi, kenapa kau sangat aneh hari ini.”


Kazue terbahak tawa keras. “Ya, Kai Navarro pemilik resort dan memiliki seorang kekasih yang sangat cantik. Seorang sutradara.”


Nana berdecih sambil memalingkan muka dengan hati memanas. Kelebatan pemilik tubuh tinggi semampai saat di toilet tadi kembali terputar di kepalanya. Bahkan ia harus mengakui jika wanita itu sempurna, tapi dendam menyala hebat di hati hingga keramahan yang ditunjukkan kepadanya tidak berarti apapun.


“Kalian sama saja.” Nana mendorong Kazue pelan hingga pelukannya terlepas.


“Sama?” Manik hitam Kazue menajam.


“Ya, kalian para pria sama saja.” Nana merajuk berjalan ke arah sisi kanan dan duduk di kursi kolam.


Kazue mengulas senyuman melihat kekesalan kekasihnya yang sangat cemburu terhadap Shadow, ya Shadow kekasih incarannya. Sangat jelas terpancar, jika Nana belum sepenuhnya beranjak dari Kai, ada yang tidak tuntas di dalam hati wanita itu hingga mengarahkannya kepada sebuah misi balas dendam. Kazue tidak mempermasalahkan mendapati kenyataan jika dirinya hanya dijadikan alat penuntas dendam wanita itu, karena dari Nana ia mengenal sosok Kai lebih dalam.


Nana tidak tahu jika Kazue pernah meminta orangnya untuk menculik Shadow, sayang sekali ia belum berhasil. Kazue memiliki pantangan yang ia patuhi secara turun temurun, yaitu pantang baginya melibatkan wanita dalam bisnis mafia. Bagi klan Ishihara wanita hanya teman tidur, bukan sebagai teman diskusi mengenai pekerjaan mereka.


“Aku tidak membandingkan dirimu dengan wanita itu, sayang. Tapi hanya orang buta yang mengatakan Nona Shadow seorang yang buruk rupa. Aku telah menyelidiki semuanya, mereka memiliki gen Asia Tenggara. Jadi, wajarlah jika mereka berjodoh.”


Nana menggeram, wajah cantiknya kaku mendengar penuturan ringan Kazue.


“Terserahlah, mau dia cantik atau tidak. Sebentar lagi aku akan memberikan pelajaran kepadanya.”


“Bukannya kau punya dendam dengan Kai. Tidak dengan wanita itu, sayang.” Kazue melipat tangan di dada menatap Nana yang duduk dengan tubuh tersengal seakan baru saja berolahraga berat.


“Semua yang berkaitan dengan Kai Navarro, aku sangat tidak menyukainya.” Sungut Nana meremat bantalan kursi kolam.

__ADS_1


Kazue menaikkan bahu sambil terkekeh. Ia semakin paham jika cemburu merajai hati Nana telah membutakan segalanya. Kazue hanya berminat menggeser posisi Kai di dunia mafia, syukur-syukur dengan tunangan cantiknya bisa ia dapatkan dengan cuma-cuma.



Shadow memutar malas matanya tatkala masa lalu yang ia ingin lupakan berjalan menghampiri dengan senyuman lebar tersungging di bibir. Ya, Alexandre Marais yang siang itu mengenakan kemeja bergaris biru dan celana bahan berwarna navy bak berjalan dengan langkah kaki yang jumawa.


“Hai, sutradara tercantik di Hollywood. Apa kabarmu?” sapa Alexandre mengabaikan muka kesal yang menjadi ciri khas seorang Shadow Faburun.


“Untuk apa kau kemari?” Shadow balik bertanya dan mengurungkan niat untuk membuka pintu ruangan kantornya.


Alexandre tertawa kecil dan terus memasang senyuman sekaligus memamerkan giginya yang putih. “Kau seolah melihat setan. Oh Ya, aku habis bertemu dengan kedua ayahmu, mereka mengajakku bekerja sama dalam satu proyek film. Sengaja aku kesini karena ingin menyapamu. Bukankah kita telah lama tidak bertemu. Bisa saja kau merindukan diriku, sayang.” Ucapnya dibalas mata melotot dari Shadow.


“Demi Tuhan, Alex. Kau adalah pria terakhir di muka bumi yang ingin kurindukan. Katakan jika kau hanya bercanda, karena aku tahu kau sekarang sudah memiliki wanita baru.” Sahut Shadow sengit. Ia sama sekali tidak bisa bertutur ramah kepada mantan pria yang ingin mendekatinya itu.


“Yeah, yeah. Benar aku sekarang berpacaran dengan artis itu. Jika kau tahu, ah pastinya kau tahu. Tapi, tetap saja kau yang terindah di hatiku.” sahut Alexandre membenarkan.


“Omong kosong. Sudahlah aku tidak peduli, Alec. Aku hanya bisa mendoakanmu dengan dia, semoga kali ini tidak kebohongan di antara kalian.” Shadow memutar kenop pintu dan menoleh menatap aktor bertubuh tinggi menjulang yang hendak mengikutinya.


“Tidak usah masuk, aku hanya ingin mengambil tasku.” Tambahnya dengan nada suara tegas memerintah.


Alexandre pasrah dan hanya menatap daun pintu yang terbuka lebar. Sosok Shadow melangkah panjang ke arah meja kerjadan secepat kilat meraih tas berwarna coklat dengan logo yang hanya dipakai oleh para kalangan atas.


“Kemana pengawalmu?” tanya Alexandre ketika Shadow kembali menutup pintu.


“Siapa?” tanya Shadow dengan malas.


Alexandre mencebik ke arah cincin berlian di jemari Shadow. “Dia.”


Raut muka Shadow yang semula ketus berubah menjadi riang. “Oh tunanganku. Dia sedang sibuk mengurus resortnya lewat conference call. Ini adalah hari terakhir aku masuk kantor, besok kami akan berlibur.” Katanya sambil tersenyum.


“Jadi kau tidak memiliki pekerjaan dalam waktu dekat? Padahal tadi aku berharap kau yang akan yang menyutradarai film baruku, hitung-hitung kita reuni setelah proyek film di Perancis beberapa tahun yang lalu.”


Beberapa orang yang berpapasan dengan mereka tampak tersenyum penuh makna, mungkin dibenak orang-orang tersebut terlintas tentang kisah lama antara Shadow dan Alexandre yang kembali bersemi.


“Berhentilah mengikutiku. Tadinya aku pikir bisa berlama-lama di ruangan kerja, tapi kau datang. Daripada menghabiskan waktu mendengarkan rayuanmu, lebih baik aku pulang lebih awal.” Sungut Shadow yang terus melangkahkan kaki menuju lift.


Alexandre terdiam namun tetap berada di samping Shadow.


“Rupanya kau tuli.” Gumam Shadow menekan tombol turun sambil melirik pria penguntitnya.


Hanya alis Alexandre berkedut acuh, ia tidak peduli akan semua penolakan Shadow. Baginya bertemu dengan sutradara yang memiliki jam terbang cukup tinggi itu adalah sebuah anugerah indah.


Shadow mengambil momen kebisuan antara mereka dengan mengirimkan pesan kepada tunangannya.


Tuan Mafia, aku akan pulang cepat.


Usai mengetikkan pesan, Shadow tetap menggenggam ponselnya. Ia berjaga-jaga kemungkinan besar Kai menjawab pesannya.


Getaran di tangan membuat bibir Shadow mengulas senyuman.


Conley akan menjemputmu, Shaw. Bukannya tadi pagi kau mengatakan jika pekerjaanmu selesai pada jam tiga sore. Jadi, tunggulah di kantor.


Dengan cekatan Shadow membalas pesan kekasihnya yang diikuti lirikan mata penasaran oleh Alexandre.


Tidak perlu, ini aku sudah masuk ke dalam lift. 20 menit lagi akan sampai di apartemen. Lebih baik Conley menungguku di depan bangunan saja. Jika dia melakukannya, aku akan mentraktirnya Domino's.


Sebuah tarikan napas lega ketika Shadow menaruh ponselnya di dalam tas.


“Rupanya dia sangat perhatian. Tapi aku juga bisa melakukannya.” Ujar Alexandre sambil membusungkan dadanya. Rasa bangga akan diri sendiri yang kemudian dianggap remeh oleh Shadow lewat decakan lidah dan manik coklat yang memutar jengah.

__ADS_1


“Sampai kapan kau bertingkah seperti ini, Alec. Tidakkah kau bosan, karena aku muak melihatmu menjatuhkan harga diri sebagai seorang aktor papan atas Hollywood yang memiliki jutaan penggemar di luar sana.” Kata Shadow bergegas dengan langkah yang lebih cepat dari sebelumnya, sementara Alexandre tetap berupaya mengimbangi pergerakan tubuh sutradara cantik itu.


Kembali terdengar suara tawa Alexandre yang membuktikan jika dirinya adalah seorang Perancis sejati. Halus dan ada kesombongan di dalamnya.


“Semua orang memiliki sisi hitam, sayang. Dan bagiku adalah dirimu. Hanya kepadamu aku memperlihat diriku yang sesungguhnya, seorang yang tidak menyerah akan cinta.”


Shadow melotot dengan sempurna ketika mencapai pintu keluar bangunan kantor milik orang tuanya.


“Cukup hari ini kau mempertontonkan sisi gelapmu. Andai saja kau tahu sisi gelapku, kau pasti tidak sejauh ini mengejar, Alec. Jadi sampai tidak bertemu kembali.”


Alexandre memegang pergelangan tangan Shadow yang hendak melangkah menuju ke arah jalanan. “Aku akan mengantarmu pulang.”


Shadow menatap tajam jemari tangan Alexandre, tanpa berbicara pria itu spontan melepaskan genggamannya.


“Aku hanya berusaha berbuat baik kepadamu, sayang.” seru Alexandre mengejar Shadow dari belakang. Di saat bersamaan wanita cantik itu melambaikan tangan pada taksi berwarna kuning yang sedang parkir di tepi jalanan.


Shadow mengindahkannya tanpa sekalipun menoleh ke arah Alexandre yang berdiri di tepi jalan yang sangat ramai itu.


Mata Alexandre melebar dan syok ketika melihat di bagian depan kursi taksi terdapat dua orang pria bermata sipit.


“Shadow! Turun!” teriak Alexandre histeris seiring mobil berwarna kuning itu beranjak dengan kecepatan penuh. Jantung sang aktor seakan lepas melihat sosok pria di kursi depan memukul leher Shadow hingga wanita cantik itu tak berdaya.


“Tuhan, Tuhan. Apa yang harus kau lakukan?” Dengan tangan gemetar Alexandre meraih ponselnya dan menekan tombol panggilan 911.



Kai menatap ponselnya yang sedari tadi menunggu balasan pesan dari Shadow. Sudah 40 menit lamanya ia menunggu, namun pesannya sama sekali belum terbaca.


“Conley masih dibawah?” tanya Kai bergerak dari sofa kebanggaannya. Ia pun menengok ke bawah dari jendela, berharap ia bisa melihat Conley bersama dengan Shadow.


“Ya, boss.” Sahut Akio.


Pria bersurai putih itu menoleh menatap keempat pengawalnya.


“Coba kalian hubungi Conley.” Perintah Kai. Manik birunya mengental dengan hati was-was.


Ting !


Rahang Kai mengeras, matanya menajam, tangan ramping dan panjang mencengkeram kuat ponselnya.


Tunangan cantikmu berada di tempat yang sangat indah. Datanglah sebelum aku menyentuhnya.


###




alo kesayangan💕,


sampai lupa jalan cerita Kai, dan otak kriminalku keknya juga sedang tidak berfungsi.


hahahahaa.


semoga kalian masih betah dengan Kai.


love,


D😘

__ADS_1


__ADS_2