CUTE MAFIA

CUTE MAFIA
Matahari Kembar


__ADS_3

"Apa ini?" tanya Shadow menerima amplop coklat dengan alis saling bertautan.


"Coba baca, mama memintaku agar kau diberitahu," Kai duduk di sebelah Shadow setelah meletakkan nampan berisi dua gelas coklat panas.


"Aku lebih tertarik coklat panas daripada ini," sahut Shadow acuh namun tetap menarik isi surat dari amplop. Sekilas ia memandang Kai lalu menghela napas. "Kau tidak akan selamat," ancamnya.


Kai hanya bisa tersenyum sambil menatap salju mulai menumpuk di halaman rumah. Ia menanti reaksi Shadow yang tetap tenang membaca surat Martina.


"Jadi?" celetuk Shadow tiba-tiba. Kai yang terkantuk jadi tersentak kaget.


"Apa?" Kai mengerjapkan manik birunya.


"Ini." Shadow meletakkan surat Martina di pangkuan Kai. Ia mengambil coklat hangatnya dan mengesapnya pelan-pelan.


"Tidak ada apa-apa, Shaw," Kai menaruh kertas terlipat di atas meja. "Kau masih ingat misi yang tidak aku ceritakan saat kita di Hollywood. Kejadian itu terkait dengan Martina Ayuso dan kakaknya. Mereka dari Kartel Tijuana di Meksiko. Singkat cerita, Martina menyukaiku sejak lama dan dia meminta Antonio kakaknya untuk mencari tahu tentang diriku. Aku ke Meksiko hanya ingin memberitahunya secara baik-baik bahwa seorang Kai sangat berbeda dengan apa yang dipikirkannya. Aku sudah menikah dan sama sekali tidak tertarik melakukan sebuah perselingkuhan,"


Shadow berdecih dan cemberut, merajuk. "Biasanya kau mengabaikan wanita seperti ini, Tuan Mafia,"


Kai mengelus surai Shadow. "Ya, biasanya memang seperti itu. Tapi kali ini aku berurusan dengan keluarga kartel. Martina hanya mengenalku dari berita simpang siur. Entah itu tentang kehebatanku bersama dengan Black Panther atau hal lain,"


"Bukannya berhenti, dia malah masih berharap," keluh Shadow.


"Dia tahu posisinya, Shaw. Dan aku tidak akan pernah melakukan hal bodoh yang membuatmu terluka. Sedikitpun,"


"Bagaimana wanita itu bisa mengirimkan surat ke rumah Mama? Bisa saja ke depannya dia datang ke sini," Shadow mengungkapkan kekhawatirannya.


Kai merengkuh tubuh Shadow sekaligus menenangkannya. "Dia menitipkan surat itu kepada orang kita. Aku menugaskan orang untuk mengawasi gerak-gerik mereka di sana, dia dan kakaknya tidak akan pernah bisa meninggalkan Islandia selama aku masih hidup,"


"Aku hanya mengkhawatirkan masa depan keluarga kita,"


Kai mencebikkan bibirnya hanya ingin menggoda Shadow. "Tadi pura-pura acuh sekarang khawatir. Ophelia Shadow istriku. Sebelum kau memikirkan semua hal seperti itu, jauh-jauh hari telah kupikirkan semuanya. Tenang, tidak akan ada mengusik hidup kita. Dan aku bukan tipe pria yang gampang tergoda,"


"Mungkin belum," Shadow lebih menuntut sebuah kalimat yang lebih menenangkan hati. Sama hal yang berlaku pada dirinya, andai saja di masa depan ada yang menggoda dan mengejar seperti wanita di surat itu, Shadow akan berpegang teguh pada ikatan pernikahan mereka.


Kai menggeleng dan memberikan tatapan teduh untuk Shadow. "Dulu yang aku pikirkan hanya ingin menguasai dunia, Shaw. Cinta tidak pernah masuk dalam kamusku, walau aku melihatnya tiap hari dari Papa dan Mama. Punya pendirian bahwa cinta hanya akan melemahkan hati, tidak juga membuatku tidak mengenal wanita. Banyak, dan aku tidak sombong, tapi wanita seperti Martina bergantian datang dan usai akan permintaanku. Jadi bisa dikatakan aku sudah lelah dengan kehidupan seperti itu. Kau membuatku berubah, banyak hal jika dipikirkan,"


"Kau menjengkelkan ketika kita bertemu," gerutu Shadow menatap wajah Kai. Ia kemudian tersenyum mengingat masa lalu.


"Kau menarik," singkat Kai lalu mencium puncak kepala istrinya.


"Aku jatuh cinta kepada orang yang sangat menjengkelkan,"


Kai tertawa. "Lebih baik kau mengenalku sebagai sosok yang menjengkelkan. Setidaknya aku tidak bersandiwara, Shaw. Dibandingkan pria-pria sebelum aku, mereka memperlihatkan dirinya sejuta pesona ternyata sudah memiliki anak,"


Giliran Shadow terbahak. "Kau menyindir Alexandre. Dan sekarang aku lega,"


Alis tebal Kai terangkat. "Lega?"


"Ya. Aku memposisikan Martina sama dengan Alex. Mereka mengejar walau tahu jika kita telah bahagia," kata Shadow lalu tersenyum menganggukkan kepalanya.


"Semua orang diciptakan di muka bumi memiliki peranan masing-masing. Mungkin Alex dan Martina sedang menjalankan perannya yang sekarang, berusaha mendapatkan apa yang mereka pikir adalah kebahagiaannya. Orang-orang itu pasti akan selalu ada, sekarang dan di masa depan. Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah menghargai proses, layaknya kamu dan aku untuk berada di titik ini, melalui banyak hal. Martina tidak tahu berapa tahun aku habiskan untuk berlatih dan belajar untuk mendapatkan kepercayaan Mama dan disegani oleh anggota Black Panther. Andai saja aku hanya seorang Kai Navarro tanpa Black Panther, Martina tidak akan mengejar hingga mengorbankan keluarganya. Begitu pun dirimu, Shaw,"


Shadow terpana. "Ayah anak-anakku semakin bijak,"


"Tentu saja," Kai tersenyum bahagia sambil mengelus perut Shadow yang mulai membuncit.


"Terima kasih, Tuan Mafia. Terima kasih telah tumbuh semakin bijak bersama denganku,"

__ADS_1


...


4 bulan kemudian, di kota Berlin semua keluarga sedang berkumpul menantikan kelahiran penerus Kai dan Shadow. Mereka memilih Berlin dibandingkan kota lain walau tadinya sempat terpikirkan untuk kembali ke Indonesia.


Kai berkeinginan jika anak-anaknya mengenal asal muasal mereka. Dia pun sebenarnya telah lama tidak mengunjungi Bali. Sayangnya pada trimester 3 Shadow sempat mengalami pendarahan hingga dokternya menyarankan agar sang ibu hamil itu tidak bepergian jauh bahkan untuk tidak terbang sekalipun.


"Kau terlihat pucat, Liam," kekeh Kila kepada besannya.


Liam mendesah sambil menggelengkan kepala. "Setiap ada kelahiran di keluarga kami, aku selalu seperti ini,"


Hugo menepuk punggung Liam dan ia tersenyum tipis. "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dia berada di tangan yang tepat, Dokter Timo salah satu dokter keluarga Navarro,"


"Aku berusaha," Liam menarik napas. Ia iri dengan Ricchi yang tampak lebih santai, bahkan masih bisa menerima telepon dari kantor. Sementara Liam sendiri tidak bisa mengalihkan pikiran dari Shadow yang sedang berjuang di dalam ruang operasi.


"Sebentar lagi kita akan melihat wajah cucu, walau bukan cucu pertama tapi rasanya tetap sama. Sangat excited," kata Kila dengan riang.


"Ya, 5 bulan lalu cucu kami yang kedua lahir. Bayi perempuan, Adeline. Dari Sunshine sudah sepasang cucu," celetuk Dee menginformasikan. Ia menggamit tangan Liam, juga berupaya meredakan kerisauan suaminya.


Kila dan Hugo tertawa kecil. "Kami sudah banyak, 7 cucu dari Isla dan Sky. Keluarga kita semakin besar," imbuh Kila.


"Semakin besar dan mereka telah memiliki kehidupan masing-masing. Kami tetap bertiga di rumah, anak kami Sunshine masih belum bisa terlalu sering berkunjung. Ya, sebagai orang tua kami jadinya yang menengok keadaan mereka dan cucu," ujar Dee. "Mungkin nantinya kami akan sering berkunjung ke Berlin,"


"Dengan senang hati kami menanti kunjungan berikutnya. Kai sangat ingin kembali ke Indonesia, mungkin kita bisa mengatur jadwal pulang kampung," usul Kila mendapatkan dukungan dari Hugo.


"Dulu Shadow yang suka mengajak kami ke Bali. Dia sangat suka berjemur, mencoklatkan kulitnya," Kata Liam kini bisa tersenyum mengingat masa lalu. "Bukankah Kai dan Shadow bertemu di Bali?"


Para orang tua itu tertawa. "Ya, mereka bertemu di Bali, mungkin itu juga alasan Kai ingin pulang," pungkas Kila.


"Anak-anak kita yang dulunya masih kecil kini sudah menjadi orang tua. Pola pikirnya berkembang dan semakin kompleks. Sementara kita sebagai orang yang lebih tua semakin simpel," Hugo mengulum senyuman. Ia menarik napas panjang.


"Seperti itulah hidup," Liam mengamini perkataan Hugo.


"Putra-putra kami telah lahir dengan selamat," kata Kai dengan mata berkaca-kaca sementara bibirnya tak bisa menyembunyikan rasa bahagia.


"Selamat, Nak," kata Liam memeluk Kai. Sementara yang lainnya juga saling berpelukan dengan penuh suka cita.


...


Kila masuk ke dalam ruangan inap bersama dengan suaminya. Shadow sedang tidur, sementara dua bayi yang mewarisi gen Kai juga ikut terlelap.


"Matahari kembarku," kata Kila membelai surai putih halus milik cucunya. Kai mengangguk dengan tatapan takjub kepada dua putranya. Pelukan Hugo membuat Kai tidak bisa mengungkapkan kebahagiaannya dengan kata-kata.


"Gen papa sangat kuat," kata Kai bergantian memandang surai putih milik Hugo dan anak-anaknya.


Hugo tersenyum simpul. "Mereka mirip dirimu, surai putih dan bola mata seperti lautan,"


"Bumi Danayaksa Girindrawardhana dan Auriga Danantya Girindrawardhana. Papa yang memberikan nama ini?" tanya Kila masih setia mengelus si kembar secara bergantian. Ia membaca nama yang tertera di masing-masing tempat tidur bayi mungil itu.


Kai mengangguk. "Ya, Grandpa yang memberikan nama. Kai juga menginginkan mereka menggunakan nama Indonesia. Auriga berarti bintang, Ma Pa,"


"Nama yang indah, Papa tidak pernah kehabisan ide," puji Kila.


Hugo terdiam, ia menepuk-nepuk punggung Kai memberikan support.


"Rupanya Grandpa-mu hanya masuk dan memberikan nama. Kini semua orang sudah kembali ke rumah. Mungkin nanti sore mereka akan kembali ke rumah sakit," celoteh Kila lagi, ia tidak mau berhenti berbicara. Zat endorphin yang berlebihan membuatnya dipenuhi kebahagiaan sepanjang hati.


"Iya, semua telah berpamitan. Katanya mereka lelah, tidak ada yan bisa tidur lelap semalam menunggu hari ini," Kai menguap, ia sebenarnya juga merasakan kelelahan.

__ADS_1


"Kau juga harus beristirahat. Mama yang banyak tidur," kata Kila seraya tersenyum menyeringai. "Mama bisa menjaga si kembar,"


Kai memandang lekat Kila. "Kai tahu isi kepala Mama," katanya lalu meringis.


Kila menantang Kai sambil mengerakkan kepala ke depan sekali. "Coba sebutkan isi kepala Mama, biar kami tahu,"


"Mama memikirkan Black Panther," tebak Kai.


Kila pura-pura kaget dengan menutup bibirnya. "Hebat, wajar anakku pemimpin Black Panther. Instingnya sangat kuat,"


"Sejak mama mengatakan "Matahari Kembar" Kai sudah tahu maksud Mama."


Kila meninju lengan anaknya, lalu tertawa. "Jujur Mama dulu ingin Black Panther setelah kepemimpinanmu kembali di bawah seorang pemimpin wanita,"


"Siapa?" tanya Kai cepat.


"Keponakanmu, Kaia Jamaica. Dia berbeda dengan saudara-saudaranya, hampir mirip dengan diriku. Ia berwajah Asia, berambut hitam dan sangat tertarik dengan bela diri. Kau tersaingi, Sayang?" tanya Kila melihat ekspresi Kai berubah.


"Tidak, Ma. Segala keputusan ada di tangan Mama dan Papa. Tapi bagi Bumi dan Auriga, bukankah ini masih terlalu dini menentukan takdirnya," elak Kai, ia menoleh melihat Shadow yang tertidur. Entah apa yang akan dipikirkan dan diungkapkan Shadow jika mendengar pembicaraannya dengan sang Mama.


"Tidak ada yang dini. Mama sekarang menentukan pewaris Black Panther di masa depan adalah di tangan Matahari Kembar," kukuh Kila tidak bisa diganggu gugat. "Mama tidak tahu apakah kami akan berumur panjang menyaksikan itu semua, Mama tidak ingin ada pertikaian ketika kami sudah tidak ada,"


"Mereka tidak akan bertikai," Hugo ikut bersuara.


"Sebaiknya begitu. Hiduplah dengan rukun," Kila mencubit pipi Kai dengan gemas.


Kai si ayah kembar kembali berkaca-kaca. Ia lalu mendekap tubuh mungil Kila. Satu-satunya wanita bertubuh kecil di keluarga mereka karena yang lain mengikuti tinggi badan Hugo. "Mama dan Papa akan hidup lama. Walau Kai sudah jadi seorang ayah tapi masih butuh banyak bimbingan dari Papa dan Mama,"


"Cengeng," balas Kila. Ia ikut larut dengan suasana haru biru yang pelan hadir di ruangan itu.


Hugo menghela napas, ia menoleh dan mendengar suara isak tangis lainnya. Rupanya Shadow sudah terbangun dan mendapati Kai dan Kila bertangisan. Hugo berjalan mendekati Shadow dan menenangkannya.


"Ini baru pertama kali Papa lihat Kai dan Mamanya berpelukan sambil menangis. Selebihnya mereka seperti dua orang musuh yang saling membutuhkan," kelakar Hugo berhasil membuat Shadow tersenyum walau air mata jatuh di pipinya.


"Mama adalah cinta sejati Kai Navarro," ucap Shadow sambil menyeka air matanya.


Kila mendengar perkataan Shadow lalu berbisik. "Datangi istrimu, katakan jika dia-lah cinta sejatimu. Berkat Shadow, Mama mendapatkan dua pewaris yang hebat," ucapnya sambil melepaskan pelukan.


Sesaat Kai memandang Kila, ia mengangguk walau bola mata birunya masih memerah. "Terima kasih, Ma. Semua yang terjadi di hidup Kai semua berkat perjuangan Mama,"


Kila meringis lalu mencubit pipi Kai lagi. "Papamu. Hugo Chan-lah yang memperjuangkan Mama. Andai Papa tidak melakukan itu, Isla, Sky dan Kai tidak pernah ada di dunia," gerutunya.


"Lihat, Nak. Mereka tidak bisa lama lembut satu sama lain, bukan?" Hugo berkata kepada Shadow.


Shadow mengiyakan. Ia mengakui hubungan Kila dan Kai sangat berbeda dari ibu dan anak kebanyakan. Pun ia menginginkan hubungan seakrab itu kelak dengan kedua putranya, Bumi dan Auriga Girindrawardhana.


###




alo kesayangan💕,


sisa 1 chapter novel ini akan tamat dan chapter terakhir tidak akan panjang sepertinya.


terima kasih masih setia menunggu, kalian terbaik❤️ walau aku tahu kalian sedang bertanya-tanya "kapan Mersia diupdate?" 😒😂

__ADS_1


love,


D😘


__ADS_2