
"Kau bercanda, bukan?" tanya Kazue menaikkan ujung bibir kirinya ke atas.
Kai mengangkat bahu dengan santai. "Pilihan ada di tanganmu, Tuan Yakuza." jawabnya tak bergeming.
Kazue mengerling ke arah orang-orangnya yang bersiaga menunggu perintah, bisa saja sedetik lalu saat pria jangkung itu masuk ke dalam ruangan dan tubuhnya langsung diberondong oleh puluhan peluru. Kazue bukan orang yang seperti itu. Nyali seorang Kai Navarro tidak bisa dipungkiri kehebatannya, datang seorang sendiri di tengah Yakuza bersenjata patutlah Kazue bertepuk tangan.
Ini pula yang membuktikan jika pimpinan Black Panther tersebut teramat mencintai tunangannya. Kazue sendiri belum pernah dihadapkan pada posisi yang sama, jika hal itu terjadi kemungkinan besar ia akan membiarkan wanita-nya di tangan musuh. Terlebih jika pilihannya adalah nyawa dan nasib klan Ishihara.
"Aku bisa menghabisimu sekarang juga, Kai Navarro." Kazue menggertak, menganggap posisi lebih kuat berada di pihaknya.
Kai tersenyum. "Lakukan. Tapi sebelum itu kau harus melepaskan ikatan kekasihku. Dari caramu memperlakukan seorang wanita, aku bisa menebak posisi mereka di hatimu. Oh, sepertinya kau mengenalku dengan baik sementara aku tidak."
"Kazue Ishihara." singkat Kazue menatap lurus lawannya.
Aroma permusuhan sangat kental mengisi ruangan bawah tanah tersebut. Dua orang pria berbasa-basi dalam perbincangan, namun saling mengirimkan sinyal tanda bahaya. Kazue berdiri tegap lurus dengan muka datar, sementara Kai sesekali menampakkan seringaian tipis di bibirnya.
"Aku tidak banyak tahu tentang Klan Ishihara. Bisa dikatakan ini pertama kali aku mendengar klan kalian, sebenarnya aku tidak tertarik dengan Asia kecuali ketika kami dari Black Panther mendapatkan misi ke sana." kata Kai terdengar menyombongkan diri.
"Buktinya aku mengenalmu." sergah Kazue dengan cepat.
Manik biru Kai menyala. Ia pun terkekeh mendapati Kazue memakan umpan pancingannya.
"Sepertinya kau mempelajari tentang kami sangat detil. Orang-orangmu bahkan membuntuti Shadow, kekasihku di Jerman hingga berhasil menculiknya di Hollywood. Aku salut dengan kegigihan klan Ishihara. Bravo." Kai bertepuk tangan dengan keras.
"Dia kelemahanmu, Tuan. Satu-satunya yang bisa aku usik agar kau menampakkan dirimu dengan gagah seperti ini." Kazue membenarkan.
Kai melihat Shadow bergerak di kursinya, ia sangat tahu jika wanita itu tersulut oleh perkataan Kazue.
"Kau salah, Tuan Ishihara. Shadow bukan kelemahanku, melainkan dia adalah sumber dari kekuatanku. Dengan mengusik Black Panther, sepertinya kau ingin keluar dari Asia. Benar tidak dengan tebakanku?"
"Ya, kami ingin menguasai dunia mafia dengan menumbangkan Black Panther." jawab Kazue tanpa menutupi alasan sebenarnya.
Kai terkekeh diikuti oleh desisan halus. Manik birunya tetap mengintai bak elang ke arah musuh.
"Seharusnya tidak perlu melakukan ini, kau hanya perlu mengirimkan surat terbuka kepadaku, menantang Black Panther. Jika klan Ishihara tidak mampu berperang dengan mengandalkan kekuatan, kita bisa berduel dengan menyepakati sebuah perjanjian. Kau tahu Tuan Kazue, jika aku menerima tantangan lebih jantan dengan tangan terbuka dibandingkan melibatkan kekasihku." tutur Kai seraya melirik Shadow. Bahu kekasihnya bergerak naik turun, Shadow menangis.
Hening. Kazue terdiam, tatapannya terpaku pada sosok jangkung di depan. Isi kepala Kazue sedang bekerja, mungkin karena memikirkan perkataan Kai.
Kenapa ia tidak pernah memikirkan tantangan terbuka dengan pemimpin Black Panther? Sekarang ia nampak rendah di depan Kai Navarro yang ternyata sangat cerdas.
"Kau tidak berbual, bukan?" tanya Kazue menginginkan penjelasan.
Kai mengedikkan bahu sekali. "Aku tidak suka berbohong, Tuan Ishihara. Kami sejak kecil diajar untuk berbicara apa adanya. Tapi aku akui kehebatan Ishihara mendekati Black Panther, sepertinya kalian adalah kelompok pertama yang berani menantang kami."
Kazue tercenung sejenak, kemudian menoleh ke arah samping. "Buka ikatan tali wanita itu." perintahnya kepada Kenta.
Kenta yang disuruh langsung berjalan sebanyak tujuh langkah kaki dari tempatnya, kemudian ia mengeluarkan pisau kecil memotong tali temali yang menjerat tubuh Shadow.
Kai tidak menyiakan kesempatan itu, bergerak secepat kilat mendekat ke arah Kenta yang lengah. Memukul keras pada bagian samping leher Kenta, merebut senjata di saat terdengar teriakan ancaman dua pengawal Kazue lainnya.
Dor ! Dor !
Bunyi senjata AK47 memekakkan telinga di dalam ruangan bawah tanah, bergema keras. Suara pekikan terakhir dua orang pengawal Kazue yang tumbang tanpa sempat menembakkan senjatanya. Satu peluru bersarang tepat di kepala dan satu di cekungan leher. Sementara Kenta pun mendapatkan nasib yang sama, tumbang di tangan sang pemimpin Black Panther.
Dor !
Kali ini Kai menembakkan AK47 ke arah tombol pintu, kini mereka tidak bisa keluar kecuali usaha dari luar ruangan yang tidak tahu menahu kejadian yang baru saja terjadi.
"Bagaimana? Sekarang posisi kita imbang, Tuan Ishihara. Aku menantangmu untuk berduel sebagai laki-laki, tangan kosong. Siapapun yang menang harus tunduk kepada pemenang, dan jika aku yang kalah, aku siap memberikan Black Panther ke tanganmu. Asal kau tahu, kami berjumlah hampir 3000 orang. Sangat besar, bukan?" ujar Kai tanpa menutupi.
Kazue tampak kaget, mata sipitnya melebar menyaksikan tiga orang pengawalnya yang memiliki kemampuan bela diri dan menggunakan senjata di atas rata-rata, meregang nyawa dalam waktu sepersekian detik.
"Aku.." Kazue bingung. Ia kehilangan kata-kata, sementara Kai menyempatkan diri membuka tutup mata dan lakban yang membekap mulut Shadow.
"Bertahanlah sebentar, Shaw." Bisik Kai menatap sedih bahu kekasihnya yang masih mengeluarkan darah segar.
Shadow mengangguk sendu namun ia tahu posisinya yang tidak boleh lemah terlebih Kai masih harus berhadapan dengan Kazue.
Kai mengusap kepala kekasihnya sebelum bergerak dengan langkah tegap menghampiri Kazue.
"Aku tidak pernah memiliki dendam di Asia, Tuan Ishihara. Seluruh Yakuza yang pernah aku hadapi, dalam pantauan Black Panther. Umumnya mereka tidak ada yang berani mencari-cari masalah dengan kami lagi. Jadi, aku mempertanyakan alasan utamamu yang ingin menguasai Black Panther, Kazue." suara Kai mendesis dengan seringaian sinis menghiasi bibirnya.
Kazue berusaha tenang, walau detakan jantungnya memompa secara tak karuan, pori-pori mencetak bulir-bulir peluh oleh perasaan yang tak pernah hadir sebelumnya.
Takutkah dirinya? Kazue berharap saat itu juga ia bisa kembali ke Jepang, menikmati musim semi dengan kendi berisikan sake terbaik. Bukan menghadapi seorang pria yang tidak bisa ditebak isi kepalanya.
__ADS_1
Boooom !
Sebuah ledakan besar membuat kaki goyah, tanah bergetar, dan atap ruangan menjadi hujan abu. Kazue terjengkang ke depan, kedua tangannya yang gemetar menahan tubuh di lantai.
Kazue mendongak, sosok Kai berdiri tegap di depannya, raut wajahnya tenang dengan manik biru yang menajam.
"Mau kubantu untuk berdiri?" tanya Kai ramah sambil mengulurkan tangannya.
...
Lima menit sebelumnya..
"Baik, kami hanya meminta waktu 30 menit sebelum pihak Interpol datang." kata Conley di telepon. Kepalanya mengangguk-angguk mendengar suara tegas dari benda pipih di telinga. Tak lama kemudian Conley menatap Akio, sebuah anggukan tegas membuat temannya melirik jam tangan pemberian Kai.
"Oke, tiga menit lagi. Sesuai instruksi tanpa ada perubahan." Perintah Akio didengarkan oleh para pasukan Black Panther dengan alat komunikasi tersendiri.
Akio memasang respirator googlenya, telunjuknya naik ke atas dan menunjuk ke arah depan. Kembali Akio melirik jam tangannya, dan menghitung mundur.
"Tiga Dua Satu."
BOOOM !
Akio menarik napas panjang sambil menguatkan mentalnya.
"MAJU MAJU." Teriak Akio memimpin pergerakan puluhan orang berpakaian serba hitam, berompi lengkap dengan segala amunisi dan senjata cadangan.
BOOOOM !!!
Bom kedua kembali menghantam bangunan pertama mansion, puluhan orang pasukan Ishihara berpencar kaget. Belum sempat mereka mengamankan posisi, orang-orang Black Panther telah menyerang. Suara senjata meletus berulang kali, klan Ishihara bertumbangan oleh pasukan khusus Black Panter yang setara dengan pasukan elit Rusia.
Conley, Heron beserta dengan pasukan yang beranggotakan 10 orang bergerak menuju bangunan kedua mansion tua tersebut.
Dor Dor Dor!
Berondong peluru terus melesak menembus pakaian hingga ke bagian terdalam tubuh orang-orang Kazue. Tidak ada belas kasih di tengah perang seperti ini, Akio telah memerintahkan hal itu kepada semua yang turun di lapangan. Misi mereka menyelamatkan sang pemimpin, yang menurut alat pelacak berada di ruangan bawah tanah.
Semua terjadi sangat cepat, hingga kelompok Conley dan Heron berhasil menguasai lantai bawah bangunan kedua.
"Hati-hati." kata Conley kepada pasukan bergerak menuruni tangga. Mereka disambut oleh asap tebal, dan lima tubuh penjaga ruangan jatuh tak sadarkan diri oleh zat kimia yang terkandung pada dua bom tadi.
Heron mengangkat tubuh pria yang telah jatuh di lantai, menarik jempol pria tersebut dan melekatkan alat pendeteksi sidik jari.
Ditolak.
Muncul peringatan di layar mini menjelaskan bahwa pria yang tadi bukanlah pemilik akses masuk ke dalam ruangan.
Perlahan asap di dalam ruangan mulai menipis namun mereka tetap siaga dengan respirator googlenya.
"Coba yang lainnya." Conley menunjuk kepada orang yang bergeletakan dan dengan sigap anggota pasukan Black Panther mengangkat para korban untuk diambil sidik jarinya.
Diterima
Heron mendesah lega seiring pintu menggeser ke arah kanan.
Tak ada yang lebih menyenangkan ketika melihat sosok Kai berdiri tanpa luka sedikitpun di tubuh. Mungkin hal sama yang dirasakan oleh pasukan berjumlah 12 orang tersebut.
"Boss!" seru para pasukan Black Panther bersamaan.
Kai menaikkan tangannya agar orang-orangnya diam.
"Conley, tolong obati luka Nyonya Boss." pintanya sambil menoleh kepada Shadow di pojokan yang sedang menekan bahunya. Shadow yang sendu dan terluka, hati Kai teriris melihatnya.
Hal itu pula yang membuatnya tanpa ampun menghajar Kazue. Pria Jepang yang tadinya masih bisa menangkis serangan Kai, kini tak lebih dari pesakitan dengan tubuh remuk redam. Kazue berada di antara hidup dan mati. Matanya bengkak parah di sebelah kanan, mata kirinya terbuka dan melihat langsung pasukan Kai yang tampak sangat terlatih.
Kazue sadar, jika dia tidak berhadapan dengan kelompok mafia melainkan satu organisasi yang memiliki kekuatan lebih di atas pasukan khusus. Ishihara tidak pernah berpikir sejauh ini.
Terkutuklah kau, Nana!
Kazue geram, ia ingin saja mati di tangan Kai namun mengingat sosok wanita yang menghantarkannya pada kehancuran, membuatnya masih ingin hidup lebih lama sebelum ia benar-benar menghabisi seorang Nana Kitagawa.
"Heron, bagaimana keadaan boss kita?" tanya Akio lewat alat komunikasi.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Bagaimana dengan di atas sana?" Heron menatap Kai, begitupun sebaliknya.
__ADS_1
"Aman, semua bersih. Tolong sampaikan kepada boss jika kami menemukan hal istimewa di sini." Ucap Akio.
"Baik, sebentar lagi kami akan naik." jawab Heron berjalan ke arah Kai. Ia pun menyampaikan pesan Akio, Kai mengangguk kemudian menatap Kazue yang tergeletak dengan tubuh berdarah di mana-mana.
"Bawa dia naik." Perintah Kai yang didengarkan anggota Black Panther seraya membopong tubuh Kazue.
Sementara itu Shadow mendapatkan perawatan dari Conley, temannya. Shadow hanya bisa terdiam mendengarkan ceramah Conley. Mungkin hal yang dibicarakan Conley mewakili isi hati Kai. Termasuk kecerobohannya. Ya, tentu saja semua terjadi karena kesalahan Shadow.
"Sesampainya di apartemen, kau harus meminum obat. Luka ini akan membuatmu panas dingin." Kata Conley sambil menarik tangan sehat Shadow untuk berdiri.
"Terima kasih." kata Shadow lemah. Tubuhnya masih gemetar, sakit, dan trauma namun Shadow menahannya.
"Berjanjilah kepada kami agar kau lebih berhati-hati, Nyonya Boss." Conley melancarkan serangan terakhirnya lewat bisikan. Conley tidak ingin terdengar oleh Kai yang tengah berderap dengan langkah panjang menghampiri mereka.
Shadow sempat mengangguk lemah menjawab permintaan Conley.
"Kau kuat, Shaw." Kai memeluk hati-hati tubuh kekasihnya.
"Maafkan aku, Tuan Mafia." Shadow bergumam lirih dan air mata meluruh hebat dari pelupuk matanya.
Kai menggeleng seraya menangkup wajah Shadow yang diliputi perasaan bersalah.
"Tidak, Shaw. Aku -lah yang tidak menjagamu. Aku -lah yang lalai dalam tugasku." tandas Kai mematahkan keinginan Shadow untuk menyahut.
Shadow mengangguk lemah. "Hukum aku."
Kai tertawa kecil dengan bibirnya yang sensual. "Tentu saja, Shaw. Tapi setelah ini karena masih ada yang perlu diselesaikan, dan kau harus sembuh terlebih dahulu." ucapnya seraya membopong tubuh ringkih Shadow.
"Belum apa-apa aku sudah teramat merindukanmu, Shaw. Jadi tolong, jangan pernah menempatkan dirimu sendirian dalam bahaya."
~~
Alis Kai terangkat ketika melihat satu tubuh wanita terikat dan duduk bersimpuh dengan pandangan jatuh ke bawah.
"Boss, apa kau mengingatnya? Wanita ini?" Akio mengangkat paksa wajah Nana.
Kai mendengus geli sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Jadi ini asal dari segalanya." ujarnya duduk berjongkok di depan wanita Asia yang wajahnya memerah karena takut dan malu.
"Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan padamu, Nona Kitagawa. Ini perbuatan yang tidak bisa kami maafkan."
"Aku... Biarkan aku." suara lirih Kazue menaikkan tangannya, menjeda pembicaraan sepihak Kai dan Nana.
"Apa yang kau inginkan, Kazue? Aku akan mengabulkan satu permintaanmu" sahut Kai dengan dingin.
Kai sedikit kasihan kepada pria itu, setelah mendapati Nana adalah orang yang menggerakkan Kazue hingga berani keluar dari Jepang. Memberikan impian muluk-muluk kepada Kazue untuk menjatuhkan Black Panther, seakan hal tersebut semudah membeli sebungkus rokok di toko 24 jam.
Sungguh pemimpin yakuza yang malang.
"Ijinkan aku memeluk Nana." Kazue berbicara semakin lemah, rasa sakit mendera tubuhnya membuat kesadarannya semakin berkurang secara perlahan.
Kai hanya memerintahkan Yoruban untuk mengangkat tubuh Kazue. Tampak Kazue membisikkan sesuatu kepada Yoruban, pria berbadan besar itu mengangguk.
Nana menggigil hebat ketika Kazue duduk tepat di depannya.
"Kau adalah wanita yang berbisa." ucap Kazue dengan kekuatan terakhir menarik tubuh Nana masuk ke dalam dekapannya, di saat yang sama Yoruban meletakkan pisau di tangan Kazue.
"Sampai bertemu di neraka, sayang." bisik Kazue seraya menghujamka pisau Yoruban di bagian belakang leher Nana.
Bersamaan dengan suara Nana yang terdengar seperti ngorok pilu dan berat, kedua tubuh yang saling berpelukan jatuh di tanah dengan keras. Satu tempat terakhir perjalanan kisah percintaan dan hidup Kazue dan Nana Kitagawa.
###
alo kesayangan💕,
dapat feel ngerinya gak?
wkwkwkwk
besok aku akan pindah ke Jace lalu ke Mersia.
love,
D😘
__ADS_1